Tuesday, August 27, 2013

Arjuna Mencari Cinta part 2


akhirnya bisa melanjutkan tulisan kedua dalam seri arjuna mengejar cinta dewi rara ireng.. selamat menikmati dan membaca.. wkwkwk


“sudahlah Prabu, tentang perjodohan ini biarlah ditangan Rara Iraeng sendiri. Kita tidak usah ikut campur. Sebab genenrasi yang akan datang yang nantinya meneruskan memipin negeri ini akan lahir dari pasangan ini”, tandas Prabu Kresna lugas.
“Generasi yang akan datang akan lahir dari generasi hari ini. Kalau generasi hari ini generasi yang mlempem terus mau dibuat apa ?. Maka yang paling cocok untuk jodoh Rara ireng adalah orang yang ulet, terampil dan semangat juang tinggi. Bukan orang yang manja dan malas – malasan, hanya bisa perintah sana perintah sini, tidak pernah mengerti bagaimana rasanya jadi orang bawah.  Akankah kita serahkan nasib generasi masa depan kerajaan ini kepada orang yang tidak bertanggung jawab ?”, prabu kresna mencoba menggiring opini pemilihan arjuna sebagai pasangan untuk rara ireng.
“kamu mau mengatakan kalau Buri Sworo iku pemalas dan tidak tanggung jawab ?”, Baladewa semakin murka.
“ maaf, prabu. Izin memberi penjelasan sedikit saja”, Pandito durna coba menengahi permaslahan yang ada.
“Ada apa Durna ?”, kresna keheranan.
“Bahwa sesungguhnya jodoh itu ada perhitungannya. Tidak sembarangan. Ingat itu. Perhitungan berdasarkan hari kelahiran pasangan. Rara ireng lahir pada hari kamis, sedangkan arjuna lahir hari selasa. Maka tidak cocok, bisa mati muda salah satu pasangan itu nanti “.
“kamis itu cocoknya dengan yang lahir hari minggu. Buri Srowo itu lahir pada hari minggu. Cocok. Bukan begitu sengkuni ?”,  Durna memang seorang yang ahli dalam perwetonan. Biasaya menjadi rujukan orang kampung sebelum menjodohkan anak mereka.
“ohh.. salah kalau itu.. lihat di negeri seberang sana. Presiden Republik Indonesia iku, Pak Harto. Lahir hari selasa. Dan istrinya bu tin, lahir hari kamis. Lihat, pak harto bisa jadi presiden 32 tahun, hartanya berlimpah. Salah htungan mu. Gak valid”, bantah setyaki merasa diatas angin.
“Jodoh iku tidak ada hubungannya dengan hari kelahiran. Hidup, mati, rezeki, jodoh itu sudah ditetapkan allah sebelum manusia itu lahir di dunia. Jadi tidak ada hubungannya dengan hari kelahiran. Itu yang dinamakan Qodho. Tapi manusia juga harus berusa dalam mencapainya, ada sesuatu yang masih dirubah dengan mengikuti sunatullah. Itu yang dinamakan dengan Takdir”,  Setyaki yang dari awal diam akhirnya gatal juga untuk ngomong.
“jangan mengada – ngada mu, durna. Kamu belajar ilmu itu dari mana ?. tidak ada dasarnya hal itu !”, gertak setyaki untuk menciutkan nyali durna.
Sekita durna diam, tertegun dengan apa yang telah disampaikan oleh setyaki. Memang selama ini belum ada survey yang menjamin mati orang yang menikah dengan pasangan yang lahir pada hari kamis dan selasa. Sangat mengada – ada masyarakat itu. Apalagi yang sudah berada di zaman modern ini masih banyak orang yang percaya kan hal tersebut.
Akhirnya semikn tidak menemui hasil pembicaran ini, karena ikut campurnya durna dan setyaki dalam perbincangan hari ini. Meskipun sebenarnya merak tidak punya kepetingan dengan hal ini. Suasana semakin memanas, Prabu Baladewa ingin segera memutuskan bahwa rara ireng harus dijodohkan dengan  Buri Srowo.
Perdebatan itu berakhir sampai akhirnya datanglah dewi kunti  yang bermaksud untuk menyampaikan kegundahan yang selama ini dihadapainya. Masalah yang tak lain adalah keinginan Arjuna untuk menikahi Dewi rara ireng yang merupakan adek dari Kresna dan Prabu baladewa. Tentu pasangan yang sangat beda kasta ini membuat dewi kunti, janda dari Pradu Punthadewa yang tidak meninggalkan warisan  binggung. Arjuna yang memang tidak se level dengan  dewi rara ireng, dewi rara ireng berdarah ningrat sedangkan arjuna adalah orang miskin yang hanya punya kelebihan wajah yang tampan. Arjuna adalahs bagi dewi rara ireng. anak yatim, tidak pantas bagi dewi rara ireng.
Namun perlu kau ketahui, bahwa arjuna tiak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan dewi rara ireng. Sekarang dia bekerja  keras untuk mengumpulkan uang demi melamar dewi rara ireng, memang aku t sanggup untuk menikahkan arjuna dengan mahar yang banyak. Maka berikanlah waktupada arjuna untuk membuktikan kesungguhan cintanya pada dewi rara ireng. 
Mendengar perkataan dewi kunti sambil terisak tanggis, Prabu baladewa tidak terpengaruh sama sekali. Tik halnya dengan kresna yang berhati lembut. Mendengar hal tersebut, Prabu Baladewa mukannya memerah, dengan nada tinggi dia berkata pada kunti. “ Bibi kunti, saya menghargai kerja keras Arjuna untuk membuktikan cintanya kepada adikku , si rara ireng. Tapi perlu diketahui bibi, dewi rara ireng sudah aku jodohkan dengan adik ipar ku, Buri Srowo, yang kaya lagi berkuasa. Saya tawarkan solusi kepada bibi dan arjuna. Kalau bibi tidak mampu menikahkan arjuna dengan mahar yang banyak, maka saya akan berikan uang pada bibi agar mampu menikahkan arjuna dengan orang lain dengan mahar yang banyak. Arjuna yang  bermuka tampan tentu tak sulit untuk mencari wanita lain diluar sana. Bukankah masih banyak perempuan diluar sana”.
“ bibi tidak usah bermimpi untuk menikahkan arjuna dengan dewi rara ireng, sebab aku yang menjadi wali rara ireng. Akan menikahkan rara ireng dengan Buri Srowo. Tidak bisa diganggu gugat”.
Mendengar perkataan Prabu baladewa dengan sedikit marah tersebut, dewi kunti dengan masih terisak tangsi lari meninggalkan halaman kerajaan Ndarawati. Sedangkan Kresna yang ingin mencegah kepergiaan bibinya dihalangi oleh Prabu baladewa.
Dewi rara ireng yang dari tadi melihat perdebataan dipelataran dari serambi kerajaan tak sanggup menahan marah kepada kakaknya Prabu Baladewa. Dia langsung menghampiri kedua kakaknya yang ada di halaman, dengan isak tangis yang tak terbendung, rara ireng menyampaikan isi hatinya kepada kakaknya Prabu Baladewa.
“Kakang tidak pernah mengerti isi hati adeknya. Kakak hanya menjadi pesuruh, babu dari adik iparnya dengan mengorbankan adik kandungnnya sendiri. Kakak tidak tahu, kalau aku tidak cinta sama sekali pada buto jelek si Buri Srowo. Aku hanya cinta pada arjuna. Kakang yang seharusnya menjadi panutan malah tidak menjadi contoh yang baik pada adeknya. Aku tidak sudi mempunyai kakang seperti kamu. Lebih baik aku mati saja”.

Dewi rara ireng langsung masuk kedalam kerajaan lagi dan mengurung diri di kamarnya. Melihat kejadian tersebut dan merenungi kata adenya si rara ireng. Baladewa langsung termenung  dan mata meneteskan air mata penyesalan. Halaman kerajaan seketika sunyi, kedua kakak itu hanya diam seribu bahasa.

0 comments:

Post a Comment