Tuesday, September 10, 2013

Mendukung dan Menolak, itu soal Konsistensi


Kalau kita sering mengamati media-media dalam mengangkat berita atau kejadian, kita akan menemukan sebuah pola. Sebuah pola eperti halnya gerak parabola bila anda melemparkan bola dengan sudut 45 derajat. Mulai dari nol sampai nanti pada kecepatan tertinggi dan titik tertinggi, kemudian turun pada kecepatan terndah dan berhenti. Seperti itulah selama ini, tidak hanya pada media-media mainstream. Namun juga halnya pada media-media islam yang seharusnya konsisten dalam mengawal kejadian, apalagi jika hal itu berkaitan dengan kepentingan umat muslim. Seharusnya tetap  memberikan informasi terbaru dalam rangka membangun pola pikir masyarakat tentang sebuah berita atau isu yang sedang menyebar di media maya ataupun cetak yang beredar.
Selain dari media-media islam, jejaring social juga memberikan andil dalam menyebarkan berita kepada masyarakat. Seperti halnya dulu, warung menjadi pusat penyebaran segala berita dan informasi dari berbagai sumber . sekarang ini jejaring social menjadi salah satu cara efektif dalam menyebarkan berita, isu dan informasi kepada khalayak ramai hanya dengan memberikan link berita, membuat tulisan tentang isu dan lainnya. Namun sekali lagi, semua itu sama. Membentuk pola gerakan lemparan bola dengan lintasan parabolanya. Naik, titik tertinggi, jatuh dan hilang.
Dunia nyata juga tak kalah pentingnya dalam memberikan pencerdasan setiap berita dan isu yang terjadi di Masyarakat. Tidak semua orang memiliki jejaring social dan mungkin tidak sempat untuk mengaksesnya. Maka dengan aksi berkumpulnya banyak massa itu, masyarakat akan memberikan perhatian dan tersadar akan isu yang diangkat. Seruan mereka  mungkin tidak terdengar utuh oleh pengguna jalan yang lewat, dengan menyebarkan flyer-fleyer itulah pencerdasan dan penyampain maksud itu terkomunikasikan dengan baik.
Kita ambil contoh dari kejadian yang pernah ada dan sempat booming. Masih ingat dengan rencana kedatangan lady Gaga “satanic girl” pernah menghobohkan media massa negeri ini. Baik media pro dan kontra saling “bertikai” memberikan berita, opini dan data tentang si Lady Gaga. Media mainstream yang pro akan kedatangan penyanyi ini mengeluarkan opini tentang baik tentang sosok lady gaga. Maka beberapa detik kemudian atau bahkan diwaktu yang sama media kontra langsung mengeluarkan opini, data akan keburukan dan dampak dari kedataangan si “monster” tersebut.
Jejaring social juga tak kalah serunya, semua aktivis islam dan orang-orang yang kontra dengan kedatangan lady gaga langsung mengeluarkan opini disetiap tulisan mereka dijejaring social. Kadang juga dengan memberikan link media islam rujukan untuk menguatkan opini tersebut. Setiap ada yang pro dengan lady gaga mengeluarkan opini tentang dukungannya dalam grup social media, maka pada saat itu juga semua orang yang kontra akan langsung membalas lewat komentar yang “menghabisi”. Bukan satu orang atau dua orang, tetapi semuanya terencana dengan matang bukan asal-asalan.
Di dunia Nyata, semua orang bergerak menyusun langkah merapatkan barisan untuk menolak kedatangan Si Lady Gaga. Semua ormas islam, pemuda islam, MUI, Muhammadiyah, Aisyiah dan lain-lain bersama-sama melakukan aksi besar-besaran di Bundaran Hotel Indoneisa. Setelah itu supporter Persija, the Jack mania bersama komunitas pank muslim, underground tauhid semua menggelar aksi penolakan. Hingga kemudaian aksi-aksi tersebut diikuti oleh berbagai daerah, semua ormas turun ke jalan melakukan aksi damai menolak kedatangan lady gaga.
Sudah apa yang terjadi dengan rencana kedatangan dan konser Lady Gaga ?. GAGAL. Penyanyi yang sering tampil dengan pakaian yang menampilkan tubuhnya itu gagal. Aksi-aksi penolakan tersebut berhasil mengagalkannya. Ini adalah kemenangan media, kemenangan dalam memberikan informasi dan opini dalam rencana kedatangan lady gaga berhasil. Sempurna.
Sekarang coba kita amati pola media dalam menyuarakan suaranya tentang Lady gaga ini dengan isu-isu lain, misal pembantaian muslim di rohingnya. Trend pola pengawalan isu tentang Lady gaga lebih konsisten, seperti halnya gerak lurus peluru. “Pertikaian” opini di media massa setiap hari ada, tulisan-tulisan tersebar luas dimana-mana. Bandingkan dengan pengawalan media baik islam maupun mainstream dalam konfil dan pembantaian muslim Rohingnya. Keluar berita, tersebar hingga naik pada puncak tertinggi, banyak poster bertulisan “save rohingnya” menjadi profil picture di jejaring social facebook. Namun satu minggu atau maksimal satu bulan kemudian, isu itu hilang seolah rohingnya sudah selesai, aman dan damai. Padahal tidak demikian dengan halnya yang terjadi di lapangan sesungguhnya.
Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dalam hal ini, Pertama adalah soal konsistensi. Perjuangan kita dalam membela saudara-saudara muslim lain, minimal dengan harta dan memberikan informasi kepada khalayak ramai perlu konsistensi. Bahwa dalam menyuarakan amar ma’ruf nahi munkar perlu adanya konsistensi dalam mengawal isu yang ada. Sehingga isu itu terus muncul memberikan efek salju yang sangat besar efeknya di kemudian hari. Kita tidak ikut menjadi orang yang latah terombang-ambing oleh banyak isu dan berita tanpa. Kalau misal pecan ini kita menyoroti isu A, pecan depan isu B, depannya lagi isu C. Bagus sebenarnya, namun orang diluar sana akan menanyakan kepada kita, “Bagaimana isu A kemarin akhirnya, yang B sudah selesai ?”, tentu ada banyak orang yang akan bertanya tentang hal yang sama dengan nada yang berbeda.
Kedua, mengorganisir massa di media. Sudah barang tentu dalam mengawal atau memblow up isu, kita tidak akan diperhatikan orang jika hanya sendiri berteriak. Perlu banyak orang untuk meneriakan hal yang sama dalam satu waktu dari tempat yang berbeda. Hal itu akan lebih menarik untuk diperhatikan oleh banyak orang. Kesan yang dibuat seakan-akan isu tersebut akan menjadi masalah besar mudah diciptakan. Kalau pernah menonton film “Republik Tweeter”, pasti anda akan tau tentang efek organisir massa dalam memblow up atau mengawal isu tersebut. Pada Film tersebut digambarkan bagaimana agar nama satu orang tersebut seolah penting dan besar denan hanya dibicarakan oleh banyak orang. Kalau kita mampu mengorganisir massa dengan menyeragamkan isu dan topic bahasan isu yang akan kita angkat, hal itu lebih menarik. Kemanapun orang melihat, pasti  bertemu dengan berita yang sama dan pasti akan tertarik untuk membacanyanya.
Semoga dengan semakin besar media-media mainstream yang menjadi musuh islam beserta media-media nya. Setidaknya kita bisa membantu menjatuhkan raksasa media yang menyerukan kemunkaran. Setiap kita membuat tulisan dan setiap kita mampu mengelola opini public, maka ssbuah keniscayaan tentang tumbangnya media mainstream musuh islam. Sekarang tinggal kita buktikan tentang keistiqomahan dalam dakwah ini, serta barisan yang semakin kokoh bergerak bersama dalam rangka mengembalikan lagi izzah islam wal muslimin


0 comments:

Post a Comment