Monday, November 28, 2011

Kisah Cinta Arjuna Realita (2)


" Memang tidak mudah. Sebab tidak karena kamu mencintai, lalu hendak memberi, atau kamu menebar pesona kematanganmu melalui itu, maka cintamu berbalas. Fakta itu mungkin pahit. Tapi begitulah adanya: kadang-kadang kamu harus belajar menepuk angin, bukan tangan lain yang melahirkan suara cinta ".( Anis Matta - Serial Cinta )

Terkadang dalam menabur cinta, biji - biji dapat tumbuh, semi, berbunga sampai berbuah. meskipun tanpa atau hanya sedikit air yang menyirami. Sebab biji cinta mampu menghidupi dirinya sendiri, tanpa harus ada kasihani. Namun terkadang biji cinta itu tetaplah makhluk yang pada dasarnya membutuhkan air utnuk tetap menjalani kehidupan sambil menunggu musim hujan datang. Dan kalau pun pemberi air itu dari gayung cinta di samping kita, bisa jadi biji cinta itu akan luluh dan mengikuti hulu air sampai bertemu gayung cinta tersebut. Maka pada saat itu kita akan sadar bahwa tumbuhnya biji cinta tidak dapat mengandalkan dirinya dan harus ada gayung cinta yang menyiramkan ketenangan dan kedamaian menunggu masa depan.

" Arjuna Realita " bukanlah " Arjuna Imajiner " yang mampu memberikan semua keinginan wanita pujaan hanya dengan terbang ke kayangan. " Arjuna Realita " hanya mempunyai senja andalan do'a yang berharap akan terkabulkan. Tidak seperti " Arjuna Imanjiner yang bisa kong kallikong dengan dewa - dewa kayangan untuk memenehu permintaannya. Pada dasarnya, " Arjuna Realita " adalah pemuda yang masih berguru di Sekolah Elektronika di Negeri Nawalima, bukan seorang anak kerajaan seperti " Arjuna Imanjiner " namun hanya anak seorang petani biasa di kampung Santri.

Ada kesamaan antara " Arjuna Realita " dengan " Arjuna Imajiner ", sama - sama mempunyai rasa cinta kepada wanita. Namun beda cerita, " Arjuna Imajiner " dengan ketampanan dan kehebatan panahnya mampu menaklukan dewi cantik sekelas " Srikandi ", sedangkan " Arjuna Realita " adalah Ksatria bersenjatakan solder dan ketapel yangjauh dari kesan eksklusif seperti halnya " Arjuna Imajiner ". Namun inilah indahnya kisah " Arjuna Realita " yang berjuang dalam kesederhanaan untuk mendapatkan wanita sekelas anak Priyayi " Dewi Srikandi " nya pak kyai.

Pada suatu kesempatan, " Arjuna Realita " yang telah lama menjadi teman akrab " Dewi Srikandi "nya pak Kyai ingin agar dirinya bisa menjadi mantu dari Pak Kyai untuk putrinya yang ke dua. Keyakinan yang selama ini ada di hati " Arjuna Realita " adalah kecocokan dengan " Dwi Srikandi. Saat indah kedekatan itu mulai muncul ketika mereka sama - sama bersekolah di SMA Negeri Ngalengka, dua tahun satu kelas membuat kedekatan hati semakin melekat kuat hingga bunga cinta bersemi di hati mereka. Hingga " Arjuna Realita " bertekad akan mempersunting " Dewi Srikandi "nya Pak kyai untuk menjadi pendamping hidupnya. Sekarang dia masih menunggu momen di saat tepat, saat dirinya sudah mapan dan sukses. Semua hanya menunggu waktu.

Bunga cinta di taman hati " Arjuna Realita " sedang bermekaran dan tinggal memetiknya untuk dipersembahkan sebagai penyempurna agamanya. Meminang " Dewi Srikandi " pak kyai. Namun, keyakinannya harus layu karenaImpian tak sesuai kenyataaan. Kenyataan bagai racun yang membuat bunga harus mati, Kenyataan bahwa " Srikandi " telah dijodohkan dengan " Panglima Perang " yang merupakan kakak seperguruan wakru di SMA. Kenyatan bahwa "Arjuna Realita " bikanlah pilihan utama semua orang tua, karena dunia nyata adalah Irisan kenyataan yang jauh dari angan - angan.

Sekarang kenyataan yang dihadapi sang " Arjuna Realita " adalah perasaan yang masih berat untuk melepas " Srikandi " yang memang dia akui bahwa harapannya sebnarnya adalah mimpi karena merasa tidak Seimbang. " Dewi Srikandi " adalah puteri seorang sesepuh desa, seorang tokoh juga kyai terpandang. sedangkan " Arjuna Realita " adalah preman lapangan dan brandalan kampung yang baru nyantri dan hanya berlatih baca Al fatihah serta membarsihkan mushola. Inilah kenyataan hidup, Cinta tanpa kemapanan adalah Angan - angan kosong. Cinta butuh kemapanan. itulah salah satu sebab, kenapa " Srikandi " dijodohkan dengan " Panglima " bukan dengan nya. ya, karena dia adalah preman. tapi bagi " arjuna" realita, semua akan bisa berbalik dengan segala usaha dan do'a.

Tahun baru hijriyah, saatnya kita berhijrah...



ketika kita membaca siroh ( sejarah ), kiranya kita akan mendapati bahwa tahun baru hijriyah ini baru ditetapkan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Sebagai acuan penetapannya digunakan peristiwa Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari mekah ke madinah, sehingga satu tahun setelah hijrah itu dikatakan sebagai tahun 1 Hijriyah. pastinya ada hal khusus mengapa hijrahnya Nabi dan Sahabat termasuk umar di jadikan titik tolak perhitungan tahun.

kita lihat kembali perjuangan hijrah nabi SAW, bagaimana beliau dan sahabat harus rela pergi dari tanah kelahiran menuju daerah baru yang masih penuh tanda tanya. Tentu bukan perkara mudah bagi banyak sahabat, mereka harus merelakan harta, ternak dan perkebunan yang ada di mekah untuk di tinggal ke madinah. Bukan hall yang mudah ketika perjalanan harus secara sembunyi - sembunyi agar tidak di ketahui oleh kaum Quraisy.  Begitu juga Rasullullah, yang harus berhijrah di malam hari untuk lepas dari kepungan musuh yang ada di sekeliling rumahnya. Beliau harus bersembunyi dalam goa, melakukan perjalanan di panasnya gurun dan sengatan terik matahari. Jalan beliau seperti mengambang di udara dengan tanpa alas agar musuh tidak mengetahui jejaknya. Sungguh masaih banyak perjuangan heroik dalam peristiwa hijrah dari mekah dan madinah yang menjadikan Umar bin Khattab menggunakan sebagai perhitungan tahun islam.

Satu hal yang membuat Nabi dan para sahabat waktu itu mau untuk meninggalkan mekah yang penuh kepastian menuju kota madinah yang masih penuh misteri. Mereka ingin melakukan perubahan, membuat peradaban baru. Perubahan dari segala perbuaatn kaum jahilliyah dengan segala keburukannya menuju tanah madinah mereka yakini  sebagai kemengan yang Allah janjikan. Semua ingin melepsakan diri dari tekanan kaum kafir Quraisy, membebaskan kemuarnian Aqidah dari jeratan jahilliyah menuju fitrah untuk beribadah kepada Allah SWT.

memaknai ( kembali ) Hijrah

Secara kontekstual, hijarah tidak mengenal batas waktu dan tempat. sehingga semua orang dalam setiap waktu dan tempat mampu melakukannya. Sehingga kita dapat memaknai hijrah secara luas, yang selanjutnya semangat untuk berhijrah itu mampu kita internalisasikan ke dalam diri kita masing - masing. Kalau kita lihat kembali peristiwa hijrah Nabi dengan segala latarbelakang dan kondisi yang menyertainya, maka masih sangat relevan bagi kita untuk mencotoh perbuatan nabi tersebut secara kontekstual. kita dapat menginterpretasikan makna hijrah pada kondisi kekinian dimana sekarang kita mampu berada dan pada kondisi bagaimana diri kita hari ini.
Peristiwa hijrah nabi merupakan peristiwa paling berat untuk dilakukan para sahabat, penuh perjuangan dan pengorbanan besar untuk dapat melakukannya. mereka meninggalkan mekah yang penuh tekanan kejahilliyahan yang akan menggerus keimanan menuju madinah yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Namun keyakinan akan janji Allah bahwa mereka akan meraih kegemilangan adalah motivasi yang tak akan padam. Banyak kisah heroik para sahabat untuk mampu meninggalkan mekah menhuju madinah dengan segala resiko yang akan diterima jika hijrahnya diketahui oleh intelejen Kafir Quraisy. Namun mereka semua melakukannya hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ibnu Qayyim membagi 2 hijrah dengan cakupan yang sangat luas, Hijrah Dengan Hati Kepada Alloh dan Hijrah Dengan Hati Kepada Rosululloh.
Hijrah dengan hati kepada Allah.
Sebagaimana perintahnya " “Maka segeralah (berlari) kembali mentaati Alloh.” (Adz Dzariyaat: 50). Hijrah ini meliputi ‘dari’ dan ‘menuju’ yang nantinya akan membawa perubahan dari ketidak taatan menuju ketaatan. Banyak ibroh ( pelajaran ) tersirat yang mampu kita ambil sebagai pembelajaran dan motivasi untuk senantiasa perubahan. Sebuah perubahan yang membawa kita kembali dan semakin dekat kepada Allah SWT. Perubahan kecil dari perilaku kita sehari - hari sampai pada perubahan diri kita menjadi pribadi - pribadi yang bertakwa dan totalitas dalam pengabdian kepad Allah. Perubahan dengan meninggalkan segala kejahiliyahan menuju nilai - nilai islam. Kejahiliyahan dengan melanggar perintah - perintah Allah menuju ketaatan pada perintah Allah. inti hijrah kepada Alloh ialah dengan meninggalkan apa yang dibenci Alloh menuju apa yang dicintai-Nya. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim ialah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Alloh.” (HR. Bukhori dan Muslim).
Menomor satukan  Allah dari pada yang lain, dari pekerjaan, kesibukan dan tugas - tugas duniawi. maka meninggalkan sholat hanya karena sedang sibuk deadline tugas adalah menduakan Allah, Bercanda ria hingga lupa waktu sehingga shalat di penghujung waktu adalah kejahiliyahan yang tidak boleh lagi kita kerjakaan. karena hijrah ini adalah Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamti lillahi robbil alamin “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Alloh Tuhan semesta alam.”
Maka, sudah jelas bahwa arah hijrah kita adalah jalan hijrah menuju ketaatan pada Allah SWT, menjalankan perintah NYA dengan ikhlas mengharap ridha NYA. Sudahkan kita menyiapkah diri untuk berhijrah kepada Allah dengan totalitas ?

Hijrah Dengan Hati Kepada Rosululloh.
Alloh berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kamu, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan menemui Allah dan Hari Akhir dan mengingat Allah sebanyak-banyak” (QS Al Ahzab 33 : 21). Hijrah ini adalah hijrah dengan men-transformasi-kan nilai - nilai akhlak rasullullah kedalam diri kita. hijrah ini menuntut kita menjadikan Nabi Muhammad sebagai tauladan yang wajib di contoh dalam segala aspek kehidupannya. bagaimana beliau dalam menjalankan hidup dari bangun tidur sampai beliau tidur lagi. sebab, tidak ada sosok yang lebih sempurna yang dapat dijadikan contoh.
Maka, membuat Beliau kecewa dengan meninggalkan sunnah - sunnahnya. Membuat marah beliau dengan mengabaikan shalat yang merupakan pesan terakhir sebelum meninggal. Bukankan kita yang disebut saat terakhir beliau menghadapi sang maut ? da bukankah kita nanti yang akan beliau cari ketika dibangkitkan di padang mahsyar ?
maka masih layakkan kita melupakan momentum hijrah untuk terus berhijrah menuju Allah dan Rasul Nya ?

Tahun baru Hijriyah ini milik Siapa ?



malam begitu sunyi, suara jangkrik dan hewan - hewan malam bersahutan meramaikan galapnya malam ini. tak terlihat lalu lalang manusia dalam aktivitasnya, mungkin semua telah letih kerja di siang tadi. hanya dari beberapa surau terdengar suara samar - samar lantunan ayat - ayat al - quran. suara khas anak kecil yang oleh guru ngajinya disuruh taddarus. Entah mengapa malam ini begitu sunyi tak seperti biasanya, sepertinya keletihan pada siang telah menggulung semua orang dalam kealpaan dan ketidak sadaran akan nikmat - nikmat yang telah Allah turunkan hari ini.

oh, ternyata malam ini tepat hilal diufuk timur. bulan kecil pertanda tanggal baru. bukan, ternyata hari ini tidak hanya tanggal baru. lebih dari itu, tahun ini merupakan tahun baru. sungguh momentum pergantian tahun ini tidak dapat dirasakan. tidak ada kemeriahan dalam penyambutannya. tidak ada pesta dan sorak sorai melihat hilal tanda kebesaran - NYA. Bahkan tidak ada orrang - orang yang sekedar berkumpul untuk mensyukuri bergantinya perhitungan tahun. semua tenggelam dalam rutinitas hingga tidak ada lagi yang peka akan keadaan dan kejadian disekelilingnnya. mungkin kecuali anak - anak kecil yang disuruh guru ngajinya untuk tadaraus di surau kecil, karena jika tidak mau akan tidak dinaikan tingkat ngajinya. mungkin anak kecil itupun juga tidak sadar akan guna bacaan tadurus yang tidak biasa. Bukankah biasanya ngajinya hari Kamis malam ? ini hari sabtu malam malah ngaji. memang tanggal 1 Muharram, hilal pergantian tahun ini tidak menarik dibandingakan hilal 1 Ramadhan atau 1 Syawal.

Mengapa bisa seperti ini ? apakah memang semua sudah tidak ada merasa bahwa tahun telah berganti ? apakah semua tidak lagi memaknai tahun baru islam ini ?. Apakah aktivitas telah menggulung mereka dalam kesibukan hingga kepekaan ? atau memang budaya telah bergeser untuk mengikuti budaya hedonis dalam perayaan tahun baru masehi ?

Mungkin pernyataan terakhir lebih kuat, gaya masyarakat yang konsumtif cendrung hedonis dalam perayaan tahun baru Masehi telah menggiring umat muslim untuk ikut larut dalam kelompok mereka. Melupakan Tahun baru Hijriyah dan ikut berpesta dalam Tahun baru masehi. Pemikiran kita telah dituntun untuk melupakan makna tahun baru hijriyah. Mereka di"paksa " untuk menanggalakan identitas dan merasa malu dengan identitas " Perayaan Tahun Baru Hijriyah ". Padahal ada makna besar dalam tahun baru hijriyah, yaitu memaknai peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW. Akan sangat luar biasa sekali jika semua orang mampu memaknai Hijrah tersebut. Sebab semua keadaan yang buruk hari ini akan berganti dengan kebaikan. sebagaimana hijrahnya Nabi SAW, Mengubah keadaan Jahiliyah dengan cahaya islam.

itulah makna yang coba dikaburkan, agar semua jauh dari meneladani uswah hasanah Nabi SAW.  sehingga makna yang kabur itu akan segera diganti dengan makna yang " jahiliyah " saat bangsa Romawi berkuasa. Tanggal 1 januari sangat identik dengan kaum paganis penyembah berhala dan dewa - dewa. Nama " Januari " adalah nama salah satu dewa, dewa Janus. Dewa yang memiliki dua wajah yang yang konon mampu meneropong masa depan dan masa lalu. Ternyata memang perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tersebut. Perayaannya pun tidak lepas dari penyembahan dewa - dewa yunani kuno yang telah berganti nama. Apakah kita akan mengitui langkah - langkah orang - orang terdahulu penyembah berhala yang sesat ? atau sekarang kita telah membuat " berhala - berhala " baru dalam perayaan tahun baru masehi sehingga membuat kita semakin jauh dengan Allah ?

Maka sangat bijak pesan Rasullallah SAW, " Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari ‘Abdullah bin ‘Umar ). dan pesan ulama' tentang menyelesihi perbuatan suatu kaum musyrik, Ibnu Taimiyyah berkata, “Telah kami sebutkan sekian dalil dari Al-Qur`an, As-Sunnah, Ijma’, atsar (amalan/perkataan shahabat dan tabi’in), dan pengalaman, yang semuanya menunjukkan bahwa menyerupai mereka dilarang secara global. Sedangkan menyelisihi tata cara mereka merupakan sesuatu yang disyari’atkan baik yang sifatnya wajib ataupun anjuran sesuai dengan tempatnya masing-masing.” (Iqtidhaa Ash-Shiraathil Mustaqiim 1/473)

Mari berkompetisi


Meneladani Kompetisi Para Sahabat

Pernahkah anda menonton Film tentang penciptaan manusia yang di buat oleh Harun Yahya ? atau anda masih ingat bagaimana proses terciptannya manusia ?. Mari kita bersama merenungi pelajaran dari proses penciptaannya manusia. Sebuah proses panjang yang penuh perjuangan dan kompetensi.
Masih ingatkah anda dengan awal mula proses penciptaan manusia ? ya, bertemunya sel sperma dan sel ovum. Tapi mari kita lihat proses sebelum itu, berapa sel sperma yang di keluarkan? Padahal kita tahu hanya ada satu sel ovum yang bisa di buahi. Artinya apa, dari sekitar 3,6 juta sel sperma  yang ada harus berkompetisi untuk  mendapatkan satu sel sperma itu. Pasti yang  terbaiklah yang akan mampu mendapatkan hadiah berupa sel ovum tersebut. Semoga kita masih ingat itu, bahwa setiap kita mempunyai jiwa – jiwa untuk berkompetisi menjadi yang terbaik. Maka selayaknya jiwa terbaik kita kita gunakan untuk berkompetisi mempersembahkan yang terbaik kepada  pencipta, Allah SWT.
Mengapa kita harus berkompetisi dan mempersembahkan yang terbaik ?
Tentu karena Allah telah memotivasi  kita untuk senantiasa berlomba – lomba dalam kebaikan, mengambil juara dari kita yang terbaik amalnya. “ bersegeralah kalian kepada kepada ampunan dari rabb kalian dan surga yang luasnya adalah langit dan bumi..... Dan Allah menyukai berbuat baik “ ( Qs. Ali Imran : 133 – 134 ).  Allah memotivasi kita untuk bersegera menyambut seruan berkompetisi dalam merebutkan surga dan tentu yang terbaiklah yang akan menjadi pemenang. “ Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siap yang terbaik amalnya “ ( Qs. Al kahfi : 7 ). Sudah kita turut menyambut seruan kompetisi Surga Award dan mempersembahkan yang terbaik ?. Mungkin  kiranya kita perlu berkaca pada pada generasi terbaik, bagaimana mereka berkompetisi dalam kebaikan dan ingin selalu menampilkan yang terbaik.
Dalam sirah diiceritakan Umar bin Khattab beberapa kali terlibat “ persaingan “ dengan Abu Bakar, dan tentu Umar berambisi ingin mengalahkan Sahabat senior Abu bakar. Pada suatu hari ada seorang wanita tua menolak jaminan jaminan kebutuhan hari tuanya dan dengan hati agak marah berkata “ Sudah ada yang menjamin kebutuhan ku...”. Umar yang penasaran akhirnya ingin tahu siapa yang kiranya yang telah mendahuluinya memberi jaminan pada si nenek  tadi, akhirnya dilihatlah sosok kurus abu bakar mengendap – endap memikul karunf yang berisi hajat hidup nenek tersebut. 1 – 0 untuk kemengan Abu bakar.
Dilain frame diceritakan dalam menyambut seruan jihad Perang Tabuk , Umar bersegera yang saat itu langsung diinterview oleh Rasulullah, “ Berapa yang kau tinggalkan untuk keluarga mu ? “. Dengan perasaan bangga Umar menjawab “ sebanyak yang aku serahkan kepada Allah dan Rasul NYA “. Tapi dia akhirnya dibuat tercengang mendengar jawaban Abu Bakar ketika ditanya dengan pertanyaan yang sama. Beliau menjawab “ Cukuplah Allah dan RasulNya yang  aku tinggalkan untuk keluargaku “. Memang menjadikan Abu Bakar sebagai kompetitor amal membuat Umar harus mengakui, “ Mulai hari ini aku sadar, tampaknya aku tak akan pernah bisa mengalahkan Abu Bakar “.
Namun kita layak tersenyum melihat semuanya, karena merekalah contoh  tentang berkompetisi dalam beramal dan pengorbanan untuk islam. Bahkan rasanya kita bisa iri hati untuk itu, tak apa kita iri.
“ Tidak ada iri hati kecuali dalam dua perkara. Orang – orang diberi harta oleh Allah lulu dia belanjakan pada sasaranyang benar,. Dan orang – orang yang dikaruniai ilmu dan kebijaksanaan lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya “( HR. Al bukhari )
Hidup ini kompetisi. Seruan kompetisi dan persaingan telah dimulai. Setiap kita adalah kompetitor dalam beramal untuk meraih Surga Award yang luasnya langit dan bumi. Dan setiap kita sedang menuju garis finis kehidupan yang sama. Masihkan kita menunggu untuk turut meramaikan kompetisi ini ?
Kiranya menunggu untuk ikut berkompetisi ini terlalu lama, meskipun hanya dengan memakan dua biji kurma. “ aku mencium wanginya surga dari balik bukit ini. Kiranya hidup terlalu lama kalau aku menghabiskan kurma ini “. Itulah perkataan Umar bin Al Hammam langsung memuntahkan kurmanya menyambut seruan jihar\d medan Uhud. Dan dia syahid didalamnya.
Lalu, masihkah kita menunggu ?  

Thursday, November 24, 2011

Mestinya Kita harus Menangis


Muhasabah

Menangislah sebelum tangis hanya tinggal punya satu makna, penyesalan.
Menangislah, sebelum mereka menangisi mu dalam seremoni.
Menangislah, karena mata yang aman dari neraka adalah mata yang yang menagis karena takut pada – NYA.
( K.H. Rahmat Abdullah )

saudaraku, hendaknya kita selalu melakukan muhasabah. Mengoreksi setiap tindakan dan perbuatan yang telah kita lakukan. Mengoreksi, apakah tindakan kita selama ini telah sesuai dengan nilai – nilai ke- illahi- an atau tindakan kita selama ini lebih banyak terwarnai nilai – nilai nafsu dan ajakan syaitan   - syaitan dari golongan jin dan manusia. Mengoreksi apakah niat kita dalam mengerjakan amal selama ini telah ikhlas mengharap ridho Allah atau niat untuk bukan karena Allah SWT.

Marilah kita sejenak merenungkan pesan – pesan tersurat dalam Al – Qur'an dan Hadis Rasulullah. Pesan yang diturunkan sebagai garis petunjuk penuntun jalan kita. Pesan yang menjadi pengingat untuk kita, tentang apa yang telah dan akan kita perbuat.
“ Wahai orang – orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat  untuk hari esok dan bertakwalah kepada Allah, sesungghunya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “(Qs. Al – Hasyr : 18 )
sudahkah kita menyiapkan untuk itu ? Bagaimanakah dengan perbuatan kita selama ini ? Sudahkah perpuatan kita selama ini sudah sesuai dengan nilai – nilai illahi ?
Kiranya inilah pesan Rasullullah kepada umat yang sangat dicintai “ mintalah fatwa kepada hatimu. Kebajikan adalah sesuatu yang embuat jiwa tenang dan hatimu tentram, sedangkan dosa adalah yang bergejolak dalam jiwa, membuat gundah serta ragu – ragu dalam dada, walaupun orang berbicara dan memberi fatwa kepada mu “ ( HR. Ahmad )

nilai – nilai ke- illahi -an telah ada dalam diri kita sejak kita lahir, bahwa yang namanya keburukana adalah membuat laru lagi menyesakkan. Kita sadari atau tidak, kita mengakui atau tidak. Maka sudah saatnya lah kita harus segera mengoreksi diri kita. muhasabah an – nafs, menginstropeksi diri dengan apa yang telah kita kerjakan selama ini.

Haasibuu anfusakum qabla an tahaasabu...
hisablah dirimu sebelum engkau dihisab nanti di hadapan Allah...
mari sejenak kita menghisab perbuatan kita sebelum kita selama ini, menakar amal perbuatan yang telah kita lakukan, menimbang keburukan yang telah kita kerjakan. Mungkin dari sinilah, kita akan mampu mengukur diri kita. Seumpama hari ini adalah hari untuk hidup terakhir kita di dunia, sudah siapkah kita ? Sudah cukupkah amal kita ? Dimanakah kita nanti berada ?. Inilah pertanyaan yang harus kita jawab...

·    bagaimanakah sholat kita selama ini ? Sudah tepat waktu atau kita selama ini mengerjakan dipenghujung waktu ? Berapa kalikah shalat jamaah kita ?. Padahal inilah perkara yang akan pertama kali dihisab. Jika ini baik, maka semua akan baik.
·    Apakah kita selalu menyempatkan diri untuk bangun malam menegakkan shalat meskipun terasa berat ?, apakah berat itu karena maksiat atau kondisi fisik  yang berat ? Atau karena memang kita tidak pernah meniatkan sama sekali untuk bangun.
·    Bagaimanakah shalat rawatib kita ? Shalat qobliyah shubuh yang lebih utama dari dunia seisinya ?. Bukan kah ini yang akan menutupi kekurang sempurnaan sholat fardhu kita ?
·    Masihkah kita meluangkan waktu untuk menyelami kalam illahi dalam tilawah dan tadabbur Al – qur'an meskipun hanya beberapa ayat ? Atau kita lebih tenggelam dalam kesibikan tugas – tugas ?
·    Apakah kita selama ini selalu mengingat Allah disaat sepi dengan rasa khusyuk hingga meneteskan air mata dalam kenikmatan dzikrullah ?
·    Bagaimana dengan puasa – puasa sunnah kita ? Bukankah ada banyak kebaikan didalamnya ?
·    Apakah kita menyadari bahwa sesungguhnya Allah mempunyai malaikat – malaikat yang selalu mengawasi kita ? Mencatat segala perbuatan kita,
·    apakah kita selalu merasa dalam pengawasan dan kesertaan dalam setiap perbuatan kita ?
·    Sudahkah kita mensyukuri nikmat – nikmat Allah setiap hari ?

Mungkin kita dapat bohong ketika ditanyai pertanyaan diatas oleh teman kita, mentor kita, orang tua kita. Namun, sadarlah kita dapat membohongi seluruh orang dalam setiap waktu. Tapi, hati nurani tidak akan bisa dibohongi. Seperti dalam hadis di atas, bahwa keburukan adalah kesesakan dalam dada.

Mungkin kita telah melakukan banyak dosa, dosa yang kita sadari maupun tidak kita sadari. Ketahuilah, bahwa dosa kecil itu bisa terus membesar karena kita remehkan. Dosa kecil itu bisa menjadi besar jika kita malah membanggakan dosa kita kepada orang – orang dengan menganggap bahwa dosa itu adalah sebuah prestasi. Dosa itu akan terus menjadi besar jika kita lakukan secara terus – menerus dan berulang tanpa adausaha untuk memperbaiki

marilah kita mohon ampun kepada Allah, beristigfar sebanyak – banyaknya. Tidak perlu menunggu hari esok, tak perlu merasa gengsi, menangislah dengan penuh penesalan akan dosa – dosayang telah kita lakukan selama ini. Mengkufuri nikmat – nikmat dengan melakukan banyak maksiat. Menangislah karena semua penyesalan dan pengharapan akan ampunan allah itu akan datang.

Menangislah sebelum tangis hanya tinggal punya satu makna, penyesalan.
Menangislah, sebelum mereka menangisi mu dalam seremoni.
Menangislah, karena mata yang aman dari neraka adalah mata yang yang menagis karena takut pada – NYA.

Allahu 'alam bish-shawab.

( disarikan dari buku Spiritual Problem Solving karya solikhin Abu Izzudin dan Puji hartono )

Masihkah Seperti ini ?

Waktu semakin dekat, apa yang telah kita perbuat ?
Treet....tet...tet...tet...., Bunyi terompet silih bersautan mengiringi ledakan petasan di angkasa. Semua orang bersuka cita menyambut tahun baru, mereka rela begadang samapai dini hari hanya untuk sekedar meniup terompet pada jam 00.00 dan 1 januari. Namun, apakah semua itu bermanfaat bagi kehidupan satu tahun mendatang ?. Perayaan dan semua acara penyambutan tahun baru itu tidak akan ada artinya apa – apa jika kita tidak melakukan perubahan diri. Maka, tahun baru tidak akan bermakna tanpa ada sesuatu yang baru. Pertanyaan sekarang, tahun baru apa yang baru ?

Ada pernyataan yang menarik dari sahabat Abdullah bin Mas'ud ra “ Tak ada yang lebih aku sesali dari sesuatu hari dimana matahari tenggelam, jatah umur ku berkurang sementara amalku belum bertambah”. Imam hasan al – Bashri  pernah membuat perumpamaan “ Wahai anak adam, pisau sudah diasah, dapur api telah dinyalakan, sedangkan domba masih sibuk menikmati makanan “.
ada benang merah dari kedua penyataan ulama' di atas, bahwa seharusnya setiap orang selalu memperbaiki amal perbuatannya seiring berjalan dan bertambahnya umur. Sebelum penyesalan datang,  karena sesungguhnya malaikat maut telah siap – siap mencabut nyawa setiap bani adam kapan pun tanpa melihat sudah baik atau buruk amal setiap orang. pertanyaannya, sudahkah cukupkah bekal kita jika ada panggilan dari Allah ? atau kita seperti domba yang masih bersenang - senang tanpa mempersiapkan bekal.

Apakah yang kita lakukan dalam menyambut tahun baru ini ? berpesta por, berpesta kembang api dan meniup terompet sampai dini hari. atau kita menyambut dengan penuh instropeksi diri, bahwa umur kita semakin pendek sedang masih banyak dosa dan kesalahan yang kita perbuat. golongan yang manakah kita ? semoga kita tidak hanyut dalam perayaan yang semakin menjauhkan kita dengan Allah, berpesta padahal jarak antara ajal semakin dekat.

Waktu semakin dekat, tapi kita lebih sering maksiat.
waktu telah berlalu, tapi kita tak bisa belajar dari masa lalu.
Dunia semakin jauh, tapi kita masih ikut riuh meramaikannya.
Dunia semakin jauh..
Bekal Apa yang telah kau siapkan ?

Tahun Baru ini milik siapa ?

Tahun baru Hijriyah ini milik Siapa ?

malam begitu sunyi, suara jangkrik dan hewan - hewan malam bersahutan meramaikan galapnya malam ini. tak terlihat lalu lalang manusia dalam aktivitasnya, mungkin semua telah letih kerja di siang tadi. hanya dari beberapa surau terdengar suara samar - samar lantunan ayat - ayat al - quran. suara khas anak kecil yang oleh guru ngajinya disuruh taddarus. Entah mengapa malam ini begitu sunyi tak seperti biasanya, sepertinya keletihan pada siang telah menggulung semua orang dalam kealpaan dan ketidak sadaran akan nikmat - nikmat yang telah Allah turunkan hari ini.

oh, ternyata malam ini tepat hilal diufuk timur. bulan kecil pertanda tanggal baru. bukan, ternyata hari ini tidak hanya tanggal baru. lebih dari itu, tahun ini merupakan tahun baru. sungguh momentum pergantian tahun ini tidak dapat dirasakan. tidak ada kemeriahan dalam penyambutannya. tidak ada pesta dan sorak sorai melihat hilal tanda kebesaran - NYA. Bahkan tidak ada orrang - orang yang sekedar berkumpul untuk mensyukuri bergantinya perhitungan tahun. semua tenggelam dalam rutinitas hingga tidak ada lagi yang peka akan keadaan dan kejadian disekelilingnnya. mungkin kecuali anak - anak kecil yang disuruh guru ngajinya untuk tadaraus di surau kecil, karena jika tidak mau akan tidak dinaikan tingkat ngajinya. mungkin anak kecil itupun juga tidak sadar akan guna bacaan tadurus yang tidak biasa. Bukankah biasanya ngajinya hari Kamis malam ? ini hari sabtu malam malah ngaji. memang tanggal 1 Muharram, hilal pergantian tahun ini tidak menarik dibandingakan hilal 1 Ramadhan atau 1 Syawal.

Mengapa bisa seperti ini ? apakah memang semua sudah tidak ada merasa bahwa tahun telah berganti ? apakah semua tidak lagi memaknai tahun baru islam ini ?. Apakah aktivitas telah menggulung mereka dalam kesibukan hingga kepekaan ? atau memang budaya telah bergeser untuk mengikuti budaya hedonis dalam perayaan tahun baru masehi ?

Mungkin pernyataan terakhir lebih kuat, gaya masyarakat yang konsumtif cendrung hedonis dalam perayaan tahun baru Masehi telah menggiring umat muslim untuk ikut larut dalam kelompok mereka. Melupakan Tahun baru Hijriyah dan ikut berpesta dalam Tahun baru masehi. Pemikiran kita telah dituntun untuk melupakan makna tahun baru hijriyah. Mereka di"paksa " untuk menanggalakan identitas dan merasa malu dengan identitas " Perayaan Tahun Baru Hijriyah ". Padahal ada makna besar dalam tahun baru hijriyah, yaitu memaknai peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW. Akan sangat luar biasa sekali jika semua orang mampu memaknai Hijrah tersebut. Sebab semua keadaan yang buruk hari ini akan berganti dengan kebaikan. sebagaimana hijrahnya Nabi SAW, Mengubah keadaan Jahiliyah dengan cahaya islam.

itulah makna yang coba dikaburkan, agar semua jauh dari meneladani uswah hasanah Nabi SAW.  sehingga makna yang kabur itu akan segera diganti dengan makna yang " jahiliyah " saat bangsa Romawi berkuasa. Tanggal 1 januari sangat identik dengan kaum paganis penyembah berhala dan dewa - dewa. Nama " Januari " adalah nama salah satu dewa, dewa Janus. Dewa yang memiliki dua wajah yang yang konon mampu meneropong masa depan dan masa lalu. Ternyata memang perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tersebut. Perayaannya pun tidak lepas dari penyembahan dewa - dewa yunani kuno yang telah berganti nama. Apakah kita akan mengitui langkah - langkah orang - orang terdahulu penyembah berhala yang sesat ? atau sekarang kita telah membuat " berhala - berhala " baru dalam perayaan tahun baru masehi sehingga membuat kita semakin jauh dengan Allah ?

Maka sangat bijak pesan Rasullallah SAW, " Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari ‘Abdullah bin ‘Umar ). dan pesan ulama' tentang menyelesihi perbuatan suatu kaum musyrik, Ibnu Taimiyyah berkata, “Telah kami sebutkan sekian dalil dari Al-Qur`an, As-Sunnah, Ijma’, atsar (amalan/perkataan shahabat dan tabi’in), dan pengalaman, yang semuanya menunjukkan bahwa menyerupai mereka dilarang secara global. Sedangkan menyelisihi tata cara mereka merupakan sesuatu yang disyari’atkan baik yang sifatnya wajib ataupun anjuran sesuai dengan tempatnya masing-masing.” (Iqtidhaa Ash-Shiraathil Mustaqiim 1/473)

Thursday, November 17, 2011

Seperti inikah ?


" Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang terbaik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (67:2). 
Allah memang menguji semua yang mengaku hamba - NYA untuk memberikan amal terbaik selama hidupnya, dengan nikmat - nikmat yang telah diberikan dan tak jarang Allah memotivasi kita, Tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS. Al-Maidah: 48). Allah menantang kita dengan pertanyaan, " Siapakah diantara kamu yang baik amalnya ? ". Ayat serupa yang memerintahkan agar bersegera dan berlomba-lomba dalam kebaikan dan beramal shalih sangat banyak. Dan siapa, di dunianya, lebih dahulu dalam kebaikan maka di akhriatpun akan menjadi orang yang lebih dahulu masuk surga. Dan orang-orang yang lebih dahulu dalam amal ketaatan akan memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Dengan persembahan amal yang terbaik, kitalah yang kan menjawab tantang Allah tersebut.

Namun, sudahkah kita menjadi orang - orang yang menjawab tantangan Allah tersebut ?
Tak perlu dijawab untuk itu, sebuah jawaban besar akan muncul ketika kita sudah berinstropeksi dengan apa yang telah kita perbuat dalam satu tahun ini. semua perbuatan yang akan kita pertanggung jawbkan kelak. Sudah selayaknya kita menghitung amal - amal diri kita sebelum terhitung di akhirat nanti, supaya kita tahu dimana posisi kita sekarang.

Sholat ku tahun ini..........
Inilah amal yang akan dihisab pertama oleh Allah di yaumil hisab kelak. Allah mempertanyakan bagaimana sholat kita. Jika sholat kita bagus, tenanglah diri kita karena semua akan ikut menjadi baik dengan sendirinya. Namun, bagaimana shalat kita tahun ini ?
Astaghfirullah.....
Shalat wajib lima waktu banyak bolongnya, mau jadi seperti apa kelak ?. Kesibukan kuliah, amanah telah melalaikan untuk mengerjakan shalat. Pelatihan kemarin, waktu shalat sangat molor dibuat oleh panitia. ah.., menyalahakan panitia, gak berani meninggalkan pelatihan untuk shalat. menawar shalat, bagaimanakah ini ?
Jamaah sholat fardu ?, oh...Subuh saja bangun jam 5. Dhuhur kejar deadline tugas seminggu yang lalu. Ashar ? tidur siang saja sampai jam 4. Maghrib ? Mandi sore saja ketika jam 6. Isya' ? rasanya nonton televisi lebih asyik dan mengkahirkan isya' menjelang tidur.
Astaghfirullah............
Ada harapan memperbaiki nilai Shalat wajib dengan melakukan sholat sunah. Tapi, Sholat sunnah tahun ini ? tidak banyak rasanya, jangankan shalat sunah, dzikir sesudah sholat saja tidak. langsung  lari setelah sholat usai. Mirip kereta yang tidak singgah di stasiun untuk mengangkut pahala kebaikan dalam setiap dzikir. Qiyamul lail, dhuha, rawatib, tasbih semua terlewatkan begitu saja. Bagaimana dengan kita nanti kalau terus seperti ini ? masih pantaskah kita berharap untuk menikmati nikmat yang telah diberikan jika kita menggunakannya untuk  yang semacam ini ?
Allah masih bermurah hati, memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri tahun depan. Semangat kawan ..

Tilawah ini....
Pasca madrasah Ramadhan yang agung, gema Al - quran itu sudah mulai menghilang. Bukan hal aneh memang, tapi saat tak wajar kalau interaksi kita benar - benar terputus dengan kalam Allah yang Agung. Bagaimanakah interaksi kita dengan Al - Quran ?
baru baca beberapa ayat saja Hp bunyi tanda sms datang, kita bales - balik bales, dan tilawah kita ? ya, sudah cukup. ti;awah itu sekarang menjadi tilawah sms. tilawah kita dengan baca buku bacaaan lain ? rasanya posi waktu akan lebih banyak membaca bacaaan - bacaan lain dari pada membaca surat cinta dari Sang Khalliq. bagaimana mungkin kita akan bergetara hati kita jika membacanya saja jarang. bagaimana mungkin bertambah ketakwaan jika yang ada adalah membaca sesuatu yang tidak dapat memanbah ketakwaan pula. Rasanya interaksi dengan al - quran masih sangat kurang. Menjadi Generasi Qur'ani akankah hanya sebuah mimpi ?

tidak ada dosa besar jika terus di hancurkan dengan istighfar, dan tak ada dosa kecil jika dilakukan dengan terus menerus.

Amalan Terbaik Apakah yang Telah kita Persembahkan Tahun ini ?



Sungguh waktu ini berjalan sangat cepat. detik berganti menit, menit berubah menjadi jam, jam berlalu berganti hari, hari berputar berganti bulan, bulan berlalu dan akhirnya berganti tahun. Sebentar lagi tahun 1432 Hijriah akan segera berakhir. Mungkin tak banyak dari kita yang sadar akan berakhirnya tahun ini, karena mereka telah sibuk dengan deadline - deadline tugas kuliah dan kantor atau mereka yang terlalu senang berhura - hura juga akan lupa akan segera terbitnya hilal tahun 1433 H. Mereka juga banyak lupa akan besarnya nikmat Allah yang telah ada pada tahun ini, sehingga lupa untuk apa nikmat itu mereka pergunakan. Sebagai refleksi di senja Tahun ini, Amalan terbaik apakah yang telah kita persembahkan untuk Allah di tahun ini ?

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”  Maka izinkan saya mengutip dari Ibnu Taymiyyah , Ibadah adalah nama yang meliputi segala sesuatu yang dicintai dan diridlai oleh Allah; baik beurpa perkataan, perbuatan bathin dan perbuatan dhahir. Sungguh banyak seharusnya amal - amal terbaik yang kita bisa persembahka kepada Allah, karena sangat luas terbentang dihadapan kita. bahwa setiap perbuatan kita dapat kita jadikan amal yang bisa kita persembahkan. Namun, Bagaimanakah dengan kita tahun ini ? Sudah ada yang terbaik yang dapat kita berikan ?. 


Lebih baiknya kita belajar dahulu kepada generasi terbaik umat ini, meneladani dengan penuh keinginan bahwa kita ingin melakukan yang seperti itu. meneladani perilaku mereka merpakan slah satu jalan yang paling tepat karena mereka telah membuktikan dan kabar keunggulan merela telah sampai kepada mereka. Seperti inilah mereka....
Bilal bin rabbah, Terompahnya telah di surga..
Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi saw pernah bersabda kepada Bilal selepas sholat Subuh, “Ceritakan kepada saya satu amalan yang paling engkau andalkan dalam Islam, karena sesungguhnya pada suatu malam saya mendengar suara terompah  kamu berada di pintu surga”. Bilal berkata : “Saya tidak melakukan sesuatu apapun yang lebih baik melainkan saya tidak pernah bersuci dengan sempurna pada setiap saat, baik malam maupun siang hari kecuali saya selalu melakukan sholat sebanyak yang mampu saya kerjakan”. (HR. Al-Bukhari)
inilah salah satu contoh amal terbaik persembahan seorang hamba kepada Allah SWT, persembahan terbaik dengan penuh ikhlas dan tulus mengharap ridho dari NYA. dan kita tahu hasil dari persembahan itu adalah Surga yang dibawahnya mengalir sungai - sungai. Bilal yang masih hidup, sudah terdengar suara terompahnya disurga karena mempersembahkan amalan terbaik yang dapat dia lakukan sehingga membedakan dengan Sahabat - sahabat lain. 
Fatimah Zahrah dan pengorbanannya...
Fatimah adalah sosok wanita dengan kefakiran yang menjadi tetangga terdekatnya. Meski secara materi hidup dalam kesusahan, namun hal itu tak pernah mampu menundukkan kebesaran jiwanya sebagai orang yang dermawan. Ibnu Syahr Asyub berkata;
Suatu hari Ali bertanya kepada Fatimah, adakah sesuatu yang bisa dimakan di rumah? Fatimah menjawab, "Demi Allah, sudah dua hari ini aku dan anak-anakku menahan lapar." Alipun terkejut dan berkata, "Mengapa engkau tidak memberitahuku supaya aku bisa menyediakan sesuatu untuk kalian?" Fatimah menjawab, "Aku malu kepada Allah untuk meminta sesuatu darimu yang tidak bisa kau penuhi." Ali segera meninggalkan rumah dan meminjam uang satu dinar dari seseorang untuk membeli keperluan rumah. Di tengah jalan, beliau berpapasan dengan seorang sahabat yang terlihat pucat dan kebingungan. Beliau bertanya, "Apa yang membuatmu gelisah seperti ini?" Dia menjawab, "Aku tak mampu mendengar suara tangis anak-anakku yang kelaparan." Mendengar itu, Ali menyerahkan uang satu dinar tadi kepada orang tersebut.

Itulah Fatimah, dalam kesederhanaannya masih mampu bersifat dermawaan. mementingkan orang lain dari pada dirinya dan keluarga. Ketika menunggui Nabi sebelum wafat pun dia sempat tertawa. tertawa karena dia akan bersama Rasullullah di surga kelak. Bukankah sungguh luar biasa ? ketika masih hidup di dunia sudah dapat dipastikan bahwa dia penghuni surga. Sungguh keteladan mulia jika ita mampu mengiktuinya, mengharap sepenuhnya ridha dari Allah SWT.

Mungkin ini hanya sebagian kecil dari contoh yang telah diberikan oleh generasi terbaik islam yang dapat kita ikuti dalam hal pemberian amal yang terbaik kepada Allah. Amalan mereka mungkin menjadi istimewa karena berbeda dengan amalan - amalan dari saudara - saudara yang lain. Amalan yang meskipun terlihat sepele dan kecil. Bilal dengan Sholat sunnah setelah wudhu ringan jika dibandingkan dengan sahabat yang ikut berperang. Namun itulah kelebihan dari seorang mantan budak yang ditindih batu dan berteriak " Ahad ....Ahad..."

Bagaimanakah dengan kita ?
Apakah amalan yang menjadi kelebihan kita ?
Amalan terbaik apakah yang telah kita berikan selama setahun ini ?

Tuesday, November 15, 2011

Momen - momen ibadah yang ( Mungkin ) terlewatkan.

Beristirahatlah sejenak untuk sekedar bertafakur, merenungi apa yang telah kita kerjakan setahun ini. Mungkin ada beberapa momen - momen ibadah yang terlewat dan ada pula yang termaksimalakan dengan bagus. inilah perenungan kita hari ini......
  • Awal tahun Baru 1432 Hijriyah ( bulan Muharram ) lalu ?
Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. [ H.R. Muslim (11630) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallohu anhu].
 Hasan Al Bashri rahimahulloh dan beberapa ulama lainnya berkata, “Sesungguhnya Allah telah memulai  waktu yang setahun dengan bulan haram (Muharram) lalu menutupnya juga dengan bulan haram (Dzulhijjah) dan tidak ada bulan dalam setahun setelah bulan Ramadhan yang lebih agung di sisi Allah melebihi bulan Muharram” (Lihat : Lathoif Al Ma’arif hal 36),
bagaimana dengan puasa Tasu’a (tanggal 9) dan Asyuro (tanggal 10)  kita ?
semoga kita dulu tidak lupa untuk ikut memperingati tahun baru hijriyah dengan puasa sunnah yang telah dijelaskan keutamaannya oleh ulama' ulama' salaf. 
  • Sya'ban sebagai persiapan...
Allah menjadikan bulan sya'ban sebagai persiapan setiap insan untuk segera bersiap menyongsong datangnya ramadhan. Bulan Sya’ban adalah bulan yang penuh kebaikan. Di bulan tersebut banyak yang lalai untuk beramal sholeh karena yang sangat dinantikan adalah bulan Ramadhan. Mengenai bulan Sya’ban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An Nasa’i).
Seperti inilah rasullallah mempersiapkan Ramadhan sebagai momentum perubahan. “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156).
Apakah yang dulu kita lalukan menyambut ramadhan ?
  •  Puasa  Ramadhan tahun ini sudahkah Mengubah kita ? 
“Wahai kaum muslimin, bulan Allah telah datang dengan membawa berkah, rahmat, dan ampunan bagi kita semua. Bulan ini merupakan bulan yang paling baik di sisi Allah. Hari-hari di bulan ini merupakan hari-hari terbaik, malam-malamnya merupakan malam-malam yang terbaik, serta detik-detiknya merupakan detik-detik terbaik. Dalam bulan, Allah mengundang tamu-tamu-Nya dan Allah menganugerahi mereka kasih sayang dan rahmat-Nya. Di bulan ini, setiap tarikan nafas memiliki pahala yang setara dengan dzikir kepada Allah dan tidur pun dinilai sebagai ibadah. Di bulan ini, setiap kali kalian bermunajat kepada Allah, Allah akan mengabulkan doa-doa kalian. Oleh karena itu, dengan kejujuran, ketenangan, dan hati yang bersih, mintalah kepada Alalh agar memberikan taufik kepada kalian untuk berpuasa dan membaca Al-Quran. Orang yang celaka adalah orang yang di bulan agung dan penuh berkah ini, tidak mendapatkan rahmat dari Allah.”  
 mungkin itulah yang akan sering kita dengar saat bulan ramadhan datang. ya, Allah memberikan kepada hamba sebuah bulan yang lebih baik dari 1000 bulan, bulan penuh keistimewaan di dalamnya yang tidak ada lagi bandingannya di bulan - bulan yang lain. Tapi ingatkah kita dengan tujuan dari Puasa Ramadhan kita ?
  “Hai orang—orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa 
Bagaimanakah dengan kita diakhir tahun ini ? adakah perubahan ketakwaan yang telah terjadi setelah kita melewati ramadhan tahun 1432 H ini ?. Seoga Allah menerima ibadah puasa kita, dan menjadikan kita sebagai orang - orang yang terus bertakwa kepa - NYA.
  • Lembaran baru di Bulan Syawal.... 
 setelah satu bulan menghadapi tempaan puasa ramadhan, saatnya hamba mendapatkan berkah berupa prestasi kemenagan. Zakat fitrah yang mensucikan, Shalat ied yang menggetarkan.  Bulan Syawal, bulan dimana seluruh manusia seperti terlahir kembali bersih dari dosa seperti bayi yang baru menghirup udara dunia. Allah mengampuni seluruh dosa - dosa hamba, dan hamba - hamba saling memberi maaf menambah kesempurnaan. 
Namun sekarang, masihkan lembaran itu kosong ?
Tak dapat dipungkiri. bahwa lembaran itu telah ternodai oleh kemaksiatan dan dosa - dosa kecil. Sudah seberapakah noda itu sekarang ?. Mari kita bersama membersihkan kembali noda - noda itu, karena Allah masih memberi kita nikmat untuk terus memperbaiki diri.
  • Dzulhijjah Kemarin, Apa yang kita lakukan ?
Salah satu momen besar yang tak kalah dengan bulan Muharram, Ramadhan, ataupun Syawal adalah bulan Dzulhijjah. Bulan dimana orang pergi berhaji, bulan dimana keteladan pengorbanan Nabi Ibrahim kita ikuti. Namun, ada amalan - amalan istimewa yang sangat bernilai di sisi Allah SWT,.diriwayatkan oleh Imam Bukhori bahwa beliau saw bersabda,” ,”Tidaklah ada hari-hari yang beramal shaleh didalamnya lebih dicintai Allah dari pada hari-hari ini—yaitu sepuluh hari—para sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah? Beliau saw menjawab,”tidak pula jihad di jalan Allah kecuali seorang yang keluar dengan jiwa dan harta lalu orang itu tidak kembali dengan membawa itu semua sama sekali.”
Amalan pada Bulan Dzulhijjah 
1. Takbir dan Dzikir
Memperbanyak takbir dan dzikir pada hari-hari tersebut. Sebagaimana firman Allah ta’ala,
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
Supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan (QS. Al Hajj: 28)
Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma ketika keduanya keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah mereka berdua bertakbir, maka orang-orang pun ikut berakbir sebagaimana takbir mereka berdua . Disyariatkan pada hari-hari itu takbir muthlaq, yaitu pada setiap saat, pada saat siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyari`atkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat jama’ah fardhu. Bagi selain jama’ah haji dimulai sejak fajar hari arafah sedang bagi jama’ah haji dimulai dari sejak zhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat ashar pada akhir hari tasyriq
2. Puasa
Berpuasa pada hari-hari tersebut atau sebagiannya, terutama pada hari Arafah (9 Dzulhijjah). Sebagaiamana terdapat dalam hadits,“Bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa ‘Asyuro’ dan (juga berpuasa) sembilan hari di bulan Dzulhijjah serta tiga hari di setiap bulannya”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,“(Puasa Arafah) menghapus dosa-dosa kecil setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
3. Qurban
Memotong hewan qurban (Udhiyah) bagi yang mampu pada hari raya Qurban (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah). Sebagaiaman firman Allah Shubhaanahu wa ta’ala ,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah (QS. Al Kautsar : 2)
Berkata sebahagian ahli tafsir yang dimaksud dengan berqurban dalam ayat ini adalah menyembelih udhiyah (hewan kurban) yang dilakukan sesudah shalat ‘Ied . Untuk itu bagi yang mampu berkurban maka hendaknya berkurban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من كان له سعةُ و لم يُضَحِّ فلا يَقربنَّ مُصلا نا
Barangsiapa memiliki keleluasaan (rezeki) lalu dia tidak berkurban, maka janganlah dia mendekati tempat sholat kita.”
Bagi orang yang berniat untuk berqurban hendaknya tidak memotong rambut dan kukunya sampai dia berqurban, diriwayatkan dari Umu Salamah, Rasulullah bersabda,“Jika kalian telah melihat awal bulan Dzulhijjah dan salah seorang diantara kalian berniat untuk menyembelih hewan qurban maka hendaknya dia menahan rambut dan kukunya”
4. Shalat ied
Melaksanakan shalat `Idul Adha dan mendengarkan khutbahnya. Setiap muslim hendaknya tahu akan hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. 10 Dzulhijjah merupakan hari yang paling agung di sisi Allah, sebagaimana sabda Rasulullah :
أَعْظَمُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ اْلقِرِّ.
Seutama-utama hari di sisi Allah ialah hari Iedul `adh-ha kemudian hari berikutnya.
 Apakah yang kita lakukan pada Saat itu ?

Rasanya sudah banyak momen - momen istimewa yang telah kita lewatkan untuk memperbaiki diri ketika Allah telah memberikan kelapangan rahmat untuk hamba - hamba Nya. Mungkin ini pelajaran bagi kita semua, ketika nafas ini masih Allah berikan secara gratis maka masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Semoga tahun baru yang akan datang kita semakin sibuk untuk memperbaiki diri.
Selamat Tinggal tahun 1432 H......