Tuesday, September 1, 2015

Umar bin Abdul Aziz

Mengenal Umar Bin Abdul Aziz
Sang Khulafaurrasyidin ke Lima

Kita semua tentu mengenal Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Minimal pernah mendengar sepenggal kisah hidupnya, atau mungkin namanya saja.  Sudah terlalu harum namanya untuk dikenang.  Sudah terlalu besar namanya untuk disebut.  Begitu kira-kira ungkapan sederhana untuk menggambarkan kemasyhurannya.
Ada satu hal penting yang menurut saya sangat mengakrabkan kita dengan sosok Umar bin Abdul Aziz.  Yaitu, dirinya merupakan sosok yang nyata dalam realita kehidupan. Memang sejarah hidupnya sangat melangit, kepribadiannya seakan mendekati kesempurnaan dan karakter kepemimpinannya yang terkesan ajaib.  Tapi begitulah memang adanya.  Tidak ada yang dilebih-lebihkan tentang kehebatannya . Karena sejarah telah bercerita apa adanya tentang itu semua
Jadi, kehebatan yang dimiliki oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz ini berbeda jauh dengan kehebatan para tokoh dalam film-film maupun dalam cerita-cerita novel.  Karena sehebat apapun tokoh dalam film maupun novel tersebut,  tetap saja mereka hanyalah tokoh fiktif yang sengaja dirancang sedemikian rupa oleh penulisnya.  Lain halnya dengan sejarah hidup Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang tidak ada rekayasa.  Semuanya terjadi dan terbentuk karena proses yang manusiawi dan bisa dilakukan oleh siapapun yang mau mengikuti jejaknya .
Dengan ungkapan lain,  sekalipun sejarah hidup Khalifah Umar bin Abdul Aziz itu melangit, namun beliau tetap merupakan sosok yang membumi,  yang pernah hidup di tengah-tengah ummat manusia, kemudian menjadi khalifah, berbuat adil pada rakyatnya, hingga akhirnya mampu menjadi orang hebat di masanya, bahkan di masa-masa setelahnya.

Dari Penjual Susu sampai ke Umar bin Abdul Aziz

Masih ingatkah Anda, kisah seorang wanita penjual susu pada masa Khalifah Umar bin Khattab?  Kisah yang telah mengalirkan berbagai inspirasi kepada ummat Islam.  Kisah yang sangat sarat dengan warna keimanan dan semangat ketakwaan.
Malam hari Kota Madinah terlihat sepi dari lalu lalang orang. Hawa musim dingin yang menyayat pori-pori kulit membuat setiap orang enggan untuk keluar rumah.  Apalagi sudah lewat tengah malam.  Tapi tidak begitu halnya dengan khalifah yang pertama kali diberi gelar 'Amirul Mukminin' ini.  Amanah ummat yang dibebankan diatas pundaknya justru membuat kedua matanya enggan untuk sekedar terpejam di malam hari.  Rakyatku...  Rakyatku!  Iapun bangkit dan beranjak keluar menyusuri setiap lorong-lorong Madinah,  untuk melihat kondisi rakyatnya.  Begitulah kebiasaan unik Khalifah Umar bin Khattab dalam menghabiskan sebagian waktu malamnya.
Lama ia berjalan ditemani seorang pembantunya.  Rasa lelah mulai menggelayuti tubuhnya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk istirahat sejenak . Ia bersandar melepas lelah di sebuah dind-ing rumah sederhana di sebuah perkampungan di Madinah . Tiba-tiba ia dikejutkan dengan percaka-pan antara seorang ibu dengan puterinya, pemilik rumah tersebut.
"Campurkan air pada susu yang mau kita jual, nak!" kata ibu kepada puterinya.
"Bagaimana mungkin aku mencampurnya dengan air, bu!  Bukankah Amirul Mukminin telah melarang para penjual susu untuk melakukan itu???"
"Penjual-penjual susu yang lain juga mencampur susu mereka dengan air. Sudahlah,  nak, campur saja! Amirul Mukminin pasti tidak tahu apa yang kita lakukan!"
"Bu, jika Amirul Mukminin tidak mengetahuinya, maka Tuhan Amirul Mukminin tentu menge-tahuinya..."
Umar bin Khattab tak kuasa menahan air matanya ketika mendengar ungkapan sang anak kepada ibunya.  Ungkapan yang sederhana, tapi keluar dari jiwa yang bertakwa, sehingga mengun-dang air mata orang yang mendengarnya.  Air mata takwa, dari jiwa yang takwa, ketika mendengar ungkapan ketakwaan.
Umar bin Khattab gembira mendengar kata-kata itu.  Ia bergegas menuju masjid untuk mela-kukan shalat subuh, kemudian pulang ke rumah dan memanggil salah satu puteranya, 'Ashim,  lalu memintanya untuk menimba informasi tentang keluarga penjual susu tersebut.
'Ashim datang menemui Umar bin Khattab, menyampaikan semua informasi tentang perem-puan penjual susu dan putrinya.  Kemudian Umar menceritakan percakapan antara mereka yang didengarnya tadi pagi menjelang fajar.  Ia menyuruh 'Ashim untuk menikah dengan puteri penjual susu itu.
"Pergilah kepadanya dan nikahilah ia, nak! Aku melihat ia adalah wanita yang diberkahi.  Mu-dah-mudahan suatu saat nanti ia akan melahirkan orang hebat yang akan memimpin Arab !"
Keduanya pun akhirnya menikah dan dikaruniai anak perempuan yang diberi nama Laila  atau biasa dipanggil dengan Ummu 'Ashim.  Mereka mendidik Laila dengan baik, dalam suasana keluarga yang kental dengan nilai-nilai Islam, sampai ia tumbuh menjadi seorang gadis yang memahami dan mengamalkan Islam dalam hidupnya.Laila menikah dengan putera khalifah Daulah Umawiyah yang keempat , namanya Abdul Aziz. Dari perkawinannya itulah lahir seorang anak yang nantinya akan memenuhi dunia dengan keadilan. Dialah Umar bin Abdul Aziz.

Ini adalah sebuah kisah perjalanan sejarah yang panjang tentang seorang wanita yang memiliki nilai agung, yaitu muroqobatullah.  Yang ada dalam dirinya hanyalah dia selalu tahu bahwa Allah selalu mengawasinya.  Ini merupakan pelajaran sangat mahal yang diberikan oleh Umar bin Abdul Aziz sebagai keturunan dari orang-orang yang memiliki nilai muroqobatullah.

0 comments:

Post a Comment