Wednesday, June 17, 2015

Prioritas Ibadah Ramadhan

PRIORITAS IBADAH RAMADHAN
oleh : Ustadz Mudhofar Jufri M.A (IKADI Jawa Timur) )

Di dalam Islam, pada setiap momen selalu ada amal ibadah spesial yang lebih diprioritaskan daripada lainnya. Dan prioritas amal ibadah spesial pada bulan Ramadhan, secara umum, minimal ada enam:
1. Puasa yang tentu saja merupakan primadona utama.
2. Shalat, baik yang fardhu maupun yang sunnah wabilkhusus qiyamullail.
3. Tilawah Al-Qur'an. Sampai2 para ulama salafus saleh dan khalafus saleh dulu biasa meliburkan seluruh majelis taklim mereka selama Ramadhan, agar bisa lebih total dalam upaya mengistimewakan bulan termulia dengan tilawah sebanyak2nya.
4. Dzikir, doa dan istighfar. Karena Ramadhan memang merupakan salah satu momentum terspesial bagi pengabulan doa dan pengampunan dosa.
5. I'tikaf, khususnya pada sepuluh malam terakhir, sebagai sarana terbaik untuk menggapai kemuliaan lailatul qadar.
6. Infak dan sedekah sesuai teladan Baginda Rasulullah SAW.

Itulah enam amal ibadah terspesial dan teristimewa yang sangat dianjurkan agar lebih diprioritaskan, selagi bisa, selama bulan suci nan mulia. Dimana kaidahnya, selama memiliki kemampuan dan keleluasaan, hendaknya masing2 kita senantiasa bermujahadah (berupaya keras seoptimal mungkin) untuk mengistimewakan, memprioritaskan dan mengutamakannya atas amal2 lainnya. Itu bagi siapa saja yang secara umum berada dalam kesanggupan, kelonggaran dan keleluasaan.
Adapun bagi yang memiliki keterbatasan atau halangan tertentu, sehingga tidak kuasa atau tidak leluasa untuk melakukan sebagian diantara amal2 ibadah prioritas tersebut, maka ia bisa dan leluasa menggantinya dengan amal ibadah apapun lainnya yang masih mampu diupayakannya sesuai situasi, kondisi dan kesanggupannya. Dan insyaallah nilai serta pahalanya tetap berpotensi setara atau bahkan mungkin bisa lebih tinggi juga. Karena sejatinya, amal saleh dan ibadah apapun yang dilakukan oleh seorang muslim/muslimah selama momentum berbarakah Ramadhan, tetap memiliki nilai keistimewaan yang spesial dan potensi balasan pahala yang berlipat ganda. Tentu saja selama ditunaikan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan agama.
Maka, selamat bersyukur sebenar2nya atas kenikmatan luar biasa ini, dengan menjujurkan tekad, mengoptimalkan mujahadah dan sebisanya tidak melewatkan sedetikpun dari waktu2 terbarakah selama Ramadhan ini tanpa amal ibadah teristimewa, demi meraih derajat taqwa nan istimewa pula. Aamiin!
Salam Spesial Ramadhan!
Mohon jangan pernah lupa saling berdoa untuk sesama hamba bertaqwa, untuk kemenangan Islam kita, untuk keselamatan bangsa Indonesia, dan untuk kemaslahatan saudara beriman sedunia!

Tuesday, June 16, 2015

#RamadhanISTIMEWA

Romadhon tiba - romadhon tiba....
Sudah berapa kali anda bertemu ramadhan ?, hmmm... kalau umur sekarang 24 tahun dan kira - kira baligh yang artinya sudah dikenai hukum umur 10 tahun, sudah 14 kali bertemu bulan ramadhan. Rasanya kita perlu mengingat - ingat kembali lembaran - lembaran ramadhan tahun lalu, dua tahun lalu atau sepeluh tahun lalu. Mengingat - ingat, peningkatan apa yang kita capai pada tiap edisi ramadhannya, yang special dengan malam seribu bulan. Sambil menulis artikel ini saya jadi ikut mengingat - ingat, seperti apa ramadhan bulan lalu... Astagfirullah hal 'adziimm.. (ngelus dada) :'(
#RamadhanISTIMEWA

Jika masih bertemu ramadhan tahun ini, itu berarti Allah dengan kasih sayangnya, masih memberikan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki. "Menyekolahkan" kita lagi di Sekolah Ramadhan dengan kurikulum buatan sendiri dan materi pelajaran sendiri. dengan Sekolah Ramadhan, harapannya nanti, kita lulus dengan predikat Muttaqin, sesuai visi Sekolah Ramadhan "la'allakum Tattaquunn". 
#RamadhanISTIMEWA

Sebab Sekolah ramadhan menggunakan kurikulum kita sendiri, maka sudah sepantasnya kita menyiapkannya agar ramadhan kita menjadi #RamadhanISTIMEWA. Menyusun program ramadhan, mengevaluasi, menyusun kembali hingga hari terakhir. Menyusun Program Ramhadannya, sesuaikan dengan kondisi diri agar tidak membebani. Sebab, jika membebani, malah nanti akan menjadi malas mengerjakan. Tapi prinsipnya adalah bukan seperti kita mengangkat batu, sekuatnya dan semampunya. Namun seperti kita berlomba memakan makanan yang lezat, semampunya kalau bisa yang banyak dan kita juara.
#RamadhanISTIMEWA

Bagi yang masih Jomblo, bica ngajak teman yang lain, yang ngekost atau ngontrak silahkan ajak teman - temannya. saling mengevaluasi dan kompetisi. Bagi yang sudah punya bidadari penyejuk hati, buat program bersama agar bersama lebih berarti. Hadiah dan hukuman bisa jadi penyemangat menambah ibadah sunnah.
#RamadhanISTIMEWA

Program Ramdhan Jadikan Sekolah Ramadhan Lebih ISTIMEWA
#RamadhanISTIMEWA

Bulan Sedang Berbaik Hati

Alhamdulillah Romadhon telah tiba kembali, saatnya umat umat islam kembali bertemu dengan Bulan yang Allah berikan keistimewaan di dalamnya. Bulan lebih baik dari seribu bulan. Maka seyoganya umat islam senag dengan itu, apalagi setelahnya Allah berikan bukan kesucian seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibunya, kata Pak Khotib setiap idul fitri. Maka banyak persiapan yang harus dimulai, Rasullulloh tidak benyak berpuasa sunah kecuali pada bulan sya'ban. begitulah nabi mencontohkan. 
Namun terkadang, persiapan itu sedikit "ternoda", diujung bulan sya'ban. Penetepan awal romadhon pada sidang isbath selalu rame selama puluhan tahun ketika bulan "enggan" mengintip masyarakat indonesia di atas 2 derajat. Muhammadiyah dengan hisab wujudul hilal tak pernah mempermasalahkan ketinggian bulan 1, 2 atau 2,5 derajat baru masuk bulan. Bagi Muhammadiyah, asal diatas 0 derajat itu berarti sudah masuk bulan baru. artinya jika tenggelam matahari diakhir sya'ban, esok adarah bulan Romadhon. Dan ini lah yang membuat tidak pernah ada titik temu dengan metode penetapan bulan baru dari Kementerian Agama. Pemerintah menetapkan bulan baru dengan ukuran derajat tertentu, meskipun hasil hisab menunjukan diatas nol, jika masih dibawah 2 derajat, maka secara logika tidak akan dapat terlihat. Sehingga, untuk kehati - hatian, pemerintah menetapkan standar ketinggian bulan adalah 2 derajat. 
Meskipun banyak teori kemudian berkembang melihat kondisi geografis indonesia yang memiliki laut luas. Sehingga jika matahari tenggelam air laut masih menguap sehingga uap itu menutupi penglihatan terhadap bulan yang mungkin sebenarnya kelihatan. berbeda dengan daerah padang pasir.
Alhamdulillah, tahun ini bulan sedang berbaik hati. Bulan menyapa umat islam indonesia dengan ketinggian lebih dari 2 derajat menurut hisab Muhammadiyah dan logikanya akan sangat terlihat ketika pemerintah melakukan pemantauan bulan baru.
Alhamdulillah romadhon tahun ini bisa berbarengan, Muhammadiyah dan NU yang merupakan Ormas islam terbesar di Indonesia akan bersama - sama menjalankan ibadah puasa dan idul fitri. sehingga sidang isbat tahun ini tidak perlu lama - lama dan alot dalam menentukan awal romadhon. Namun, dibalik itu semua, umat islam di Indonesia masih mempunyai PR besar tentang penyatuan dua Metode penetapan awal bulan. Alhamdulillah bulan sedang berbaik hati sehingga romadhon tahun ini bisa bersama. tapi tahun depan? belum tentu, jika bulan masih malu untuk muncul di atas 2 derajat akan muncul lagi perbedaan.
Mungkin romadhon ini, semoga pemimpin besar Ormas di Indonesia bisa duduk bersama, melepas ego masing - masing dan menemukan titik tengah dari perbedaan kedua metode tersebut. sehingga suasana ukhuwah islamiyah antar umat islam lebih erat lagi sampai masyarakat akar rumput.

#RomadhonISTIMEWA

Friday, June 5, 2015

MASTRIP

Baru tahu tentang sejarah nama Jalan yang sering saya lewati, MASTRIP. Mas Trip ternyata nama orang.. :)

Kabupaten Tulungagung kejaba sugih peninggalan sejarah purbakala uga duwe monumen-mo­numen perjuangan. Antara liya dalan ge­dhe wiwit saka Desa Notorejo Kecamatan Gondang mangetan nganti tekan Dhusun Jethakan, kecamatan Kauman, menggok ngalor tumuju Kediri liwat kulon kali Bran­tas. Iku dalan gerilyane Panglima Besar Jendral Sudirman.
Ing cedhak terminal bis Tulungagung ana monumen patung Sersan Soeharto. Monu­men PETA ing Jl. A. Yani Timur mepet greja Katolik. Ing sacedhake pasar burung Jl. Ki Mangunsarkoro ana monumen Mas TRIP. Mo­numen kang diakoni apik de­ning wong-wong kang nyumurupi iki diresmekake taun 1987 nalika para “man­tan Mas Trip” nganakake reuni. Pancen katon bregas tenan monumen kang aru­pa patung siji iki. Anatomine pas banget, ketara yen iku patunge bocah remaja nganggo seragam tentara. Banjur sapa ta Mas Trip kuwi lan apa andhile tumrap nusa lan bangsa?
Manut buku Sejarah Mas Trip kang disusun dening Drs. H. Boges Sudjadi GR (kababar mbarengi reuni ing Tulungagung taun 1987). Mas Trip iku jeneng jangkepe dhek taun 1948: TNI BRIGADE XVII DE­TASEMEN I TRIP JAWA TIMUR sabanjure karan Mas Trip. Gelar mau pisungsunge rakyat Parengan, Jetis, Mojokerto.
Para pelajar kang dadi anggotane Mas Trip iki nalika jaman penjajahan Walanda dumadi saka telung golongan. Siji: putra-putrane priyayi yaiku wong-wong kang nyambut gawe ing pamarentahan. Seko­lahe ana ing HIS utawa ELS kang nggu­nakake basa Walanda. Mesthi bae dhi­dhikane ala Walanda, ngedohi rakyat cilik. Loro: golongan “tengahan” yaiku golo­ngane kaum dagang, prangkat desa, lan liya-liyane kang sapapak pundhak (sede­rajat). Bocah-bocah sekolah ing Taman Sis­wa utawa Muhammadiyah kang nasio­nalismene manjila. Katelu: golongan tani lan rakyat cilik sing sekolahe ana Sekolah Rakyat/Angka loro (saiki SD).
Telu-telune bisa nyawiji sawise Jepang njajah Indonesia kanthi wengis. Para pelajar kang umur-umurane 15 taun nganti 20 ta­un iku ngrasakake banget rekasane di­jajah. Mula sawise kemerdekaan Indonesia dikumandhangake dening Bung Karno lan Bung Hatta, para pelajar padha nduweni tekad luwih becik mati tinimbang dijajah maneh. Taun 1945-1949 ora wigah-wigih padha melu berjuang manggul bedhil. Mangka umume isih sekolah ing Sekolah Lanjutan Pertama. Sing pelajar SMA ora luwih saka 30-an. Unike maneh organisasi Pelajar Pejuang Bersenjata mau dipimpin dhewe tanpa campur tangane tentara.
Para pelajar mau, luwih-luwih Pelajar Surabaya, wis nuduhake kuwanene nen­tang penjajah Jepang, kanthi ora gelem dicukur plonthos kaya tentara Jepang. Nduweni kuwanen ngono kuwi nalika se­mana wis peng-pengan tenan. Ewase­mono iya manut nalika dibentuk Gakutotai (Barisan Pelajar).
Sawise Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 Gakutotai-gakutotai mau diperang dadi patang wilayah, yaiku wi­layah: Darmo, Praban, Sawahan, lan He­renstraat. Sabanjure nggabung dadi Badan Keamanan Rakyat Pelajar (BKR Pelajar), diresmekake Bapak Soengkono Kepala BKR Surabaya tanggal 19 Oktober 1945. Nalika BKR owah dadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) jenenge uga owah dadi TKR Pe­lajar. Iku dumadi ing awal November 1945.
TKR Pelajar bisa nglucuti senjatane Jepang sing manggon ing gedhung Don Bosco. Sateruse senjata mau dianggo nglawan Sekutu (tentara Inggris kang dumadi saka wong-wong Gurkha), nalika rakyat Surabaya nulak ultimatum Sekutu. TKR Pelajar iya melu tandha tangan wektu melu pertempuran 28 Oktober 1945 nganti 10 November 1945, 10 warga TKR Pelajar gugur. Ing antarane: Dumadioadi, Supangkat, Muljono, Suparto, Sukirman, Sumartono, lan Aris Munandar.
Bareng Surabaya dikuwasani Sekutu, TKR Pelajar mundur, bertahan ing dhaerah Mojoagung. Nalika kuwi kerawuhan bapak-bapak guru kang nganjurake bali sekolah maneh, awit me­sakake isih cilik-cilik maju perang. Anjuran mau ana sing ngestokake lan uga ana saperangan kang pilih ne­rusake berjuang. Sabanjure “bergabung” maneh nalika mbentuk TRIP Jawa Timur ing Malang 21 Juni 1946.

Perundhingan Linggarjati
Perundhingan Linggar­jati nyarujuki anane gen­catan senjata, nalika wek­tune prei (jeda) perang mes­thi bae TRIP ya ora pe­rang. Mula banjur ana anjuran saka pa­marintah supaya anggota TRIP bali sekolah maneh. Tuwuh pilihan telu kang dirasa padha abote, yaiku: tetep manggul sen­jata/ber­juang terus ninggalake bangku sekolah, bali sekolah maneh, utawa tetep berjuang disambi karo sekolah.
Saka pilihan telu mau pilihane tiba angka telu: tetep berjuang disambi se­ko­lah. Sateruse muncul semboyan Mas Trip: Berjuang, Belajar, Bersenang-senang. “Le­bih baik mati berkalang tanah daripada menjadi pelajar jajahan”.
Perjuangan Mas Trip ora uwal saka sejarah kamardikan Indonesia. Bebarengan karo kabeh warga negara mbelani negara proklamasi. Agresi I lan II lumaku kanthi lakuning sejarah kang ora bisa diowahi. Semono uga nalika PKI nganakake pem­brontakan ing Madiun, ya ana anggota Trip kang gugur. Ayahan abot nanging bisa gawe bombong Mas Trip nalika kudu ngawal mriyem gempur Bantheng Blorok. Mriyem mau kudu digawa saka Ngunut, Tulungagung dikawal menyang Menjangan Kalung dha­erah Blitar dohe kurang luwih 90 km, suwene pitung dina pitung bengi prasasat tanpa leren.
Perlu kawuningan manawa mriyem gempur iku abot banget, sanadyan ana rodhane ning bisane mlaku mung ing dalan gedhe. Mangka kuwi kudu ngliwati dalan setapak gek kudu nyabrang kali Brantas.
Bisa digambarake ngre­kasane. Sing ngawal Mas Trip, dudu tentara, ora duwe pengalaman militer. Isih ketambahan nyingkrihi serangane Walanda sing kepengin ngrebut mriyem mau. Kanthi li­nambaran tekad waja lan patriotism tinggi tugas mau kasil kanthi sukses.
Sejatine mriyem sing dipasrahake TNI marang Mas Trip iku ana loro, sing siji mriyem Macan Tutul. Amarga Macan Tutul iku luwih gedhe lan abot, kepeksa ditinggal ing Re­jotangan, didhelikake ing jero ba­ngunan ditutupi dame. Iya rekasane ngawal mriyem iku kang nda­dekake prastawa mau tansah ci­nathet ing ati dadi “kebanggaan tersendiri”.
Mula nalika reuni taun 1987 dianakake acara napak tilas ngiras nancepake pathok-pathok pepe­nget. Ora lali ngajak pelajar wilayah Tulungagung, Blitar, Kediri, lan Trenggalek, ngiras marisake nilai-nilai kejuangan bangsa. Kebeneran nalika iku penulis kapatah dadi pembimbing panitia pelaksana, mula anggone nyiapake rute napak tilas telung sasi sadurunge hari H.
Acara dhek semana kejaba diregengake maneka tontonan, kalebu wayangan ing pendhapa Kabupaten, iya ngresmekake prasasti reuni TRIP ing ngarepe patung Mas Trip sing katon gagah. Prasasti reuni TRIP iki diresmekake dening Djiteng Soejoto (wektu iku njabat Bupati Pasuruan) tanggal 21 Juni 1987.
(Kopral Soekarmi)

Thursday, June 4, 2015

Islamic Center Gontor




Slogan diatas masih saja tertulis, dengan cat at dan font huruf yang sama sejak enam tahun lalu saya mulai sering dan familiar untuk menginjakkan kaki disini. Sebuah Slogan yang membuat saya bergetar, slogan Ukhuwah di tengah kondisi umat islam yang tidak akur di akar rumput. "BERDIRI DI ATAS DAN UNTUK SEMUA GOLONGAN"adalah semangat lembaga ini, Islamic Center Gontor. Ada hubungan dengan Pondok Gontor ? , ya, memang masih ada hubungannya. Lembaga ini adalah buah kerja keras alumni - alumni pondok gontor yang menyebar di seluruh Indonesia. Islamic Center bukan hanya ada di Nganjuk, di Kediri Juga ada. 
Slogan "BERDIRI DI ATAS DAN UNTUK SEMUA GOLONGAN"  bukan hanya omong kosong, isipan jempol belaka. Secara istiqomah lembaga ini mengelar kajian rutin Ahad pagi dengan pembicara yang bervariasi tiap pekannya dan dari semua harakah islam yang ada. Selain itu juga ada semacam kursus, mulai dari tentang Aqidah, Fiqh dll yang biasa di gelar tiap pekan sesuai jadwal. Seiring berkembangnya zaman, lembaga ini juga mengadakan umroh bareng dengan para jamaah Kajian Ahad Pagi. Gedung pengajian yang hanya menggunakan teras rumah ini tiap ahad pagi dipenuhi tidak kurang dari 60 Jamaah, mulai dari balita yang diajak orang tuanya hingga kakek - nenek.
Menarik sekali kalau kita cermati, jamaah pengajian disini di ajari bagaimana berukhuwah dan saling memahami dengan lintas pemikiran dalam harakah islam secara tidak langsung. Jamaah diajak agar lebih berdewasa dalam menyikapi perbedaan dalam hal cabang di tengah masyarakat yang kadang - kadang sering meruncing pada saling olok antar jamaah islam, terutama di masyarakat akar rumput. Oleh sebab itu, slogan "UNTUK SEMUA GOLONGAN" adalah dalam rangka mewadahi semua golongan dengan cara menghadirkan pembicara dalam kajian ahad pagi dengan latarbelakang harakah - harakah islam yang mungkin selama ini sering kita lihat bersebrangan. NU, Muhammadiyah, Hizbut Tahrir, Salafi dan tarbiyah secara bergiliran bergantian mengisi di tiap pekannya. Meski pun kadang juga tidak seperti itu.
Saya jadi membayangkan, kalau saja lembaga - lembaga seperti ini banyak bermunculan di negeri ini, menyentuh sampai pada masyarakat akar rumput. Rasanya bertengakaran dalam hal - hal cabang antar golongan islam bisa teratasi dan umat akan berfikir yang lebih maju lagi dari pada membicarakan hal - hal cabang. Selain itu, jika lembaga - lembaga seperti ini juga mampu menyentuh kalangan muda, tentu generasi tunas bangsa akan terbentengi dari pusaran globalisasi yang semakin hedonis.
"BERDIRI DI ATAS DAN UNTUK SEMUA GOLONGAN"


Wednesday, June 3, 2015

Renaissance, Revolusi Industri dan Dampaknya


Hari ini, suasana warung PH KED tidak seperti biasanya. Obrolan dan kelarak hangat berganti dengan perbincangan yang berbobot. Melanjutkan tema diskusi sebelumnya di warung kopi sebelah yang belum selesai padahal warung kopi sudah hampir tutup karena sudah tidak ada lagi air panas. Diskusi KAMERAD (KAjian MEmbangun peRADaban) malam itu adalah "Masa pencerahan eropa, revolusi industry dan dampaknya sampai Hari ini". Memperdalam pembahasan sebelumnya, bahar selaku moderator memberikan sedikit muqadimah terkait tema itu.
“Perubahan fisik bumi yang Sekarang ini dipercaya sebagai salah satu dampak Dari adanya revolusi industry yang bermula Dari inggris dan perancis. Setelah ditemukannya peralatan modern yang merupakan salah satu hasil Dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang berkembang di eropa adalah salah satu dampak Dari abad pencerahan. Abad pencerahan barat adalah waktu dimana kekuasaan gereja yang merupakan representasi tuhan di dunia sudah mulai hilang.
Sebagai contoh dari dampak revolusi Industri adalah imperialism. Jumlah Produksi yang tinggi dari sebuah produk berbanding lurus dengan perluasan pasar dan penambahan bahan jumlah baku. Slogan penjajahan yang terkenal adalah Gold, Glory dan Gospel. Gold adalah lambang mencari bahan baku dan perluasan pasar sehingga pundi – pundi emas mereka akan bertambah berlipat – libat. Disisi lain, perkembangan ideology mulai muncul adalah bentuk perlawanan dengan adanya eksploitasi pekerja akibat kerja yang tidak wajar dari para kapitalis di Industri. Munculnya perlawanan kelas sosial, Proletar terhadap kaumbourjuis yang digagas oleh Karl Marx.
Revolusi Industri merupakan efek dari perkembangan ilmu pengetahuan di barat. Para ilmuan kemudian mulai berani untuk bereksperimen tanpa takut menemui nasib seperti Galileo Galilei. Masa kebangkitan ilmu pengetahuan di eropa disebut masa pencerahan atau renaissance pada abad ke 14 dengan ditandai runtuhnya pengaruh geraja pada saat itu. Gereja yang merupakan representasi tuhan, dimana sabda Paulus adalah Firman Tuhan sudah tidak berlaku lagi.
Kalau kita runut, kita akan menemukan banyak sekali jejak – jejak akibat dari masa pencerahan eropa dan revolusi Indutri. Mulai dari sistem masyarakat dengan entitas terkecil yaitu keluarga, sistem politik, ilmu pengetahuan sampai dengan agama pun tidak luput dari renaissance effect.
Sekularisasi ilmu pengetahuan oleh ilmuan barat merupakan trauma barat terhadap agama, sehingga agama perlu di keluarkan dalam pembahasan ilmu pengetahuan. Itulah yang kemudian kita kenal dengan “ilmu pengetahuan bebas nilai atau nihil nilai”, artinya ilmu tidak ke kanan atau ke kiri. Ilmu pengetahuan itu netral tanpa ada nilai kebaikan, keburukan dan ideology apapun.
“Kita mengenal teori “tuhan pensiun”, Mbak Dian menambahkan penjelasan. Teori tuhan pensiun itu digambarkan oleh ilmuan barat seperti tukang jam. Tukang jam ketika telah membuat jam dan jam tersebut dapat berjalan sendiri, kemudian tukang jam tidak perlu ikut menjalankan jam itu. Tukang jam sudah pensiun dari pekerjaannya, sebab jam sudah dapat berjalan. Tuhan telah “pensiun” setelah membuat semesta ini sebab alam telah berjalan sesuai hukum alam.
Seperti seorang stephen hawking dalam the grand design, dia mengatakan bahwa Tuhan tidak ada hubungannya dalam penciptaan alam semesta ini. Hawking yang ateis menjelaskan bahwa ada hukum alam, seperti gravitasi, alam semesta bisa mencipta dirinya sendiri.
Pertanyaan besarnya adalah apakah benar ilmu pengetahuan itu bebas nilai? dan bagaimanakah islam memandang itu ?.
Ilmu pengetahuan tidak bebas nilai, ia membawa nilai yang menjadi latarbelakang munculnya. Sebagai contoh, ilmu pengetahuan barat yang bebas tuhan menjadikan ilmuan hanya terbatas pada penglihatan fisik, materialistic. Nilai matrialistik adalah nilai bawaan dari ilmu pengetahuan barat. Sedangkan seorang muslim tidaklah menganggap ilmu pengetahuan bebas nilai, ilmu pengetahuan adalah alat untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Ibarat rambu lalu lintas penunjuk, Surabaya ke arah kanan, yang kita pahami adalah Surabaya bukan ada pada tanda itu, Surabaya nya mungkin masih jauh ke kanan sana. Dan itulah yang membedakan ilmuan muslim dan ilmuan barat, seorang muslim melihat alam semesta adalah tanda – tanda kebesaran Tuhan, sehingga dalam meneliti alam semesta haruslah mengantarkan pada Tuhan. Jadi, ilmu tidaklah bebas nilai, ada muatan ideology di dalamnya.
Kang Uje coba memberikan penjelasan, bahwa sebenarnya ilmu tidaklah bebas nilai. Ulama – ulama terdahulu telah banyak berkontribusi pada ilmu pengetahuan yang sekarang berkembang. Seperti yang pernah kita ketahui, bahwa saat eropa mengalami masa kegelapan, hidup penuh mistis, dunia timur telah maju dengan ilmu pengetahuanya. Kita tahu bahwa hutang terbesar barat adalah meraka dapat belajar ilmu – ilmu yunani kuno karena kitab – kitab yunani kuno telah di terjemahkan dan ada di perpustakaan Andalusia. Para ilmuan barat belajar di madrasah – madrasah para ilmuan muslim. Namun, pada akhirnya mereka para ilmuan barat melakukan pembelokan sejarah dan tidak mengakui bahwa islam telah berkontribusi pada ilmu pengetahuan sekarang.
“Rusaknya sistem keluarga”, bahar menambahkan. Revolusi industri membuat orang – orang sibuk bekerja, mereka bisa bekerja di dalam pabrik selama 12 jam dalam sehari. Hal itulah yang kemudian membuat para orang tidak lagi sempat mendidik anak mereka. Maka dibautlah sistem sekolah untuk menitipkan pendidikan anak – anak para pekerja pabrik yang orientasinya untuk mengisi pekerja – pekerja pabrik.
“ Keluarga yang kemudian tidak terurus mengakibatkan tingginya tingkat perceraian, anak – anak korban broken home yang tidak mendapat pendidikan yang baik pada akhirnya menjadi persoalan masyarakat”, Mbak Yusfin mencoba memperdalam.
“Disisi lain, Revolusi industri dan sifat konsumtif masyarakat yang berlebihan. Semua karena uang, sampai orang menjual kesehatan, keluarga, demi uang. Lucunya kemudian mereka menghabiskan uang untuk berusaha kembali memilikinya, keluarga dan kesehatan”, tambahnya.
“Sekarang, apa yang bisa kita lakukan dengan melihat fenomena – fenomena tadi ?”, Mbak dian mencoba membawa diskusi ini lebih menukik lagi.
Dalam siroh kita temukan kisah tentang pemindahan kiblat, dari baitul maqdis ke makkah. Kalau kita ibaratkan Baitul Maqdis adalah kiblat darurat dan makkah adalah kiblat sesungguhnya. Maka sekarang kaum muslimin sedang berkiblat ke Baitul maqdis, kiblat darurat. Sebab kiblat peradaban dan ilmu pengetahuan sekarang adalah  peradaban barat dengan segala latar belakangnya yang trauma terhadap tuhan dan agama. Dan umat muslim sedang berkiblat kesana dalam ilmu pengetahuan modern. Sehingga perlu adanya pemindahan kiblat dari Baitul Maqdish ke Makkah, memindahkan kiblat peradaban dari peradaban barat ke peradaban Baghdad.
Waktu menunjukan sudah mulai larut, semua camilan sudah habis dan kopi tinggal endapannya. Sehingga diskusi harus segera selesai dengan beberapa point – point penting yang lebih menukik dan implementatif meyambung terkait pemindahan kiblat peradaban.
Kang Fajar memberikan pejelasan sekaligus closing steatment “Pada intinya peradaban itu bangkit dan tumbang silih berganti (dipergilirkan). Dahulu Islam pernah berjaya lebih dari 7 abad lamanya, kemudian tumbang oleh rennaissance eropa, dan kini sudah saatnya kita rebut kembali masa depan itu. Dua pilar utama perdaban Islam: Iman dan Ilmu. Dan kedua hal ini lah yang perlu dimiliki dengan sangat baik oleh para engineer ataupun saintis muslim. Mmbangun peradaban tidaklah cukup hanya perjuangan toa semata di jalan – jalan, atau pun muktamar - muktamar di kota besar. Tapi perlu ada keterlibatan langsung juga dari setiap individu muslim dalam pencapaiannya. Muslim sebagai satu kesatuan tubuh, walau tubuh kita terpisahkan oleh jarak dan waktu, tapi kita punya visi yang sama dengan para pendahulu kita. Menegakkan dakwah Tauhid, sehingga tidak ada lagi fitnah di muka bumi ini”.
“Langkah yang bisa kita lakukan adalah Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yg trkecil. Dan Mulai dari sekarang juga, meminjam istilah Aa Gym”, tambahnya.
Setelah itu, giliran Kang ilham menambahkan, “mungkin akan lebih kalo iman dan ilmu yang sudah dimiliki itu terimplementasikan ke dalam kehidupan sehingga menjadi akhlaq. insyaallah peradaban islam akan kembali”.
Diakhir sesi, Mbak Suci kemudian memberikan kata penutup dengan mengambil kisah dari orang-orang Cina zaman kuno,”Dahulu, kalau mereka ingin hidup dalam kondisi aman, mereka membangun tembok Cina yang sangat besar. Mereka berkeyakinan tidak akan ada orang yang sanggup menerobosnya karena tinggi sekali. Akan tetapi,100 tahun pertama setelah tembok selesai dibangun, Cina terlibat tiga kali perperangan besar. Pada setiap kali perperangan, angkatan darat musuh tidak butuh menghancurkan tembok atau memanjatnya untuk menerobos masuk. Tapi cukup bagi mereka setiap kali perang menyogok penjaga pintu gerbang, kemudian mereka masuk melalui pintu. Perhatian orang Cina di zaman itu disibukkan dengan pembangunan tembok, tapi mereka lupa membangun manusia.  Membangun manusia seharusnya dilakukan sebelum membangun apapun. 
Dan itulah yang dibutuhkan oleh umat sekarang ini.
"Apabila anda ingin menghancurkan peradaban sebuah umat, ada tiga cara untuk melakukannya:
1. Hancurkan tatanan keluarga.
2. Hancurkan pendidikan.
3. Hancurkan keteladanan dari orang-orang yang jadi panutan dan ulama.
Untuk menghancurkan keluarga caranya dengan mengikis peranan Ibu.  Jadikan mereka malu menjalani peran sebagai Ibu rumah tangga. Untuk menghancurkan pendidikan caranya; jangan jadikan para pendidik sebagai orang yang penting dalam masyarakat.  Kurangi penghargaan terhadap mereka, hingga para pelajar meremehkannya.
Untuk menghancurkan keteladanan, rusak akhlak para ulama dan orang-orang yang ditokohkan dalam masyarakat. Hingga tidak ada lagi orang pintar yang patut dipercayai. Tidak ada orang yang mendengarkan perkataannya, apalagi meneladani perbuatan dan sifatnya.
Apabila Ibu-Ibu rumah tangga yang punya kesadaran sudah hilang, para guru yang ikhlas lenyap, dan para ulama panutan sudah sirna, maka siapa lagi yang akan mendidik generasi dengan nilai-nilai luhur..?!?!"

Saat itulah kehancuran umat akan terjadi sekalipun tubuhnya dibungkus oleh pakaian mewah, bernaung di bangunan nan megah dan dibawa dengan kendaraan yang super wah.

Monday, June 1, 2015

Hujan Dibulan Juni :')



Hujan dibulan Juni,
Hujan di tengah musim kemarau,
Hujan dibulan juni,
Hujan yang ditunggu penuh rindu,
Sebab airnya adalah Penghapus lara,
Sebab airnya adalah Pelepas rindu,
Sebab airnya adalah Suka cita,
Sebab airnya adalah Memeluk tubuh ku,
ku tunggu hujan dibulan Juni,
ku tunggu hujan itu, 18 Juni nanti