Wednesday, April 11, 2018

PENGERUKAN (2)


JENIS - JENIS PERALATAN KERUK
1) Jenis Peralatan Keruk MEKANIS

BUCKET / LADDER
Ditemukan pertama kali tahun 1589 di Belanda. Dredger ini umumnya non self propelled, dengan cara membuang hasil kerukan ke arah barge disampingnya menggunakan 'shutes' ( =jembatan dari ban berjalan atau semacam talang ), sedang ujung keruknya berbentuk timba (bucket), lihat Gambar 4.
 Sebutan Bucket dredger digunakan diseluruh dunia kecuali USA, sedang Ladder dredger digunakan di USA.
Alat ini bekerja berdasar 'bucket' yang diikat pada rantai dan ditarik atau dikerek keatas melalui semacam tangga ( ladder ) dengan ujung atas berupa penggulung (=tumbler ). Selanjutnya isi bucket tertuang pada saat posisi-posisi bucket terbalik, dan pada keadaan kosong bucket turun menggantung kembali lagi ke bawah. Di ujung bawah juga terdapat tumbler dengan sisi-sisi datar ( biasanya 6). Ladder ini berada dalam celukan yang biasa disebut 'Well' (=sumur) dari kapal yang berbentuk U.
Cara Kerja
Kedalaman pengerukan dapat diatur dengan menaikturunkan penyangga (=gantry).
Untuk gerak kekiri atau kanan dan maju mundur dikendalikan dengan komposisi 6 tali angker yang dapat digulung atau diulur sesuai arah pergeseran yang diinginkan.


Produksi
Kapasitas satu bucket rata-rata 0,8 m3, maximum 1,2 m3 . Kecepatan rantai bervariasi antara 8 sampai 30 bucket per menit, bergantung jenis tanah yang dikeruk.
Koreksi harus diberikan dengan faktor = 0,30 - 0,45.
Catatan : Faktor koreksi berasal dari :
f swing  =  faktor untuk waktu swing  =  0,7
f fill  =  isi bucket tidak penuh   =  0,6 - 0,8
f anchor  =  delay untuk mengganti / memindah angker =  0,7¸0,8
f total  = 0.7 x ( 0.6 ¸ 0,8 ) x ( 0,7 ¸ 0,8 )
           = 0,30 ¸ 0,45
Jadi, misal kapasitas bucket 0,8 m3, kecepatan rantai 25 bucket / menit, produksi teoritis 1200 m3 / jam. Produksi Realistis = 400 - 500 m3/jam untuk tanah baik.
Efficiency harus diterapkan untuk menghitung kapasitas dalam jangka lebih panjang yaitu 60 sampai dengan 70 %. Jadi kapasitas produksi secara garis besar :
±40000 m3 / minggu ®  Untuk tanah baik  sampai  lempung
± 80000 m3 / minggu ®  Untuk tanah lumpur.
25000 m3 / minggu  -- 30000 m 3 / minggu ®  Untuk tanah berpasir
6000 m3 / minggu  ®  Untuk batuan pecah
4000-5000 m3 / minggu ®  Untuk batuan lembek

BACK HOE
Alat ini semakin sering digunakan akhir-akhir ini, dan merupakan mesin yang berguna dan penuh tenaga lihat Gambar 5.
Umumnya digunakan untuk mengeruk material keras, batuan yang lunak, lempung keras, kerikil ( gravel, boulders, cobbles ) yang tertimbun material lain.
Sebagian besar berupa non self propelled dredger bekerjanya dari arah yang dalam ke dangkal jadi kapal selalu berada di perairan yang belum di keruk, dengan lengan yang pendek dan kuat untuk mengeruk.
Banyak kapal keruk ini memanfaatkan excavator untuk darat lalu dipasang ke atas ponton, lengannya bekerja secara hidrolis. Untuk Excavator besar, umumnya yang dipasang ke atas ponton adalah bagian kepalanya saja sehingga dapat mengurangi bebannya. Dan juga unit yang bisa dibongkar ini (dismountable unit) memudahkan penggunaannya untuk berbagai keperluan sehingga biaya penggunaan alat relatif lebih murah.
Spud berfungsi sebagai stabilisator dan mengurangi pengaruh gelombang serta didesain khusus untuk menahan daya angkat lengan back hoe. Kedalaman pengerukan bervariasi antara 4 m sampai 25 m dibawah muka air, dengan daya penetrasi mencapai 125 ton.
Pergerakan mundur peralatan dapat dibantu oleh lengan back hoe dan dengan tali dan jangkar, atau dengan memindahkan spud yang berada pada area yang belum dikeruk.
Produktivitas alat telah dibuat berdasarkan spesifikasi kemampuan mesin dan keseluruhan bagian perlatan. Dengan kapasitas bucket mencapai 8 m3, tetapi yang terbanyak berkapasitas 2 m3. Cycle time mencapai 1,5 sampai 2 menit, atau 40 sampai 60 gerakan per menit. Kedalaman pengerukan bervaariasi berdasar kemampuan mesinnya. 
DIPPER
Merupakan alat keruk dengan bucket penggali bekerja ke arah depan, berlawanan dengan backhoe dan alat ini lebih dulu diperkenalkan, serta merupakan perbaikan dari Bucket dredger khususnya dalam menghadapi jenis tanah batuan (rock), lihat Gambar 6.
Pinggir depan dari bucket dipper terdapat gigi untuk memperkuat daya pukul dan gali. Pada titik-titik tertentu sepanjang gigi, terutama berguna pada tanah keras. Kekuatan menggali tersebut berpangkal pada lengan, dan kerasnya gaya untuk menancapkan dapat menyebabkan barge oleng atau terangkat, untuk itu diperlukan spud atau jangkar. Bucket sering digunakan juga untuk tumpuan melangkah ke depan. Pada Dipper dredger ini konsentrasi kegiatan adalah dalam memecah tanah atau batuan. Bila batuan cukup keras seluruh badan kapal dapat ditumpukan diatas lengan dipper sedemikian hingga kekuatan untuk menembus batuan bertambah, hal ini dilakukan dengan melepas spud pole lalu menggunakan lengan untuk mengangkat kapal.
Bucket memiliki engsel untuk menumpahkan isinya ke dalam Barge, bukaan pintu buangan dikendalikan oleh kabel yang digerakkan dari ruangan operator. Volume bucket mencapai 15 - 20 m3, sehingga dapat mengangkat / memindahkan batuan besar dimana seringkali untuk itu ditambahkan kran / crane pembantu.
Alat ini cocok untuk batuan berat, misal pengerukan hasil peledakan batuan laut atau pemindahan bangunan bawah air, untuk alat keruk lain sering jadi masalah.
Cycletime : 60 sampai 90 detik, dengan siklus berikut : menggali, mengangkat bucket, mengayun, membuang, mengayun kembali, menurunkan bucket.
Pada saat panjang pencapaian optimal / maximal, ponton berpindah dengan mengangkat spud. Kedalaman jangkauan dan lebar kerukan sangat bervariasi, umumnya jauh lebih lebar dan dalam daripada back hoe, untuk itu, diperlukan spesifikasi alat.

Related Posts:

  • Tutorial Genesis Input Model Genesis Data masukan yang dibutuhkan untuk simulasi perubahan garis pantai adalah : 1. Peta acuan garis pantai lokasi studi, dalam bentuk diskritisasi bentangan garis pantai untuk menentukan grid numerik. Posisi … Read More
  • Model Perubahan Garis Pantai Dalam era komputasi digital yang berkembang pada saat ini, pemanfaatan metoda pemodelan numerik arus laut akan membantu upaya pemetaan potensi energi arus laut. Metoda pemodelan merupakan solusi matematik-numerik terhadap f… Read More
  • PELABUHAN Kondisi tanah sangat menentukan dalam pemilihan tipe dermaga. Pada umumnya tanah di dekat dataran memiliki daya dukung yang lebih besar daripada tanah di dasar laut. Dasar laut umumnya terdiri dari endapan lumpur yang padat… Read More
  • Perizinan Reklamasi Di Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Dalam Peraturan Meteri Kelautan Dan Perikanan Nomor 17/Permen-Kp/2013 tentang Perizinan Reklamasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, ditegaskan bahwa pemerintah, pemerintah daerah, dan setiap orang yang akan melaksan… Read More
  • Analisis Perubahan Garis Pantai Analisis Perubahan Garis Pantai Menggunakan Citra Satelit Analisis Perubahan Garis Pantai Menggunakan DSAS (Digital Shoreline Analysis Syetem) Analisa Perubahan Garis Pantai Dengan DSAS Suatu perangkat lunak tambahan y… Read More
  • PT. Rekabhumi Segarayasa Bestari M. Baharudin Fahmi baharudinfahmi@gmail.com 0852 5940 2290 … Read More
  • Tutorial Analisis Perubahan Garis Pantai Analisis Perubahan Garis Pantai Menggunakan DSAS Metodologi Analisis Perubahan Garis Pantai Menggunakan DSAS Tahap Pengumpulan Data Posisi garis pantai dinilai berdasarkan beberapa fitur alam yang mempengaruhi semisal … Read More
  • Kriteria Desain Struktur Dermaga Kondisi Alam Terdapat beberapa kondisi alam di lokasi dermaga yang harus diperhatikan dalam melakukan perancanaan dermaga, antara lain: ·         Angin dan arus Dalam perencanaan … Read More
  • Pengukuran Kerentanan Wilayah Pesisir Wilayah pesisir merupakan suatu ekosistem khas yang kaya akan sumberdaya alam baik yang berada pada mintakat di daratan maupun pada mintakat perairannya. Potensi yang sangat besar dimiliki kawasan pesisir sehingga fungsi e… Read More
  • MODEL KERENTANAN PESISIR Coastal Erosion Risk Assessment Wilayah pesisir merupakan lingkungan yang sangat penting bagi masyarakat, karena mendukung sejumlah besar kegiatan yang berkaitan dengan penangkapan ikan, navigasi, perdagangan, dan pariwi… Read More

0 comments:

Post a Comment