Sunday, May 24, 2015

Sosialisme Islam

Saya jadi tertarik untuk menuliskan ini setelah beberapa minggu yang lalu jalan - jalan ke Kampung Ilmu, kompleks penjualan buku - buku baru harga bekas atau buku bekas dan bajakan. Salah satu dari buku yang kemudian menarik perhatian saya setiap kali berkeliling dari lapak ke lapak adalah buku karangan H.O.S. Cokroaminoto. Setelah Film tentang biografi meluncur meramaikan perfilman nasional. "Sosialisme Islam", begitu judul buku itu, buku sekitar 50 halaman (saya belum buka bukunya) itu membahas Sosialisme dari kacamata islam menurut H.O.S. Cokroaminoto. Ada beberapa hal yang mungkin bisa kita kaji lebih mendalam tentang buku itu. Pertama, kata "Sosialisme" yang kemudian disandingkan dengan "islam". Kedua, apakah fusi sosialisme dan islam menjadi gerakan baru ditengah umat ?. ketiga, bagaimana islam memandang sosialisme itu sendiri ?.

Kemunculan Sosialisme
Istilah Sosialisme sendiri baru dikenal pada tahun 1830 di Perancis. Sebab, seperti yang kita ketahui bahwa sosialisme sendiri merupakan turunan dari ajaran – ajaran Karl Max. Dasar dari ajaran – ajaran max sendiri dipengaruhi oleh filsuf Hagel dengan materealisme dialektis dan menjadikan materi sebagai esensi dari kesemua hal yang ada di dunia ini. Meskipun Marx sendiri tidak pernah membakukan apa yang ia pernah tulisan dalam tiga pokok pikirannya, Pertama adalah filsafat Materialisme, asas pokok filsafat ini, berdiri tegak di atas landasan Materialisme dialektika dan Materialisme historis. Kedua, ekonomi politik dan Ketiga adalah konsep ketatanegaraan dan pandangan revolusi adalah ajaran resminya. Adalah Friedrich Engels yang kemudian membukukan dan membakukan ajaran Karl Max menjadi ajaran baku Marxisme. Menurut Karl Marx dan Friedrich Engels, sosialisme merupakan sintesa dari Kapitalisme, ia ada sebagai jawaban atas terbentuknya sistem kelas dalam masyarakat (Borjuis dan proletar) menuju kesimbangan tatanan masyarakat.
Pemikiran mereka merupakan tafsiran atas realita yang ada pada masyarakat eropa setelah dark age menuju masa renaissance. Seperti yang kita ketahui, bahwa efek dari masa pencerahan eropa adalah berkembangnya ilmu pengetahuan yang kemudian memproduksi teknologi modern. Sehingga, pada tahun 1750 – 1840 terjadi revolusi industry besar – besaran di eropa terutama di Inggris dan Perancis. Akibat dari revolusi industry ini adalah munculnya industry – industry besar yang hanya dikendalikan sekelompok orang yang kemudian menjadi kesenjangan kelas antara kaum borjuis dan buruh. Para pemegang modal dengan kapitalisme-nya menjadikan jurang kesenjangan semakin menganga dengan tidak dipedulikan nasib para buruh. Para buruh di eksploitasi dengan jam bekerja sehari selama 12 jam dengan gaji yang sangat minim.
Singkat ceritanya, pada perkembangan tatanan dunia baru, ajaran Marx klasik sudah dianggap tidak relevan seperti yang pernah diprediksi oleh Karl Marx. Dimana pada ramalan Marx akan terjadi kericuhan akibat semakin meng-hegemoni-nya kapitalisme dan pertentangan kelas yang mengakibatkan kerusuhan, sehingga memunculkan Negara sosialisme. Merespon tatanan baru dunia, marxisme-sosialisme merubah diri dari paham revolusianis menjadi paham evolusianis. Variasi – variasi paham sosialisme yang berkembang menjadi jauh dari ajaran utama marxisme, antara lain adalah Anarkisme, Komunisme, Marhenisme, Marxisme dan Sindikalisme.
Namun, dari semua evolusi dan varian – varian yang muncul itu, dapat dituliskan tentang tujuan dari sosialisme itu sendiri adalah untuk mewujudkan masyarakat sosialis dengan jalan mengendalikan secara kolektif sarana-sarana produksi dan memperluas tanggung jawab negara bagi kesejahteraan rakyat. Prinsip pelaksanaannya sebagai berikut:
1.       Kebebasan individu/hak sipil dijamin dan dilindungi oleh pemerintah
2.       Jaminan keamanan ekonomi bagi semua warga melalui sistem kesejahteraan
3.       Mencapai kesamaan dan pemerataan kesejahteraan ekonomi dengan jalan peningkatan pendidikan, kebudayaan dan kebiasaan sosial
4.       Semua keputusan ekonomi, politik, pemerintahan, dan sosial harus mendapat persetujuan para warga melalui partisipasi mereka dengan aktif
5.       Semua sarana yang melayani keperluan masyarakat umum ada ditangan negara
6.       Tujuan dicapai secara demokratis, berangsur-angsur, revolusioner, etis konstitusional, dan damai
7.       Membayar kompensasi kepada masyarakat dalam periode peralihan menuju masyarakat persemakmuran social
Sosialisme Islam
Sebenarnya saya sedikit ragu untuk kemudian menuliskan benang merah dari sosialisme islam, melihat keterbatasan bahan bacaan dan keahlian bidang pemikiran. Namun saya disini ingin sedikit menuliskan kegundahan terhadap “aliran baru” yang menisbatkan sosialisme kedalam diri islam. Mungkin akan sama juga dengan penisbatan Marxis – leninisme, menisbatkan ajaran marxisme kepada lenin yang mengejawantahkan dengan caranya sendiri dan pasti sedikit berbeda dengan marx sendiri. Sehingga dari yang saya pahami atas sosialisme islam adalah penisbatan ide – ide sosialisme ke dalam tubuh islam dengan mencari justifikasi Al – Qur’an dan As – sunnah. Setidaknya ada dua pemikir besar islam pada masanya yang menyuarakan itu, Ali Syari’ati (1933 – 1977) dari iran dan H.O.S. Cokroaminoto di Indonesia.
"westruckness" atau mabuk kepayang terhadap Barat dan materialism syndrome merupakan api semangat yang menjadi bahan bakar atas ide sosialisme islam Ali Asyari’ati, menurutnya kegilaan terhadap kemegahan materialistic yang sedang menghinggapi dunia ketiga atau dunia islam telah menyebabkan kemunduran dan ketertindasaan dunia islam. Sebab menurutnya, dunia modernisme yang dibungkus dengan paham materialisme yang berkembang saat ini tidaklah mampu mengantarkan kebahagiaan dan ketentraman hidup manusia. Bagi Ali Syari’ati, Sosialisme model marx adalah lawan dari islam karena sudah berbeda dari dasar pemikirannya. Sosialisme model marx berdasarkan materialism yang menjadikan materi sebagai “tuhan” dan menolak eksistensi ruh atau ghaib yang merupakan salah satu iman Islam. Padangan yang sama atas penolakan terhadap penindasan kaum lemah (mustad’afin) adalah titik temu dari islam dan sosialisme. Kemudian Ali Syari’ati menguraikan ayat – ayat Al-Qur’an yang bertemakan social dan mencari hubungan antara tuhan, alam dan manusia dengan lebih eksploratif.
HOS Tjokroaminoto adalah seorang pendiri dan sekaligus ketua Sarekat Islam (SI), beliau menulis buku “Islam dan Sosialisme” yang di ketangahkan ke masyarakat dan intelektual muslim saat itu. menurut kacamatanya, sosialisme punya misi kuat untuk kepentingan rakyat, terutama kaum buruh, petani dan kelas pekerja lainnya. Sehingga dari kesamaan ide dan misi sosialisme itu, kemudian H.O.S Cokroaminoto menawarkan sebuah gagasan sosialisme Islam. “Sosialisme yang wajib dituntut dan dilakukan oleh umat Islam, dan bukan sosialisme yang lain, melainkan sosialisme yang berdasar kepada azas-azas Islam belaka.” Seperti yang kita ketahui, Islam secara tegas melarang (mengharamkan) riba (woeker), dan dengan begitu, otomatis Islam menentang keras kapitalisme yang merupukan musuh utama sosialisme.
Benang Merah Sosialisme Islam
Seperti yang telah sedikit di singgung sebelumnya, bahwa sosialisme muncul sebagai bentuk keseimbangan dari Kapitalisme yang berdasarkan materialism marx yang terilhami dari Hagel. Ajaran materialis yang mendewakan materi dan meniadakan ruh adalah lawan dari ajaran islam yang menempatkan ruh / ghaib sebagai bagian dari ajaran yang harus di Imani. Pada titik ini, antara materialism dan islam menjadi musuh yang langsung berhadapan. Sosialisme yang merupakan ideology baru yang muncul akibat dari revolusi industry menunjukan bahwa ajaran islam dengan segala ajaran sosialnya telah lebih dahulu mengajarkan untuk memperjuangkan nasib kaum tertidas (kaum Mustadh’afin).
Maka disini, kita mendudukan Islam sebagai suatu ideology besar yang lebih dahulu ada sebelum ajaran sosialisme ada. Sehingga, sebenarnya ajaran tantang perlindungan dan pembelaan kepada kaum tertindas telah lebih terimplementasikan meskipun bukan dengan nama sosialisme. Sehingga jika kemudian hari dianggap ada teori yang dapat menjelaskan dengan lebih eksploratif dari sisi ajaran social islam (entah sosialisme atau yang lain di kemudian hari) bukanlah sosialisme islam yang kemudian dicarikan dalil ayat – ayat Al-Qur’an. Sebab, jika kita lihat lebih jauh, semua ideology dari permukaan kulit luarnya akan terlihat sama dengan mengusung sesuatu yang universal. Sifat Islam yang universal bisa jadi disisi lain sama dengan sosialisme, bisa jadi humanism, dan juga komunisme yang terlihat saling bertentangan.
Maka sejatinya antara islam dan sosialisme tidak pernah ada singgungan, perkenalan atau interaksi. Sehingga tidak pernah bertemu untuk saling duduk antara sosialisme dan islam. Hal ini disebabkan sosialisme berada dalam ruang sendiri dan Islam juga berada di dalam ruang tersendiri yang terpisah dari Sosialisme. Tidak pernah saling memahami dari antar kedua ideology tersebut menyebabkan sosialisme tidak dapat bersanding. Seperti ungkapan Marx sendiri yang menganggap Agama sebagai candu masyarakat adalah akibat marx tidak memahami islam. Pernyataan tersebut muncul akibat pembacan sejarah intelektual barat yang mengalami penindasaan dari gereja dan agama menjadi legimitasi atas perbuatan penindasan. Padahal islam sangat jauh dari apa yang pernah diungkapkan oleh marx.
Dari hal diatas dapat kita cari benang merah antara sosialisme dan islam. Bahwa kedua ideology ini tidak mungkin dapat disatukan karena mempunya world view masing – masing yang saling bertentangan. Adapaun kesamaan misi atas pembelaan terhadap kaum mustadh’afin bukanlah sebuah alasan yang dapat dijadikan sebagai dasar adanya aliran baru sosialisme yaitu sosialisme islam.

Surabaya, 24 Mei 2015
1:12 AM






0 comments:

Post a Comment