Monday, August 8, 2011

" Dosa " Yang terwariskan

Sudah lama sebenarnya saya ingin menyampaikan ini, tapi entah kenapa selalu lupa dan tidak saya sempatkan untuk menyampaikannya. Inilah mungkin awal dari dosa yang saya wariskan. Sebuah kesalahan yang selalu turun menurun dan mungkin sudah dianggap wajar. Wajar atau memang tidak tahu kalau itu merupakan hal yang sebenarnya harus dihindari. Ya, karena tidak adanya yang meluruskan. Sehingga saya yang melakukan hal itu pertama kali dan merasa ada salah yang terus turun – menurun. Jikalau itu dosa, maka dosa itu adalah dosa yang saya wariskan ke adik – adik saya. Dan jika itu memang di hitung dosa, berarti saya telah menanam dosa jariyah. Dan akan berhenti berbuah jika sudah tidak ada yang melakukannya. Astaghfirullah….

Memang dalam sebuah organisasi, memodifikasi adalah sebuah yang wajar. Termasuk merubah konsep acara dan teknis lapangan. Semua tergantung situasi dan kondisi pelaksanaan acara. Dinamis. Namun dalam sebuah kondisi keterpaksaan, akhirnya saya membuat inifasi yang sesungguhnya tidak baik dan tidak sehat di organisasi. Ada satu hal lagi di organisasi yang tiu pasti dilakukan. Membuat patokan dengan refrensi kitab para pendahulunya. Memang tidak buruk, tpi jika refrensi yang digunakan adalah refrensi pada kondisi tidak ideal dan itu diterapkan pada kondisi ideal. Apakah itu sebuah hal yang bisa dikatakan bagus ?. kadang kita tidak pernah bertanya kepada senior atau pendahulu kita, mengapa mengerjakan dengan cara ini, itu dan belum pernah mengbandingkan dengan kondisi – kondisi sebelumnya. Sehingga inilah yang kadang menjadi penyebab turun – temurunnya dosa orang – orang sebelum kita. kawan, itulah yang terjadi dan ku alami dalam organisasi ku.
Masih ingatkah kawan kalian dengan cerita tentang tragedi Tafakur Alam MT Nurul Iman. Sebuah tragedy antara aku, arif, dan motor. Hingga akhirnya kami istirahat sebentar melepas lelah malam di RSUD Dr. soetomo. Ditengah himpitan permasalahan dan kurangnya SDM ikhwan untuk melaksanakan kegiatan tersebut kami tetap harus berangkat.semua harus berangkat dengan segala keterbatasan yang ada. Bismillah..

Dan ternyata memang berat. Hanya dengan tujuh ikhwan ( sudah termasuk saya yang tidak bisa apa – apa , jadi tinggal enam ikhwan ) harus menghandle seluruh acara. Mulai menyiapkan acara per acara, keperluan listrik, air untuk masak dan cuci. Jaga malam, kemanan barang dan belum persiapan jerit malam. Yah…. Itulah dulu kelemahan saya, tidak bisa mengkoordinasi teman – teman anggota pengurus. Tak mampu menggerakan orang – orang di yang harusnya menjadi penggerak acara ini.
Setelah melihat kondisi yang ada,dengan segala konskuensi yang ada akhirnya saya mengambil keputusan untuk menggabungkan konsumsi ikhan dan akhwat. Karena sebelum – sebelumnya antara dapur ikhwan dan akhwat berpisah. Tak ada ikhwan yang di dapur khwat dan begitu pula sebaliknya. Namun, karena melihat sdm ikhwan yang sangat minim ini, muncullah keputusan untuk menjadikan satu konsumsi ikhwan dan akhwat. Saya sudah tahu bahwa jika hal itu terjadi akan terjadi percampur bauran antara ikhwan dan akhwat dalam dapur dengan segala aktivitasnya.

Kekhawatiran ku akhirnya memang terjawab. Tepat seperti apa yang ku duga dan ku pikirkan. Ada teguran dari alumni yang dua tahun di atas saya. Saya mengerti dan tahu bahwa itu salah. Namun tidak dengan alumni yang satu tahun di atas saya. Dalam perjalanan kegiatan tersebut, saya sempat merasa dada ini panas, sakit dan tercabik – cabik. Sakit menahan emosi melihat sesuatu yang tidak saya kehendaki. Sesuatu yang sejak dahulu oleh kita dianggap sangat sacral dan tidak boleh kami langgar. Pergaulan antara ikhwan dan akhwat yang sangat di jaga agar tidak ada fitnah di dalamnya. Namun ada daya, melihat realita yang ada yang tidak dapat saya kendalikan.

Tahukah kawan apa yang terjadi ?, ini adalah pandangan objektif dari seorang tukang sapu.
Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, bahwa akan terjadi percampurbauran antara ikhwan dan akhwat. Saya hanya melihat dari pintu dan mendengar dari luar ruangan, karena saya tidak bisa bergerak bebas karena dalam masa penyembuhan. Dari luar ku mendengar gelak tawa mereka( ikhwan dan akhwat) di dalam ruangan, saling bercanda gurau, puji memuji antar mereka, saling mengejek dengan nada memanja dan menggoda ( kalau menurut saya ). Sungguh, sesuatu hal yang sebelumnya tidak pernah saya lihat ketika di sekolah. Sesuatu yang dalam golongan kita ( baca : organisasi ) di anggap haram ( tidak boleh ) dan oleh senior – senior sangat di tanamkan karena merupakan cirri khas dan pembeda kami dan yang lain. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Dan bahkan ada senior, yang entah waktu itu lupa atau terbawa ikut bercampur dan meramaikan suasana. Sungguh panas hati saya melihat dan mendengar itu semua.

Karena sudah tidak tahan, akhirnya saya hanya mendengar dan memantau dari luar, menikmati guyonan segala kejadian yang ada. Saya tidak tahu apakah mereka mampu manjaga pandangan dan membundukan hati saat itu. Dan tidak tahu apakah ada yang “ sakit “ saat itu, terjadi keterdekatan hati yang tidak pada jalur yang benar. Virus merah jambu. Entahlah, semoga waktu itu tidak terjadi.
Dan sungguh yang saya sesali mengapa rantai kesalahan itu tidak putus sampai saat ini. Sungguh hati ini masih menaggis saat mengetahui kesalahan itu terwariskan. Dan saya lah yang memulai kesalahan tersebut dan belum mampu menghentikannya. Astaghfirullah…..dua generasi telah melakukan hal yang sama. Akankah generasi ke tiga juga seperti mereka ??, jika jawaban iya, tambah beratlah kesalahan saya.
Itulah sebuah blunder besar yang saya buat dalam sejarah, merubah menjadi yang tidak baik ( menurut pandangan saya ) dan menggeser nilai – nilai yang telah lama di tanamkan senior. Sungguh mencampur ihkwan dan akhwat dalam satu dapur umum merupakan tindakan paling besar resikonya dan out saya ambil. Semoga allah mengampuni dosa ku.

Kawan….
Sesungguhnya saya tahu kalian adalah orang – orang yang kuat. Mampu menjaga pandangan dan  mengekang hawa nafsu. Tapi sungguh yang saya sangat takutkan adalah kepandaian setan dan kawan – kawan memanfaatkan momen itu untuk merusak hati kita. menggelincirkan kita pada kemaksiatan hati dan pikiran. Membelokan jalan kita hingga kita tidak sadar bahwa kita sudah tidak pada jalan yang benar. Saya sungguh takut, jika niat suci kalian ternodai karena kita akan mendapat pahala dari apa yang kita niatkan. Dan dari sinilah kita memulai belajar bagaiman pergaulan ikhwan dan akhwat. Menahan pandangan dan memelihara hati ini.
Ketahuilah, bahwa bisa jadi dari canda gurau, saling mengejek dengan nada dan intonasi yang berbeda akan menimbulakan perasaan yang berbeda di hati. Baik ikhwan atau di akhawt. Diakui atau tidak, sadar atau tidak hal itu kan terjadi. Tidak dapat dielakan lagi sampai kita batasi cara bergaul kita, antara ikhwan dan akhwat.

Inilah kawan….sesuatu yang terus menjadi beban pikiran sekaligus moral ketika saya kembali atau mengikuti kegiatan di organisasi ini. Rasanya masih terbayang kesalahan yang saya lakukan  dua tahun silam. Dan diikuti oleh generasi penerus kami.
Dalam kesendirian ku bermunajat kepada illahi rabbi. Semoga Allah mendatang sekelompok generasi penerus kami yang mampu memotong rantai kesalahan ini dan mengembalikan kebenaran yang telah terbelokan. Menata kembali nilai – nilai yang sudah ternodai.
Terimakasih kawan, kau telah mau mendengarkan keluh kesah ku.

Surabaya, 8 Ramadhan 1432 H   

0 comments:

Post a Comment