Wednesday, January 22, 2014

Ibarat anak sekolah yang istirahat


“Mati itu ibarat istirahat, istirahatnya anak-anak sekolah itu lho”. Kata membuka percakapan malam itu.
“Coba lihatlah, anak-anak sekolah ketika istirahat itu”, lanjutnya dengan sedikit menjeda dengan kata-kata selanjutnya.
“mereka senang sekali, melepas penat setelah lelah belajar. Mereka ingin segera menikmati makanan-makanan di kantin, atau melepas lelah dengan istirahat dibawah pohon sambil bercakap-cakap dengan teman yang lain seolah tidak ada beban dari ruang kelas yang sempit tadi”. Penjelasan yang masih sulit untuk dicerna secara langsung. Butuh waktu beberapa saat untuk nyambung dengan penjelasan hari ini. penjelasan dari seorang yang selama ini ku panggil “Bapak”.
Aneh rasanya hari ini, tiba-tiba bapak membicirakan tentang kematian. Memang waktunya tepat, malam hari dengan gelapnya ketika pemadaman listrik diiringi gerimis hujan rintik setelah deras mengguyur sore tadi. Tidak biasanya membicarakan tentang pelajaran hidup paling berarti, pemutus kenikmatan. Seolah kematian itu sudah dekat.
“Seharusnya orang itu senang mati, “sekolah”nya sudah selesai dan waktunya “istirahat” menikmati makanan dan guyon dengan teman-temannya”, begitu pesan yang akan terus tertancap dan teringat sampai akhir kelak.

“Maka, siapkan “saku” yang cukup untuk menikmati waktu istirahat. Agar bisa menikmati jajan yang ada di kantin”, sesaat semua terdiam. Tidak ada suara kecuali rintikan hujan diatas atap dan cucuran dari talang.
Seolah-olah telah mendapat penjelasan tentang sebuah hadits Qudsi yang pernah Rasulullah SAW sampaikan tentang keharusan senangnya seorang hamba bertemu dengan Rabb-Nya
 “Dari Ubaidah bin Ash Shamit ra. dari Nabi saw, beliau bersabda : "Barang siapa yang senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah senang untuk bertemu dengannya, dan barang siapa yang benci untuk bertemu dengan-Nya (Allah), maka Allah benci untuk bertemu dengannya". Aisyah atau sebagian isteri beliau berkata : "Sesungguhnya kami tidak senang kematian". Beliau bersabda : "Bukan begitu, tetapi seorang Mu'min apabila kedatangan maut (mati) diberi khabar gembira dengan keridhaan dan kemurahan Allah, sehingga tidak ada sesuatu yang lebih disukai dari pada apa yang dihadapinya, maka ia senang bertemu dengan Allah dan Allah senang bertemu dengannya. Dan sesungguhnya orang-orang katir, apabila kedatangan maut diberi khabar gembira dengan azab dan siksaan Allah, maka tidak ada sesuatu yang lebih dibenci dari pada apa yang dihadapinya. Ia tidak senang bertemu dengan Allah dan Allah tidak senang bertemu dengannya". (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
Pelajaran terpenting dari hari ini sungguh luar biasa, seorang muslim harusnya senang dengan kematian dan harus mempersiapkan semuanya. Menyiapkan bekal untuk menikmati waktu istirahat, dengan waktu yang sangat singkat. Teringat sebuah pepatah tua “urip iku mung cukup kanggo mampir ngombe, cukup mampir seperlu ne wae”. Hidup itu singkat sekali, ibarat seorang musafir yang ingin menuju tempat yang paling diinginkan dan istirahat untuk sekedar berteduh, minum menghilangkan lelah. Tentu saja, kalau dia ingin segera ke tempat tujuan akan mempersingkat waktu istirahatnya dan bersegera melanjutkan perjalan. Ibarat masa istirahat, seperti itulah kita di dunia. Berapa lama kah?
Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?". Mereka menjawab: "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung." Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui” (Qs. Almu’minun: 112-114)
Singkat sekali hidup ini, maka tidak ada yang lebih penting kecuali menyiapkan bekal untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat penuh kebahagian, surga Allah.  Pejalanan akhirat adalah perjalanan abadi dan sangat panjang, sehingga tidak mungkin akan kita tempuh dengan bekal yang sangat sedikit. Maka, kita pelu menyiapkan bekal, dan bekal terbaik adalah takwa;
“………… Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (Qs. AlBaqoroh: 197)
“Ada tiga perkara yang mengikuti mayit sesudah wafatnya, yaitu keluarganya, hartanya dan amalnya. Yang dua kembali dan yang satu tinggal bersamanya. Yang pulang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya”(H.R. Bukhari dan Muslim)
Ketakwaan yang menjadi landasan beramal dan ketakwaan yang berdiri di atas keimanan.
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al’araf: 96)
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah memberikan tingkatan-tingkatan, tingkatan pertama adalah menjaga hati dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa dan hal-hal yang diharamkan. Tingkatan kedua, menghindar dari perbuatan yang dibenci Allah. Tingkatan ketiga adalah berusaha agar tak berlebihan dalam urusan-urusan yang sebenarnya dibolehkan saja.
*******
Pikiran ini seolah kembali melayang mengingat kembali nasihat seorang da’I tunanetra yang pernah ku jumpai saat istirahat sholat ashar dalam perjalanan Jember – Surabaya. Ustadz itu menceritakan ilmu yang pernah beliau dapat dari guru-nya saat mengajarkan kepada muridnya.
Sang guru itu kemudian bertanya “mari kutunjukan hakekat dari kehidupan ini”. murid itupun akhirnya mengikuti arah yang ditunjukan gurunya. Betapa kaget murid itu. sebelum sempat bertanya kepada sang guru, kemudian gutu itupun menjelaskan “inilah hakekat kehidupan dunia. Kuburan. Kematian. Hidup ini pada hakekatnya adalah kematian. Kita semua sedang menunggu antrian kemantian, tinggal menunggu pangilan”. Murid itupun hanya manggut-manggut dengan takzim.
“mari ku tunjukan hakekat keindahan dunia ini”. sekali lagi, murid itu dibuat terkejut kembali dengan tempat yang ditunjukan gurunya tentang hakekat keindahan dunia ini. “inilah hakekat keindahan dunia ini, keindahan dunia ini sebenarnya adalah tumpukan sampah yang menjijikan kalau hati kita jernih melihatnya”.  Kembali, murid itu hanya bisa terdiam sambil menutup hidung menahan bau tempat pembuangan akhir sampah.
Kemudian murid dan guru itupun pulang ke pesantren tempat sang guru tinggal. Dalam perjalanan, sang guru kembali bertanya kepada muridnya. Pertanyaan yang tidak pernah terpikir sebelumnya.” Apa Gelar  atau jabatan tertinggi di dunia ini?”. sang murid hanya terdiam belum bisa menjawab. “Gelar atau jabatan tertiggi di dunia ini adalah Almarhum/almarhumah (Alm.). lihatlah seorang professor itu, gelar yang dia sandang setelah meninggal adalah Alm.. begitu juga dengan seorang jenderal bintang empat sekalipun. Bahwa pangkat tertingginya adalah pesiun dan Alm. Juga pada ahkirnya”. Begitu panjang penjelasan pelajaran hidup hari ini. sebuah ilmu hakikat yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang bersih hatinya, yang tidak tertipu oleh keindahan dunia seperti pejelasan salah satu hikmah yang Ibnu Atthaillah dalam kitab Alhikam-nya.
Maka apa yang kau cari dalam kehidupan dunia ini murid ku? Sudahkah kau siapkan bekal perjalanan untuk melakukan perjalanan jauh ini? sudah berapa banyak “saku” yang kau bawa untuk menikmati enaknya hidangan “kantin” Surga ?

Waullahu ‘alam

0 comments:

Post a Comment