Showing posts with label suara senja. Show all posts
Showing posts with label suara senja. Show all posts

Monday, June 12, 2017

Al-Maidah 51 dan Kepemimpinan Islam

Trending topic yang cukup hangat dibahas dari tahun 2016 sampai hari adalah tentang Qs. Al-Maidah 51 yang sempat disentil oleh Ahok (basuki tjahya Purnama) ketika memberikan sambutan di Kepulauan Seribu dengan bumbu "dibohongi pakai Al-Maidah", "dibodohi" membuat masakan tersebut selalu hangat untuk disantap sampai hari ini. Sidang berjilid-jilid dan Aksi yang mengikutinya adalah santapan setiap selasa waktu digelarnya sidang kasus penistaan agama dengan terdakwa Ahok, Gubernur DKI Jakarta. Kasus ini membuat umat islam di Indonesia yang selama ini kurang peduli dengan pemilihan pemimpin menjadi semakin tertarik mengkaji masalah kepemimpinan, tentang non muslim yang menjadi pemimpin dan hukum orang yang mendukung, memilih pemimpin non muslim. 

Logika-logika sesat pikir dimunculkan agar masyarakat bawah kacau dalam berfikir tentang pemimpin yang dipilihnya. "Lebih baik pemimpin kafir tapi nggak korupsi, dari pada pemimpin muslim tapi korupsi". "Pemimpin kafir yang adil lebih baik dari pada muslim tapi Dzhalim". Penggiringan logika cacat pikir ini ternyata didasari hanya segelintir fakta, klaim sepihak dan sudut pandang kepemimpinan dalam islam yang tidak tepat. 

Sebelum kasus ini mencuat dipublik, ada seorang ustadz yang mengisi kajian islam di salah satu stasiun televisi swasta nasional, dengan gaya ceramah "jamaah..oh jamaah", melontarkan implemantasi logika sesat cacat pikir tentang pemelihan pemimpin dalam islam yang dalam ini Al-Maidah (Larangan memilih pemimpin non-muslim) dengan membuat pengandaian seperti ini
"Tidak usah berbicara agama, sebab kepemimpinan itu tidak bicara masalah agama. Memangnya kau tidak mau naik pesawat kalau pilotnya beragama lain? Masa kau mau tanya sama pramugari, pilotnya siapa atau agamanya apa? Tidak usah seperti itu,” 
“Ada yang tujuannya black campaign. Kampanye hitam, terselubung, menjelek-jelekkan orang, buat sensasi, buat kerusuhan, buat jelek-jelekkan nama orang. Jangan coba-coba seperti itu,.
Meskipun akhirnya meminta maaf dan mengakui kesalahannya dalam memberikan ceramah, sedikit memberikan gambaran bahwa konsep kepemimpinan dalam islam tidak dipahami dengan baik.

Imam Al-mawardi dalam al-Ahkam al-Sulthaniyah menyinggung mengenai hukum dan tujuan menegakkan kepemimpinan. beliau mengatakan bahwa menegakkan kepemimpinan dalam pandangan Islam adalah sebuah keharusan dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Lebih lanjut, beliau mengatakan bahwa keberadaan pemimpin (imamah) sangat penting, artinya, antara lain karena imamah mempunyai dua tujuan: pertama: Likhilafati an-Nubuwwah fi-Harosati ad-Din, yakni sebagai pengganti misi kenabian untuk menjaga agama. Dan kedua: Wa sissati ad-Dunnya, untuk memimpin atau mengatur urusan dunia. Dengan kata lain bahwa tujuan suatu kepemimpinan adalah untuk menciptakan rasa aman, keadilan, kemaslahatan, menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, mengayomi rakyat, mengatur dan menyelesaikan problem-problem yang dihadapi masyarakat. 

Penjelasan di atas memperlihatkan bahwa persoalan memilih pemimpin itu merupakan salah satu persoalan yang dipandang sangat penting dalam pandangan Islam. Karena memilih pemimpin itu tidak  hanya mencakup dimensi duniawi, lebih dari itu juga memiliki dimensi akidah (ukhrowi). Sehingga dalam pemilihan kepemimpinan islam juga mengatur dengan sangat bernas dalam Al-Quran dan Hadits.

Berikut  ini    ayat- ayat  al-Quran  yang  menunjukkan  dengan  jelas  larangan  memilih pemimpin non Muslim bagi wilayah yang mayoritas penduduknya Muslim. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman yang artinya:
Pertama;
لاَّ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُوْنِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ
“Janganlah  orang-orang  mukmin  mengambil  orang-orang  kafir  menjadi  WALI (waly) pemimpin, teman setia, pelindung) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara  diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kamu kembali.” (QS:  Ali Imron [3]: 28)
Kedua;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُواْ لِلّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً مُّبِيناً
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah kami ingin mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS:  An Nisa’ [4]: 144)
Ketiga;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الَّذِينَ اتَّخَذُواْ دِينَكُمْ هُزُواً وَلَعِباً مِّنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Hai   orang-orang  yang  beriman,  janganlah  kamu  mengambil  orang-orang  yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik) sebagai WALI (pemimpinmu).  Dan  bertakwalah kepada Allah  jika  kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (QS:  Al-Ma’aidah [5]: 57)
Keempat;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ آبَاءكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاء إَنِ اسْتَحَبُّواْ الْكُفْرَ عَلَى الإِيمَانِ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara- saudaramu   menjadi   WALI   (pemimpin/pelindung)   jika   mereka   lebih   mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka WALI, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS: At-Taubah [9]: 23)
Lima;
لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya, sekali pun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada- nya. dan dimasukan-nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa  puas terhadap (limpahan rahmat)-nya. mereka itulah golongan allah. ketahuilah, bahwa  sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS:  Al Mujaadalah [58] : 22)
Enam;
بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَاباً أَلِيماً
الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ العِزَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً
“Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (pemimpin/teman penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS: An-Nisa’ [4]: 138-139)
Melihat ayat di atas, kemudian polarisasi masyarakat bawah dalam menanggapi tafsir tersebut kemudian ada yang tetap membolehkan, ada yang kemudian dengan tegas menolak tanpa kompromi. Kata "awliya" menjadi perdebatan karena penafsiran awliya adalah teman setia, dan penafsiran satunya adalah pemimpin. Kalau teman setia saja tidak boleh, apalagi pemimpin?. Perdebatan panjang ini kemudian belum berakhir namun para ulama yang menjadi saksi ahli telah bersepakat akan makna awliya adalah pemimpin termasuk dalam konteks pemilihan pemimpin kota (Gubernur, Walikota, Bupati bahkan Presiden)
Sedangkan mereka yang tetep kekeuh terhadap kebolehan memilih pemimpin non-muslim dalam PILKADA menyandarkan pada tafsir konteks bukan pada tafsir teks. Tafsir konteks merak gunakan dengan dalih sudah tidak relevannya Al-Maidah 51 dengan kondisi kekinian. Kita sedang memilih pemimpin pemerintahan BUKAN pemimpin agama. Sedangkan para pengusung pemikiran tafsir seperti ini tidaklah banyak, bukan jumhur ulama dan bahkan mereka yang hanya asal nyablak dengan tanpa dasar agama.

Kedua pemikiran tafsir di atas tidak akan pernah bertemu dalam satu titik kesepakatan, karena keduanya saling menegasikan sehingga perdebatan keduanya tidak akan pernah selesai. dan Pada saat inilah, Umat perlu menyandarkan dirinya kepada Ulama pewaris nabi. Ulama terpercaya yang memang ahli dalam bidang keilmuannya dan dengan ilmunya memiliki otoritas untuk memberikan penjelasan kepada umat yang berada dalam persimpangan seperti kondisi di atas.

Ibaratnya seperti ini, Setiap ilmu pengetahuan pasti memiliki pemikir yang punya otoritas dalam memberikan penjelasan terhadap bidang keilmuannya. Kalau bicara masalah ilmu pengetahuan Pesawat Terbang, Prof. Ir Habibie adalah rujukan yang terpercaya dari pada Prof. Yusril Ihza Mahendra. Apakah Prof. Yusril Ihza Mahendera orang bodoh? BUKAN, karena beliau bukan ahli dibidang pesawat terbang.  Dan begitu jugalah ilmu tafsir yang ada di pundak para ulama'.

Maka, SIAPAKAH YANG AKAN KAU IKUTI????

Friday, February 19, 2016

Mengundang Hujan



Ada kalanya kau akan menunggu datangnya hujan, menanti penuh kesabaran di bawah terik siang tak berawan. Mengelap peluh kapayahan karena hujan tak kunjung datang. Bahkan awan gelap undangan hujan pun tak kelihatan. Mungkin memang demikian Allah ciptakan hujan, rahmat yang turunpun tak dapat kau perkirakan. Kau harus tau kawan, hujan adalah rahmat Tuhan.

Seperti pagi itu, undangan hujan tak begitu menampakkan datangnya. Tapi bagi kami berdua (mungkin tidak hanya kami), hujan itu telah deras membasahi. air cucurannya telah mengalir kedalam hati, menganak sungai hingga ke pipi. Meskipun kau tahu, mendung awan tidak kelihatan, rintik air langit pun jua tak turun. Sebab ini bukan hujan biasa, ini adalah hujan spesial di 6 Februari, hujan rahmat dari Allah. Keberkahan yang bercucuran (semoga) membasahi bumi dimana nanti kami akan berpijak dan dimana kami akan menanam kebaikan. Biarkan hujan rahmat itu yang nantinya akan kami menyuburkan apa yang akan kami tanam.


"hujan spesial di hari yang cerah. bahkan tak ada sedikitpun tanda-tanda hujan akan turun di 6 februari itu. tapi, kami berdua, saya dan dia, merasakan rintik air gemuruh di dalam hati. deras membawa kebahagiaan."
(Maghfirotul Izzah, 2016)

Hujan hari itu adalah awal. Awal bagi kami berdua untuk menikmati rintik air dan gemuruh petir berdua. Bercengkrama dan diselingi tawa, bersama secangkir cokelat hangat kesukaan kami. Menikmati hujan dari balik jendela, sambil menunggu indahnya pelangi setelahnya. Pelangi yang akan hadir setelah hujan turun, warna - warninya adalah goresan kebahagian.

Hujan hati itu adalah awal. Awal dari kami untuk saling mencari saat hujan mulai datang. Takut kalau salah satu akan kehujanan dan tidak dapat tempat berteduh dan teman untuk menikmati hujan. Bukankah kau kadang juga merasakan takut jika gemuruh halilintar itu menyambar - menyambar di langit saat kau sendirian?

Selamat menikmati hujan

6 Februari 2016
Hujan Spesial di Masjid Amir Mukti
Hujan rahmat beriring do'a dan ikrar suci 
Hujan Spesial yang akan kami nikmati hingga akhir hayat nanti

Monday, January 4, 2016

ENFP


Penasihat - Semuanya mungkin.

Anda penuh gairah hidup dan imajinasi. Hidup bagi anda penuh dengan segala kemungkinan. Anda dengan cepat menemukan koneksi dari segala informasi dan hal, dan menanganinya dengan penuh percaya diri sesuai dengan pola yang ditemukan. Anda ingin sekali mendapat pengakuan dari orang lain dan juga murah hati dalam memberi pujian dan dorongan kepada orang lain. Anda sangat santai dan fleksibel. Anda berbakat dalam retorika dan pandai berimprovisasi.


Introversi I atau Extroversi E - Anda mendapatkan energi dan dimana anda memfokuskan perhatian anda.

Anda adalah Seorang dengan Extrovert Tendensi, yang Prihatin akan bagaimana anda mempengaruhi dunia luar: konsentrasi pada kekuatan psikologi anda dan perhatian pada dunia luar dan berkomunikasi dengan orang lain dan menyukai pertemuan, diskusi dan berbicara.

Yang berbeda dengan anda adalah Introvert Tendensi, yang Prihatin akan bagaimana perubahan dari dunia luar mempengaruhi anda: konsentrasi pada kekuatan psikologi anda dan perhatian pada apa yang ada dalam diri anda, dan fokus pada pengalaman diri, pemikiran, ide dan emosi. Anda lebih suka berpikir secara independen dan membaca.

Sensasi S atau Intuisi N - Apa yang anda akan sadari ketika anda menerima dan mengetahui informasi dunia luar.

Anda adalah Seorang dengan Intuisi Tendensi, yang Menyukai teori dan prinsip abstrak. Anda peduli dengan keseluruhan serta kecenderungan untuk berubah dan meningkat. Anda memberi penekanan akan inspirasi, imajinasi dan kreatifitas. Anda menyukai implikasi, analogi, koneksi, kemugkinan, konklusi dan prediksi.

Yang berbeda dengan anda adalah Sensasi Tendensi, yang prihatin akan informasi detail yang di dapat melalui indera persepsi: hal yang ada lihat, dengar, cium, rasa dan sentuh. Anda lebih memperhatikan detail dan deskripsi. Anda suka menggunakan dan meningkatkan keahlian yang sudah dimiliki.

Berpikir T atau Perasaan F - Bagaimana anda mengambil keputusan.

Anda adalah Seorang dengan Perasaan Tendensi, yang Menaruh kepentingan pada perasaan diri dan orang lain. Moral dan Harmoni akan menjadi standar evaluasi anda. Anda bersimpati, baik, bersahabat dan pengertian. Anda selalu memikirkan bagaimana perilaku anda akan mempengaruhi perasaan orang lain.

Yang berbeda dengan anda adalah Berpikir Tendensi, yang Memperhatikan hubungan logis pada hal. Anda suka mengevaluasi dan mengambil keputusan melalui analisa proyek. Anda sangat rasional, objektif dan adil. Anda berpikir prinsip lebih penting dari pada fleksibilitas.

Pertimbangan J atau Pemahaman P - Bagaimana anda mengatur dan mendesain hidup.

Anda adalah Seorang dengan Pemahaman Tendensi, yangPerlu mengumpulkan lebih banyak data sebelum mengambil keputusan. Sehingga anda mencoba memahami dan menyesuaikan. Anda berfous pada proses dan mengubah tujuan anda berdasarkan perubahan informasi. Anda selalu memperbolehkan variabel tak terduga dalah kehidupan anda. Anda suka dengan gaya hidup yang bebas dan santai, dimana sedikit tidak teratur.

Yang berbeda dengan anda adalah Pertimbangan Tendensi, yang Suka membuat pertimbangan dan keputusan. Anda suka merencanakan dan suka mengatur, mengontrol dan mendorong kepada hasil. Anda fokus pada menyelesaikan tugas. Dalam kehidupan sehari hari anda, Anda berharap hidup anda teratur, selangkah demi langka dan meghormati jadwal waktu.

Monday, December 28, 2015

Kembali Kepada Al-Qur'an dan Sunnah

[Seri Ushul Isyrin]

Prinsip Kedua


"Al-Quran yang mulia dan sunnah Rasul yang suci adalah tempat kembali setiap muslim untuk memahami hukum-hukum Islam. Ia harus memahami Al-Quran sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, tanpa takalluf (memaksakan diri) dan ta'asuf (serampangan). Selanjutnya ia memahami sunnah suci melalui rijalul hadits (perawi hadits) yang terpercaya

يـاَ يُّـهَا الَّذِيـْنَ امَنُوْآ اَطِيْعُوا اللهَ وَ اَطِيْعُوا الـرَّسُوْلَ وَ اُوليِ اْلاَمْرِ مِنْكُمْ، فَاِنْ تَـنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلىَ اللهِ وَ الـرَّسُوْلِ اِنْ كُـنْتُمْ تُـؤْمـِنُـْونَ بِاللهِ وَ اْلـيَوْمِ الاخِرِ، ذلِكَ خَيْرٌ وَّ اَحْسَنُ تَـأْوِيـْلاً. النساء:59


Hai orang-orang yang beriman, tha’atilah Allah dan tha’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [An-Nisa’ : 59]

عَنْ كَـثِـيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنْ اَبِـيْهِ عَنْ جَدِّهِ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: تَـرَكْتُ فِـيْكُمْ اَمْرَيــْنِ لَـنْ تَضِلُّـوْا مَا تَــمَسَّكْـتُمْ بِـهِمَا: كِـتَابَ اللهِ وَ سُنَّـةَ نَـبِـيِّهِ. ابن عبد البر


Dari Katsir bin Abdullah dari ayahnya dari kakeknya RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda : “Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”. [HR. Ibnu Abdil Barr]

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Kamu semua harus berpegang teguh pada sunnahku (setelah Al-Qur’an) dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk Allah sesudahku, berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat kuatnya, serta jauhilah perbuatan baru (dalam agama), kerana setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat” (H.R. Abu Daud dan Tirmizi)

Meyambung pada prinsip pertama yang Imam Hasan Albanna tuliskan dalam 20 prinsip yaitu menjadikan islam sebagai landasan berpikir dan memandang (islamic world view), maka pada prinsip kedua ini, beliau ingin menegaskan bahwa tidak ada pijakan yang paling utama dalam menjadikan islam sebagai cara pandang kecuali didasarkan kepada Al-Qur'an dan Assunah. Keduanya merupakan landasan hukum yang harus dita'ati dalam berislam secara benar dan baik. Disisi lain, umat islam yang sudah mulai terjauhkan dari Al-Qur'an dan Assunah itu diingatkan secara tegas oleh Imam Hasan Albanna agar dalam memahami keduanya tidaklah secara serampangan dan memaksakan diri.

Melihat kondisi umat islam yang saat itu mengalami proses sekularisasi nilai sehingga terjauh dari nilai - nilai Al-Qur'an dan Assunah, disisi lain ada sekelompok umat islam yang karena inginnya berpegang kepada keduanya namun dalam pemahaman yang menyimpang karena penafsiran yang tidak metodologis dan terlalu memaksakan diri padahal bukan pada bidang keilmuannya. Sehingga ada dua kutub yang sedang dihadapi Imam Hasan Albanna dalam berdakwah di tengah umat islam saat itu. Sehingga beliau secara tegas mengajak umat islam agar kembali kepada Al-Qur'an dan Assunah dan memahaminya secara benar. Pada prinsip - prinsip selanjutnya Imam Hasan Albanna akan menjelasan lebih detail tentang itu.

Melihat realitas kondisi umat islam hari ini, tentu masih bisa dirasakan betapa prinsip kedua ini masihlah sangat relevan. Sebab kondisi yang hampir sama juga dialami oleh Imam Hasan Albanna ketika itu, dimana terdapat kelompok yang berselisih dalam memahami Al-Qur'an dan Assunah, baik dari kelompok Ahlus sunnah sendiri ataupun juga firqoh sesat yang ada pada saat itu. Beberapa point penting yang bisa kita ambil dari prinsip yang kedua ini antara lain;
"Al-Quran yang mulia dan sunnah Rasul yang suci adalah tempat kembali setiap muslim untuk memahami hukum-hukum Islam"

1. Menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber hukum tertinggi sebagaimana Jawaban Mu'adz Bin Jabbal sebelum diutus untuk memimpin Yaman,
Dari Mu'adz bin Jabal ra,bahwa Rosulullah SAW ketika akan mengirimnya ke yaman bertanya :"ya mu'adz bagaimana caranya engkau memutuskan perkara yang dibawa orang kepadamu?".."saya akan memutuskannya menurut yang tersebut dalam kitabullah"..Jawab mu'adz.

Nabi SAW bertanya lagi:"Kalau engkau tak menemukan hal itu dalam kitabullah,bagaimana?".Mu'adz menjawab:"saya akan memutuskannya menurut sunah rosul Nya".Lalu nabi SAW bertanya lagi:"Kalau hal itu tidak ditemukan juga dalam keduanya,yakni Kitabullah dan sunah rosul,bagaimana?".
Lalu mu'adz menjawab:"Jika tidak terdapat dalam keduanya saya akan berijtihad tanpa ragu sedikitpun".

Mendengar jawaban itu,nabi Muhammad SAW lalu meletakkan kedua tangannya kedada mu'adz dan berkata:"Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq utusan rosulullah,sehingga menyenangkan hati rosul-Nya".
(HR Imam Tirmidzi dan Abu Dawud).Lihat kitab shohih tirmidzi juz II/68 dan Sunan Abu Dawud juz III/303.

2. Dalam rangka menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber hukum tertinggi maka perlunya memahami secara baik dan benar sesuai manhaj salafussholih dan kholafusshalih serta ulama' - ulama' Mu'tabar. Sehingga tidak terjadi penafsiran Al-Qur'an dan Assunah yang menyimpang dan menyesatkan umat. Ia harus memahami Al-Quran sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, tanpa takalluf (memaksakan diri) dan ta'asuf (serampangan). Selanjutnya ia memahami sunnah suci melalui rijalul hadits (perawi hadits) yang terpercaya.

Dari pesan Beliau, Imam Syahid ingin kembali menegaskan bahwa dalam memahami Al-Qur'an tidak boleh secara serampangan sebab ada syarat - syarat atau metodologi baku yang oleh para Shalafusshalih dan Kholafusshalih gariskan bagaimana cara memahami Al-Qur'an yang baik dan benar. Sehingga tidak dibenarkan seseorang yang tidak mempunyai kompetensi dibidang tersebut menafsirkan ataupun berijtihad, sebab hal tersebut terlalu memaksakan. beliau tutup pesan beliau agar mengambil Hadits dari para perawi hadits yang terpercaya sebab kedudukannya sebagai bayan bagi Al-Qur'an.

Beberapa point kaidah - kaidah penting bagaimana memahami Al-Qur'an yang baik dan benar sesuai manhaj ahlussunah wal jamaah;
1. mengimani Al-Qur'an dengan benar
2. Berbekal kemampuan bahasa Al-Qur'an yang memadai
3. Penguasaan terhadap dasar - dasar tafsir Al-Qur'an
4.  Memahai Al-Qur'an melalui hadits shohih
5. Memahami Al-Quran melalui pemahaman dan penafsiran salafussholih
6. Merujuk pada kitab-kitab mu'tabar
7. Pemaduan antara ilmu, amal dan dakwah
8. membebaskan pemahaman terhadap al-quran dari batasan zaman dan tempat
9. Menjadikan Al-Qur'an sebagai imam dan makmum. sehingga membatasi diri dalam nalar kritis terhadap hal - hal ghaib dalam al-quran

Beberapa point bagaimana memahami Assunah sesuai dengan manhaj Ahlussunah wal jamaah
1. Mengimani kehujjahan As-Sunnah yang shahih (dan hasan) dalam ilmu, amal, fatwa dan dakwah Islam. Dan menolak dengan tegas segala bentuk pengingkaran terhadapnya, baik secara total maupun parsial, misalnya dengan mengingkari kehujjahan hadits âhâd, meskipun muttafaq ‘alaih, dalam masalah aqidah.

2. Mendahulukan teks wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah) atas logika dan akal. 
Ali radhiyallahu ’anhu berkata: ”Seandainya agama ini didasarkan pada logika, niscaya bagian bawah sepatu lebih berhak diusap daripada bagian atasnya. Dan aku telah menyaksikan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengusap bagian atas dari sepatu beliau” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Ibnu Hajar).

3. Memperhatikan (memastikan) faktor keshahihan hadits. 
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, bersabda: ”Barangsiapa mengada-adakan (dalam riwayat lain: mengamalkan) sesuatu yang tidak berdasarkan tuntunan kami, maka tertolaklah ia” (HR. Muttafaq ’alaih).
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda pula: ”Barangsiapa berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersiap-siap mengambil tempatnya di Neraka” (HR.Muttafaq ’alaih, bahkan mutawatir).

4. Merujuk (mengacu) kepada pemahaman generasi salafus saleh dan khalafus saleh serta penjelasan para ulama ahli hadits. 
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, bersabda: ”Sebaik-baik generasi adalah generasiku, lalu generasi sesudahnya, kemudian generasi sesudahnya lagi” 
(HR. Muttafaq ’alaih). 
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): ”Maka bertanyalah kepada ahli ilmu, jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl [16] : 43; QS. Al-Anbiya [21] : 17)

5. Memahami as-sunnah sesuai dengan konteks pemahaman menyeluruh terhadap ajaran Islam. 
Karena seluruh ajaran Islam dengan berbagai aspeknya merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisah-pisahkan.  
Dan pemahaman parsial itu salah, menyimpang dan kontradiktif.

6. Memahami As-sunnah sesuai dengan Al-Qur’an. 
As-Sunnah merupakan penjelasan, penafsiran dan aplikasi terhadap Al-Qur’an. Jika ada hadits yang nampak bertentangan dengan Al-Qur’an, 
maka ada 3 kemungkinan : 
1 - Mungkin hadits tersebut tidak shahih 
2 - atau pemahaman kita yang salah 
3 - atau klaim pertentangan itu tidak riil.

7. Menghimpun hadits-hadits terkait dalam satu tema/topik tertentu.
Untuk memperoleh pemahaman yang benar, utuh dan proporsional
Seluruh hadits berasal dari satu sumber: Rasulullah shallallahu ‘alaihi 
      wasallam, yang mana satu sama lain saling melengkapi dan menjelaskan
Agar terhindar dari pemahaman yang parsial dan sikap yang ghulu (berlebih-    lebihan) serta mutlak-mutlakan dalam masalah khilafiyah.             

8. Memadukan atau mentarjih diantara hadists-hadits dan riwayat-riwayat yang tampak saling bertentangan.
Langkah –langkah yang harus dilakukan dalam hal ini adalah :
a. Menghimpun seluruh hadits dan riwayat terkait
b. Mengetahui derajat kekuatan setiap riwayat
c. Memakai riwayat yang kuat dan menggugurkan yang lemah
d. Mendahulukan metode jama’ (memadukan) atas metode tarjih.
e. Mentarjih sesuai metodologi yang dibenarkan.

9. Tawazun antara dua metode pemahaman: tekstual dan kontekstual
Mengakui adanya kedua metode pemahaman tersebut
Menerapkan secara benar dan proporsional
Berdasarkan metodologi yang diakui di kalangan para ulama. Jadi bukan asal-asalan dan tidak memperturutkan hawa nafsu.

10. Membedakan antara hal-hal / masalah-masalah ghoib dan non ghoib
Menerima, mengimani dan meyakini seluruh berita tentang hal-hal ghoib yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih, dengan tanpa membedakan antaa yang mutawatir dan yang ahad, baik itu tentang peristiwa-peristiwa yang telah lalu maupun kejadian-kejadian yang akan datang.
Tidak mengedepankan logika dalam menyikapi berita-berita tentang alam ghoib
Mengimani hal-hal ghaib apa adanya, lalu fokus pada aspek-aspek aplikatif di balik keimanan itu.

11. Mengimani dengan benar arti dan maksud kata-kata dan istilah-istilah yang ada dalam teks hadits.
Kekhasan bahasa hadits dan tingkat ketinggiannya kedua setelah Al-Qur’an.
Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam dikaruniai jawami’ul kalim (kemampuan mengucapkan kata-kata pendek dan singkat dengan kandungan makna yang padat, dalam dan luas).
Hadits adalah sumber hukum kedua sesudah Al-Qur’an, maka harus teliti dan berhati-hati dalam memahaminya karena jika tidak bisa fatal akibatnya.

12. Memahami As-sunnah sesuai dengan konteks peristiwa, latar belakang dan tujuan (asbabul wurud).
Contoh kesalahan memahami hadits karena tidak mengetahui “asbabul wurud”.

13. Memahami As-Sunnah sesuai dengan kaidah-kaidah dan metodologi yang diakui di kalangan para ulama hadits.
Mengakui dan menghormati spesialisasi 
Ilmu hadits merupakan salah satu spesialisasi ilmu syar’i yang paling banyak mendapatkan porsi perhatian dan kajian dari para ulama yang tidak terhitung jumlahnya sepanjang sejarah, sehingga meninggalkan khazanah ilmiah yang luar biasa.
Keharusan mewarisi riwayat-riwayat hadits lengkap dengan kaidah-kaidah ilmiahnya, pemahaman-pemahamannya dan bentuk-bentuk aplikasinya dalam bingkai madzhab-madzhab para imam yang diakui.


Sekuat Yusuf, Setegar Muhammad SAW

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّـيْطٰنِ الرَّجِيْمِ
بسم الله الرحمن الرحيم

Surat Yusuf Ayat 1
Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).

Surat Yusuf Ayat 2
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.

Surat Yusuf Ayat 3
Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.


Surat Yusuf Ayat 111
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Menarik sekali kalau kita cermati Qur'an Surat Yusuf ini, Surat yang secara khusus dan lengkap menceritakan kisah Nabi Yusuf Alaihissalam dari sejak kecil mendapatkan mimpi sampai menjadi menteri.

Coba kita perhatikan awalan Surat tersebut  dari ayat 1 sampai 3. Allah menegaskan, bahwa kisah dalam ayat - ayat selanjutnya bukanlah kisah yang sia - sia, bahkan Allah secara tegas mengatakan Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik, Kisah terbaik sebagai peneguh perjuangan dakwah Nabi Muhammad SAW. Kemudian cermatilah ayat penutup dari surat dari surat ini, Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. 

Awal surat Allah menegaskan bahwa ini adalah kisah yang paling baik, manusia mulia dengan segala lika - liku perjalanannya, kemudian Allah menutup dengan penegasan dan penekanan kembali tentang semua kisah yang ada di dalamnya dengan kalimat Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Allah memberikan free will kepada para pembaca, mengambil hikmah atau tidak, mengambil ibroh atau melawatkan begitu saja terhadap surat ini.

Terdapat kata 'ibroh yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa indonesia sebagai pengajaran. Salah satu makna Ibroh adalah jembatan yang menghubungkan atau untuk menyebrang. Jadi kisah dalam sejarah yang diceritakan oleh Al-Qur'an menjadi penghubung antara kita hari ini dengan apa yang terjadi di masa lampau, sehingga menjadi pelajaran bagi yang membaca hari ini jika mereka menggunakan akalnya. 

Dan perlu ada dalam catatan pada kita, bahwa sejarah adalah 1/3 isi Al-Qur'an. Al-Qur'an yang menjadi petunjuk hidup dan tuntutan umat islam berupa kisah - kisah yang menyejarah, ada tauhid, muamalah dan jihad di dalam kisah - kisahnya. Maka perlu kiranya kita kembali membaca surat yusuf ini sebagai refleksi kita hari ini.

Kisah Nabi Yusuf ini Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW ketika kira-kira 10 tahun masa kenabian. Nabi SAW yang saat itu mengalami kepedihan duka yang dalam, sampai - sampai dalam siroh dikenal tahun duka (Amul Huzn),  Hal itu dikarenakan pada tahun tersebut Ummul Mukminin Khadijah –radhiyallahu ‘anha– dan Abu Thalib, paman Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang membela Nabi dari ancaman pada kafir Quraisy juga wafat. Jarak waktu kematian keduanya sangatlah dekat. Kemudian beliau berdakwah ke thaif, namun sesampainya disana mendapat sambutan ludah dan lemparan batu hingga berdarah Nabi SAW.

Bertumpuk - tumpuk kesedihan Nabi Muhammad, mengalami duka yang begitu dalam dan saat yang berat di dalam dakwahnya, Allah menurunkan kisah terbaik, Kisah Yusuf Alaihissalam sebagai peneguh dan pengokoh jiwa Nabi Muhammad SAW. Allah seolah - olah ingin menghibur, memberikan pengajaran pada Nabi Muhammad bahwa apa yang dilaluinya sama beratnya dengan apa yang dilalui oleh Nabi Yusuf Alaihissalam. Sehingga tidak pantas Nabi SAW untuk bersedih hati.

Bagaimana kesedihan yang dialami oleh Nabi Yusuf, sejak kecil dijauhkan oleh saudara - saudaranya yang iri kepadanya, menurut hasan albashri ira - kira 80 tahun. Dibuang di dalam sumur dan kemudian ditemukan oleh khafilah dagang, dijadikan komoditas dagang budak. Hingga akhirnya dijual kepada pejabat negeri mesir, menjadi budak di kerajaan. Istri pejabat itu kemudian tergoda dan mengajak yusuf berzina, difitnah kemudian di penjara tanpa penghakiman. Di penjara kemudian berdakwah dan menafsirkan mimpi temannya dan berpesan agar disampaikan bahwa dia di zalimi. Namun sayangnya teman yang sudah ditafsirkan mimpunya dan bebas dari penjara lupa menyampaikan. Hingga akhirnya raja mempunyai mimpi dan barulah yusuf di panggil untuk menafsirkan mimpi kemudian diangkat sebagai menteri pangan saat menghadapi musim paceklik panjang di mesir. 

Karena sudah kangennya kepada Orang tuanya dan saudaranya, Nabi Yusuf membuat skenario agar orang tua dan saudaranya ke mesir dan bertemu. Singkat kisah keduanya bertemu dan Nabi Yusuf mendapati orang tuanya (yaqub) sudah buta karena kebanyakan menangis meskipun ia tahu bahwa sebenarnya Nabi Yusuf belum meninggal. Kemudian Nabi Yusuf bertemu dengan saudaranya yang dahulu meninggalkannya di sumur, dan kemudian Nabi Yusuf berkata pada sauda-saudaranya 
لاَ تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ


Begitu mendalamnya kesan Nabi terhadap kisah Nabi Yusuf, sehingga dalam fathul makkah, ketika semua pembesar - pembesar quraisy telah menyerah dan berada di hadapan Nabi SAW, kemudian Nabi berkata kepada para pembesar quraisy,
“Orang-orang Quraisy. Menurut pendapat kamu, apa yang akan kuperbuat terhadap kamu sekarang?”
“Yang baik-baik. Saudara yang pemurah, sepupu yang pemurah.” jawab mereka.
Kemudian Nabi Muhammad menyitir apa yang Nabi Yusuf sampaikan kepada para saudaranya yang dulu membuangnya ke sumur dan membuat sengsara. 
Beliau bersabda, “Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudaranya:

لاَ تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ

‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah mengampuni kalian. Dia Maha penyayang.’ Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian telah bebas!” (as-Sirah an-Nabawiyah oleh Ibnu Hisyam, 5/74).

Waulallhu 'alam bishowab

Sunday, December 27, 2015

Islamic World View

[Seri Ushul Isyrin]

Asas Pertama

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا 
.  Al-Maidah 3   

الإِسْلاَمُ نِظَامٌ شَامِلٌ يَتَنَاوَلُ مَظَاهِرُ الْحَيَاةِ جَمِيْعًا فَهُوَ دَوْلَةٌ وَوَطَنٌ أَوْ حُكُوْمَةٌ وَأُمَّةٌ، وَهُوَ خُلُقٌ وَقُوَّةٌ أَوْ رَحْمَةٌ وَعَدَالَةٌ، وَهُوَ ثَقَافَةٌ وَقَانُوْنٌ أَوْ عِلْمٌ وَقَضَاءٌ، وَهُوَ مَادَةٌ وَثَرْوَةٌ أََوْ كَسْبٌ وَغِنَى، وَهُوَ جِهَادٌ وَدَعْوَةٌ أَوْ جَيْشٌ وَفِكْرَةٌ، كَمَا هُوَ عَقِيْدَةٌ صَادِقَةٌ وَعِبَادَةٌ صَحِيْحَةٌ سَوَاءٌ بِسَوَاءٍ
Islam adalah agama yang menyeluruh, mencakup semua bidang kehidupan; Islam adalah negara dan watan atau pemerintah dan umat. Akhlak dan kekuatan atau rahmat dan keadilan. Pengetahuan dan undang-undang atau ilmu dan kehakiman. Kebendaan dan harta atau usaha dan kekayaan. Jihad dan dakwah atau tentara dan fikrah. Akidah yang benar dan ibadah yang sah tidak kurang tidak lebih.
Seperti yang telah di muqodimah sebelumnya, bahwa munculnya risalah ushul isyrin ini adalah jeritan kegelisahan imam syahid hasan Albanna yang melihat dunia islam dan umat muslim sudah mulai teracuni sekulerisme yang di mulai sejak runtuhnya khilafah utsmani di Turki. Jamaah Ikhwanul Muslimin berdiri di kota Ismailiyah, Mesir pada Maret 1928, dua tahun setelah runtuhnya khilfah utsmani oleh gerakan turki muda yang berhaluan sekuler di bawah pimpinan Kemal Pasha dan dukungan penuh dari freemason.

Hegemoni kelompok sekuler begitu cepat menyebar ditubuh umat islam, dunia islam yang saat itu merasa kecil, sebagai bangsa inferior kemudian bersikap terbuka menerima gagasan sekuler untuk memajukan negaranya. Sebab nilai sekularisme yang memposisikan negara dan agama pada kutub yang saling bersebrangan dan bertolak belakang sehingga membuat umat islam semakin jauh dari islam. Hal ini oleh Hasan Albanna dianggap sebagai sesuatu yang serius dan harus segera ditanggapi agar umat islam tidak semakin larut dalam arus sekularisme, nasionalisme dan isme - isme yang lain. Oleh sebab itulah didalam poin - point penjelasan pada asas pertama ini, Imam Hasan Albanna mencoba menjelaskan bagaimana kedudukan isme - isme yang lain di hadapan Islam.

Kita harus tahu, bahwa gerakan pembaharuan Hasan Albanna adalah sebuah gerakan yang sudah terinspirasi sebelumnya dari sang guru gerakan pembaharuan islam (pan islamisme), Muhammad abduh dan Jamaluddin Alafgani (1839-1897). Mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa inspirasi gerakan pembahuan pada dekade 1920-an adalah gerakan - gerakan yang terispirasi dari kedua tokoh pembaharu itu. Sebutlah Muhammadiyah (1911), Serekat Islam (1911) dan Jamaah Alkhairiyah (1906) yang menyebar di Indonesia, adalah gerakan - gerakan yang melanjutkan pemikiran pembaharuan kedua tokoh tersebut dengan konteks masing - masing wilayah garapan.

Hasan Albanna sendiri masih mempunyai hubungan erat dengan Muhammad Abduh dalam proyek tafsir almannar, tafsir yang mengabungkan ayat, ilmu pengerahuan dan kondisi realita muslim saat itu. Bahkan Hasan Albanna masih sempat melanjutkan sampai surat ke 13 tafsir Almannar setelah Muhammad Abduh wafat dan sebelum dibredelnya penerbitan brosur pekanan tafsir almannar. 

Islamic World View

Asas pertama dalam duapuluh prinsip dakwah ikhwanul muslimin yang coba digariskan oleh Imam Hasan Albanna adalah tentang Islam sebagai suatu cara pandang dalam kehidupan dan memposisikan islam sebagai agama yang sempurna untuk menakar pemikiran apapun. Meminjam Istilah Prof. Syaih Nuquib AlAttas sebagai Islamic World View, cara pandang islam, ru'yatul islam lil wujud, bagaimana islam memandang sesuatu yang wujud. Sebab syumuliyatul Islam yang digambarkan oleh Hasan Albanna pada kalimat "Islam adalah agama yang menyeluruh, mencakup semua bidang kehidupan".

Rumusan yang sangat tepat karena islam adalah antitesa dari sekularisme. Musuh terbesar sekularisme adalah agama dan kepercayaan terhadap sesuatu yang tidak tampak. Disisi lain Dakwah Ikhwan juga memperlihatkan bahwa tidak ada dikotomi antara dunia dan akhirat, duniawi dan ukhrowi. Semua adalah kesatuan dalam rangka menjadi kholifah fil ardh. sampai beliau dalam asas pertama ini memberikan contoh yang detail terkait kesempurnaan islam sebagai sebuah padangan hidup.
" Islam adalah negara dan watan atau pemerintah dan umat. Akhlak dan kekuatan atau rahmat dan keadilan. Pengetahuan dan undang-undang atau ilmu dan kehakiman. Kebendaan dan harta atau usaha dan kekayaan. Jihad dan dakwah atau tentara dan fikrah."

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ 
Ali Imran 19

Mengapa Kemudian Imam Hasan Albanna menjadikan asas pertama adalah islamic world view ? hal ini tentu karena islam merupakan agama yang mempunyai karakteristik; Islam adalah Agama Wahyu, Islam adalah agama yang bersumber pada wahyu dan bukan hasil spekulasi atau pengalaman hidup, Islam bukan hasil ijtihad manusia. Islam yang berdasarkan wahyu sehingga nilai - nilai yang terkandungnya adalah bersifat kekal, tidak berubah. Selain itu dari segi nama "islam" merupakan nama yang langsung Allah berikan dan pengikutnya disebut sebagai muslim. 

Disisi lain, islam memberikan posisi akal pada maqomnya, yang berbeda dengan sekuler yang membebaskan akal tanpa batas bahkan sampai menilai tuhan. Kendati demikian, maqom akal dalam islam harus kita pahami bahwa keseluruhan dari aqidah ini mendapat pembenaran dari akal dan dikukuhkan oleh analisa yang benar. oleh karena itulah, Allah memuliakan akal dengan menjadikannya sebagai salah satu syarat mukallaf (pemikul beban syariat). Islam menjadikannya sebagai faktor adanya taklif (kewajiban menjalankan agama) dan memerintahkannya untuk selalu meneliti, menganalisa, dan berpikir. Allah swt. Berfirman.
قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الْآَيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ
“Katakanlah, ‘Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman. ” (Yunus: 101)
أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ . وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ . تَبْصِرَةً وَذِكْرَى لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ . وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ . وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَهَا طَلْعٌ نَضِيدٌ . رِزْقًا لِلْعِبَادِ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا كَذَلِكَ الْخُرُوجُ
“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya, dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (Qaaf 6-11)

Pada bagian akhir kalimat pada asas pertama ini, Imam Hasan Albanna coba menegaskan kembali posisi antara hakekat dan syari'at secara benar.Akidah yang benar dan ibadah yang sah tidak kurang tidak lebih. Maka kalau kita lihat penjelasan dalam risalah 'aqoid akan kita dapati penjelasan tentang aqidah yang oleh beliau ditegaskan dalam asas pertaman ini dan beberapa point dalam risalah Alfahmu.

Point penekanan pada risalah pertama ini adalah Islam sebagai agama yang sempurna hendaknya dijadikan oleh seluruh umat islam dalam mamandang apa - apa yang baru, diluar islam. Sehingga bisa dikatakan islam adalah filter dari semua paham - paham yang berada diluarnya. Sehingga umat islam tidak bersikap ekstrem menolak atau menerima apa pun yang berada diluarnya tetapi cara pandang islam menjadi filter dari itu semua. kedua islam sebagai agama yang menyeluruh hendaknya diterapkan dalam segala aspek kehidupan tanpa terkecuali. 

waullahu 'alam bishowab