Wednesday, May 20, 2015

SPLASH AFTER CLASS


Dunia pendidikan tiba - tiba di gemparkan dnegan munculnya undangan untuk party setelah selesainya Ujian Nasional. Tak tanggung - tanggung, Event Organizer mengangkat tema pesta dengan menggunakan pakaian musim panas yang rencananya akan di gelar di sebuah kolam hotel di Jakarta. Selain kontroversial dari pelaksanaanya, yang paling menghebohkan adalah poster undangan dengan terang -terang mencantumkan bahwa acara tersebut di dukung oleh beberapa sekolah Negeri dan Sekolah milik Muhammadiyah. Terang saja, kemudian banyak pihak merasa berang dengan hal itu. Tanpa pernah ada hubunngan dengan sekolah - sekolah yang tercatut namanya, pihak EO menyatakan acara ini didukung oleh SMA bla..bla.. Namun pada akhirnya, setelah mendapat komplain dari beberapa sekolah yang namanya tercantum di poster tersebut, EO kemudian mengadakan konfrensi press dan menyatakan acara tersebut di batalkan.
Sangat menarik untuk dicermati acara tersebut, selain kontroversi karena acara yang diadakan dengan menggunakan pakain musim panas (ada yang menyatakan pesta bikini). Dapat kita bayangkan kemudian apa yang akan terjadi pada acara tersebut. pesta di pinggir kolam dengan iring - iringan DJ, pesta sampai larut malam, muda - mudi dengan pakian musim panas.
Ironis memang, pendidikan  yang kemudian diartikan sempit menjadi Pendidikan = Sekolah. Sehingga apa yang ada di luar sekolah bukanlah pendidikan, tidak ada hubungan antara sekolah dan lingkungan di luarnya. Kontra produktif dalam dunia pendidikan di Negeri ini kadang harus membuat kita geleng - gelang atas semua fenomenanya dan mengangguk dengan semua fakta yang ada di lapangan. Pesta SPLASH AFTER CLASS ada salah satu bukti kontaproduktif. Bagaimana kemudian KEMENDIKBUD berkoar - koar sampai berbusa ngomong pendidikan karakter dari sabang sampai merauke, sekolah ke sekolah dengan biaya yang tidak sedikit. Kemudian anak didik yang telah keluar dari gerbang sekolah diajak ke acara yang tidak ada hubungannya bahkan kontra dengan pendidikan karakter yang ada di dalam pagar sekolah. Acara per-film-an negeri ini juga patut menjadi sorotan, disaat tingginya tingkat menonton dari pada membaca anak - anak Negeri ini, alih - alih memandang ini sebagai peluang pendidikan lewat tontonan. Bahkan yang terjadi adalah berbanding terbalik, sebagian besar film produksi anak negeri ini hanya sebatas dada dan selakangan. Film horor mana di negeri ini yang tidak menjual dua hat diatas ? sampai - sampai harus mengundang artis film dewasa dari jepang. Kurang bangsat apa Produser Film itu merusak output pendidikan (baca : sekolah) negeri ini?. Belum lagi acara - acara Televisi negeri ini, semua hanya mengumbar gombalan cinta dan hedonisme kaum muda. Cerita dengan background kampus atau sekolah SMA, hanya bicara soal anak muda pacaran dan perkelahian dengan berubah menjadi manusia srigala.
Mungkin orang - orang sudah lupa dengan ajaran Ki Hajar Dewantara yang konon kita anggap sebagai pahlawan pendidikan sehingga hari lahirnya menjadi peringatan hari pendidikan. Ki Hajar Dewantara pernah memesankan kepada anak bangsa ini untuk menjaga tiga pilar pendidiakan, Keluarga, Masyarakat, Institusi pendidikan (sekolah). Ketiga pilar ini berjalan beriringan, saling mendukung dan bukan malah saling meniadakan. Keluarga sebagai institusi pertama pendidikan menjadi salah satu bagian terpenting dari siklus pendidikan. Bahkan jikalau institusi keluarga sudah mencukupi buat belajar dan masyarakat juga mendukung, Institusi pendidikan bernama sekolah tidak lagi dibutuhkan. Namun, sekarang yang terjadi adalah sebaliknya, Sekolah seolah - olah menjadi institusi satu - satunya yang diakui sebagai institusi pendidikan. Sehingga banyak orang tua kemudian berbondong - bondong menyerahkan anaknya secara "pasrah bongkokan" tanpa kemudian memperhatikan apa yang ada di rumah. Di tambah kemudian di rumah yang ada adalah tontonan yang merusak apa yang telah di pelajari di sekolah.
Sehingga apa yang telah sejak dulu di kabarkan oleh Nabi SAW, bahwa institusi keluarga adalah madrasah pertama seorang anak sebelum anak mengenal apa yang ada di lingkungan. Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan bahwa orang tua merubah pola pikir nya tentang pendidikan terbaik adalah dengan membawa anak mereka ke sekolah yang paling baik dan berkualitas. Para Orang tua harus berfikir bahwa pendidikan terbaik dimulai dari pendidikan di rumah. Sehingga, perumpamaan "belajar di waktu tua seperti melukis diatas air" sudah harus di buang jauh - jauh dan di tanam dalam - dalam. Orang tua harus tetap belajar agar anak mereka mendapat pendidikan pertama yang terbaik. Bukan menyerahkan kepada PAUD yang sekarang sudah mulai menjamur.

0 comments:

Post a Comment