Sunday, August 2, 2015

Lubang Cahaya


Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Terjemah Qs. Annur : 35)
Jika Cahaya Allah itu adalah tempat kembali untuk bersimpuh mengabdikan diri ke haribaan-Nya, maka Allah turunkan petunjuk itu kepada setiap hati hamba yang Dia kehendaki untuk menemukan kembali cahaya-Nya, Alzujajah, pelita hati dari Illahi. Jadi lewat mana nanti pelita itu menyala dan menerangi hamba hingga sang hamba menemukan cahaya Allah adalah hak preogratif Allah.
Sebab Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki. Bisa jadi bukan lewat Da’I atau Pak Kyai. Bukan juga ustadz atau toh masyarakat. Bisa jadi pelita itu muncul dari anak kecil, gelandangan, anak muda, orang muda atau PeeSKa. Kehendak Allah dari mana Pelita itu akan menerangi hati hambanya. Semuanya tinggal kembali kepada hamba, bahkah hanya merenungkan pergantian siang dan malam saja dapat menemukan cahaya Allah. “Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihata”(Qs. Annur : 44).
Semakin banyak interaksi saya dengan berbagai kelompok pengajian atau pencerahan dalam rangka menemukan kembali pelita hati. Saya jadi semakin kagum bahwa memang Allah membimbing orang-orang yang Dia kehendaki untuk kembali menemukan pelita hati, entah dari mana saja sumber pelita itu muncul adalah hak preogatif Allah. Dan tidak bisa padam atau redup cahaya itu. Sebab Ia adalah Cahaya di atas Cahaya.
Saya akan sedikit menceritakan hal yang pernah saya alami untuk semakin menghayati pemaknaan dari ayat diatas. Pengalaman ini adalah pengalaman nyata tanpa rekayasa meskipun saya tidak akan menyebut nama. Jika menyebut kelompok, itu hanya dalam rangka memudahkan untuk memahami saja.
Mungkin anda sudah banyak mengetahui bahwa Jamaah (organisasi) islam yang berada di Indonesia ini sangat banyak, baik yang lurus maupun rada menyimpang. Dan setiap mereka mempunyai cara pengajian yang berbeda-beda dan mungkin kita lebih sering mendengarnya saling bersebrangan. Jamaah A menganggap Jamaah B adalah ahli bid’ah, dan sebaliknya atau malah Jamaah B menganggap Jamaah A adalah teman dan selain mereka adalah Jamaah ahli bid’ah. Seperti itu hingga akhirnya orang bingung melihanya.
Anda mungkin sudah sangat familiar dengan nama – nama ini, Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA), Salafi (wahabi-kata yang lain), Jamaah Tabligh (JT), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Nahdhotul ‘Ulama (NU), Muhammadiyah, Majelis Sholawat Nabi dengan Syehker Mania-nya, Jamaah Maiyah Nusantara dan gerakan Tarbiyah. Saya pernah berinteraksi dengan individu (jamaah pengikut) di dalamnya, bukan organisasinya secara langsung. Dan banyak pelajaran yang kita dapat bahwa Cahaya Allah datang dari mana pun dan tidak akan redup.
Pelita bisa jadi Allah nyalakan lewat MTA, untuk membimbing orang-orang yang Dia kehendaki untuk kembali pada cahaya. Saya pernah bermajelis dalam pengajian mereka dan kadang saya mengikuti pengajiannya lewat Radio. Saya sungguh tersentuh, ada bapak-bapak paruh baya yang menjadi anggota mejelis itu yang membaca Al-Qur’an saja, itu masih lebih lancar adik saya. Namun saya saya sangat tersentuh, perjuangan bapak itu untuk kembali semangat beragama diusia yang sudah cukup mendekati senja masih ada. Mengkaji kitab pedoman yang Allah turunkan. Pelita itu telah menyala dan menerangi hatinya, membimbing menuju cahaya. Maka jangan pernah anda tutup-tutupi atau padamkan cahaya  itu dengan mengatakan mereka aliran sesat, mereka ahli bi’dah dan sebagaimana. Namun cahaya Allah adalah cahaya diatas cahaya, meskipun ada yang mengatakan seperti di atas, cobalah datang ke kantor pusat yang di Solo, pengajian mereka selalu ramai dan sesak para jamaah.
Dan pelita pembimbing itu bisa jadi Allah tiupkan lewat salafi (wahabi-kata kelompok lain). Gerakan salafi yang mencoba menggigit sunnah nabi di akhir zaman. Saya pernah bermajelis di pengajian mereka, mendengarkan tausiyahnya. Dan saya mempunyai teman yang menjadi anggota kelompok itu, sungguh perubahan luar biasa yang terjadi padanya. Kecintaanya pada ilmu agama melonjak drastis, berangkat ke masjid awal waktu dan sebagainya. Gambaran yang jarang dilihat pada umumnya anak sekarang. Memang ada kesalahan pada mereka, namun jangan coba kita padamkan pelita itu. Tak perlu kita katakan mereka orang ekstrim, mereka kafir dan sebagainya. Jika ada kesalahan mari kita ingatkan.
Bisa juga Allah bimbing seorang hamba menunju cahaya-Nya melalui pelita yang ada di Jamaah Tabligh (JT), seruan mereka mengetuk pintu rumah, bersilaturrahmi dan mengingatkan agar menjaga sholat, senantiasa berdzikir mengingat Allah dan lain sebagainya. Bisa jadi pelita itu dari mereka. Jangan kita padamkan dengan menghukumi mereka ahli bid’ah, jamaah sesat dan ejekan lainnya. Toh kita belum tentu lebih baik dari mereka. Dan banyak perubahan yang dialami teman saya yang ikut bergabung dengan mereka. Kecintaannya kepada Ibadah semakin menggelora.
Saya pernah hadir di majelis pencerahan Jamaah Maiyah Nusantara di Surabaya yang diberikan nama Bang-Bang Wetan. Itulah kali pertama saya datang setelah sekalian kali hanya mengikuti lewat video di youtube dan artikel di website-nya. Peserta yang hadir bukan pada umumnya orang – orang yang akan menghadiri pengajian. Peserta yang hadir disana sangat beragam, mulai dari celana sobek-sobek, kaos oblong sampai yang pakai sarung dan kopyah. Bermajelis dari jam 8 malam hingga jam 3 dinihari. Allah menyalakan pelita bagi orang – orang “marginal” yang terpinggirkan dari jamaah lain. Semangat mereka menemukan ke-fitroh-an merupakan karunia yang Allah turunkan kepada seorang yang dikehendaki menuju cahayaNya.
Saya ingin mengulang ayat diatas diakhir paragraph ini, semoga kita semakin arif dan bijaksana menanggapi banyaknya Jamaah islam yang ada. Bahwa ia adalah pelita yang Allah nyalakan di tengah-tengah umat untuk membimbing menemukan “kembali” pada cahaya-Nya. Oleh karena itu, janganlah kita padamkan atau tutupi pelita itu dengan membagikan stempel Kafir, Cap Ahli Bid’ah dan sebagainya. Bisa jadi seseorang tidak cocok dengan kelompok anda, dan cocok dengan kelompok lain. Itu semua adalah kehendak Allah yang membimbing siapapun yang dikehendaki menuju cahaya-Nya.

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Terjemah Qs. Annur : 35)

0 comments:

Post a Comment