Monday, June 17, 2013

Menjawab Kegalauan Pemikiran Ahmad Wahib

Latarbelakang Pemikiran 

Ketika membaca buku pergolakan pemikiran islam ahmad wahib, mungkin kita akan terpesona dengan pemikiran-pemikiran islam yang “liar” dan kontorversial. Pemikiran-pemikiran yang mungikn tidak banyak orang-orang memikirkan hal itu dan para ulama telah lama sudah final akan keputusan itu, malah oleh ahmad wahib hal itu menjadi bahan perdebatan dan studi sebagai peninjauan ulang atas ke-final-an pemikriran tentamg itu. Banyak sekali Ahmad Wahib mengkritik alquran dan alhadits. Menuduh Nabi Muhammad sebgai seorang pengarang Alquran, Alquran sebagai produk budaya, islam sebagai objek penelitian dan sebagainaya. Banyak orang menganggap hal itu merupakan kekrititsan Ahmad Wahib karena kecerdasannya dalam belajar islam dengan bimbingan dari Romo katolik dan Lingkaran diskusi selama ini dia lakukan.
Kalau kita membaca sejarah pemikiran-pemikiran kontroversial tentang islam, maka kita tidak akan terkejut dengan apa yang telah digagas oleh ahmad wahib dalam catatan hariannya. Kita akan mengatakan bahwa Ahmad Wahib hanyalah seorang pembeo dari pemikir-pemikir islam yang keliru di timur tengah sana dan juga pemikir-pemikir orientalis di barat sana. Apa yang dipikirkan oleh Ahmad Wahib adalah merangkum dari semua pemikiran-pemikran yang ada. Mulai dari  Muhammad Shahrur dengan desakralisasi Al-quran, Nasr Hamid Abu Zayed, Fazlur Rahman, Muhammad Arkoun, Hasan Hanâfi, Muhammad Abid al-Jâbiri, Mahmûd Muhammad Ţoha, Abdullah Ahmed al-Na’îm, Sa’îd al-Asmâwi. Dari dalam negeri sendiri, Ahmad Wahib juga terpengaruh dengan gagasan-gagasan kebebasan berfikir yang pernah ditulis Ir. Soekarno yang juga telah terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran liberal timur tengah.
Ahmad Wahib yang mempunyai keluasan bacaan dan refrensi buku-buku pemikiran filsafat semenjak aktif di lingkaran diskusi pemikiran sangat mempengaruhi gaya berfikirnya. Semua buku pemikiran keislaman dibacanya tanpa menyaring bagaimana benar atau salahnya. Bimbingan sang Romo juga sangat berpengaruh dalam Hermeunitika dalam belajar Al-quran nya Ahmad Wahib. Sehingga dalam menjawab pemikiran-pemikirannya pun sebnarnya kita tidak akan pernah kesulitan dalam mencarinya, sebab dalam sepanjang sejarah pemikiran-pemikiran nyeleneh itu, ada ulama-ulama shalafussholih yang dengan tegas memberikan jawaban kebeneran islam yang haqiqi.

Shophisme dan pengaruhnya dalam pemikiran Liberal

Shophism diambildari kata “shopos” atau “shopia” artinya “wise” (bijaksana) atau wisdom (Kebijaksanaan). Makna ini dikenal sejak homer dan digunakan untuk menjelaskan seseorang yang memiliki keahlian dalam spesifikasi pengetahuan atau keahlian (craft). Makna ini biasanya dianggap berasal dari “Tujuh Bijaksana Yunani” ( Greek Seven Sages) dari abad-7 dan ke-6 SM (seperti Solon dan Thales). Namun kemudianpada abad-5 SM, “shopist” menunjukan pada satu kelas intelektual yang berkeliling yang mengajarkan berbagai hal berpikir-spekulai tentang sumber bahasa dan budaya. Dalam konteks Yunani, Shopist adalah kelompok aliran filsafat Yunani tertentu, yang mengawali aliran folsafat socrates. Jadi seorang shopist adalah orang yang meragukan bahwa statetmen-statetmen itu benar, atau orang yang tampaknya hebat namun mengidap argumen-argumen yang keliru.
Shophisme memiliki beberapa turunan aliran pemikiran yang sama salahnya dan sesatnya. Antara lain adalah Relativisme, Skeptisme, Nihilisme. Relativisme Adalah sebuah paham tentang yang menolak adanya kebenaran univversal (universal Truths), doktrin ini juga mengajarkan bahwa disana tidak ada nilai yang memiliki kelebihan dari nilai-nilai lain. Semua nilai sama(relative), tidak ada yang absolute. Agama tidak lagi berhak mengklaim mempunyai kebenaran absolute, ia hanya dipahami sama dengan persepsi manusia sendiri yang relatif itu. Oleh sebab itu ia mempunyai status yang kurang lebih sama dengan filsafat. Dari epistimologi, doktrin relativisme berpegang pada prinsip bahwa kebenaran itu sendiri adalah relatif terhadap (tergantung pada) pendirian subyek yang menentukan. Relativisme juga dianggap sebagai doktirn global tentnag semua ilmu pengetahuan. Dari sisi nilai kebenaran, relativisme menolak kebenaran objektif. Skeptisisme adalah keragu-raguan, kesangsian, atau ketidakpercayaan. Dalam skeptism ada yang adalah pendapat-nalar bukan ketetapan yang sudah menjadi kesepakatan mutlak. Sifatnya selalu meragukan sesuatu sembari mengkritik yang diragukan itu. Nihilisme adalah saudara dekat dari relativisme. Tujuan dasarnya adalah “menggugat agama”. Programnya adalah pengapusan nilai dan penggusuran tendensi yang menggunakan otoritas. Hal ini dilakukan dengan mereduksi makna nilai yang dijunjung tinggi dan nilai sebagai absolute oleh agama dan masyarakat.
Dari penjelasan di atas, kita akan dapatkan beberapa tulisan pemikiran Ahmad Wahib sangat kental dengan nilai relativisme, menolak kebenaran absolute, menggugat otoritas kebenaran Al-quran. Skeptis terhadap kenabian Muhammad dalam maslah kewahyuan dari Allah dan menganggap Alquran sebagai karangan Muhammad.
Apakah kalimat-kalimat dalam Al-quran itu memang asli dari dari tuhan atau berasal dari nabi Muhammad sendiri (dengan berdasar pada wahyu berupa “ispirasi sadar”) yang diterima dari Tuhan ?
Kalau yang pertama yang terjadi, maka proses “ideation” akan sukar untuk dibenarkan, kata – kata tuhan itu mesti tertuju pada seluruh ruang dan waktu baik harfiah maupun maknawi!.( hal 107, 9 april 1970)
Sebagian orang meminta agar saya berfikir dalam batas tauhid, sebagai konklusi globalitas ajaran islam. Aneh, mengapa berfikir hendak dibatasi . Apakah tuhan itu takut terhaap rasio yang diciptakan oleh tuhan sendiri ? Saya percaya pada tuhan, tapi tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran. Tuhan ada bukan untuk tidak difikirkan “adanya”.  Tuhan bersifat wujud bukan untuk kebal dari sorotan kritik. Sesungguhnya orang yang mengakui ber-Tuhan, tapi menolak berpikir bebas berarti menghina rasionalitas eksistensinya Tuhan. ( hal 23, tanggal 9 maret 1969)



0 comments:

Post a Comment