Wednesday, September 18, 2013

Renaissance

Renaissance dan reformasi agama di eropa
Wisata paling indah adalah ke toko buku. Ya, dalam toko buku anda akan dapat berwisata ke semua Negara. Di toko buku anda akan mendapat banyak pengetahuan tentang sejarah atau segala sesuatu tentang wisata yang ada di dunia.  Untuk pertama kalinya, hari ini pergi ke toko buku di Surabaya ini. Mulai dari Gramedia, Toga mas, toko buku manyar sampai Rumah buku. Awalnya hanya mencari buku tutorial perencanaan struktur bangunan tahan gempa dengan software. Namun, mumpung keluar jadi sekalian cari – cari lah buku yang menarik untuk dibaca. Hingga akhirnya pada toko buku toga mas. Saya menemukan sebuah buku bacaan untuk anak-anak. Buku yang mengajarkan sejarah tentang eropa masa lalu. Buku itu berjudul “Renaissance dan reformasi agama di eropa”. Buku bergambar lucu.
Tapi yang paling membuat saya geli adalah judul dari buku itu, meskipun memang itu yang terjadi di eropa pada abad ke-18.  Buku itu sebenarnya bisa menjadi boomerang, ketika anak yang membaca menjadikan contoh tentang pemikiran agama orang eropa. Soalnya “Reformasi Agama”. Mungkin buku itu perlu diberi lebel BO (Bimbingan Orang tua) kayak tontonan televise.. he..he.. hingga akhirnya saya pengen menulis tentang judul buku yang membuat geleng-geleng..
Era pencerahan : dari kegelapan pengetahuan sampai menghilangkan tuhan
Renaissance, kata itu sangat menarik karena artinya adalah lahir kembali. Lahir kembali ? mungkin kita akan berfikir apa hubungannya lahir kembali dengan reformasi aga di eropa. Tapi, mari kita kembali membuka buku sejarah tentang perkembangan ilmu pengetahuan di dunia ini. Masih ingat dengan pembunuhan ilmuan karena menentang doktrin gereja tentang ilmu pengetahuan bahwa bumu adalah pusat tata surya ?. kalau kalian ingat kalaian pasti akan  sudah tahu apa renaissance dalam arti lahir kembali. Dengan adanya berbagai pembatasan yang dilakukan oleh pihak pemerintah atas saran dari gereja. Maka timbulah sebuah gerakan kultural pada abad ke-14. Sebelum gereja mempunyai peran penting dalam pemerintahan , golongan ksatria hidup dalam kemewahan, kemegahan, keperkasaan dan kemashuran. Namun ketika dominasi gereja berpengaruh, maka hal seperti itu tidak mereka peroleh sehingga timbullah semangat pembaruan yang bernama renaissance.
Renaissance diartikan sebagai suatu periode sejarah di mana perkembangan kebudayaan Barat memasuki periode baru dalam semua aspek kehidupan manusia, seperti ilmu-ilmu pengetahuan, teknologi, seni dalam semua cabang, perkembangan sistem kepercayaan, perkembangan sistem politik, institusional, bentuk-bentuk sistem kepercayaan yang baru dan lain-lain.Pemakaian kata Renaissance pertama kali oleh Jules Michelet, seorang sejarawan Perancis yang lahir di abad ke-18 dan mulai terkenal di dunia Barat pada abad ke-19 karena karyanya yang berjudul “History of France” yang menekankan bahwa masa romatik Abad Pertengahan bukanlah sama sekali tidak berguna bagi perkembangan kebudayaan Barat.
Jacob Burckhardt mengemukakan definisi Renaissance sebagai gerakan yang menemukan dunia dan manusia yang sebenarnya. Burckhardt memandang Renaissancelah yang menyelami manusia dan dunia, artinya Renaissance dipandang sebagai masa individualistis, masa kemajuan dari berbagai ikatan dan kewajiban lama. Subjek manusia pribadi menuntut haknya. Manusia tidak lagi berpaling dari dunia tetapi sebaliknya menghadapi dunia. Agama Kristen tidak menjadi dasar hidup lagi. Gereja bukan satu-satunya tempat keselamatan. Manusia Renaissance ditandai dengan pemilikan ilmu pengetahuan lebih dari satu, maksudnya menguasai banyak ilmu pengetahuan. Agama menjadi hal yang hanya mengenai individu, perhatian orang lebih banyak ditujukan untuk dunia.
Jadi dengan dimulainya meruntuhkan gereja inilah, maka orang-orang renaissance menggangap agama bukanlah hal yang sacral. Agama menjadi bagian dari budaya dan agama adalah tradisi. Traumatis akan cengkraman gereja membuat mereka tidak lagi percaya dengan doktrin-doktrin dan ajaran gereja. Sehingga pada perkembangannya, renaissance membawa sebuah agama baru yang bernama pluralism. Kesatuan agama dan semua agama adalah jalan keselamatan.

Dengan semakin kuatnya Renaissance sekularisasi berjalan makin kuat. Hal ini menyebabkan agama semakin diremehkan bahkan kadang digunakan untuk kepentingan sekulerisasi itu sendiri. Semboyan mereka “religion was not highest expression of human values”. Bahkan salah seorang yang dilukiskan sebagai manusia ideal renaissance Leon Batista Alberti (1404-1472), secara tegas berani mengatakan “Man can do all things if they will”. 

0 comments:

Post a Comment