Monday, July 27, 2015

Catatan Akhir Ramadhan (3)

Nyekar

Salah satu bagian dari tradisi orang – orang di sekitar saya ketika menjelang ramadhan ataupun idul fitri adalah nyekar. Nyekar berasal dari kata sekar (bahasa jawa) atau dalam bahasa Indonesia berarti Bunga. Mendapat imbuhan Ny- yang kemudian berarti melakukan. Sehingga tradisi Nyekar adalah tradisi menabur bunga di makam orang tua atau sanak saudara. Umumnya yang paling ramai adalah waktu menjelang ramadhan atau menjelang idul fitri. Meskipun sebenarnya para ulama menganjurkan untuk melakukan setiap hari kamis sore atau malam jum’at. Namun tidak hanya menabur bunga, membersihkan makan dan menyiram air wangi, orang – orang yang berdatangkan ke makam juga mendo’a kan orang tua atau sanak saudara yang telah mendahuli, biasanya berbekal buku yasin yang diperoleh dari acara 100 hari kematian.
Dulu saya sering ikut paman untuk melakukan nyekar, namun sudah beberapa tahun terakhir ini saya sudah tidak dapat ikut sebab setiap awal ramadhan pasti di perantauan atau kalau pas akhir ramadhan menjelang idul fitri ternyata paman gak ke makam. Datang sendiri ? maaf, saya tidak hafal di mana letak makam kakek saya dari jalur ibu dan saudara – saudara yang lain. Sehingga jika tidak bersama sanak saudara pasti akan salah makam orang lain.
Dua tahun lalu saya tidak ikut nyekar, namun hanya bersepeda keliling kampung sekitar rumah tempat tinggal saya. hampir semua makan yang saya lewati tidak ada yang sepi, semua penuh dengan pengunjung, dan hal ini adalah rezeki bagi para pedangan bunga dadakan. Biasanya harga perbungkus bunga sekitar Rp 2500 – Rp.3000.
Ada pengalaman menarik yang menurut saya tidak biasa. Sebab memang baru itu saya menemui kejadian tersebut. Ada dua sepasang suami istri pergi ke makam (mungkin) orang tuanya, membawa rantang yang entah berisi apa. Saya hanya melihat dari jauh, sebab ketika itu saya sedang berada di depan makam kakek saya. Saya hanya melihat dari kejauhan apa yang akan mereka lakukan dengan rantang yang dibawa ke makam. Apakah mereka akan makan bersama ? kan belum waktunya buka. Sesaat kemudian saya melihat ibu itu menuangkan isi rantang itu ke makam. Oh, air yang wangi itu mungkin, pikir saya.
Setelah saya selasai di makam kakek saya, saya sempatkan untuk melihat tempat yang tadi dikunjungi sepasang suami istri tadi. Saya masih penasaran dengan apa yang ada di dalam rantang tadi. Sebab hal itu tidak biasa, biasanya orang datang hanya dengan membawa sebungkus bunga. Begitu saya sampai di makam yang dikunjungi pasangan tersebut, ternyata yang mereka adalah soto (mungkin) kesenangan orang yang di dalam makam. Begitu cintanya kedua orang tadi sampai – sampai meskipun sudah meninggal masih dibawakan soto.

Ah.. namun sayangnya sampai hari ini saya belum pernah menemukan anak muda seusia saya melakukan nyekar dan kemudian mendo’a kan di makam sanak saudaranya. Mungkin mereka sudah mendo’a kan dari rumah dan khusus di setiap akhir dzikir setelah sholat. Dan semoga bukan karena mereka sudah tidak ingat dengan sanak saudara yang sudah mendahului atau orang tua nya yang telah tiada.

Sunday, July 26, 2015

Catatan Akhir Ramadhan

Tak perlu berterimakasih untuk sebuah kewajiban

Pekerjaan tambahan saya setiap akhir ramadhan, terutama saat tanggal 28 – 29 ramadhan adalah menjadi kurir amplop berisikan titipan sejumlah amplop untuk diantarkan kepada orang yang tertera di amplop. Yaaa.. amplop berisi sejumlah uang yang diakad kan sebagai zakat mal yang dikalkulasi dalam setahun dan dibagikan tiap ramadhan, juga infaq dan shodaqoh. Tugas saya adalah mengantarkan uang tersebut dari rumah ke rumah dan tanpa menyebut dari siapa kalau tidak ditanya. Kebetulan sekitar tempat tinggal saya tahun ini tidak ada panitia pengumpulan zakat, apalagi LAZ yang memang bekerja focus menangani masalah ZISWAF. Tulisan ini hanyalah sedikit pengalaman dari hasil mengetuk pintu satu ke pintu yang lain.
Pasti kita sudah dapat menebak, bagaimana ekspresi orang yang mendapat kiriman amplop dari muzzaki tersebut. Ada yang wajah berbinar berucap Alhamdulillah dan berulang kali kata terimakasih. Memang tidak salah sebenarnya dan memang seharusnya bersyukur kepada Allah dengan ucapan Alhamdulillah. Namun untuk terimakasih?, yah, mungkin hanya untuk kepantasan saja mereka yang menerima amplop itu berucap terimakasih, orang jawa mengistilahkan abang – abange lambe. Kalaupun tidak berucap terimakasih pun wajar dan orang yang memberi tidak perlu kesal dengan sikap itu. Hmm, mungkin kebanyakan orang akan berfikir mengapa tidak perlu mengucapkan terimakasih.
Mungkin kita perlu mengingat pesan kanjeng Nabi SAW tentang setiap rezeki yang kita terima, “Bahwa disetiap rezeki yang kita terima ada hak orang lain”. Perlu saya tegaskan HAK ORANG LAIN. Hak itu jika berupa zakat sudah diatur siapa saja yang menjadi penerima HAK tersebut dalam 8 golongan, sedangkan untuk infaq dan shodaqoh lebih fleksibel. Sebab itu sudah menjadi HAK orang lain, maka mau tidak mau, suka tidak suka, kita wajib memberikan HAK itu. Jika kita tidak memberikannya, maka kita termasuk memakan HAK orang lain dan anda lebih paham ancaman dari Nabi bagi para pemakan hak saudaranya.
Sehingga sah – sah saja jika orang yang menerima zakat, infaq atau shodaqoh  tidak mengucapkan berterimakasih orang yang memberik Zakat, infaq atau shodaqoh.. lha wong itu sudah hak mereka yang memang harus diterima. Mungkin itulah salah satu manfaat adanya amil zakat, orang yang memberi dan menerima tidak perlu langsung bertemu sehingga jika tidak mengucapkan terimakasih kepada pemberi tidak terjadi kemarahan dan sebagainya. Meskipun saya juga kadang masih berfikir ulang jika pada penyalurannya tidak sampai pada orang yang di sekitar tempat tinggal saya. (lebih lengkapnya baca tulisan ini)
Padahal kalau kita merenung lebih jauh, keberadaan 8 golongan penerima zakat adalah keuntungan bagi para muzzaki, yang tujuannya untuk menyucikan harta – hartanya. Tapi jangan anda berfikir kalau koruptor akan suci harta hasil korupsi dengan berzakat, beda hitungan itu. kembali lagi, kalau kita merenung lebih jauh, coba bayangkan kalau para 8 golongan yang berhak mendapatkan zakat itu menolak. Mau kita kasihkan kepada siapa ? atau sudah tidak ada yang mau menerima zakat, bagaimana menyucikan harta kita?

Mungkin seharusnya orang yang mengucapkan berterimakasih adalah para muzzaki, bukan mustaqiq. Dan kalau hanya mengeluarkan zakat atau infaq dan shodaqoh sekedarnya saja, orang harusnya tidak perlu jumawa, lha woang itu sudah kewajiban. Kewajiban itu hanya standar rendah saja. kebacut kalau standar bawah tidak sampai. Maka jika anda mendapati orang tidak mengucapkan terimakasih kepada anda atas pemberian zakat, infaq atau shodaqoh, anda tidak perlu marah dan andalah seharusnya yang berterima kasih kepada mereka. Sebab mereka telah mau membatu anda membersihkan harta dan jiwa anda.

Catatan Akhir Ramadhan (2)

Riak Zakat, Infaq dan Shodaqoh kita

Alhamdulillah, kesadaran masyarakat atas kewajiban mereka terhadap harta yang diterima sudah sangat bagus. Bisa kita lihat dengan semakin menjamurnya Lembaga – lembaga  Amil Zakat, Infaq, shodaqoh dan juga Wakaf. Hampir semua organisasi masyarakat mempunyai LAZ, Nahdhotul “Ulama dengan LAZNU, Muhammadiyah dengan LAZIZMU dan sebagainya. Belum lagi milik organisasi non pemerintahan dan yayasan seperti Yayasan Nurul Hayat (NH), Lembaga Manajemen Infaq (LMI), Yayasan Dana Sosial Al – Falah (YDSF), Rumah Zakat dan sebagainya. Pemerintah juga mempunyai Lembaga besar, Badan Amil Zakat (BAZ) baik ditingkat pusat maupun provinsi. Dari semua lembaga yang telah disebutkan tadi, tidak ada yang tidak mempunyai donator tetap dan orang yang menyalurkan ZIS (Zakat, Infaq, Shodaqoh) sudah mencapai puluhan ribu hingga ratusan ribu orang melalui lembaga tersebut. Apalagi sekarang pemerintah juga semakin memudahkan  dengan adanya peraturan bahwa dengan mengeluarkan zakat, pajak penghasilan dapat berkurang.
Memang, banyak manfaat dengan adanyanya lembaga – lembaga yang konsen terhadap pengelolaan ZIS, mulai mendata muzzaki, mustaqiq, mengingatkan waktunya zakat, dan menyalurkan kepada yang berhak. Salah satu manfaat dari penyaluran zakat melalui amil adalah tersturkturnya data para muzzaki dan mustaqiq, juga dapat menghindari hutang budi antara pemberi dan penerima (meskipun seharusnya tidak demikian. Baca tulisan ini). Banyak pendapat dari para ulama dan penggiat zakat agar penyaluran zakat, infaq dan shodaqoh lebih baik melalui amil dan bukan perorangan. Melihat banyaknya manfaat jika penyaluran melalui amil bukan perorangan apalagi sampai menimbulkan korban.
Saya sangat sepakat dengan para ulama yang menyerukan agar umat menyalurkan zakat melalui amil zakat yang amanah. Namun kadang saya berfikir ulang, jika amil zakat itu jauh dari tempat tinggal saya. apakah nanti penyaluran zakat, infaq, shodaqoh itu sampai pada tetangga saya?. mengingat kadang tetangga saya jika diukur dari lingkungan sekitar perlu mendapat bantuan, sedangakan menurut lembaga amil zakat belum masuk kriteria yang berhak mendapatkannya.
Mengapa kita perlu berfikir tentang tentang hal diatas? sebab kita juga harus berfikir tentang kemanfaatan diri kita terhadap lingkungan sekitar. Kalau anda kaya dan kemudian menyalurkan ZIS anda melalui amil, kebetulan penyaluran ZIS anda sedikit atau tidak sama sekali menyentuh orang di kanan – kiri anda, tentu hal itu akan menjadi bahan omongan orang sekitar. Meskipun secara kewajiban kita sudah selesai karena sudah menyalurkan melalui amil. Namun, dari sisi kemanfaatan rasanya kita kurang bermanfaat kepada masyarakat sekitar. Jika orang di sekitar anda adalah orang yang mampu, lihat agak keluar lingkungan anda. Nabi saja menyarankan kalau mengundang acara makan – makan itu 40 rumah ke kanan dan kiri rumah kita, begitu pula jika depan atau belakang rumah kita. Artinya itulah yang menjadi tetangga kita.
Sehingga, jika memang anda ingin memberikan ZIS melalui Amil, saya sarankan untuk sekalian memberikan list atau daftar nama penerima yang itu adalah orang – orang sekitar anda. Hal ini untuk menghindari tidak sampainya ZIS yang anda keluarkan kepada lingkungan anda. Sebab anda hidup dilingkungan yang harusnya anda bermanfaat bagi orang di sekitar anda. Bagaimana mungkin kita tidur dalam rasa kenyang, bila tetangga anda tidak bisa tidur atau tidur karena sangat kelaparan ?

Ibarat kita melempar batu kedalam kola, akan terjadi riak gelombang dari tempat jatuh batu itu hingga akhirnya menyebar sampai seluruh kolam. Maka, kemanfaatan kita baik dari harta (ZIS) atau yang lain seharusnya mirip dengan riak – riak gelombang tadi. Sekitar kita sampai seluruh kolam.

Hak Asasi Ndasmu


Disahkannya pernikahan sesama jenis di Amerika oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat (26/06/2015) semakin menguatkan keinginan orang – orang yang selama ini berkiblat kepada Negeri Adidaya tersebut untuk memperjuangankan hal yang sama di Negaranya, termasuk di Indonesia. Meskipun memang sudah menjadi realitas di masyarakat bahwa ada sebagain orang yang memilih menjalani hidup dengan orientasi seksual yang berbeda dari kebanyakan masyarakat. Namun sekarang perjuangan mereka ingin mendapat pengakuan sipil sehingga apa yang mereka lakukan mendapat legalitas hukum dan bukan sesuatu yang menyimpang atau dianggap penyakit. Dengan berada dibawah payung Hak Asasi Manusia, mereka berteriak lantang dan terang – terangan mengakui bahwa mereka adalah seorang lesbian atau gay. Hak Asasi Manusia seolah menjadi payung pembenaran terhadap penyimpangan tersebut dan menjadi temeng ketika mereka dihujat.
Teriakan ini hak kami untuk memilih hidup seperti ini, “lha wong ini hidup – hidup kami, ya hak kami untuk memilih hidup seperti apa”.” Woo.. Hak asasi Ndasmu”.  Pandangan sekuler tentang hak asasi yang kemudian menceraikan agama dan kehidupan adalah menjadi pangkal dari semuanya. Hak asasi tidak ada lagi hubungannya dengan agama. Bahkan melanggar agama juga tidak jadi masalah, lha iu juga pilihan hidup. Sebab dari negera asalnya Hak asasi manusia memang orang sudah hidup terpisah dari agama. Sayanganya negera pengimpor ide – ide Hak Asasi manusia sudah tidak lagi melihat itu dan menerimanya apa adanya.
Benarkah kita mempunyai Hak ? Hak asasi? Hak atas hidup kita sendiri?. Dunia barat tak bertuhan tentu tidak mengenal hubungan yang intens antara Sang Pencipta dengan yang dicipta. Mereka tak berfikir mengapa mereka ada di dunia dan siapa yang menciptakannya. Pikiran mereka semua hal itu terjadi begitu saja sesuai hukum alam atau mereka berfikir tuhan telah pensiun setelah menciptakan manusia dan alam.
Namun jika yang berteriak HAK ASASI MANUSIA itu seorang muslim, apakah dia berteriak dengan nada dan pemahaman yang sama dengan orang – orang barat yang tidak mengenal Tuhan?
Seorang muslim pasti pernah tahu kalimat yang dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah), Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun, Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Kalimat pernyataan tersebut telah menjadi ikrar bahwa sejatinya kita akan kembali kepada Allah SWT, sehingga sebenarnya yang ada pada diri kita bukanlah hak milik kita, sebab ia akan dikembalikan. Maka, masihkah kita berkata Hak Asasi Manusia diatas pemikiran kebebasan sepenuhnya untuk mengatur hidup kita ?. Padahal yang sesungguhnya adalah kita tidak mempunyai kedaulatan atas hidup kita. Allah menurunkan Al-Qur’an untuk menjadi guide hidup kita, Nabi Muhammad sebagai role model, sehingga jika tidak mengikuti guide dan mencontoh role model kita akan menjadi barang gagal ketika dikembalikan. Sejatinya kita hanya diberi hak pinjam atas semuanya yang nanti akan dikembalikan, bukan hak milik yang selamanya menjadi milik kita.
Oleh sebab itu, teriakan – teriakan Hak Asasi itu perlu kita teriakan dengan nada dan semangat berbeda sehingga kita tidak terjebak dalam alam pikiran barat yang mendefinisikan hak asasi sebagai Hak milik, bukan hak pinjam. Sebab dari pemikiran dasar inilah nantinya akan berkembang pada pola tingkah laku setiap individu.

Hak Asasi kita adalah Hak pinjam yang telah diatur oleh Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sehingga ketika kita kembali masih sama seperti pertama kali kita pinjam.

Monday, July 6, 2015

ihdinashirotol mustaqim

salah satu surat dalam Al-Qur'an yang sering dibaca adalah Al-Fatihah, sering disebut juga dengan tujuh ayat yang diulang. Minimal orang membacanya 17 kali dalam sehari semalam, kalau ditambah sholat sunnah, yaa.. tinggal nambahkan dan mengalikan saja. Tujuh ayat yang juga disebut ummul Kitab, Induknya kitab, sebab disitulah inti dari Al-Qur'an, Al-Baqoroh sampai annas adalah penjabaran dari tujuh ayat tersebut. Tujuh ayat yang didalamnya terdapat adab, menyanjung dan kemudian meminta. Separo untuk Allah dan separo untuk hambanya, Separo berisi pujian, separo berisikan permintaan.
Salah satu permintaan yang ada didalam ayat surah tersebut adalah Ihdinashirotol Mustaqiim, dalam terjemahan Al-Qur'an Depag artinya, 
Tunjukanlah kami jalan yang lurus
Apa jalan lurus itu ?
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan jalan yang sesat.
begitulah penjelasan yang terdapat dalam surah al fatihah, bahwa Ihdinashirotol mustaqim adalah jalan yang lurus dan jalanorang - orang yang Allah beri mereka nikmat dan bukan jalan orang - orang yang dimurkai.

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya kemudian merincikan, siapa saja yang termasuk kedalam orang - orang yang telah Allah beri nikmat.
 "Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqun, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah kurnia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui." (An-Nisa': 69 -- 70).

oleh karena itu, jalan yang lurus bukanlah jalan yang datar lagi mudah dilalui, kadang ia terjal mendaki yang dapat membuat putus asa, turunan yang curam yang bisa menggelincirkan.

Jalan yang lurus itu berarti..
jalan yang dilalui Nabi Nuh A.S, yang berdakwah sepanjang hidupnya dan dianggap gila karena membuat perahu diatas gunung.
Jalan yang dilalui Nabi Ayub A.S, dengan ujian penyakit yang bertahun - tahun, harta benda yang diambil seketika, dijauhi oleh orang - orang di sekitar sampai kemudian istrinya juga meninggalkannya sendirian karena tidak kuat dengan penyakit yang diderita oleh Nabi Ayub.
berarti juga, Jalan yang lurus itu adalah jalannya Bunda Maryam, wanita pilihan atas seluruh alam yang mengabdikan hidupnya kepada 

Wednesday, June 17, 2015

Prioritas Ibadah Ramadhan

PRIORITAS IBADAH RAMADHAN
oleh : Ustadz Mudhofar Jufri M.A (IKADI Jawa Timur) )

Di dalam Islam, pada setiap momen selalu ada amal ibadah spesial yang lebih diprioritaskan daripada lainnya. Dan prioritas amal ibadah spesial pada bulan Ramadhan, secara umum, minimal ada enam:
1. Puasa yang tentu saja merupakan primadona utama.
2. Shalat, baik yang fardhu maupun yang sunnah wabilkhusus qiyamullail.
3. Tilawah Al-Qur'an. Sampai2 para ulama salafus saleh dan khalafus saleh dulu biasa meliburkan seluruh majelis taklim mereka selama Ramadhan, agar bisa lebih total dalam upaya mengistimewakan bulan termulia dengan tilawah sebanyak2nya.
4. Dzikir, doa dan istighfar. Karena Ramadhan memang merupakan salah satu momentum terspesial bagi pengabulan doa dan pengampunan dosa.
5. I'tikaf, khususnya pada sepuluh malam terakhir, sebagai sarana terbaik untuk menggapai kemuliaan lailatul qadar.
6. Infak dan sedekah sesuai teladan Baginda Rasulullah SAW.

Itulah enam amal ibadah terspesial dan teristimewa yang sangat dianjurkan agar lebih diprioritaskan, selagi bisa, selama bulan suci nan mulia. Dimana kaidahnya, selama memiliki kemampuan dan keleluasaan, hendaknya masing2 kita senantiasa bermujahadah (berupaya keras seoptimal mungkin) untuk mengistimewakan, memprioritaskan dan mengutamakannya atas amal2 lainnya. Itu bagi siapa saja yang secara umum berada dalam kesanggupan, kelonggaran dan keleluasaan.
Adapun bagi yang memiliki keterbatasan atau halangan tertentu, sehingga tidak kuasa atau tidak leluasa untuk melakukan sebagian diantara amal2 ibadah prioritas tersebut, maka ia bisa dan leluasa menggantinya dengan amal ibadah apapun lainnya yang masih mampu diupayakannya sesuai situasi, kondisi dan kesanggupannya. Dan insyaallah nilai serta pahalanya tetap berpotensi setara atau bahkan mungkin bisa lebih tinggi juga. Karena sejatinya, amal saleh dan ibadah apapun yang dilakukan oleh seorang muslim/muslimah selama momentum berbarakah Ramadhan, tetap memiliki nilai keistimewaan yang spesial dan potensi balasan pahala yang berlipat ganda. Tentu saja selama ditunaikan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan agama.
Maka, selamat bersyukur sebenar2nya atas kenikmatan luar biasa ini, dengan menjujurkan tekad, mengoptimalkan mujahadah dan sebisanya tidak melewatkan sedetikpun dari waktu2 terbarakah selama Ramadhan ini tanpa amal ibadah teristimewa, demi meraih derajat taqwa nan istimewa pula. Aamiin!
Salam Spesial Ramadhan!
Mohon jangan pernah lupa saling berdoa untuk sesama hamba bertaqwa, untuk kemenangan Islam kita, untuk keselamatan bangsa Indonesia, dan untuk kemaslahatan saudara beriman sedunia!

Tuesday, June 16, 2015

#RamadhanISTIMEWA

Romadhon tiba - romadhon tiba....
Sudah berapa kali anda bertemu ramadhan ?, hmmm... kalau umur sekarang 24 tahun dan kira - kira baligh yang artinya sudah dikenai hukum umur 10 tahun, sudah 14 kali bertemu bulan ramadhan. Rasanya kita perlu mengingat - ingat kembali lembaran - lembaran ramadhan tahun lalu, dua tahun lalu atau sepeluh tahun lalu. Mengingat - ingat, peningkatan apa yang kita capai pada tiap edisi ramadhannya, yang special dengan malam seribu bulan. Sambil menulis artikel ini saya jadi ikut mengingat - ingat, seperti apa ramadhan bulan lalu... Astagfirullah hal 'adziimm.. (ngelus dada) :'(
#RamadhanISTIMEWA

Jika masih bertemu ramadhan tahun ini, itu berarti Allah dengan kasih sayangnya, masih memberikan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki. "Menyekolahkan" kita lagi di Sekolah Ramadhan dengan kurikulum buatan sendiri dan materi pelajaran sendiri. dengan Sekolah Ramadhan, harapannya nanti, kita lulus dengan predikat Muttaqin, sesuai visi Sekolah Ramadhan "la'allakum Tattaquunn". 
#RamadhanISTIMEWA

Sebab Sekolah ramadhan menggunakan kurikulum kita sendiri, maka sudah sepantasnya kita menyiapkannya agar ramadhan kita menjadi #RamadhanISTIMEWA. Menyusun program ramadhan, mengevaluasi, menyusun kembali hingga hari terakhir. Menyusun Program Ramhadannya, sesuaikan dengan kondisi diri agar tidak membebani. Sebab, jika membebani, malah nanti akan menjadi malas mengerjakan. Tapi prinsipnya adalah bukan seperti kita mengangkat batu, sekuatnya dan semampunya. Namun seperti kita berlomba memakan makanan yang lezat, semampunya kalau bisa yang banyak dan kita juara.
#RamadhanISTIMEWA

Bagi yang masih Jomblo, bica ngajak teman yang lain, yang ngekost atau ngontrak silahkan ajak teman - temannya. saling mengevaluasi dan kompetisi. Bagi yang sudah punya bidadari penyejuk hati, buat program bersama agar bersama lebih berarti. Hadiah dan hukuman bisa jadi penyemangat menambah ibadah sunnah.
#RamadhanISTIMEWA

Program Ramdhan Jadikan Sekolah Ramadhan Lebih ISTIMEWA
#RamadhanISTIMEWA

Bulan Sedang Berbaik Hati

Alhamdulillah Romadhon telah tiba kembali, saatnya umat umat islam kembali bertemu dengan Bulan yang Allah berikan keistimewaan di dalamnya. Bulan lebih baik dari seribu bulan. Maka seyoganya umat islam senag dengan itu, apalagi setelahnya Allah berikan bukan kesucian seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibunya, kata Pak Khotib setiap idul fitri. Maka banyak persiapan yang harus dimulai, Rasullulloh tidak benyak berpuasa sunah kecuali pada bulan sya'ban. begitulah nabi mencontohkan. 
Namun terkadang, persiapan itu sedikit "ternoda", diujung bulan sya'ban. Penetepan awal romadhon pada sidang isbath selalu rame selama puluhan tahun ketika bulan "enggan" mengintip masyarakat indonesia di atas 2 derajat. Muhammadiyah dengan hisab wujudul hilal tak pernah mempermasalahkan ketinggian bulan 1, 2 atau 2,5 derajat baru masuk bulan. Bagi Muhammadiyah, asal diatas 0 derajat itu berarti sudah masuk bulan baru. artinya jika tenggelam matahari diakhir sya'ban, esok adarah bulan Romadhon. Dan ini lah yang membuat tidak pernah ada titik temu dengan metode penetapan bulan baru dari Kementerian Agama. Pemerintah menetapkan bulan baru dengan ukuran derajat tertentu, meskipun hasil hisab menunjukan diatas nol, jika masih dibawah 2 derajat, maka secara logika tidak akan dapat terlihat. Sehingga, untuk kehati - hatian, pemerintah menetapkan standar ketinggian bulan adalah 2 derajat. 
Meskipun banyak teori kemudian berkembang melihat kondisi geografis indonesia yang memiliki laut luas. Sehingga jika matahari tenggelam air laut masih menguap sehingga uap itu menutupi penglihatan terhadap bulan yang mungkin sebenarnya kelihatan. berbeda dengan daerah padang pasir.
Alhamdulillah, tahun ini bulan sedang berbaik hati. Bulan menyapa umat islam indonesia dengan ketinggian lebih dari 2 derajat menurut hisab Muhammadiyah dan logikanya akan sangat terlihat ketika pemerintah melakukan pemantauan bulan baru.
Alhamdulillah romadhon tahun ini bisa berbarengan, Muhammadiyah dan NU yang merupakan Ormas islam terbesar di Indonesia akan bersama - sama menjalankan ibadah puasa dan idul fitri. sehingga sidang isbat tahun ini tidak perlu lama - lama dan alot dalam menentukan awal romadhon. Namun, dibalik itu semua, umat islam di Indonesia masih mempunyai PR besar tentang penyatuan dua Metode penetapan awal bulan. Alhamdulillah bulan sedang berbaik hati sehingga romadhon tahun ini bisa bersama. tapi tahun depan? belum tentu, jika bulan masih malu untuk muncul di atas 2 derajat akan muncul lagi perbedaan.
Mungkin romadhon ini, semoga pemimpin besar Ormas di Indonesia bisa duduk bersama, melepas ego masing - masing dan menemukan titik tengah dari perbedaan kedua metode tersebut. sehingga suasana ukhuwah islamiyah antar umat islam lebih erat lagi sampai masyarakat akar rumput.

#RomadhonISTIMEWA

Friday, June 5, 2015

MASTRIP

Baru tahu tentang sejarah nama Jalan yang sering saya lewati, MASTRIP. Mas Trip ternyata nama orang.. :)

Kabupaten Tulungagung kejaba sugih peninggalan sejarah purbakala uga duwe monumen-mo­numen perjuangan. Antara liya dalan ge­dhe wiwit saka Desa Notorejo Kecamatan Gondang mangetan nganti tekan Dhusun Jethakan, kecamatan Kauman, menggok ngalor tumuju Kediri liwat kulon kali Bran­tas. Iku dalan gerilyane Panglima Besar Jendral Sudirman.
Ing cedhak terminal bis Tulungagung ana monumen patung Sersan Soeharto. Monu­men PETA ing Jl. A. Yani Timur mepet greja Katolik. Ing sacedhake pasar burung Jl. Ki Mangunsarkoro ana monumen Mas TRIP. Mo­numen kang diakoni apik de­ning wong-wong kang nyumurupi iki diresmekake taun 1987 nalika para “man­tan Mas Trip” nganakake reuni. Pancen katon bregas tenan monumen kang aru­pa patung siji iki. Anatomine pas banget, ketara yen iku patunge bocah remaja nganggo seragam tentara. Banjur sapa ta Mas Trip kuwi lan apa andhile tumrap nusa lan bangsa?
Manut buku Sejarah Mas Trip kang disusun dening Drs. H. Boges Sudjadi GR (kababar mbarengi reuni ing Tulungagung taun 1987). Mas Trip iku jeneng jangkepe dhek taun 1948: TNI BRIGADE XVII DE­TASEMEN I TRIP JAWA TIMUR sabanjure karan Mas Trip. Gelar mau pisungsunge rakyat Parengan, Jetis, Mojokerto.
Para pelajar kang dadi anggotane Mas Trip iki nalika jaman penjajahan Walanda dumadi saka telung golongan. Siji: putra-putrane priyayi yaiku wong-wong kang nyambut gawe ing pamarentahan. Seko­lahe ana ing HIS utawa ELS kang nggu­nakake basa Walanda. Mesthi bae dhi­dhikane ala Walanda, ngedohi rakyat cilik. Loro: golongan “tengahan” yaiku golo­ngane kaum dagang, prangkat desa, lan liya-liyane kang sapapak pundhak (sede­rajat). Bocah-bocah sekolah ing Taman Sis­wa utawa Muhammadiyah kang nasio­nalismene manjila. Katelu: golongan tani lan rakyat cilik sing sekolahe ana Sekolah Rakyat/Angka loro (saiki SD).
Telu-telune bisa nyawiji sawise Jepang njajah Indonesia kanthi wengis. Para pelajar kang umur-umurane 15 taun nganti 20 ta­un iku ngrasakake banget rekasane di­jajah. Mula sawise kemerdekaan Indonesia dikumandhangake dening Bung Karno lan Bung Hatta, para pelajar padha nduweni tekad luwih becik mati tinimbang dijajah maneh. Taun 1945-1949 ora wigah-wigih padha melu berjuang manggul bedhil. Mangka umume isih sekolah ing Sekolah Lanjutan Pertama. Sing pelajar SMA ora luwih saka 30-an. Unike maneh organisasi Pelajar Pejuang Bersenjata mau dipimpin dhewe tanpa campur tangane tentara.
Para pelajar mau, luwih-luwih Pelajar Surabaya, wis nuduhake kuwanene nen­tang penjajah Jepang, kanthi ora gelem dicukur plonthos kaya tentara Jepang. Nduweni kuwanen ngono kuwi nalika se­mana wis peng-pengan tenan. Ewase­mono iya manut nalika dibentuk Gakutotai (Barisan Pelajar).
Sawise Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 Gakutotai-gakutotai mau diperang dadi patang wilayah, yaiku wi­layah: Darmo, Praban, Sawahan, lan He­renstraat. Sabanjure nggabung dadi Badan Keamanan Rakyat Pelajar (BKR Pelajar), diresmekake Bapak Soengkono Kepala BKR Surabaya tanggal 19 Oktober 1945. Nalika BKR owah dadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) jenenge uga owah dadi TKR Pe­lajar. Iku dumadi ing awal November 1945.
TKR Pelajar bisa nglucuti senjatane Jepang sing manggon ing gedhung Don Bosco. Sateruse senjata mau dianggo nglawan Sekutu (tentara Inggris kang dumadi saka wong-wong Gurkha), nalika rakyat Surabaya nulak ultimatum Sekutu. TKR Pelajar iya melu tandha tangan wektu melu pertempuran 28 Oktober 1945 nganti 10 November 1945, 10 warga TKR Pelajar gugur. Ing antarane: Dumadioadi, Supangkat, Muljono, Suparto, Sukirman, Sumartono, lan Aris Munandar.
Bareng Surabaya dikuwasani Sekutu, TKR Pelajar mundur, bertahan ing dhaerah Mojoagung. Nalika kuwi kerawuhan bapak-bapak guru kang nganjurake bali sekolah maneh, awit me­sakake isih cilik-cilik maju perang. Anjuran mau ana sing ngestokake lan uga ana saperangan kang pilih ne­rusake berjuang. Sabanjure “bergabung” maneh nalika mbentuk TRIP Jawa Timur ing Malang 21 Juni 1946.

Perundhingan Linggarjati
Perundhingan Linggar­jati nyarujuki anane gen­catan senjata, nalika wek­tune prei (jeda) perang mes­thi bae TRIP ya ora pe­rang. Mula banjur ana anjuran saka pa­marintah supaya anggota TRIP bali sekolah maneh. Tuwuh pilihan telu kang dirasa padha abote, yaiku: tetep manggul sen­jata/ber­juang terus ninggalake bangku sekolah, bali sekolah maneh, utawa tetep berjuang disambi karo sekolah.
Saka pilihan telu mau pilihane tiba angka telu: tetep berjuang disambi se­ko­lah. Sateruse muncul semboyan Mas Trip: Berjuang, Belajar, Bersenang-senang. “Le­bih baik mati berkalang tanah daripada menjadi pelajar jajahan”.
Perjuangan Mas Trip ora uwal saka sejarah kamardikan Indonesia. Bebarengan karo kabeh warga negara mbelani negara proklamasi. Agresi I lan II lumaku kanthi lakuning sejarah kang ora bisa diowahi. Semono uga nalika PKI nganakake pem­brontakan ing Madiun, ya ana anggota Trip kang gugur. Ayahan abot nanging bisa gawe bombong Mas Trip nalika kudu ngawal mriyem gempur Bantheng Blorok. Mriyem mau kudu digawa saka Ngunut, Tulungagung dikawal menyang Menjangan Kalung dha­erah Blitar dohe kurang luwih 90 km, suwene pitung dina pitung bengi prasasat tanpa leren.
Perlu kawuningan manawa mriyem gempur iku abot banget, sanadyan ana rodhane ning bisane mlaku mung ing dalan gedhe. Mangka kuwi kudu ngliwati dalan setapak gek kudu nyabrang kali Brantas.
Bisa digambarake ngre­kasane. Sing ngawal Mas Trip, dudu tentara, ora duwe pengalaman militer. Isih ketambahan nyingkrihi serangane Walanda sing kepengin ngrebut mriyem mau. Kanthi li­nambaran tekad waja lan patriotism tinggi tugas mau kasil kanthi sukses.
Sejatine mriyem sing dipasrahake TNI marang Mas Trip iku ana loro, sing siji mriyem Macan Tutul. Amarga Macan Tutul iku luwih gedhe lan abot, kepeksa ditinggal ing Re­jotangan, didhelikake ing jero ba­ngunan ditutupi dame. Iya rekasane ngawal mriyem iku kang nda­dekake prastawa mau tansah ci­nathet ing ati dadi “kebanggaan tersendiri”.
Mula nalika reuni taun 1987 dianakake acara napak tilas ngiras nancepake pathok-pathok pepe­nget. Ora lali ngajak pelajar wilayah Tulungagung, Blitar, Kediri, lan Trenggalek, ngiras marisake nilai-nilai kejuangan bangsa. Kebeneran nalika iku penulis kapatah dadi pembimbing panitia pelaksana, mula anggone nyiapake rute napak tilas telung sasi sadurunge hari H.
Acara dhek semana kejaba diregengake maneka tontonan, kalebu wayangan ing pendhapa Kabupaten, iya ngresmekake prasasti reuni TRIP ing ngarepe patung Mas Trip sing katon gagah. Prasasti reuni TRIP iki diresmekake dening Djiteng Soejoto (wektu iku njabat Bupati Pasuruan) tanggal 21 Juni 1987.
(Kopral Soekarmi)

Thursday, June 4, 2015

Islamic Center Gontor




Slogan diatas masih saja tertulis, dengan cat at dan font huruf yang sama sejak enam tahun lalu saya mulai sering dan familiar untuk menginjakkan kaki disini. Sebuah Slogan yang membuat saya bergetar, slogan Ukhuwah di tengah kondisi umat islam yang tidak akur di akar rumput. "BERDIRI DI ATAS DAN UNTUK SEMUA GOLONGAN"adalah semangat lembaga ini, Islamic Center Gontor. Ada hubungan dengan Pondok Gontor ? , ya, memang masih ada hubungannya. Lembaga ini adalah buah kerja keras alumni - alumni pondok gontor yang menyebar di seluruh Indonesia. Islamic Center bukan hanya ada di Nganjuk, di Kediri Juga ada. 
Slogan "BERDIRI DI ATAS DAN UNTUK SEMUA GOLONGAN"  bukan hanya omong kosong, isipan jempol belaka. Secara istiqomah lembaga ini mengelar kajian rutin Ahad pagi dengan pembicara yang bervariasi tiap pekannya dan dari semua harakah islam yang ada. Selain itu juga ada semacam kursus, mulai dari tentang Aqidah, Fiqh dll yang biasa di gelar tiap pekan sesuai jadwal. Seiring berkembangnya zaman, lembaga ini juga mengadakan umroh bareng dengan para jamaah Kajian Ahad Pagi. Gedung pengajian yang hanya menggunakan teras rumah ini tiap ahad pagi dipenuhi tidak kurang dari 60 Jamaah, mulai dari balita yang diajak orang tuanya hingga kakek - nenek.
Menarik sekali kalau kita cermati, jamaah pengajian disini di ajari bagaimana berukhuwah dan saling memahami dengan lintas pemikiran dalam harakah islam secara tidak langsung. Jamaah diajak agar lebih berdewasa dalam menyikapi perbedaan dalam hal cabang di tengah masyarakat yang kadang - kadang sering meruncing pada saling olok antar jamaah islam, terutama di masyarakat akar rumput. Oleh sebab itu, slogan "UNTUK SEMUA GOLONGAN" adalah dalam rangka mewadahi semua golongan dengan cara menghadirkan pembicara dalam kajian ahad pagi dengan latarbelakang harakah - harakah islam yang mungkin selama ini sering kita lihat bersebrangan. NU, Muhammadiyah, Hizbut Tahrir, Salafi dan tarbiyah secara bergiliran bergantian mengisi di tiap pekannya. Meski pun kadang juga tidak seperti itu.
Saya jadi membayangkan, kalau saja lembaga - lembaga seperti ini banyak bermunculan di negeri ini, menyentuh sampai pada masyarakat akar rumput. Rasanya bertengakaran dalam hal - hal cabang antar golongan islam bisa teratasi dan umat akan berfikir yang lebih maju lagi dari pada membicarakan hal - hal cabang. Selain itu, jika lembaga - lembaga seperti ini juga mampu menyentuh kalangan muda, tentu generasi tunas bangsa akan terbentengi dari pusaran globalisasi yang semakin hedonis.
"BERDIRI DI ATAS DAN UNTUK SEMUA GOLONGAN"