Thursday, March 28, 2013

OPTIMIS itu......



 
Ia berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku”.  Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku[898] sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera. yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai."  Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia. Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua." Tuhan berfirman: "Demikianlah." Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali." ( Qs. Maryam 4 – 9 )
Ayat diatas merupakan kisah sekuel kisah dari Nabi Zakariya, cerita tetang kekhawatiran  Nabi Zakariya yang tak kunjung juga diberikan keturunan sebagai pelanjut dakwah beliau. Padahal beliau sudah sangat tua, beberapa kitab tafsir menyebutkan 120 tahun dan ada pula yang menyebutkan 90 tahun. Waullahu ‘alam.
Tapi yang menerik kita simak adalah bagaimana optimisnya Nabi Zakariya bahwa beliau akan diberikan seorang keturunan. Sedangkan kita tahu, baahwa beliau dan istrinya sudah tidak pada usia yang produktif. Namun itulah keimanan Nabi Zakariya, bahwa Allah tidak akan menyia – nyiakan do’a dari kaumnya.
Ayat diatas merupakan teks do’a yang pernah dibaca oleh Nabi Zakariya, do’a yang diucapkan secara lembut dan dilakukan dalam mihrabnya pada tengah malam hari. Saat semua orang tidak lagi beraktifitas kecuali mereka yang bermunajat kepada Allah SWT. Dan pada saat itulah Nabi Zakariya berd’o dengan tulusnya dan penuh kepasrahan. Ingga akhirnya lahir Nabi Yahya  A.S.

Wednesday, March 27, 2013

Ibadah "Kosong"

 
mungkin kita sudah sering melakukan ibadah. hingga akhirnya pada titik tertentu kita merasakan sebuah rasa kehambaran dalam ibadah - ibadah kita. Mengapa ?. inilah sebuah nasihat dari ustadz Mudhoffar, salah satu ustadz IKADI

Mengapa kebanyakan kita sangat tidak mudah untuk bisa merasakan nikmatnya keimanan, lezatnya ketaatan, khusyuknya peribadahan dan manisnya amal kebajikan? Umumnya karena level keberagamaan yang masih bersifat setengah-setengah, atau bahkan lebih rendah lagi.
Level dan sifat keberagamaan mayoritas kita umumnya masih berada di tataran seremoni (semangat peringatan-peringatan), atau formalitas, atau maksimal wacana pemikiran teoritis belaka. Padahal keimanan dan keislaman sejati itu seharusnya benar-benar bisa merasuk ke hati, menyatu dengan jiwa, dan mewujud dalam rasa cinta dan ridha nan nyata.
Agar bisa merasakan nikmatnya amal saleh dan khusyuknya ibadah, kita memang harus beragama setotal mungkin. Dan syarat mutlaknya adalah, hawa nafsu harus mampu ditundukkan dan dikendalikan.  Karena selama masih ada hawa nafsu tertentu yang secara permanen atau hampir permanen selalu diperturutkan, selama itu pula sikap ogah-ogahan akan senantiasa menyertai pelaksanaan setiap amal saleh dan penunaian setiap ibadah. Karena umumnya ketaatan itu memang masih disikapi sebagai beban berat yang harus ditanggung dan dilepaskan, dan belum dirasakan sebagai kebutuhan hidup yang dirindukan rasa nikmatnya dan buah lezatnya.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan (secara total), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu (QS. Al-Baqarah [2]: 208).
Dan Baginda Sayyiduna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Tak sempurna iman seseorang dari kalian sampai hawa nafsunya tunduk mengikuti ajaran yang aku bawa (Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitab Al-Arba’in An-Nawawiyah: Hadits hasan shahih yang kami riwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang shahih).
Dalam hadits lain, Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda (yang artinya): Telah bisa merasakan nikmat/lezatnya iman, orang yang telah ridha terhadap Allah sebagai Tuhan (nya), ridha terhadap Islam sebagai agama (nya) dan ridha terhadap Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) sebagai rasul (nya) (HR. Muslim dari Al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhu).
Dan di dalam riwayat yang lain lagi Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Ada tiga hal dimana jika ketiganya ada dalam diri seseorang, maka ia bisa merasakan manisnya iman, yaitu: 1). Jika Allah dan Rasul-Nya telah ia cintai melebihi kecintaannya terhadap selain keduanya; 2). Jika ia mencintai seseorang benar-benar hanya karena Allah; dan 3). Jika ia benci untuk kembali kepada kekufuran seperti kebenciannya andai ia dilemparkan ke dalam api (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).
Jadi rumusnya adalah: Tak memperturutkan hawa nafsu/menundukkan dan mengendalikannya = tak mengikuti langkah-langkah syetan = beriman dengan sepenuh rasa cinta hati dan ridha jiwa = berislam secara total = manisnya beriman, nikmatnya  berislam dan lezatnya berketaatan!
Sedangkan rumus sebaliknya ialah: Memperturutkan hawa nafsu = mengikuti langkah-langkah syetan = beriman sebatas teori logika, tak turun ke hati, dan tak sampai menjiwai = berislam secara setengah-setengah = beriman sebagai beban, beribadah terasa hambar, dan berketaatan  terpaksa dan menjenuhkan!

Monday, March 18, 2013

Gaza Bercerita





Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan, “potongan” itu “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.
Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel tidak mampu. Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis semakin menguat.

Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka”mengguyurkan” ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya. Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza. Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para mujahidin Palestina, tidak akan mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan Amerika Serikat.

Syekh Ahmad Yasin




Nama beliau sudah tak asing lagi bagi orang – orang yang selalu mengikuti perkembangan tentang Palestina. Beliau termasuk orang utama yang menjadi panutan dan idola bagi anak – anak di seluruh pelosok negeri ini. Syekh Yasin, nama lengkapnya Syekh Ahmad Ismail Yasin lahir tahun 1938 di desa Al-Jura, sebelah selatan kota Gaza, syahid pada saat sedang puasa sunah Senin- Kamis, hari Senin, 1 Shafar 1425 H/ 22 Maret 2004 M karena dihantam rudal penjajah Zonis Israel setelah melaksanakan sholat subuh berjama’ah di masjid Al-Mujama’ Al-Islami, Gaza. Beliau merupakan tokoh spiritual gerakan Hamas, Qiyadah/ pemimpin bagi pejuang dan rakyat Palestina melawan penjajah Zionis Israel.
Walaupun usianya uzur, kondisi tubuhnya lumpuh dari leher hingga ujung kaki, setiap hari harus menggunakan kursi roda, tidak menghalangi beliau untuk berdakwah, memimpin dan membina umat, rakyat Palestina khususnya di Gaza. Beliau memiliki ‘izzah/ kemuliaan sehingga disegani dan dicintai kawan, ditakuti lawan dalam hal ini penjajah Zionis Israel. Sebagai tokoh spiritual dan qiyadah dalam perjuangan, Syekh Ahmad Yasin banyak memberikan keteladanan bagi pengikutnya dan rakyat Palestina, juga bagi umat Islam yang rindu syahid di jalan Allah.
Dalam suatu khutbahnya, Syekh Ahmad Yasin pernah berkata: Umat ini tidak akan pernah memiliki kemuliaan dan meraih kemenangan kecuali dengan Islam. Tanpa Islam tidak pernah ada kemenangan. Kita selamanya akan selalu berada dalam kemunduran sampai ada sekelompok orang dari umat ini yang siap menerima panji kepemmpinan yang berpegang teguh kepada Islam, baik sebagai aturan, prilaku, pergerakan, pengetahuan, maupun jihad. Inilah satu-satunya jalan. Pilih Allah atau binasa!
Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala-bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan) mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS: Al-Imran/3: 126).

Friday, March 15, 2013

Santun dan Bersahabat




Kata ajaib yang mungkin mudah orang mengucapkannya namun tak jarang, banyak orang yang sulit mengerjakannya. kata "santun" dua kata penuh keajaiban yang mampu merubah emosi dan jiwa sesorang. Lwan bisa jadi Kawan, Benci bisa berubah menjadi cinta. sebuah akhlak mulia bernama santun itulah yang menjadi salah satu sikap seorang da'i.kesantunan itulah yang menjadi hiasan setiap langkah dan seruan yang ia keluarkan. 
Mungkin kita bisa mengartikan santun itu sebagai kata halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sabar dan tenang; sopan; penuh rasa belas kasihan; suka menolong. ataupun mungkin kata lain yang sama dan tak akan jauh dari makna yang ada. Katanlah santun itu bermakna sabar, penuh belas kasihan. Maka sikap seorang penyeru dalam melakukan seruannya pasti akan penuh kesabaran dan belas kasihan, yang dengannya orang akan mengikuti kita.
Kita pasti sudah paham, bahwa pekerjaan dakwah ini beragam dan banyak ujiannya, maka disinilah kita buktikan bahwa kita memang orang – orang yang dipilih oleh Allah SWT untuk memperjuangkan Agama ini dan Bukan kebetulan kita berada dibarisan ini. 

Wednesday, March 13, 2013

HAM ? syari'ah islam ?



ini file keren dari ustadz kholili hasib...
 
Syari’ah Islam: Antara HAM dan Kebebasan Berbicara

Seperti diberitakan sejumlah media nasional, Irshad Manji pada Jum’at 04/05/2012 menggelar diskusi di komunitas Salihara Jakarta Selatan. Karena dinilai mengkampanyekan ide-ide liberal, warga sekitar bersama polsek setempat membubarkan. Ternyata, Manji tidak jera. Kampanye akan ia teruskan di tempat-tempat lain. Di Twitternya, dia mengatakan menyanggupi datang ke kota Solo dan Yogyakarta.
Rencana diskusi di Solo dan di Yogyakarta juga berantakan karena penolakan sejumlah massa dan organisasi.
Tentang Aksi Penolakan
Kenapa dia harus ditolak? Kedatangan Irshad Manji di Indonesia adalah dalam rangka mengkampanyekan ide dan pemikiran feminisme, dan lesbianisme, begitu alasan para penolaknya.
Irshad Manji adalah seorang fegiat femenisme dan lesbian. Tulisannya pernah menampilkan penistaan terhadap Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam bukunya berjudul “Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini” halaman 96-97 ia menulis:
“Sebagai seorang pedagang buta huruf, Muhammad bergantung pada para pencatat untuk mencatat kata-kata yang didengarnya dari Allah. Kadang-kadang Nabi sendiri mengalami penderitaan yang luar biasa untuk menguraikan apa yang ia dengar. Itulah bagaimana ”ayat-ayat setan” – ayat-ayat yang memuja berhala – dilaporkan pernah diterima oleh Muhammad dan dicatat sebagai ayat otentik untuk al-Quran. Nabi kemudian mencoret ayat-ayat tersebut, menyalahkan tipu daya setan sebagai penyebab kesalahan catat tersebut. Namun, kenyataan bahwa para filosof muslim selama berabad-abad telah mengisahkan cerita ini sungguh telah memperlihatkan keraguan yang sudah lama ada terhadap kesempurnaan al-Quran.”

ide usang



Paham Pluralisme dan Reduksi Agama
Oleh: Kholili Hasib[1]

Tahun 2005 MUI (Majelis Ulama’ Indoensia) telah mengeluarkan fatwa bahwa paham sekularisme, pluralisme dan liberalisme (Sepilis) haram. Fatwa keluar setelah MUI melakukan kajian dan penelitian mendalam, bekerjasama dengan berbagai pihak; ormas, lembaga penelitian dan rekomendasi sejumlah para ulama’. Keputusan ini didukung ormas-ormas Islam, termasuk ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah.
Pada tahun yang sama, Dr. Anis Malik Thoha, Dosen perbandingan Agama pada International Islamic University Malaysia (IIUM), menerbitkan buku Tren Pluralisme Agama, Tinjauan Kritis. Dr. Anis yang juga ketua Cabang Istimewa NU Malaysia adalah lulusan terbaik program Doktor pada International Islamic University Islamabad (IIUI) Pakistan. Buku yang ia tulis merupakan hasil disertasi di IIUI yang mendapatkan penghargaan Gold Medal. Buku ini berhasil membuktikan secara ilmiah bahwa pluralisme agama adalah sebuah ‘agama baru’ yang merusak agama. Karena itu harus ditolak.

ide usang



Paham Pluralisme dan Reduksi Agama
Oleh: Kholili Hasib[1]

 














Tahun 2005 MUI (Majelis Ulama’ Indoensia) telah mengeluarkan fatwa bahwa paham sekularisme, pluralisme dan liberalisme (Sepilis) haram. Fatwa keluar setelah MUI melakukan kajian dan penelitian mendalam, bekerjasama dengan berbagai pihak; ormas, lembaga penelitian dan rekomendasi sejumlah para ulama’. Keputusan ini didukung ormas-ormas Islam, termasuk ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah.
Pada tahun yang sama, Dr. Anis Malik Thoha, Dosen perbandingan Agama pada International Islamic University Malaysia (IIUM), menerbitkan buku Tren Pluralisme Agama, Tinjauan Kritis. Dr. Anis yang juga ketua Cabang Istimewa NU Malaysia adalah lulusan terbaik program Doktor pada International Islamic University Islamabad (IIUI) Pakistan. Buku yang ia tulis merupakan hasil disertasi di IIUI yang mendapatkan penghargaan Gold Medal. Buku ini berhasil membuktikan secara ilmiah bahwa pluralisme agama adalah sebuah ‘agama baru’ yang merusak agama. Karena itu harus ditolak.

Retoris

Pertanyaan retoris hari adalah
1. Semakin banyaknya pos polisi. apakah semakin aman ?
2. semakin banyaknya rumah sakit, apakah semakin menunjukan tingkat kesehatan masyarakat yang meningkat ?
3. semakin banyaknya sekolah, apakah menunjukan tingginya tingkat pendidikan di negeri ini ?
4. semakin banyaknya rumah ibadah, apakah menunjukan semakin berimanya masyarakat ?

mungkin ya, mungkin tidak.. silahkan anda pikirkan.

Toleransi dari lubang jarum




TOLERANSI BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Abdul Fatah
dibawakan oleh ustadz kholili hasib
@manarul Ilmi

  1. PENDAHULUAN
Belakangan ini, agama adalah sebuahnama yang terkesan membuat gentar, menakutkan, dan mencemaskan. Agama di tangan para pemeluknya sering tampil dengan wajah kekerasan. Dalam beberapa tahun terakhr banyak muncul konflik, intoleransi, dan kekerasan atas nama agama. Pandangan dunia keagamaan yang cenderung anakronostik memang sangat berpotensi untuk memecah belah dan saling klaim kebenaran sehingga menimbulkan berbagai macam konflik. Fenomena yang juga terjadi saat ini adalah muncul dan berkembangnya tingkat kekerasan yang membawa-bawa ama agama (mengatasnamakan agama) sehingga realitas kehidupan beragama yang muncul adalah saling curiga mencurigai, saling tidak percaya, dan hidup dalam ketidak harmonisan.
Toleransi yang merupakan bagian dari visi teologi atau akidah Islam dan masuk dalam kerangka system teologi Islam sejatinya harus dikaji secara mendalam dan diaplikasikan dalam kehidupan beragama karena ia adalah suatu keniscayaan social bagi seluruh umat beragama dan merupakan jalan bagi terciptanya kerukunan antar umat beragama.
  1. KAJIAN BAHASA
B.1. Pengertian
            Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, toleransi berasal dari kata “toleran” (Inggris: tolerance; Arab: tasamuh) yang berarti batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan. Secara etimologi, toleransi adalah kesabaran, ketahanan emosional, dan kelapangan dada.[1] Sedangkan menurut istilah (terminology), toleransi yaitu bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dsb) yang berbeda dan atau yang bertentangan dengan pendiriannya.[2]
            Jadi, toleransi beragama adalah ialah sikap sabar dan menahan diri untuk tidak mengganggu dan tidak melecehkan agama atau system keyakinan dan ibadah penganut agama-agama lain.