Monday, December 28, 2015

Kembali Kepada Al-Qur'an dan Sunnah

[Seri Ushul Isyrin]

Prinsip Kedua


"Al-Quran yang mulia dan sunnah Rasul yang suci adalah tempat kembali setiap muslim untuk memahami hukum-hukum Islam. Ia harus memahami Al-Quran sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, tanpa takalluf (memaksakan diri) dan ta'asuf (serampangan). Selanjutnya ia memahami sunnah suci melalui rijalul hadits (perawi hadits) yang terpercaya

يـاَ يُّـهَا الَّذِيـْنَ امَنُوْآ اَطِيْعُوا اللهَ وَ اَطِيْعُوا الـرَّسُوْلَ وَ اُوليِ اْلاَمْرِ مِنْكُمْ، فَاِنْ تَـنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلىَ اللهِ وَ الـرَّسُوْلِ اِنْ كُـنْتُمْ تُـؤْمـِنُـْونَ بِاللهِ وَ اْلـيَوْمِ الاخِرِ، ذلِكَ خَيْرٌ وَّ اَحْسَنُ تَـأْوِيـْلاً. النساء:59


Hai orang-orang yang beriman, tha’atilah Allah dan tha’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [An-Nisa’ : 59]

عَنْ كَـثِـيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنْ اَبِـيْهِ عَنْ جَدِّهِ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: تَـرَكْتُ فِـيْكُمْ اَمْرَيــْنِ لَـنْ تَضِلُّـوْا مَا تَــمَسَّكْـتُمْ بِـهِمَا: كِـتَابَ اللهِ وَ سُنَّـةَ نَـبِـيِّهِ. ابن عبد البر


Dari Katsir bin Abdullah dari ayahnya dari kakeknya RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda : “Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”. [HR. Ibnu Abdil Barr]

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Kamu semua harus berpegang teguh pada sunnahku (setelah Al-Qur’an) dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk Allah sesudahku, berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat kuatnya, serta jauhilah perbuatan baru (dalam agama), kerana setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat” (H.R. Abu Daud dan Tirmizi)

Meyambung pada prinsip pertama yang Imam Hasan Albanna tuliskan dalam 20 prinsip yaitu menjadikan islam sebagai landasan berpikir dan memandang (islamic world view), maka pada prinsip kedua ini, beliau ingin menegaskan bahwa tidak ada pijakan yang paling utama dalam menjadikan islam sebagai cara pandang kecuali didasarkan kepada Al-Qur'an dan Assunah. Keduanya merupakan landasan hukum yang harus dita'ati dalam berislam secara benar dan baik. Disisi lain, umat islam yang sudah mulai terjauhkan dari Al-Qur'an dan Assunah itu diingatkan secara tegas oleh Imam Hasan Albanna agar dalam memahami keduanya tidaklah secara serampangan dan memaksakan diri.

Melihat kondisi umat islam yang saat itu mengalami proses sekularisasi nilai sehingga terjauh dari nilai - nilai Al-Qur'an dan Assunah, disisi lain ada sekelompok umat islam yang karena inginnya berpegang kepada keduanya namun dalam pemahaman yang menyimpang karena penafsiran yang tidak metodologis dan terlalu memaksakan diri padahal bukan pada bidang keilmuannya. Sehingga ada dua kutub yang sedang dihadapi Imam Hasan Albanna dalam berdakwah di tengah umat islam saat itu. Sehingga beliau secara tegas mengajak umat islam agar kembali kepada Al-Qur'an dan Assunah dan memahaminya secara benar. Pada prinsip - prinsip selanjutnya Imam Hasan Albanna akan menjelasan lebih detail tentang itu.

Melihat realitas kondisi umat islam hari ini, tentu masih bisa dirasakan betapa prinsip kedua ini masihlah sangat relevan. Sebab kondisi yang hampir sama juga dialami oleh Imam Hasan Albanna ketika itu, dimana terdapat kelompok yang berselisih dalam memahami Al-Qur'an dan Assunah, baik dari kelompok Ahlus sunnah sendiri ataupun juga firqoh sesat yang ada pada saat itu. Beberapa point penting yang bisa kita ambil dari prinsip yang kedua ini antara lain;
"Al-Quran yang mulia dan sunnah Rasul yang suci adalah tempat kembali setiap muslim untuk memahami hukum-hukum Islam"

1. Menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber hukum tertinggi sebagaimana Jawaban Mu'adz Bin Jabbal sebelum diutus untuk memimpin Yaman,
Dari Mu'adz bin Jabal ra,bahwa Rosulullah SAW ketika akan mengirimnya ke yaman bertanya :"ya mu'adz bagaimana caranya engkau memutuskan perkara yang dibawa orang kepadamu?".."saya akan memutuskannya menurut yang tersebut dalam kitabullah"..Jawab mu'adz.

Nabi SAW bertanya lagi:"Kalau engkau tak menemukan hal itu dalam kitabullah,bagaimana?".Mu'adz menjawab:"saya akan memutuskannya menurut sunah rosul Nya".Lalu nabi SAW bertanya lagi:"Kalau hal itu tidak ditemukan juga dalam keduanya,yakni Kitabullah dan sunah rosul,bagaimana?".
Lalu mu'adz menjawab:"Jika tidak terdapat dalam keduanya saya akan berijtihad tanpa ragu sedikitpun".

Mendengar jawaban itu,nabi Muhammad SAW lalu meletakkan kedua tangannya kedada mu'adz dan berkata:"Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq utusan rosulullah,sehingga menyenangkan hati rosul-Nya".
(HR Imam Tirmidzi dan Abu Dawud).Lihat kitab shohih tirmidzi juz II/68 dan Sunan Abu Dawud juz III/303.

2. Dalam rangka menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber hukum tertinggi maka perlunya memahami secara baik dan benar sesuai manhaj salafussholih dan kholafusshalih serta ulama' - ulama' Mu'tabar. Sehingga tidak terjadi penafsiran Al-Qur'an dan Assunah yang menyimpang dan menyesatkan umat. Ia harus memahami Al-Quran sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, tanpa takalluf (memaksakan diri) dan ta'asuf (serampangan). Selanjutnya ia memahami sunnah suci melalui rijalul hadits (perawi hadits) yang terpercaya.

Dari pesan Beliau, Imam Syahid ingin kembali menegaskan bahwa dalam memahami Al-Qur'an tidak boleh secara serampangan sebab ada syarat - syarat atau metodologi baku yang oleh para Shalafusshalih dan Kholafusshalih gariskan bagaimana cara memahami Al-Qur'an yang baik dan benar. Sehingga tidak dibenarkan seseorang yang tidak mempunyai kompetensi dibidang tersebut menafsirkan ataupun berijtihad, sebab hal tersebut terlalu memaksakan. beliau tutup pesan beliau agar mengambil Hadits dari para perawi hadits yang terpercaya sebab kedudukannya sebagai bayan bagi Al-Qur'an.

Beberapa point kaidah - kaidah penting bagaimana memahami Al-Qur'an yang baik dan benar sesuai manhaj ahlussunah wal jamaah;
1. mengimani Al-Qur'an dengan benar
2. Berbekal kemampuan bahasa Al-Qur'an yang memadai
3. Penguasaan terhadap dasar - dasar tafsir Al-Qur'an
4.  Memahai Al-Qur'an melalui hadits shohih
5. Memahami Al-Quran melalui pemahaman dan penafsiran salafussholih
6. Merujuk pada kitab-kitab mu'tabar
7. Pemaduan antara ilmu, amal dan dakwah
8. membebaskan pemahaman terhadap al-quran dari batasan zaman dan tempat
9. Menjadikan Al-Qur'an sebagai imam dan makmum. sehingga membatasi diri dalam nalar kritis terhadap hal - hal ghaib dalam al-quran

Beberapa point bagaimana memahami Assunah sesuai dengan manhaj Ahlussunah wal jamaah
1. Mengimani kehujjahan As-Sunnah yang shahih (dan hasan) dalam ilmu, amal, fatwa dan dakwah Islam. Dan menolak dengan tegas segala bentuk pengingkaran terhadapnya, baik secara total maupun parsial, misalnya dengan mengingkari kehujjahan hadits âhâd, meskipun muttafaq ‘alaih, dalam masalah aqidah.

2. Mendahulukan teks wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah) atas logika dan akal. 
Ali radhiyallahu ’anhu berkata: ”Seandainya agama ini didasarkan pada logika, niscaya bagian bawah sepatu lebih berhak diusap daripada bagian atasnya. Dan aku telah menyaksikan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengusap bagian atas dari sepatu beliau” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Ibnu Hajar).

3. Memperhatikan (memastikan) faktor keshahihan hadits. 
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, bersabda: ”Barangsiapa mengada-adakan (dalam riwayat lain: mengamalkan) sesuatu yang tidak berdasarkan tuntunan kami, maka tertolaklah ia” (HR. Muttafaq ’alaih).
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda pula: ”Barangsiapa berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersiap-siap mengambil tempatnya di Neraka” (HR.Muttafaq ’alaih, bahkan mutawatir).

4. Merujuk (mengacu) kepada pemahaman generasi salafus saleh dan khalafus saleh serta penjelasan para ulama ahli hadits. 
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, bersabda: ”Sebaik-baik generasi adalah generasiku, lalu generasi sesudahnya, kemudian generasi sesudahnya lagi” 
(HR. Muttafaq ’alaih). 
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): ”Maka bertanyalah kepada ahli ilmu, jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl [16] : 43; QS. Al-Anbiya [21] : 17)

5. Memahami as-sunnah sesuai dengan konteks pemahaman menyeluruh terhadap ajaran Islam. 
Karena seluruh ajaran Islam dengan berbagai aspeknya merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisah-pisahkan.  
Dan pemahaman parsial itu salah, menyimpang dan kontradiktif.

6. Memahami As-sunnah sesuai dengan Al-Qur’an. 
As-Sunnah merupakan penjelasan, penafsiran dan aplikasi terhadap Al-Qur’an. Jika ada hadits yang nampak bertentangan dengan Al-Qur’an, 
maka ada 3 kemungkinan : 
1 - Mungkin hadits tersebut tidak shahih 
2 - atau pemahaman kita yang salah 
3 - atau klaim pertentangan itu tidak riil.

7. Menghimpun hadits-hadits terkait dalam satu tema/topik tertentu.
Untuk memperoleh pemahaman yang benar, utuh dan proporsional
Seluruh hadits berasal dari satu sumber: Rasulullah shallallahu ‘alaihi 
      wasallam, yang mana satu sama lain saling melengkapi dan menjelaskan
Agar terhindar dari pemahaman yang parsial dan sikap yang ghulu (berlebih-    lebihan) serta mutlak-mutlakan dalam masalah khilafiyah.             

8. Memadukan atau mentarjih diantara hadists-hadits dan riwayat-riwayat yang tampak saling bertentangan.
Langkah –langkah yang harus dilakukan dalam hal ini adalah :
a. Menghimpun seluruh hadits dan riwayat terkait
b. Mengetahui derajat kekuatan setiap riwayat
c. Memakai riwayat yang kuat dan menggugurkan yang lemah
d. Mendahulukan metode jama’ (memadukan) atas metode tarjih.
e. Mentarjih sesuai metodologi yang dibenarkan.

9. Tawazun antara dua metode pemahaman: tekstual dan kontekstual
Mengakui adanya kedua metode pemahaman tersebut
Menerapkan secara benar dan proporsional
Berdasarkan metodologi yang diakui di kalangan para ulama. Jadi bukan asal-asalan dan tidak memperturutkan hawa nafsu.

10. Membedakan antara hal-hal / masalah-masalah ghoib dan non ghoib
Menerima, mengimani dan meyakini seluruh berita tentang hal-hal ghoib yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih, dengan tanpa membedakan antaa yang mutawatir dan yang ahad, baik itu tentang peristiwa-peristiwa yang telah lalu maupun kejadian-kejadian yang akan datang.
Tidak mengedepankan logika dalam menyikapi berita-berita tentang alam ghoib
Mengimani hal-hal ghaib apa adanya, lalu fokus pada aspek-aspek aplikatif di balik keimanan itu.

11. Mengimani dengan benar arti dan maksud kata-kata dan istilah-istilah yang ada dalam teks hadits.
Kekhasan bahasa hadits dan tingkat ketinggiannya kedua setelah Al-Qur’an.
Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam dikaruniai jawami’ul kalim (kemampuan mengucapkan kata-kata pendek dan singkat dengan kandungan makna yang padat, dalam dan luas).
Hadits adalah sumber hukum kedua sesudah Al-Qur’an, maka harus teliti dan berhati-hati dalam memahaminya karena jika tidak bisa fatal akibatnya.

12. Memahami As-sunnah sesuai dengan konteks peristiwa, latar belakang dan tujuan (asbabul wurud).
Contoh kesalahan memahami hadits karena tidak mengetahui “asbabul wurud”.

13. Memahami As-Sunnah sesuai dengan kaidah-kaidah dan metodologi yang diakui di kalangan para ulama hadits.
Mengakui dan menghormati spesialisasi 
Ilmu hadits merupakan salah satu spesialisasi ilmu syar’i yang paling banyak mendapatkan porsi perhatian dan kajian dari para ulama yang tidak terhitung jumlahnya sepanjang sejarah, sehingga meninggalkan khazanah ilmiah yang luar biasa.
Keharusan mewarisi riwayat-riwayat hadits lengkap dengan kaidah-kaidah ilmiahnya, pemahaman-pemahamannya dan bentuk-bentuk aplikasinya dalam bingkai madzhab-madzhab para imam yang diakui.


Sekuat Yusuf, Setegar Muhammad SAW

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّـيْطٰنِ الرَّجِيْمِ
بسم الله الرحمن الرحيم

Surat Yusuf Ayat 1
Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).

Surat Yusuf Ayat 2
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.

Surat Yusuf Ayat 3
Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.


Surat Yusuf Ayat 111
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Menarik sekali kalau kita cermati Qur'an Surat Yusuf ini, Surat yang secara khusus dan lengkap menceritakan kisah Nabi Yusuf Alaihissalam dari sejak kecil mendapatkan mimpi sampai menjadi menteri.

Coba kita perhatikan awalan Surat tersebut  dari ayat 1 sampai 3. Allah menegaskan, bahwa kisah dalam ayat - ayat selanjutnya bukanlah kisah yang sia - sia, bahkan Allah secara tegas mengatakan Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik, Kisah terbaik sebagai peneguh perjuangan dakwah Nabi Muhammad SAW. Kemudian cermatilah ayat penutup dari surat dari surat ini, Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. 

Awal surat Allah menegaskan bahwa ini adalah kisah yang paling baik, manusia mulia dengan segala lika - liku perjalanannya, kemudian Allah menutup dengan penegasan dan penekanan kembali tentang semua kisah yang ada di dalamnya dengan kalimat Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Allah memberikan free will kepada para pembaca, mengambil hikmah atau tidak, mengambil ibroh atau melawatkan begitu saja terhadap surat ini.

Terdapat kata 'ibroh yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa indonesia sebagai pengajaran. Salah satu makna Ibroh adalah jembatan yang menghubungkan atau untuk menyebrang. Jadi kisah dalam sejarah yang diceritakan oleh Al-Qur'an menjadi penghubung antara kita hari ini dengan apa yang terjadi di masa lampau, sehingga menjadi pelajaran bagi yang membaca hari ini jika mereka menggunakan akalnya. 

Dan perlu ada dalam catatan pada kita, bahwa sejarah adalah 1/3 isi Al-Qur'an. Al-Qur'an yang menjadi petunjuk hidup dan tuntutan umat islam berupa kisah - kisah yang menyejarah, ada tauhid, muamalah dan jihad di dalam kisah - kisahnya. Maka perlu kiranya kita kembali membaca surat yusuf ini sebagai refleksi kita hari ini.

Kisah Nabi Yusuf ini Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW ketika kira-kira 10 tahun masa kenabian. Nabi SAW yang saat itu mengalami kepedihan duka yang dalam, sampai - sampai dalam siroh dikenal tahun duka (Amul Huzn),  Hal itu dikarenakan pada tahun tersebut Ummul Mukminin Khadijah –radhiyallahu ‘anha– dan Abu Thalib, paman Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang membela Nabi dari ancaman pada kafir Quraisy juga wafat. Jarak waktu kematian keduanya sangatlah dekat. Kemudian beliau berdakwah ke thaif, namun sesampainya disana mendapat sambutan ludah dan lemparan batu hingga berdarah Nabi SAW.

Bertumpuk - tumpuk kesedihan Nabi Muhammad, mengalami duka yang begitu dalam dan saat yang berat di dalam dakwahnya, Allah menurunkan kisah terbaik, Kisah Yusuf Alaihissalam sebagai peneguh dan pengokoh jiwa Nabi Muhammad SAW. Allah seolah - olah ingin menghibur, memberikan pengajaran pada Nabi Muhammad bahwa apa yang dilaluinya sama beratnya dengan apa yang dilalui oleh Nabi Yusuf Alaihissalam. Sehingga tidak pantas Nabi SAW untuk bersedih hati.

Bagaimana kesedihan yang dialami oleh Nabi Yusuf, sejak kecil dijauhkan oleh saudara - saudaranya yang iri kepadanya, menurut hasan albashri ira - kira 80 tahun. Dibuang di dalam sumur dan kemudian ditemukan oleh khafilah dagang, dijadikan komoditas dagang budak. Hingga akhirnya dijual kepada pejabat negeri mesir, menjadi budak di kerajaan. Istri pejabat itu kemudian tergoda dan mengajak yusuf berzina, difitnah kemudian di penjara tanpa penghakiman. Di penjara kemudian berdakwah dan menafsirkan mimpi temannya dan berpesan agar disampaikan bahwa dia di zalimi. Namun sayangnya teman yang sudah ditafsirkan mimpunya dan bebas dari penjara lupa menyampaikan. Hingga akhirnya raja mempunyai mimpi dan barulah yusuf di panggil untuk menafsirkan mimpi kemudian diangkat sebagai menteri pangan saat menghadapi musim paceklik panjang di mesir. 

Karena sudah kangennya kepada Orang tuanya dan saudaranya, Nabi Yusuf membuat skenario agar orang tua dan saudaranya ke mesir dan bertemu. Singkat kisah keduanya bertemu dan Nabi Yusuf mendapati orang tuanya (yaqub) sudah buta karena kebanyakan menangis meskipun ia tahu bahwa sebenarnya Nabi Yusuf belum meninggal. Kemudian Nabi Yusuf bertemu dengan saudaranya yang dahulu meninggalkannya di sumur, dan kemudian Nabi Yusuf berkata pada sauda-saudaranya 
لاَ تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ


Begitu mendalamnya kesan Nabi terhadap kisah Nabi Yusuf, sehingga dalam fathul makkah, ketika semua pembesar - pembesar quraisy telah menyerah dan berada di hadapan Nabi SAW, kemudian Nabi berkata kepada para pembesar quraisy,
“Orang-orang Quraisy. Menurut pendapat kamu, apa yang akan kuperbuat terhadap kamu sekarang?”
“Yang baik-baik. Saudara yang pemurah, sepupu yang pemurah.” jawab mereka.
Kemudian Nabi Muhammad menyitir apa yang Nabi Yusuf sampaikan kepada para saudaranya yang dulu membuangnya ke sumur dan membuat sengsara. 
Beliau bersabda, “Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudaranya:

لاَ تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ

‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah mengampuni kalian. Dia Maha penyayang.’ Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian telah bebas!” (as-Sirah an-Nabawiyah oleh Ibnu Hisyam, 5/74).

Waulallhu 'alam bishowab

Sunday, December 27, 2015

Islamic World View

[Seri Ushul Isyrin]

Asas Pertama

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا 
.  Al-Maidah 3   

الإِسْلاَمُ نِظَامٌ شَامِلٌ يَتَنَاوَلُ مَظَاهِرُ الْحَيَاةِ جَمِيْعًا فَهُوَ دَوْلَةٌ وَوَطَنٌ أَوْ حُكُوْمَةٌ وَأُمَّةٌ، وَهُوَ خُلُقٌ وَقُوَّةٌ أَوْ رَحْمَةٌ وَعَدَالَةٌ، وَهُوَ ثَقَافَةٌ وَقَانُوْنٌ أَوْ عِلْمٌ وَقَضَاءٌ، وَهُوَ مَادَةٌ وَثَرْوَةٌ أََوْ كَسْبٌ وَغِنَى، وَهُوَ جِهَادٌ وَدَعْوَةٌ أَوْ جَيْشٌ وَفِكْرَةٌ، كَمَا هُوَ عَقِيْدَةٌ صَادِقَةٌ وَعِبَادَةٌ صَحِيْحَةٌ سَوَاءٌ بِسَوَاءٍ
Islam adalah agama yang menyeluruh, mencakup semua bidang kehidupan; Islam adalah negara dan watan atau pemerintah dan umat. Akhlak dan kekuatan atau rahmat dan keadilan. Pengetahuan dan undang-undang atau ilmu dan kehakiman. Kebendaan dan harta atau usaha dan kekayaan. Jihad dan dakwah atau tentara dan fikrah. Akidah yang benar dan ibadah yang sah tidak kurang tidak lebih.
Seperti yang telah di muqodimah sebelumnya, bahwa munculnya risalah ushul isyrin ini adalah jeritan kegelisahan imam syahid hasan Albanna yang melihat dunia islam dan umat muslim sudah mulai teracuni sekulerisme yang di mulai sejak runtuhnya khilafah utsmani di Turki. Jamaah Ikhwanul Muslimin berdiri di kota Ismailiyah, Mesir pada Maret 1928, dua tahun setelah runtuhnya khilfah utsmani oleh gerakan turki muda yang berhaluan sekuler di bawah pimpinan Kemal Pasha dan dukungan penuh dari freemason.

Hegemoni kelompok sekuler begitu cepat menyebar ditubuh umat islam, dunia islam yang saat itu merasa kecil, sebagai bangsa inferior kemudian bersikap terbuka menerima gagasan sekuler untuk memajukan negaranya. Sebab nilai sekularisme yang memposisikan negara dan agama pada kutub yang saling bersebrangan dan bertolak belakang sehingga membuat umat islam semakin jauh dari islam. Hal ini oleh Hasan Albanna dianggap sebagai sesuatu yang serius dan harus segera ditanggapi agar umat islam tidak semakin larut dalam arus sekularisme, nasionalisme dan isme - isme yang lain. Oleh sebab itulah didalam poin - point penjelasan pada asas pertama ini, Imam Hasan Albanna mencoba menjelaskan bagaimana kedudukan isme - isme yang lain di hadapan Islam.

Kita harus tahu, bahwa gerakan pembaharuan Hasan Albanna adalah sebuah gerakan yang sudah terinspirasi sebelumnya dari sang guru gerakan pembaharuan islam (pan islamisme), Muhammad abduh dan Jamaluddin Alafgani (1839-1897). Mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa inspirasi gerakan pembahuan pada dekade 1920-an adalah gerakan - gerakan yang terispirasi dari kedua tokoh pembaharu itu. Sebutlah Muhammadiyah (1911), Serekat Islam (1911) dan Jamaah Alkhairiyah (1906) yang menyebar di Indonesia, adalah gerakan - gerakan yang melanjutkan pemikiran pembaharuan kedua tokoh tersebut dengan konteks masing - masing wilayah garapan.

Hasan Albanna sendiri masih mempunyai hubungan erat dengan Muhammad Abduh dalam proyek tafsir almannar, tafsir yang mengabungkan ayat, ilmu pengerahuan dan kondisi realita muslim saat itu. Bahkan Hasan Albanna masih sempat melanjutkan sampai surat ke 13 tafsir Almannar setelah Muhammad Abduh wafat dan sebelum dibredelnya penerbitan brosur pekanan tafsir almannar. 

Islamic World View

Asas pertama dalam duapuluh prinsip dakwah ikhwanul muslimin yang coba digariskan oleh Imam Hasan Albanna adalah tentang Islam sebagai suatu cara pandang dalam kehidupan dan memposisikan islam sebagai agama yang sempurna untuk menakar pemikiran apapun. Meminjam Istilah Prof. Syaih Nuquib AlAttas sebagai Islamic World View, cara pandang islam, ru'yatul islam lil wujud, bagaimana islam memandang sesuatu yang wujud. Sebab syumuliyatul Islam yang digambarkan oleh Hasan Albanna pada kalimat "Islam adalah agama yang menyeluruh, mencakup semua bidang kehidupan".

Rumusan yang sangat tepat karena islam adalah antitesa dari sekularisme. Musuh terbesar sekularisme adalah agama dan kepercayaan terhadap sesuatu yang tidak tampak. Disisi lain Dakwah Ikhwan juga memperlihatkan bahwa tidak ada dikotomi antara dunia dan akhirat, duniawi dan ukhrowi. Semua adalah kesatuan dalam rangka menjadi kholifah fil ardh. sampai beliau dalam asas pertama ini memberikan contoh yang detail terkait kesempurnaan islam sebagai sebuah padangan hidup.
" Islam adalah negara dan watan atau pemerintah dan umat. Akhlak dan kekuatan atau rahmat dan keadilan. Pengetahuan dan undang-undang atau ilmu dan kehakiman. Kebendaan dan harta atau usaha dan kekayaan. Jihad dan dakwah atau tentara dan fikrah."

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ 
Ali Imran 19

Mengapa Kemudian Imam Hasan Albanna menjadikan asas pertama adalah islamic world view ? hal ini tentu karena islam merupakan agama yang mempunyai karakteristik; Islam adalah Agama Wahyu, Islam adalah agama yang bersumber pada wahyu dan bukan hasil spekulasi atau pengalaman hidup, Islam bukan hasil ijtihad manusia. Islam yang berdasarkan wahyu sehingga nilai - nilai yang terkandungnya adalah bersifat kekal, tidak berubah. Selain itu dari segi nama "islam" merupakan nama yang langsung Allah berikan dan pengikutnya disebut sebagai muslim. 

Disisi lain, islam memberikan posisi akal pada maqomnya, yang berbeda dengan sekuler yang membebaskan akal tanpa batas bahkan sampai menilai tuhan. Kendati demikian, maqom akal dalam islam harus kita pahami bahwa keseluruhan dari aqidah ini mendapat pembenaran dari akal dan dikukuhkan oleh analisa yang benar. oleh karena itulah, Allah memuliakan akal dengan menjadikannya sebagai salah satu syarat mukallaf (pemikul beban syariat). Islam menjadikannya sebagai faktor adanya taklif (kewajiban menjalankan agama) dan memerintahkannya untuk selalu meneliti, menganalisa, dan berpikir. Allah swt. Berfirman.
قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الْآَيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ
“Katakanlah, ‘Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman. ” (Yunus: 101)
أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ . وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ . تَبْصِرَةً وَذِكْرَى لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ . وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ . وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَهَا طَلْعٌ نَضِيدٌ . رِزْقًا لِلْعِبَادِ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا كَذَلِكَ الْخُرُوجُ
“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya, dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (Qaaf 6-11)

Pada bagian akhir kalimat pada asas pertama ini, Imam Hasan Albanna coba menegaskan kembali posisi antara hakekat dan syari'at secara benar.Akidah yang benar dan ibadah yang sah tidak kurang tidak lebih. Maka kalau kita lihat penjelasan dalam risalah 'aqoid akan kita dapati penjelasan tentang aqidah yang oleh beliau ditegaskan dalam asas pertaman ini dan beberapa point dalam risalah Alfahmu.

Point penekanan pada risalah pertama ini adalah Islam sebagai agama yang sempurna hendaknya dijadikan oleh seluruh umat islam dalam mamandang apa - apa yang baru, diluar islam. Sehingga bisa dikatakan islam adalah filter dari semua paham - paham yang berada diluarnya. Sehingga umat islam tidak bersikap ekstrem menolak atau menerima apa pun yang berada diluarnya tetapi cara pandang islam menjadi filter dari itu semua. kedua islam sebagai agama yang menyeluruh hendaknya diterapkan dalam segala aspek kehidupan tanpa terkecuali. 

waullahu 'alam bishowab

Berfikir Sejenak


Berpikir sejenak lebih baik daripada ibadah setahun.” (HR Al-Qurthubi).

Dalam salah satu bait syair yang digubah oleh Sunan Kalijogo, salah satu obat hati adalah moco qur'an angen - angen sak maknane (baca alqur'an dan memikirkan maknanya). Oleh sebab itu, marilah kita luangkan sejenak untuk memahami meskipun satu ayat, seperti hadits di atas Berpikir sejenak lebih baik daripada ibadah setahun.” (HR Al-Qurthubi).
Coba kita renungkan ayat dibawah ini;


إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ﴿ە۱۹﴾ ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًۭا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ﴿۱۹۱

 “Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191)

coba kita renungkan kata-kata di atas "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia". Mengapa diksi kata yang dipilih oleh Allah tidak, Tidaklah aku ciptakan semua ini dengan sia - sia?   Bukankah kata - kata “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” merupakan kata - kata yang muncul setelah proses berfikir dan meneliti ?

Saturday, December 26, 2015

Tikaman sang khotib

Jamaah yang dimuliakan Oleh ALLAH SWT
Mengapa masih ada Jamaah yang datang untuk Sholat Jum'at di akhir- akhir waktu khutbah?
Sebab Bagi mereka sholat jum'at hanyalah sebagai pemenuhan kewajiban, penggugur kewajiban. pokoknya sholat jum'at. Mereka tidak merasa sholat jum'at sebagai kebutuhan sehingga harus menata waktu datang paling awal, di shaf paling depan.
 
 

Friday, December 25, 2015

Muslims love Jesus too... YESUS yang mana ?

Christmas, as everyone knows, commemorates the birth of Jesus and is a major religious celebration for Christians around the world.
But what many people don't know is that Jesus is an important figure in Islam, too, even though most Muslims don't celebrate Christmas (though some of us, especially American Muslims, do).
In honor of the holiday, here are six things you may not know about the role of Jesus — and his mother, Mary — in Islam:
  1. Jesus, Mary, and the angel Gabriel are all in the Quran (as are Adam, Noah, Abraham, Moses, and a bunch of other Bible characters).
  2. Muslims believe that Jesus (called "Isa" in Arabic) was a prophet of God, was born to a virgin (Mary), and will return to Earth before the Day of Judgment to restore justice and to defeat al-Masih ad-Dajjal ("the false messiah"), also known as the Antichrist. All of which may sound pretty familiar to many Christians.
  3. Mary (called "Maryam" in Arabic) has an entire chapter in the Quran named for her — the only chapter in the Quran named for a female figure. In fact, Mary is the only woman to be mentioned by name in the entire Quran: As noted in the new Study Quran, "other female figures are identified only by their relation to others, such as the wife of Adam and the mother of Moses, or by their title, such as the Queen of Sheba." Mary is mentioned more times in the Quran than in the entire New Testament.
  4. Just as with all the other prophets, including Mohammed, Muslims recite, "Peace be upon him" every time we refer to Jesus.
  5. Muslims believe that Jesus performed miracles: The Quran discusses several of Jesus's miracles, including giving sight to the blind, healing lepers, raising the dead, and breathing life into clay birds.
  6. The story of Jesus's birth as told in the Quran is also the story of his first miracle, when he spoke as an infant in the cradle and declared himself to be a prophet of God. Here's the story:
  7. And remember Mary in the Book, when she withdrew from her family to an eastern place. And she veiled herself from them. Then We [God] sent unto her Our Spirit [the angel Gabriel], and it assumed for her the likeness of a perfect man. She said, "I seek refuge from thee in the Compassionate [i.e., God], if you are reverent!" He said, "I am but a messenger of thy Lord, to bestow upon thee a pure boy."
    She said, "How shall I have a boy when no man has touched me, nor have I been unchaste?" He said, "Thus shall it be. Thy Lord says, ‘It is easy for Me.’" And [it is thus] that We might make him a sign unto mankind, and a mercy from Us. And it is a matter decreed.
    So she conceived him and withdrew with him to a place far off. And the pangs of childbirth drove her to the trunk of a date palm. She said, "Would that I had died before this and was a thing forgotten, utterly forgotten!" So he called out to her from below her, "Grieve not! Thy Lord has placed a rivulet beneath thee. And shake toward thyself the trunk of the date palm; fresh, ripe dates shall fall upon thee. So eat and drink and cool thine eye. And if thou seest any human being, say, ‘Verily I have vowed a fast unto the Compassionate, so I shall not speak this day to any man.’"
    Then she came with him [the infant Jesus] unto her people, carrying him. They said, "O Mary! Thou hast brought an amazing thing! O sister of Aaron! Thy father was not an evil man, nor was thy mother unchaste." Then she pointed to him [Jesus]. They said, "How shall we speak to one who is yet a child in the cradle?"
    He [Jesus] said, "Truly I am a servant of God. He has given me the Book and made me a prophet. He has made me blessed wheresoever I may be, and has enjoined upon me prayer and almsgiving so long as I live, and [has made me] dutiful toward my mother. And He has not made me domineering, wretched. Peace be upon me the day I was born, the day I die, and the day I am raised alive!"
    That is Jesus son of Mary— a statement of the truth, which they doubt.
    Merry Christmas!
    Source : http://www.vox.com/2015/12/23/10660648/jesus-in-islam
    Kerancuan Berfikir tentang Nabi ISA Alaissalam dan Yesus yang di Gereja
    Sebenarnya sudah tidak menarik lagi untuk membahas pernyataan di atas, namun karena ada salah seorang teman saya yang kemudian membagikan artikel tersebut di jejaring sosial saya tergelitik untuk sedikit memberikan pernyataan pribadi sebagai orang yang miskin ilmu. Bukan karena apa - apa, hanya saja seperti ada kesalahan berfikir dan mencampur adukan antara dua barang yang haq dan batil. Tentu aneh bagi kita yang merasa muslim.
    Kerancuan itu terletak pada mencapurkan antara kisah Nabi Isa (yesus) yang kita imani sebagai nabi pembawa berita gembira akan kedatangan Nabi Muhammad dan Orang yang diserupakan dengan Nabi Isa atau Yesus (Judas) ketika diangkat ke langit. Sehingga pertanyaannya adalah "Siapkah sosok yang tergantung di Salib Gereja?".  Nabi Isa atau Yesus yang kita imani sebagai rasul utusan atau Orang yang diserupakan dengan Nabi Isa (Judas)?. Apa lagi di akhir artikel di atas ditambahi "Marry Cristmas" .
    Bagi umat islam, wajib mempercayai bahwa Nabi Isa atau Yesus adalah bagian dari 25 Nabi dan Rasul yang Allah utus ke Bumi yang kemudian diangkat oleh Allah beserta ruh dan jasadnya ke langit ketika hendak di bunuh kaum bani israel yang tidak mempercayai kenabiannya. Kembali kepada tentang ucapan "Marry Cristmas", Siapakah yang dilahirkan tanggal 25 Desember ? Benarkan Nabi Isa atau Yesus dilahirkan tanggal 25 Desember ?. Kita muslim mengakui Nabi Isa sebagai bagian dari keimanan kita kepada Nabi Muhammad, Namun bukan berarti kita boleh dan bahkan di wajibkan mengucapkan Selamat Natal. 
    Muslims love Jesus too... YESUS yang mana ?
    Pertanyaan tentang Yesus yang mana, ini penting kita jawab, agar lebih jelas posisi kita berdiri dalam pembahasan ini. Sudah saya sampaikan diawal bahwa Muslim wajib mengimani Nabi Isa atau Yesus sebagai bagian dari keberislaman kita. Namun, sama kah Yesus dalam persepsi seorang muslim dengan Yesus dalam persepsi orang Kristen hari ini? yang tergantung ditiang salib gereja?.
    katakanlah Kemudian ketika kita mengucapkan selamat natal itu sebagai bentuk mengatakan selamat atas "kelahiran Yesus". Sebagai seorang muslim yang tahu akan sejaran, Benarkan yesus di lahirkan pada 25 desember ?.
    Mengapa kita hari ini (masih) ribut masalah boleh tidaknya mengucapkan selamat hari natal yang sudah jelas bahwa Yesus dalam persepsi muslim dan kristen sudah beda, ditambah keabsahan tanggal 25 desember sebagai kelahiran yesus masih dipertanyakan oleh para ilmuan pakar kristen sendiri. Jangan sampai maksud baik kita menampakkan kebodohan kita, tentang siapa yang lahir pada tanggal 25 desember. 
    Namun permasalahannya adalah ketika umat kristen hari sudah sangat percaya bahwa 25 desember adalah kelahiran yesus.  Mati ditiang salib untuk menebus dosa umat manusia. Kemudian dijadikan salah satu dari oknum yang disembah dan tergantung di gereja.
    Kalau kita mengucapkan selamat natal itu, kira - kira orang yang kita berikan ucapkan itu menangkap apa yang kita ucapkan itu sesuai persepsi mereka atau sesuai persepsi kita?
    Maka dengan kita mengucapkan selamat hari natal, berarti kita mengiyakan apa yang menjadi kepercayaan mereka bahwa Nabi Isa atau Yesus dilahirkan pada tanggal 25 desember. Mati di tiang salib menebus dosa kemudian dijadikan satu dari tiga oknum tuhan yang disembah.

Sungguh Ini FITNAH yang NYATA

Sampai hari ini saya masih kurang paham dengan aplikasi - aplikasi online yang dengan mengisi sesuatu kemudian diketahui arti nama dan sebagainya. Ini muncul lagi yang baru, tentang pekerjaan yang cocok.... Bagaimana mungkin saya anak Jurusan Teknik Kelautan dikatakan anda cocok menjadi Ahli Teknik Elektronika.. Sungguh ini fitnah yang NYATA.. wkwwkw..