Monday, August 3, 2015

Tahun – tahun buta


Saya jadi teringat beberapa bulan lalu saya menghadiri kajian islam ahad pagi di Islamic Center Gontor Nganjuk. Saat sesi Tanya jawab, entah dari mana saya lupa kemudian sang ustadz membeberkan tokoh-tokoh Islam liberal. Saya sedikit tercengang dengan salah satu nama yang diseutkan. Sebab beliau adalah salah satu tokoh islam yang di hormati negeri ini, memimpin para ‘ulama yang tergabung di Majelis Ulama Indonesia. Kemudian ustadz tersebut meminta jamaah untuk melihat dari link yang dishare di group facebook jamaah pengajian itu. Sampai hari ini pun saya masih belum bisa menerima, memang jika ada salah ucap perlu diklarifasi dan itu sudah pernah disampaikan kepada beliau.
Sudah menjadi pengetahuan kita bersama, bahwa info yang dimuat di media terkadang asal penggal dari pembicaraan atau resume menurut persepsinya sendiri tanpa klarifikasi hal tersebut. Bayangkan saya, misal dalam sebuah seminar dua jam, berapa kalimat atau baris yang masuk dalam tulisan media. Sehingga akan sangat mungkin terjadi pemotongan yang asal menguntungkan dan menjual. Disamping itu, para penyebar info pun dengan semangat “menyebarkan info baru yang sensasional” apa lagi tokoh besar akan berlipat-lipat semangatnya. “Orang-orang harus tau info ini, tokoh ini ternyata anggota Islam Liberal,” mungkin begitu kata hatinya. Namun sekali lagi, tanpa pernah konfirmasi kepada orang yang bersangkutan.
Judul diatas adalah tema Kenduri Cinta (KC) bulan Juli lalu, saya tertarik dengan tema tersebut mengingat hari – hari ini kita dibuat buta dari kebenaran yang terjadi dari media – media yang ada. Pembawuran kebenaran itu kemudian menjadikan sampah informasi yang tidak terkendali. Hal tersebut diperparah dengan semakin cepat berkembangnya dunia informasi, secara langsung berbanding lurus dengan semakin cepatnya arus informasi yang masuk ke telinga kita. Informasi masuk ke Hape dan tab hampir tiap detik, dan dengan tinggal klik share semua informasi bisa kita sebar ke public dunia maya. Entah informasi itu sampah atau emas, pun tidak jelas. Dan kemudian kita jadikan pembicaraan dan semakin lama-semakin membawur tanpa kejelasan kebenarn informasi tersebut.
Salah satu dampakanya adalah tidak adanya tanggung jawab dari para penyebar informasi, sehingga saling menghakimi antar para pro dan kontra. Kita seoalah belum  atau tidak bisa lagi menerapkan Qs. Al-hujjurat ayat ke 6;
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”
Ayat di atas memberikan peringatan kepada kita agar mengklarifikasi semua berita sebelum kita cerma melihat dari sumber – sumber informasinya, sebab hal itu merupakan adab dalam islam. Sehingga kita tidak mudah terpancing propaganda isu – isu yang masih samar – samar kebenarannya. Sebab ayat di atas turun setelah terjadi peristiwa kebohongan penarik zakat yang mengabarkan bahwa suatu kaum membangkang untuk mengambil zakat. Padahal sudah disiapkan pasukan untuk menyerang kaum tersebut, sebelum akhirnya salah seorang diutus oleh kaum tersebut menanyakan kenapa belum diambil zakat yang sudah disiapkan. Bayangkan jika hal itu terjadi, pertumpahan darah akan terjadi atas sesame muslim.
Secara garis besar kita bisa membagi informasi dari tiga sumber yang kemudian kita sikapi tentang informasi tersebut.
Pertama, berita dari seorang yang jujur yang secara hukum harus diterima.
Kedua, berita dari seorang pendusta yang harus ditolak.
Ketiga, berita dari seorang yang fasik yang membutuhkan klarifikasi, cek dan ricek akan kebenarannya.
Namun pada hari ini kita juga sudah bingung, mana yang menjadi golongan pertama yang informasinya harus diterima, mana golongan dua dan tiga pun sudah tidak jelas lagi. Semua orang dengan klasifikasi manapun dapat menyebarkan informasi sesuka hatinya dan semampu tangannya. Sehingga yang perlu kita lakukan adalah menahan agar tidak mudah terpancing untuk mengklik share dan like setiap informasi yang kita masih belum jelas kebenarannya. Sebab hal itu pun akan membuat senang orang yang pertama meniup informasi tersebut, setiap detik pundi rupiahnya bertambah dengan semakin banyak share yang kita lakukan.
Kita bisa belajar dari Rasulullah SAW tentang bagaimana menyikapi informasi yang masih simpang siur kebenarnnya. Sejarah mencatat ada Haditsul ifki atau berita bohong yang menimpa istri tercinta Nabi SAW, Aisyah ra. Semua orang dijalan-jalan membicangkan isu tersebut karena terjado pada tokoh umat islam, sangat menjual informasi bohong tersebut untuk diecer di jalan-jalan dan warung-warung. Rasulullah yang juga mendapat wahyu dan tidak dapat men-counter info tersebut harus bersabar hingga memulangkan Aisyah ke rumah Abu Bakar, bapaknya. Rasulullah kemudian berdiskusi dengan para sahabat mengenai informasi tersebut, sedang di luar sana sudah sangat massif informasi itu beredar. Rasulullah bersabar menunggu hingga dapat kebenaran berita tersebut, tidak terpancing untuk dengan gegabah meng-counter informasi tersebut dengan otoritas kenabiannya.
Bersabar dan menunggu kebenarnnya dengan tetap mencoba mencari yang benar adalah point yang rasul ajarkan. Sehingga kita harus menerapkan hadits berkata yang baik atau diam saja. Sebab dengan share dan like informasi yang tidak benar tentang saudara muslim kita juga merupakan bagian dari memakan bangkai saudara sendiri atau ghibah. Sungguh allah sudah memperingatkan dengan keras hal tersebut, bahkan Rasulullah mengaitkan keimanan seseorang dengan keamanan saudara/ tetangga dari lisan dan perbuatan kita.
Berkata Baik atau Diamlah.
Dan mari kita senantiasa melantunkan do’a yang sangat agung dalam menghadapi sampah informasi yang samakin hari semakin liar.
اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Allahumma arinal-haqqa haqqan warzuqnat-tiba’ah, wa arinal-batila batilan warzuqnaj-tinabah, bi rahmatika ya arhamar-rahimiin.
Artinya : Ya Allah Tunjukilah kami kebenaran dan berikan kami jalan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kami kebatilan dan berikan kami jalan untuk menjauhinya

Rabbi adkhilni mudkhala sidqin wa akhrijni mukhraja sidqin waj’alli min ladunka sulthanan nasiiran, wa qul ja alhaqqu wa zahaqal bathil innal bathila kana zahuqan (Qs. Al Isra’ ; 81)
Artinya : Ya Allah, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah(pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong. Dan katakanlah yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.

Waullahu ‘alam

0 comments:

Post a Comment