Wednesday, August 19, 2015
Monday, August 10, 2015
LDK Apa Salahnya ?
Beberapa
minggu lalu saya mendapatkan sebuah link tulisan dari group WA yang sempat
membuat rame group tersebut, tulisan tersebut dimuat di media islam yang cukup
ramai pengunjung. Sebenarnya tentang tulisan itu sudah menjadi sangat basi bagi
orang-orang yang berada di group WA tersebut. Namun yang menjadikan ramai bukan
karena mengupas tulisan tersebut, namun lebih karena menyesalkan kenapa masih
saja membahas isu yang sudah lama, yaitu tentang LDK ekslusif dan penulisnya
adalah aktifis LDK juga.
Memang
tentang citra ke eksklusifan LDK pernah menjadi bahasan yang serius di dalam
internal Lembaga Dakwah Kampus, numun itu sudah puluhan tahun lalu. Kemudian
apakah masih relevan isu itu kemudian dibahas lagi? Disaat dunia teknologi
informasi yang sudah semakin cepat. Apakah ya sama pembahasan ke-eksklusifan
Lembaga Dakwah Kampus dengan hari ini? apakah kriteria Lembaga Dakwah Kampus
dikatakan ekslusif?. Penulis artikel refleksi tersebut kemudian mengajukan
sebuah “rekaan” survey yang pertanyaannya apakah ketua LDK dikenal oleh
masyarakat kampus? Apakah kepanjangan nama LDK dikenal oleh masyarakat kampus?.
Pertanyaan yang terfikir oleh saya adalah apakah metode survey yang dilakukan?
Cara milih responden dll.
Monday, August 3, 2015
Tahun – tahun buta
Saya jadi teringat beberapa bulan lalu saya menghadiri
kajian islam ahad pagi di Islamic Center Gontor Nganjuk. Saat sesi Tanya jawab,
entah dari mana saya lupa kemudian sang ustadz membeberkan tokoh-tokoh Islam liberal.
Saya sedikit tercengang dengan salah satu nama yang diseutkan. Sebab beliau
adalah salah satu tokoh islam yang di hormati negeri ini, memimpin para ‘ulama
yang tergabung di Majelis Ulama Indonesia. Kemudian ustadz tersebut meminta
jamaah untuk melihat dari link yang dishare di group facebook jamaah pengajian
itu. Sampai hari ini pun saya masih belum bisa menerima, memang jika ada salah
ucap perlu diklarifasi dan itu sudah pernah disampaikan kepada beliau.
Sudah menjadi pengetahuan kita bersama, bahwa info yang
dimuat di media terkadang asal penggal dari pembicaraan atau resume menurut
persepsinya sendiri tanpa klarifikasi hal tersebut. Bayangkan saya, misal dalam
sebuah seminar dua jam, berapa kalimat atau baris yang masuk dalam tulisan
media. Sehingga akan sangat mungkin terjadi pemotongan yang asal menguntungkan
dan menjual. Disamping itu, para penyebar info pun dengan semangat “menyebarkan
info baru yang sensasional” apa lagi tokoh besar akan berlipat-lipat
semangatnya. “Orang-orang harus tau info ini, tokoh ini ternyata anggota Islam
Liberal,” mungkin begitu kata hatinya. Namun sekali lagi, tanpa pernah konfirmasi
kepada orang yang bersangkutan.
Judul diatas adalah tema Kenduri Cinta (KC) bulan Juli
lalu, saya tertarik dengan tema tersebut mengingat hari – hari ini kita dibuat buta
dari kebenaran yang terjadi dari media – media yang ada. Pembawuran kebenaran
itu kemudian menjadikan sampah informasi yang tidak terkendali. Hal tersebut
diperparah dengan semakin cepat berkembangnya dunia informasi, secara langsung
berbanding lurus dengan semakin cepatnya arus informasi yang masuk ke telinga
kita. Informasi masuk ke Hape dan tab hampir tiap detik, dan dengan tinggal
klik share semua informasi bisa kita sebar ke public dunia maya. Entah
informasi itu sampah atau emas, pun tidak jelas. Dan kemudian kita jadikan
pembicaraan dan semakin lama-semakin membawur tanpa kejelasan kebenarn informasi
tersebut.
Salah satu dampakanya adalah tidak adanya tanggung jawab
dari para penyebar informasi, sehingga saling menghakimi antar para pro dan
kontra. Kita seoalah belum atau tidak
bisa lagi menerapkan Qs. Al-hujjurat ayat ke 6;
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang
fasik membawa suatu berita, maka
periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui
keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”
Ayat di atas memberikan peringatan kepada kita agar
mengklarifikasi semua berita sebelum kita cerma melihat dari sumber – sumber informasinya,
sebab hal itu merupakan adab dalam islam. Sehingga kita tidak mudah terpancing
propaganda isu – isu yang masih samar – samar kebenarannya. Sebab ayat di atas
turun setelah terjadi peristiwa kebohongan penarik zakat yang mengabarkan bahwa
suatu kaum membangkang untuk mengambil zakat. Padahal sudah disiapkan pasukan
untuk menyerang kaum tersebut, sebelum akhirnya salah seorang diutus oleh kaum
tersebut menanyakan kenapa belum diambil zakat yang sudah disiapkan. Bayangkan jika
hal itu terjadi, pertumpahan darah akan terjadi atas sesame muslim.
Secara garis besar kita bisa membagi informasi dari tiga
sumber yang kemudian kita sikapi tentang informasi tersebut.
Pertama, berita dari seorang yang jujur yang secara hukum
harus diterima.
Kedua, berita dari seorang pendusta yang harus ditolak.
Ketiga, berita dari seorang yang fasik yang membutuhkan
klarifikasi, cek dan ricek akan kebenarannya.
Namun pada hari ini kita juga sudah bingung, mana yang
menjadi golongan pertama yang informasinya harus diterima, mana golongan dua
dan tiga pun sudah tidak jelas lagi. Semua orang dengan klasifikasi manapun
dapat menyebarkan informasi sesuka hatinya dan semampu tangannya. Sehingga yang
perlu kita lakukan adalah menahan agar tidak mudah terpancing untuk mengklik
share dan like setiap informasi yang kita masih belum jelas kebenarannya. Sebab
hal itu pun akan membuat senang orang yang pertama meniup informasi tersebut,
setiap detik pundi rupiahnya bertambah dengan semakin banyak share yang kita
lakukan.
Kita bisa belajar dari Rasulullah SAW tentang bagaimana
menyikapi informasi yang masih simpang siur kebenarnnya. Sejarah mencatat ada
Haditsul ifki atau berita bohong yang menimpa istri tercinta Nabi SAW, Aisyah
ra. Semua orang dijalan-jalan membicangkan isu tersebut karena terjado pada
tokoh umat islam, sangat menjual informasi bohong tersebut untuk diecer di
jalan-jalan dan warung-warung. Rasulullah yang juga mendapat wahyu dan tidak
dapat men-counter info tersebut harus bersabar hingga memulangkan Aisyah ke
rumah Abu Bakar, bapaknya. Rasulullah kemudian berdiskusi dengan para sahabat
mengenai informasi tersebut, sedang di luar sana sudah sangat massif informasi
itu beredar. Rasulullah bersabar menunggu hingga dapat kebenaran berita
tersebut, tidak terpancing untuk dengan gegabah meng-counter informasi tersebut
dengan otoritas kenabiannya.
Bersabar dan menunggu kebenarnnya dengan tetap mencoba
mencari yang benar adalah point yang rasul ajarkan. Sehingga kita harus
menerapkan hadits berkata yang baik atau diam saja. Sebab dengan share dan like
informasi yang tidak benar tentang saudara muslim kita juga merupakan bagian
dari memakan bangkai saudara sendiri atau ghibah. Sungguh allah sudah
memperingatkan dengan keras hal tersebut, bahkan Rasulullah mengaitkan keimanan
seseorang dengan keamanan saudara/ tetangga dari lisan dan perbuatan kita.
Berkata Baik atau Diamlah.
Dan mari kita senantiasa melantunkan do’a yang sangat
agung dalam menghadapi sampah informasi yang samakin hari semakin liar.
اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ
حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ،
بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Allahumma arinal-haqqa haqqan warzuqnat-tiba’ah, wa
arinal-batila batilan warzuqnaj-tinabah, bi rahmatika ya arhamar-rahimiin.
Artinya : Ya Allah Tunjukilah kami kebenaran dan berikan kami
jalan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kami kebatilan dan berikan kami jalan
untuk menjauhinya
Rabbi adkhilni mudkhala sidqin wa akhrijni mukhraja
sidqin waj’alli min ladunka sulthanan nasiiran, wa qul ja alhaqqu wa zahaqal
bathil innal bathila kana zahuqan (Qs. Al Isra’ ; 81)
Artinya : Ya Allah, masukkanlah aku secara masuk yang
benar dan keluarkanlah(pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah
kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong. Dan katakanlah yang benar telah
datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu
yang pasti lenyap.
Waullahu ‘alam
Sunday, August 2, 2015
Suara Sumbang yang di Nanti
Pagi ini saya mendapatkan sebuah berita menarik
dari website Hidayatullah.com yang masih berkaitan dengan Keharaman BPJS. Seperti
yang telah kita ketahui bersama bahwa hasil Ijtihad Majelis Ulama Indonesia
beberapa bulan lalu mengeluarkan Fatwa bahwa pelaksanaan BPJS masih belum
sesuai dengan prinsip – prinsip syariah islam (tidak secara tegas haram). Kontan
komentar dari semua penjuru negeri dunia maya dan nyata langsung merespon
dengan makian dan pujian. Salah satu penjuru yang mengeluarkan makian itu
adalah artis sinetron Tio Pakusadewo. Dia mengatakan seperti yang saya kutip
langsung dari Hidayatullah,
Tio
justru mengatakan kalau MUI ini lembaga tak jelas yang sesuka hatinya mengadili
kalau itu haram. Justru Tio memiliki pandangan lain, bagaimana jika MUI itu
yang diharamkan.
“Sekarang gimana kalau saya mengharamkan MUI di Indonesia.
Padahal MUI itu isinya manusia semua, bukan nabi. Tapi kadang orang Indonesia
suka enggak masuk akal, siapa sih yang mengangkat dia,” ujarnya.
Seharusnya kalau MUI belajar Islam yang benar pasti tahu.
Menurut Tio ini ada unsur politik di dalamnya.
“Gimana unsur ribanya, ini kan untuk kepentingan rakyat banyak.
Kalau dia baca perintah Tuhan dan memahaminya harusnya enggak mesti keluar
fatwa seperti itu,” ucapnya.
Mungkin dia adalah satu dari sekian banyak yang
menghujat fatwa MUI tersebut, selain suara-suara miring yang kemudian ditujukan
kepada MUI seperti “kog baru sekarang dikeluarkan fatwa, padahal sudah lama ada
asuransi semacam itu selama ini, jangan-jangan ada muatan politik dan ekonomi”.
Selain itu orang-orang sekuler mengecam MUI yang selalu ikut campur dalam
masalah-masalah ekonomi dan politik dalam kehidupan sehari – hari, tentu masih
banyak lagi cacian kepada MUI.
Namun mungkin juga banyak para penghujat fatwa
MUI tersebut yang tidak paham kenapa sampai MUI mengeluarkan fatwa tersebut. Mereka
yang belum paham sayariat islam asal mangap
mengeluarkan kata – kata yang dia sendiri juga belum tentu benar dengan
menghakimi MUI. Kata – kata Tio ““Gimana unsur ribanya, ini kan untuk
kepentingan rakyat banyak. Kalau dia baca perintah Tuhan dan memahaminya harusnya
enggak mesti keluar fatwa seperti itu,” menampakkan bahwa dia sebaiknya belajar
dulu tentang islam sebelum berkomentar terhadap fatwa tersebut.
“Gimana unsur ribanya, ini kan untuk kepentingan
rakyat banyak. Kalau dia baca perintah Tuhan dan memahaminya harusnya enggak
mesti keluar fatwa seperti itu,”komentar seperti itu justru sangat lucu. Justru
karena membaca perintah Tuhan itulah MUI mengeluarkan fatwa, bukan sebaliknya,
sungguh aneh komentar tersebut.
Suara
Sumbang
Ditengah kehidupan yang sudah abu-abu, tidak
jelas lagi mana hidup dengan prinsip islam mana yang bukan seperti saat ini,
tenttu saja fatwa MUI tersebut seperti suara sumbang. Sebab telinga manusia
pada umumnya sudah tidak pernah mendengar bagaimana prinsip muamalah dalam
islam. Sehingga ketika mendengar adanya fatwa bahwa adanya ketidak sesuaian
dengan syariat islam dalam pengelolaan BPJS dianggap sebagai polusi. Padahal yang
sejatinya polusi itu adalah suara yang setiap hari mereka dengar.
Menurut saya, suara sumbang MUI tersebut memang
harus di keluarkan. Sebab harus ada yang mengingatkan ummat tentang hidup
diatas aturan yang telah Allah dan Rasul-Nya ajarkan. Suara sumbang tersebut
ibarat pekikan di dalam kesunyian yang menyadarkan kita bahwa masih belum
sesuainya dengan prinsip islam tata cara muamalah kita. Kalau tentang bagaimana
penerapannya nanti, itu soal beda. Tapi yang jelas harus ada yang menyadarkan
ummat. Selain itu, ini menunjukan bahwa ummat perlu dibimbing dan mendapatkan
pengajaran tentang muamalah sesuai dengan islam, agar jika nanti ada fatwa
serupa yang berkaitan dengan muamalah, tidak ada lagi komentar miring karena
ketidakpahaman masyarakat akar rumput.
Menjaga (definisi) Islam Nusantara
Islam Nusantara yang mana?
Setelah memilih hanya menjadi penonton sambil mantengi setiap up date info perkembangannya, saya akhirnya ingin menuliskan apa yang telah lama menjadi kegaduhan di dalam pikiran yang menyebabkan tangan ini gatal untuk segera menggaruk - garuk ritmiks keyboard. Istilah "Islam Nusantara" yang muncul dan menjadi sentral tema Muktamar Nahdhotul 'Ulama ke 33 tak pelak menjadi bahan omongan masyarakat jagad dunia maya. Mudahnya akses informasi di zaman kecanggihan teknologi informasi seperti saat ini, dalam setiap detiknya, mungkin ada ratusan atau bahkan ribuan orang meng-klik share dan like artikel - artikel yang bertemakan Islam Nusantara baik dari kubu Pro-Islam Nusantara maupun Kontra-Islam Nusantara. Entah benar atau tidak informasi yang mereka bagikan, kredo media hari ini adalah Media sama dengan komoditas dagang. Sehingga judul tulisan hanya sensational yang menjual dan bukan bicara kebenaran. Dan inilah sayangkan, kemudian orang – orang yang hanya dapat informasi dari media (lebih buruk lagi tanpa membandingkan dengan media yang lain) semakin brutal saling menghabisi antara yang pro dan kontra dengan gagasan Islam Nusantara tanpa mendudukan secara jelas Islam Nusantara. selain itu, tiba - tiba muncul website resmi Islam Nusantara, Islam Nusantara 2 dan Radio Islam Nusantara.
Lubang Cahaya
Allah (Pemberi)
cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti
sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan
bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari
pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur
(sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja)
hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada
cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat
perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(Terjemah Qs. Annur : 35)
Jika Cahaya Allah itu adalah tempat kembali untuk
bersimpuh mengabdikan diri ke haribaan-Nya, maka Allah turunkan petunjuk itu
kepada setiap hati hamba yang Dia kehendaki untuk menemukan kembali cahaya-Nya,
Alzujajah, pelita hati dari Illahi. Jadi lewat mana nanti pelita itu menyala dan
menerangi hamba hingga sang hamba menemukan cahaya Allah adalah hak preogratif
Allah.
Sebab Allah
membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki. Bisa jadi bukan
lewat Da’I atau Pak Kyai. Bukan juga ustadz atau toh masyarakat. Bisa jadi
pelita itu muncul dari anak kecil, gelandangan, anak muda, orang muda atau
PeeSKa. Kehendak Allah dari mana Pelita itu akan menerangi hati hambanya.
Semuanya tinggal kembali kepada hamba, bahkah hanya merenungkan pergantian
siang dan malam saja dapat menemukan cahaya Allah. “Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian
itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihata”(Qs.
Annur : 44).
Semakin banyak interaksi saya dengan berbagai kelompok
pengajian atau pencerahan dalam rangka menemukan kembali pelita hati. Saya jadi
semakin kagum bahwa memang Allah membimbing orang-orang yang Dia kehendaki
untuk kembali menemukan pelita hati, entah dari mana saja sumber pelita itu
muncul adalah hak preogatif Allah. Dan tidak bisa padam atau redup cahaya itu.
Sebab Ia adalah Cahaya di atas Cahaya.
Saya akan sedikit menceritakan hal yang pernah saya alami
untuk semakin menghayati pemaknaan dari ayat diatas. Pengalaman ini adalah
pengalaman nyata tanpa rekayasa meskipun saya tidak akan menyebut nama. Jika
menyebut kelompok, itu hanya dalam rangka memudahkan untuk memahami saja.
Mungkin anda sudah banyak mengetahui bahwa Jamaah
(organisasi) islam yang berada di Indonesia ini sangat banyak, baik yang lurus
maupun rada menyimpang. Dan setiap mereka mempunyai cara pengajian yang
berbeda-beda dan mungkin kita lebih sering mendengarnya saling bersebrangan.
Jamaah A menganggap Jamaah B adalah ahli bid’ah, dan sebaliknya atau malah
Jamaah B menganggap Jamaah A adalah teman dan selain mereka adalah Jamaah ahli
bid’ah. Seperti itu hingga akhirnya orang bingung melihanya.
Anda mungkin sudah sangat familiar dengan nama – nama
ini, Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA), Salafi (wahabi-kata yang lain), Jamaah
Tabligh (JT), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Nahdhotul ‘Ulama (NU),
Muhammadiyah, Majelis Sholawat Nabi dengan Syehker Mania-nya, Jamaah Maiyah
Nusantara dan gerakan Tarbiyah. Saya pernah berinteraksi dengan individu
(jamaah pengikut) di dalamnya, bukan organisasinya secara langsung. Dan banyak
pelajaran yang kita dapat bahwa Cahaya Allah datang dari mana pun dan tidak
akan redup.
Pelita bisa jadi Allah nyalakan lewat MTA, untuk
membimbing orang-orang yang Dia kehendaki untuk kembali pada cahaya. Saya
pernah bermajelis dalam pengajian mereka dan kadang saya mengikuti pengajiannya
lewat Radio. Saya sungguh tersentuh, ada bapak-bapak paruh baya yang menjadi
anggota mejelis itu yang membaca Al-Qur’an saja, itu masih lebih lancar adik
saya. Namun saya saya sangat tersentuh, perjuangan bapak itu untuk kembali
semangat beragama diusia yang sudah cukup mendekati senja masih ada. Mengkaji
kitab pedoman yang Allah turunkan. Pelita itu telah menyala dan menerangi
hatinya, membimbing menuju cahaya. Maka jangan pernah anda tutup-tutupi atau
padamkan cahaya itu dengan mengatakan
mereka aliran sesat, mereka ahli bi’dah dan sebagaimana. Namun cahaya Allah
adalah cahaya diatas cahaya, meskipun ada yang mengatakan seperti di atas,
cobalah datang ke kantor pusat yang di Solo, pengajian mereka selalu ramai dan
sesak para jamaah.
Dan pelita pembimbing itu bisa jadi Allah tiupkan lewat
salafi (wahabi-kata kelompok lain). Gerakan salafi yang mencoba menggigit
sunnah nabi di akhir zaman. Saya pernah bermajelis di pengajian mereka,
mendengarkan tausiyahnya. Dan saya mempunyai teman yang menjadi anggota
kelompok itu, sungguh perubahan luar biasa yang terjadi padanya. Kecintaanya
pada ilmu agama melonjak drastis, berangkat ke masjid awal waktu dan
sebagainya. Gambaran yang jarang dilihat pada umumnya anak sekarang. Memang ada
kesalahan pada mereka, namun jangan coba kita padamkan pelita itu. Tak perlu
kita katakan mereka orang ekstrim, mereka kafir dan sebagainya. Jika ada
kesalahan mari kita ingatkan.
Bisa juga Allah bimbing seorang hamba menunju cahaya-Nya
melalui pelita yang ada di Jamaah Tabligh (JT), seruan mereka mengetuk pintu
rumah, bersilaturrahmi dan mengingatkan agar menjaga sholat, senantiasa
berdzikir mengingat Allah dan lain sebagainya. Bisa jadi pelita itu dari
mereka. Jangan kita padamkan dengan menghukumi mereka ahli bid’ah, jamaah sesat
dan ejekan lainnya. Toh kita belum tentu lebih baik dari mereka. Dan banyak
perubahan yang dialami teman saya yang ikut bergabung dengan mereka.
Kecintaannya kepada Ibadah semakin menggelora.
Saya pernah hadir di majelis pencerahan Jamaah Maiyah
Nusantara di Surabaya yang diberikan nama Bang-Bang Wetan. Itulah kali pertama
saya datang setelah sekalian kali hanya mengikuti lewat video di youtube dan
artikel di website-nya. Peserta yang hadir bukan pada umumnya orang – orang
yang akan menghadiri pengajian. Peserta yang hadir disana sangat beragam, mulai
dari celana sobek-sobek, kaos oblong sampai yang pakai sarung dan kopyah.
Bermajelis dari jam 8 malam hingga jam 3 dinihari. Allah menyalakan pelita bagi
orang – orang “marginal” yang terpinggirkan dari jamaah lain. Semangat mereka
menemukan ke-fitroh-an merupakan karunia yang Allah turunkan kepada seorang yang
dikehendaki menuju cahayaNya.
Saya ingin mengulang ayat diatas diakhir paragraph ini,
semoga kita semakin arif dan bijaksana menanggapi banyaknya Jamaah islam yang
ada. Bahwa ia adalah pelita yang Allah nyalakan di tengah-tengah umat untuk
membimbing menemukan “kembali” pada cahaya-Nya. Oleh karena itu, janganlah kita
padamkan atau tutupi pelita itu dengan membagikan stempel Kafir, Cap Ahli Bid’ah
dan sebagainya. Bisa jadi seseorang tidak cocok dengan kelompok anda, dan cocok
dengan kelompok lain. Itu semua adalah kehendak Allah yang membimbing siapapun
yang dikehendaki menuju cahaya-Nya.
Allah (Pemberi)
cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti
sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan
bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari
pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur
(sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja)
hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada
cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat
perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(Terjemah Qs. Annur : 35)
Saturday, August 1, 2015
Catatan Lebaran
Maafkan Apanya?
Salah satu tradisi yang ada di
masyarakat sekitar saya dan saya pun melakukannya ketika hari raya lebaran
adalah tradisi berkunjung-kunjung ke rumah tetangga, sanak saudara dan handai
tolan serta kawan-kawan. Tujuan saling berkunjung adalah meminta maaf dan
harapannya saling memaafkan apabila ada kesalahan yang disengaja atau tidak
sengaja. Alasannya sebab manusia adalah tempat salah. Namun hampir setiap kali
lebaran, selalu ada pertanyaan tentang kehambaran rasa silaturrahmi itu.
Maafkan apanya?
Bayangkan saja, anda setiap hari hidup
di tanah rantau yang tidak pernah berinteraksi dengan tetangga kanan-kiri rumah
di kampung, sebab anda hanya pulang ketika lebaran. Interaksi anda hanya setiap
kali lebaran dan tidak pernah ada yang lain. Terus anda bersilaturrahim ke
rumah tetangga untuk meminta maaf jika ada kesalahan. Apanya yang mau
dimaafkan? Lha wong interaksi sosial aja hanya waktu itu, jadi tetangga juga
hanya pas lebaran di kampung. Kesempatan berbuat salah nyaris nol kepada
tetangga karena kita sudah bukan tetangga setelah lebaran yang hanya bebera
hari. Kita terlepas dari kewajiban bertetangga, terlepas dari peringatan nabi
yang menyatakan tidak beriman seseorang kalau tetangganya tidak aman darinya.
Lha terus apanya yang harus di maafkan?. Satu-satunya yang mungkin salah karena
kita hanya berinteraksi hanya pada saat lebaran dan tidak pernah selain itu.
kita tidak menyambung yang hampir putus.
Hal diatas sama juga dengan ketika
saya diajak berkunjung kepada saudara yang bahkan saya tidak tahu namanya dan
sedikit hafal wajahnya. Saudara jauh dari mbah-mbah dahulu. Lagi-lagi sangat
klise, bertemu hanya saat lebaran saja kemudian meminta maaf. Ya, sekali lagi
mungkin kesalahan kita adalah tidak senantiasa menyambung silaturrahim.
Dan menurut saya yang harus dan bahkan
wajib adalah kita meminta maaf pada bill gates, si empunya Microsoft dan
windows yang terinstall di laptop saya dan mungkin anda. Saya ingin mengajukan
pertanyaan kepada anda, “apakah Microsoft yang terinstall di laptop kita itu
asli dan kita beli kepada bill gates? Apakah iya windows kita asli dan bukan
bajakan hasil crack?”. Silahkan semua menggeleng serempak mirip orang salam
penutup shalat.
Nah.. jelaskan. Berapa dollar yang
kita ambil secara batil dari bill gates, meskipun dia bukan seorang muslim.
Meskipun bukan seorang muslimkan bukan berarti boleh kita ambil haknya secara
semena-mena kan ?. Nah lho.. kalau begini harus bagaimana?, maaf saya belum
tanyakan ke ustadz soal itu. belum lagi dengan software-software bajakan lain
yang mungkin kita dapat dari hasil membajak dan kita gunakan untuk mencari
uang. Halal gak ya hasilnya ?. ahh… panjang urusannya soal ini. Belum lagi
kalau nanti kalau di Mahkamah Maha Agung pengadilan akhirat Bill Gates
melakukan banding kepada Gusti Allah. Apa ya terus kita yang sudah di depan
pintu surga harus digantol sama malaikat malik untuk menerima banding dari Bill
Gates yang menuntut keadilan kepada Gusti Allah karena telah di bajak
softwarenya oleh seorang muslim?. Ahh… tidaaaaaakkk.. tahu saya. besok kita
tanyakkan ke ustadz.
Haaaaaaaaaaaaahhh.. Mbah Bill Gates, mumpung
masih lebaran, maafkan saya yang telah menggunakan software bajakan dari
perusahaan anda. Saya belum mampu beli meskipun katanya murah.. mumpung masih
lebaran mbah, anggap saja ini angpao lebaran buat saya. Maafkan saya yaa mbah…
Dan si empunya Mike 21, saya juga minta maaf telah menggunakan software secara
illegal, dan mohon di ikhlaskan ya.. Maaf.. Maaf.. dan si empunya software yang
softwarenya saya gunakan secara illegal, saya mohon maaf.. saya do’a kan anda
semakin kaya dan mendapat Hidayah dari Allah SWT. Biar anda kaya juga di
Akhirat.
Hah, semakin tidak jelas tulisan ini.
kita akhir saja. gak usah pakai salam. Nanti kalian harus mengkomentari artikel
ini dengan ucapan salam.
Monday, July 27, 2015
Catatan Akhir Ramadhan (3)
Nyekar
Salah
satu bagian dari tradisi orang – orang di sekitar saya ketika menjelang
ramadhan ataupun idul fitri adalah nyekar. Nyekar berasal dari kata sekar
(bahasa jawa) atau dalam bahasa Indonesia berarti Bunga. Mendapat imbuhan Ny-
yang kemudian berarti melakukan. Sehingga tradisi Nyekar adalah tradisi menabur
bunga di makam orang tua atau sanak saudara. Umumnya yang paling ramai adalah
waktu menjelang ramadhan atau menjelang idul fitri. Meskipun sebenarnya para
ulama menganjurkan untuk melakukan setiap hari kamis sore atau malam jum’at.
Namun tidak hanya menabur bunga, membersihkan makan dan menyiram air wangi,
orang – orang yang berdatangkan ke makam juga mendo’a kan orang tua atau sanak
saudara yang telah mendahuli, biasanya berbekal buku yasin yang diperoleh dari
acara 100 hari kematian.
Dulu
saya sering ikut paman untuk melakukan nyekar, namun sudah beberapa tahun
terakhir ini saya sudah tidak dapat ikut sebab setiap awal ramadhan pasti di
perantauan atau kalau pas akhir ramadhan menjelang idul fitri ternyata paman
gak ke makam. Datang sendiri ? maaf, saya tidak hafal di mana letak makam kakek
saya dari jalur ibu dan saudara – saudara yang lain. Sehingga jika tidak
bersama sanak saudara pasti akan salah makam orang lain.
Dua tahun
lalu saya tidak ikut nyekar, namun hanya bersepeda keliling kampung sekitar
rumah tempat tinggal saya. hampir semua makan yang saya lewati tidak ada yang
sepi, semua penuh dengan pengunjung, dan hal ini adalah rezeki bagi para
pedangan bunga dadakan. Biasanya harga perbungkus bunga sekitar Rp 2500 – Rp.3000.
Ada
pengalaman menarik yang menurut saya tidak biasa. Sebab memang baru itu saya
menemui kejadian tersebut. Ada dua sepasang suami istri pergi ke makam
(mungkin) orang tuanya, membawa rantang yang entah berisi apa. Saya hanya
melihat dari jauh, sebab ketika itu saya sedang berada di depan makam kakek
saya. Saya hanya melihat dari kejauhan apa yang akan mereka lakukan dengan
rantang yang dibawa ke makam. Apakah mereka akan makan bersama ? kan belum
waktunya buka. Sesaat kemudian saya melihat ibu itu menuangkan isi rantang itu
ke makam. Oh, air yang wangi itu mungkin, pikir saya.
Setelah
saya selasai di makam kakek saya, saya sempatkan untuk melihat tempat yang tadi
dikunjungi sepasang suami istri tadi. Saya masih penasaran dengan apa yang ada
di dalam rantang tadi. Sebab hal itu tidak biasa, biasanya orang datang hanya
dengan membawa sebungkus bunga. Begitu saya sampai di makam yang dikunjungi
pasangan tersebut, ternyata yang mereka adalah soto (mungkin) kesenangan orang
yang di dalam makam. Begitu cintanya kedua orang tadi sampai – sampai meskipun
sudah meninggal masih dibawakan soto.
Ah..
namun sayangnya sampai hari ini saya belum pernah menemukan anak muda seusia
saya melakukan nyekar dan kemudian mendo’a kan di makam sanak saudaranya. Mungkin
mereka sudah mendo’a kan dari rumah dan khusus di setiap akhir dzikir setelah
sholat. Dan semoga bukan karena mereka sudah tidak ingat dengan sanak saudara
yang sudah mendahului atau orang tua nya yang telah tiada.
Sunday, July 26, 2015
Catatan Akhir Ramadhan
Tak perlu berterimakasih untuk sebuah kewajiban
Pekerjaan tambahan saya setiap akhir ramadhan, terutama
saat tanggal 28 – 29 ramadhan adalah menjadi kurir amplop berisikan titipan
sejumlah amplop untuk diantarkan kepada orang yang tertera di amplop. Yaaa..
amplop berisi sejumlah uang yang diakad kan sebagai zakat mal yang dikalkulasi
dalam setahun dan dibagikan tiap ramadhan, juga infaq dan shodaqoh. Tugas saya
adalah mengantarkan uang tersebut dari rumah ke rumah dan tanpa menyebut dari
siapa kalau tidak ditanya. Kebetulan sekitar tempat tinggal saya tahun ini
tidak ada panitia pengumpulan zakat, apalagi LAZ yang memang bekerja focus menangani
masalah ZISWAF. Tulisan ini hanyalah sedikit pengalaman dari hasil mengetuk
pintu satu ke pintu yang lain.
Pasti kita sudah dapat menebak, bagaimana ekspresi orang
yang mendapat kiriman amplop dari muzzaki tersebut. Ada yang wajah berbinar
berucap Alhamdulillah dan berulang kali kata terimakasih. Memang tidak salah
sebenarnya dan memang seharusnya bersyukur kepada Allah dengan ucapan
Alhamdulillah. Namun untuk terimakasih?, yah, mungkin hanya untuk kepantasan
saja mereka yang menerima amplop itu berucap terimakasih, orang jawa
mengistilahkan abang – abange lambe. Kalaupun
tidak berucap terimakasih pun wajar dan orang yang memberi tidak perlu kesal
dengan sikap itu. Hmm, mungkin kebanyakan orang akan berfikir mengapa tidak
perlu mengucapkan terimakasih.
Mungkin kita perlu mengingat pesan kanjeng Nabi SAW
tentang setiap rezeki yang kita terima, “Bahwa disetiap rezeki yang kita terima
ada hak orang lain”. Perlu saya tegaskan HAK ORANG LAIN. Hak itu jika berupa
zakat sudah diatur siapa saja yang menjadi penerima HAK tersebut dalam 8
golongan, sedangkan untuk infaq dan shodaqoh lebih fleksibel. Sebab itu sudah
menjadi HAK orang lain, maka mau tidak mau, suka tidak suka, kita wajib
memberikan HAK itu. Jika kita tidak memberikannya, maka kita termasuk memakan
HAK orang lain dan anda lebih paham ancaman dari Nabi bagi para pemakan hak saudaranya.
Sehingga sah – sah saja jika orang yang menerima zakat,
infaq atau shodaqoh tidak mengucapkan
berterimakasih orang yang memberik Zakat, infaq atau shodaqoh.. lha wong itu sudah
hak mereka yang memang harus diterima. Mungkin itulah salah satu manfaat adanya
amil zakat, orang yang memberi dan menerima tidak perlu langsung bertemu
sehingga jika tidak mengucapkan terimakasih kepada pemberi tidak terjadi
kemarahan dan sebagainya. Meskipun saya juga kadang masih berfikir ulang jika
pada penyalurannya tidak sampai pada orang yang di sekitar tempat tinggal saya.
(lebih lengkapnya baca tulisan ini)
Padahal kalau kita merenung lebih jauh, keberadaan 8 golongan
penerima zakat adalah keuntungan bagi para muzzaki, yang tujuannya untuk
menyucikan harta – hartanya. Tapi jangan anda berfikir kalau koruptor akan suci
harta hasil korupsi dengan berzakat, beda hitungan itu. kembali lagi, kalau
kita merenung lebih jauh, coba bayangkan kalau para 8 golongan yang berhak
mendapatkan zakat itu menolak. Mau kita kasihkan kepada siapa ? atau sudah
tidak ada yang mau menerima zakat, bagaimana menyucikan harta kita?
Mungkin seharusnya orang yang mengucapkan berterimakasih
adalah para muzzaki, bukan mustaqiq. Dan kalau hanya mengeluarkan zakat atau
infaq dan shodaqoh sekedarnya saja, orang harusnya tidak perlu jumawa, lha
woang itu sudah kewajiban. Kewajiban itu hanya standar rendah saja. kebacut
kalau standar bawah tidak sampai. Maka jika anda mendapati orang tidak
mengucapkan terimakasih kepada anda atas pemberian zakat, infaq atau shodaqoh,
anda tidak perlu marah dan andalah seharusnya yang berterima kasih kepada
mereka. Sebab mereka telah mau membatu anda membersihkan harta dan jiwa anda.
Catatan Akhir Ramadhan (2)
Riak Zakat, Infaq dan Shodaqoh kita
Alhamdulillah, kesadaran masyarakat atas kewajiban mereka
terhadap harta yang diterima sudah sangat bagus. Bisa kita lihat dengan semakin
menjamurnya Lembaga – lembaga Amil Zakat,
Infaq, shodaqoh dan juga Wakaf. Hampir semua organisasi masyarakat mempunyai
LAZ, Nahdhotul “Ulama dengan LAZNU, Muhammadiyah dengan LAZIZMU dan sebagainya.
Belum lagi milik organisasi non pemerintahan dan yayasan seperti Yayasan Nurul
Hayat (NH), Lembaga Manajemen Infaq (LMI), Yayasan Dana Sosial Al – Falah (YDSF),
Rumah Zakat dan sebagainya. Pemerintah juga mempunyai Lembaga besar, Badan Amil
Zakat (BAZ) baik ditingkat pusat maupun provinsi. Dari semua lembaga yang telah
disebutkan tadi, tidak ada yang tidak mempunyai donator tetap dan orang yang
menyalurkan ZIS (Zakat, Infaq, Shodaqoh) sudah mencapai puluhan ribu hingga
ratusan ribu orang melalui lembaga tersebut. Apalagi sekarang pemerintah juga
semakin memudahkan dengan adanya
peraturan bahwa dengan mengeluarkan zakat, pajak penghasilan dapat berkurang.
Memang, banyak manfaat dengan adanyanya lembaga – lembaga
yang konsen terhadap pengelolaan ZIS, mulai mendata muzzaki, mustaqiq,
mengingatkan waktunya zakat, dan menyalurkan kepada yang berhak. Salah satu
manfaat dari penyaluran zakat melalui amil adalah tersturkturnya data para
muzzaki dan mustaqiq, juga dapat menghindari hutang budi antara pemberi dan
penerima (meskipun seharusnya tidak demikian. Baca tulisan ini). Banyak
pendapat dari para ulama dan penggiat zakat agar penyaluran zakat, infaq dan
shodaqoh lebih baik melalui amil dan bukan perorangan. Melihat banyaknya
manfaat jika penyaluran melalui amil bukan perorangan apalagi sampai
menimbulkan korban.
Saya sangat sepakat dengan para ulama yang menyerukan
agar umat menyalurkan zakat melalui amil zakat yang amanah. Namun kadang saya
berfikir ulang, jika amil zakat itu jauh dari tempat tinggal saya. apakah nanti
penyaluran zakat, infaq, shodaqoh itu sampai pada tetangga saya?. mengingat
kadang tetangga saya jika diukur dari lingkungan sekitar perlu mendapat
bantuan, sedangakan menurut lembaga amil zakat belum masuk kriteria yang berhak
mendapatkannya.
Mengapa kita perlu berfikir tentang tentang hal diatas?
sebab kita juga harus berfikir tentang kemanfaatan diri kita terhadap
lingkungan sekitar. Kalau anda kaya dan kemudian menyalurkan ZIS anda melalui
amil, kebetulan penyaluran ZIS anda sedikit atau tidak sama sekali menyentuh
orang di kanan – kiri anda, tentu hal itu akan menjadi bahan omongan orang
sekitar. Meskipun secara kewajiban kita sudah selesai karena sudah menyalurkan
melalui amil. Namun, dari sisi kemanfaatan rasanya kita kurang bermanfaat kepada
masyarakat sekitar. Jika orang di sekitar anda adalah orang yang mampu, lihat
agak keluar lingkungan anda. Nabi saja menyarankan kalau mengundang acara makan
– makan itu 40 rumah ke kanan dan kiri rumah kita, begitu pula jika depan atau
belakang rumah kita. Artinya itulah yang menjadi tetangga kita.
Sehingga, jika memang anda ingin memberikan ZIS melalui
Amil, saya sarankan untuk sekalian memberikan list atau daftar nama penerima
yang itu adalah orang – orang sekitar anda. Hal ini untuk menghindari tidak
sampainya ZIS yang anda keluarkan kepada lingkungan anda. Sebab anda hidup
dilingkungan yang harusnya anda bermanfaat bagi orang di sekitar anda.
Bagaimana mungkin kita tidur dalam rasa kenyang, bila tetangga anda tidak bisa
tidur atau tidur karena sangat kelaparan ?
Ibarat kita melempar batu kedalam kola, akan terjadi riak
gelombang dari tempat jatuh batu itu hingga akhirnya menyebar sampai seluruh
kolam. Maka, kemanfaatan kita baik dari harta (ZIS) atau yang lain seharusnya
mirip dengan riak – riak gelombang tadi. Sekitar kita sampai seluruh kolam.