Wednesday, October 30, 2013

Belajar Kesederhanaan dari M. Natsir

Catatan Pengembara Jalanan

Belajar dari Kesederhanaan M. Natsir

 “Cukupkan yang ada, Jangan cari yang tiada. Pandailah mensyukuri nikmat”.

Sekali lagi, untuk kesekian kalinya saya dibuat terkagum oleh sosok yang sangat misterius ini. Tak banyak biografi lengkap yang menceritakan kisahnya, meskipun ia juga berdiri sama, sejajar dengan Sang Proklamator. Meskipun penghargaan sebagai pahlawan negeri ini baru beberapa tahun kemarin. Tapi, bagi saya pribadi, beliau adalah pahlawan sebelum bergelar pahlawan. Pada tulisan ini, mungkin hanya sedikit fragmen hidup ulama, politisi, guru, sastrawan dan jurnalis  yang terhimpun dalam pribadi yang bernama M. Natsir. Kita akan berbicara sisi kesederhanaan beliau. Mengapa ? mungkin tepat untuk saat ini, saat banyak para pejabat sekarang tersangkut korupsi. Kalau ditanya mengapa mereka korupsi, pasti jawabannya adalah demi kemewahan hidup. Kita sudah lama merindukan sosok pejabat yang juga merasakan penderitaan rakyaknya. Mungkin para pejabat tidak mempunyai role model untuk di contoh, sehingga apa yang mereka lakukan adalah percobaan mencari jati diri sebagai pejabat. Orang-orang seperti itu adalah orang yang tidak pernah membaca sejarah bangsa ini. Bahwa bangsa ini pernah memilki pejabat yang sangat sederhana hidupnya,  yang jauh dari kemewahan hidup seorang pejabat pada masanya. Meskipun ia seorang Perdana Menteri. Ia Muhammad Natsir.
Tulisan ini merupakan resensi dari buku yang berjudul: Natsir; Politik Santun diantara Dua Rezim. Buku ini berisikan tulisan dari wawancara anak-anak sang tokoh. Salah satu yang menjadi narasumber adalah Siti Muchliesah, atau yang lebih akrab dipanggil Lies.  Beliau menuturkan,
Pada suatu pagi, beliau melihat ayahnya (M. Natsir) sedang menerima tamu yang berasal bukan dari pribumi kalau dilihat dari wajahnya. Maka dari balik tembok beliau mencoba mencuri dengan pembicaraan ayahnya (M.Natsir) dengan tamunya itu. Pada intinya, sang tamu rupanya ingin menghadiahi mobil Chevrolet impala yang sangat “wah” pada saat itu, sekitar tahun 1956. Meskipun seorang menteri, mobil bapak (Natsir) adalah mobil De Soto yang sudah kusam dan terlihat tua.
Beliau melanjutkan, Bapak (M. Natsir)  menolak mobil itu dengan halus. Dengan senyum kemudian bapak (M. Natsir) mengatakan kepada saya “mobil itu bukan hak kita, lagi pula yang ada masih cukup”. Padahal sang tamu ingin membantu bapak, melihat mobil bapak yang sudah tidak memadai lagi menurutnya.  Salah satu yang masih teringat dari nasihat bapak adalah “Cukupkan yang ada, Jangan cari yang tiada. Pandailah mensyukuri nikmat”.
Itulah sosok M. Natsir, yang tidak mau menerima meskipun hadiah yang bisa jadi memang orang yang memberi benar-benar tulus tanda maksud apa. Tapi, demi menjaga kredibilatas sebagai seorang wakil rakyat, M. Natsir menolak itu. Sungguh barang langka dan mungkin sudah punah pada hari ini di negeri kita.
Ketika menjabat sebagai Menteri, Natsir tinggal dirumah seorang sahabatnya, Prawoto mangkusumo. Sewaktu pemerintahan Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta, M. Natsir sekeluarga hanya menumpang hidup di pavilion milik H. Agus Salim. Kemudian beliau baru bisa membeli rumah pada akhir tahun 1946. Rumah mewah ? bukan kawan. Rumah sederhana yang kosong tanpa perabotan, yang kemudian hari di isi dengan perabotan bekas.
Seorang guru besar Universitas Cornell, George Mc.Turnankahin mempunyai pengalaman tersendiri tentang kesederhanaan M. Natsir. Dalam bukun memperingati 70 tahun M. Natsir, dia mengatakan “pakaiannya sungguh tidak menunjukan ia seorang menteri dalam pemerintahan.
Yusril Ihza Mahendra , Mantan Ketua Umum Partai Bulan Bintang yang ketika itu menjadi staff M. Natsir didalam organisasi DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia). Beliau juga menuturkan kalau pakaian yang dipakai natsir hanya itu-itu saja. Kalau tidak mengenakan baju putih yang dibagian sakunya ada noda bekas tintanya, kemeja lain yang sering dipakai adalah batik berwarna biru.
Amin Rais pernah mendapat cerita dari Khusni Muis, Mantan Ketua Muhammadiyah Kalimantan Selatan. Ketika itu beliau hendak pulang ke Banjarmasin, sebelum berangkat disempatkannya mampir ke rumah M. Natsir untuk meminjam uang buat ongkos balik. Namun, M. Natsir menjawab tidak punya uang, belum gajian. Akhirnya dia pinjam uang pada majalah hikmah yang natsir pimpin.
Setelah meletakkan jabatannya dari Perdana Menteri, dia pulang dibonceng sepeda olah sopir pribadinya dan mampir ke rumah untuk mengajak pindah keluarganya. Pada saat itu juga sekretarisnya, maria ulfa menyodorkan catatan sisa dana taktis yang saldonya lumayan banyak. kata sekretarisnya dana itu menjadi hak perdana menteri. Tapi M. Natsir menggeleng, dia akhrinya limpahkan ke koperasi karyawan tanpa mengambil uang sepeserpun untuk dimasukan ke dalam kantong.

Itulah sekelumit kisah tentang kesederhanaan yang beliau miliki meskipun ada dengan mudah fasilitas yang bisa beliau dapat ketika menjadi Perdana Menteri. 

0 comments:

Post a Comment