Tuesday, January 28, 2014

Sunday, January 26, 2014

Buya Hamka dan M. Natsir : Muslim Negarawan


PUISI ini ditulis Buya Hamka pada tanggal 13 November 1957 setelah mendengar pidato M. Natsir yang mengurai kelemahan sistem kehidupan buatan manusia dan dengan tegas menawarkan kepada Sidang Konstituante agar menjadikan Islam sebagai dasar Negara RI.
KEPADA SAUDARAKU M. NATSIR
Meskipun bersilang keris di leher
 Berkilat pedang di hadapan matamu
 Namun yang benar kau sebut juga benar 
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemuHidangkan di atas persada nusa Jibril berdiri sebelah kananmu
 Mikail berdiri sebelah kiri
 Lindungan Ilahi memberimu tenaga
 Suka dan duka kita hadapi
Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
 Kemana lagi, Natsir kemana kita lagiIni berjuta kawan sepaham Hidup dan mati bersama-sama
 Untuk menuntut Ridha Ilahi
 Dan aku pun masukkan Dalam daftarmu……!
(dikutip dari buku “Mengenang 100 tahun HAMKA”)
Dan sajak berikut merupakan rangkaian dari sajak berbalas dari M Natsir pada Buya Hamka yang sebelumnya menyusun sajak untuk M Natsir yang berjudul “Kepada saudaraku M Natsir”.

Selalu ada Cerita di IPA 3

(berdiri dari kanan-kekiri): Devi, Exsa, Ellen, Yeni, Tarti, firda, enyke, mariska, dhanty, amel, fidyah, juniar, rona, ike, riza, bu wali kelas, dista, sonia, mada, gita, april, ainun, putri, Erni, wilies, widya, nifa, anita.
(duduk bawah dari kanan-kekiri) : stefanus, Bahar, Eriq, Anggih, Hendrik, Brian, Nova, Ngaliman, Satrio, Endra, Arif, bambang, tegar, tjandra
ini adalah cerita kelas IPA 3, dua tahun bersama anak-anak super, semua ada disini. kisah cinta romeo-juliet, kisah perang armagedon, kisah from zero to hero. semua ada, lengkap. selalu ada cerita di IPA 3.

Wednesday, January 22, 2014

Nusantara ku dan Palestina


Masih sering kita mendengar cibiran ketika ada sebagaian orang menyeru atau mengajak muslim di Indonesia untuk sedikit peduli dengan masyarakat muslim di Negeri Palestina.  Tentu kita sudah tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya ada di sana, masyarakat muslim dibantai dan diusir dari rumah mereka dan tanah kelahiran mereka. sama seperti Negara ini mengalami pendiritaan dalam cengkraman penjajahan.
Mungkin kita perlu lagi membaca sejarah Nusantara, sebelum nama Indonesia itu ada. Mari membaca sejarah kembali, saat wilayah Nusantara masih banyak kerajaan hindu dan budha. Saat Islam mulai berkembang di Tanah Jawa dengan peran WaliSongo sebagai Da’I yang santun dan bersahabat dengan masyarakat. Salah satu dari Sembilan wali itu adalah sunan Kudus.  Kita perlu meninjau lagi kalau masih percaya dengan teori islam yang mengatakan islam masuk dengan pedagang Gujarat. Bahwa Sali songo bukanlah seorang yang pedang nyambi dakwah. Tetapi seorang da’I yang memang menebarkan islam dan mendekati masyarakat dengan perdagangan. WaliSongo sesungguhnya tidak berjumlah Sembilan, lebih dari itu. tetapi keberadaan mereka silih berganti, ketika ada wali yang kembali ke kampong halaman. Pasti akan datang pengganti hingga jumlahnya tetap Sembilan.

Menemukan Spirit yang Hilang


Tidak terasa waktu sudah bergulir cepat, detik berubah menjadi  menit, ,menit terakumulasi menjadi jam, jam berubah menjadi hari,hari berganti  bulan, bulan berubah menjadi tahun.  Setiap momennya selalu memberikan makna tersendiri bagi kita. Setiap kejadiannya memberikan banyak pelajaran yang tidak tergantikan.  Setiap waktunya, segala aktivits yang kita lakukan mewarnai hari-hari dan bulan.  Menyusuri jalan kehidupan yang panjang nan melelahkan. Hingga terkadang, banyak diantaranya yang kelelahan dan kehabisan bekal. Kehausan dan kelaparan. Dan perjalan hidup yang kita pilih adalah jalan Dakwah.
Jalan dakwah tidak ditaburi dengan bunga-bunga, tetapi merupakan jalan yang terjal nan panjang. Bagi para pengemban yang akan melaluinya perlu kesabaran dan ketekunan memikul beban yang berat tersebut. Perlu kemurahan hati, pemberian dan pengorbanan tanpa mengharapkan hasil yang segera tanpa putus asa dan putus harapan.  Yang diperlukan adalah usaha dan kerja yang berterusan dan hasilnya terserah kepada Allah diwaktu yang dikehendakiNYA.
Dalam menempuh perjalanannya, banyak diantara pada aktivis dakwah yang mengalami kehabisan bekal, sehingga banyak diantara mereka kehausan serta kelaparan dalam perjalanan dan akhirnya tidak lagi dapat melanjutkan menyusuri perjalanan ini.Ibarat musafir yang berjalan di tengah gurun dengan panas yang menantang. maka, kesegaran oase adalah harapan. Juga dengan bagi para musafir perjalanan dakwah ini, yang sudah mulai kelelahan dalam perjalanan. Mungkin perlu kiranya menemukan kembali telaga mata air penghilang dahaga dalam perjalanan. menemukan oase dalam kefatamorganaan, Menemukan kembali ruh yang menghilang.

#AYKTM


Apapun Yang terjadi Kita Tetap Melingkar
Sejenak teringat apa yang pernah dipesankan oleh sang imam dalam sebuah surat kepada para jama’ahnya. Sebuah pesan sangat penting yang menjadi ruh dalam setiap aktivitas perjuangan ketika beliau masih hidup dan ketika beliau sudah tidak berada diantara para jama’ahnya. Dalam pesan tersebut sang imam mengingatkan kembali akan pentingnya aktivitas ini dalam rangka membangun peradaban. Aktivitas yang meneguhkan yang beliau sebut dengan Usrah. Sang imam itu adalah Hasan Albanna, begitu orang menyebutnya. Pesan-pesan beliau kemudian diabadikan dalam buku Majmaturrasail atau kita lebih familiar dengan nama Risalah Pergerakan.
Islam menekankan perlunya pembentukan usar (usrah-usrah) dari pengikut-pengikutnya, yang dapat membimbing mereka kepada puncak keteladanan, mengokohkan ikatan hatinya, dan mengangkat derajat ukhuwahnya; dari kata-kata dan teori menuju realita dan amal nyata. Karena itu -wahai saudaraku- usahakan agar dirimu menjadi batu bata yang baik bagi bangunan (Islam) ini. Sedangkan pilar-pilar ikatan ini ada tiga; hafalkan dan usahakan untuk mewujudkannya, sehingga ia tidak hanya menjadi beban berat yang kering tanpa ruh.

Perang Diponegoro: Bukan masalah sejengkal tanah


Sejak di sekolah dasar kita sudah diajar tentang sejarah bangsa Indonesia. Salah satu pelajaran sejarah yang masih selalu teringat ketika sekolah dasar adalah sejarah tentang perlawanan melawan penjajah. Baik di tanah jawa maupun luar tanah jawa. Di Luar tanah Jawa, Sejarah perang paderi dipimpin Imam Bonjol, Si Singamangaraja XII, Sultan Hasanudin dan masih banyak lagi. Tanah Jawa yang menjadi pusat pemerintahan Hindia-Belanda tak kurang perlawanan yang dilakukan oleh Sultan Antasari, Sultan Agung Tirtayasa, Fatahillah serta tak ketinggalan Pangeran Diponegoro.
Mungkin perlu kita perlu membaca ulang buku sejarah yang menjadi buku ajar sejarah di sekolah. Terutama tentang perang diponegoro. Hal ini perlu karena terdapat distorsi dalam penulisan sejarah tentang perang diponegoro. Adanya Upaya pengkerdilan peran islam dalam setiap detik sejarah bangsa ini. sampai hari ini kita akan membaca bahwa awal mula Perang Diponegoro adalah karena pemerintahan colonial belanda membangun jalan di atas tanah makam dan leluhur Pangeran Diponegoro. Namun pertanyaannya adalah Benarkan perang diponegoro terjadi karena masalah sejengkal tanah? Atau ada masalah lain yang menjadi pemicu perang diponegoro?

Ibarat anak sekolah yang istirahat


“Mati itu ibarat istirahat, istirahatnya anak-anak sekolah itu lho”. Kata membuka percakapan malam itu.
“Coba lihatlah, anak-anak sekolah ketika istirahat itu”, lanjutnya dengan sedikit menjeda dengan kata-kata selanjutnya.
“mereka senang sekali, melepas penat setelah lelah belajar. Mereka ingin segera menikmati makanan-makanan di kantin, atau melepas lelah dengan istirahat dibawah pohon sambil bercakap-cakap dengan teman yang lain seolah tidak ada beban dari ruang kelas yang sempit tadi”. Penjelasan yang masih sulit untuk dicerna secara langsung. Butuh waktu beberapa saat untuk nyambung dengan penjelasan hari ini. penjelasan dari seorang yang selama ini ku panggil “Bapak”.
Aneh rasanya hari ini, tiba-tiba bapak membicirakan tentang kematian. Memang waktunya tepat, malam hari dengan gelapnya ketika pemadaman listrik diiringi gerimis hujan rintik setelah deras mengguyur sore tadi. Tidak biasanya membicarakan tentang pelajaran hidup paling berarti, pemutus kenikmatan. Seolah kematian itu sudah dekat.
“Seharusnya orang itu senang mati, “sekolah”nya sudah selesai dan waktunya “istirahat” menikmati makanan dan guyon dengan teman-temannya”, begitu pesan yang akan terus tertancap dan teringat sampai akhir kelak.

Friday, January 17, 2014

Hari Ini

mentari mengintip dari celah awan, membebaskan dunia dari belenggu malam. burung berkicau, menyanyikan lagu indah untuk pagi ini.
" selamat pagi dunia, hari baru telah datang ", mungkin itulah semangat pagi yang ingin mereka tularkan pada penduduk bumi.
namun, semua seolah tak tak berguna. selimut tebal masih membungkus tubuh. meredam segala gelombang keramaian. insan malas itu tak bergeming, mematung, seolah tak bernyawa.  Sendiri dalam surga dunia yang kuciptakan,dalam kenyamanan pulau yang hanya aku pemiliknya. Setan pagi telah menina-bobokkan hingga tak sadar bahwa siang sudah menjelang. Setiap ingin bangun, bisakan bahwa hari masih pagi seperti mantera-mantera hipnotis yang membuat orang seketika tidak sadarkan diri.
“Jika kamu berada dipagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari inilah yang akan Anda jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari Anda, dan siangnya  menyapa  Anda inilah hariAnda”.
Begitulah nasihat dari Dr. Aidh Al’qarni dalam bukunya yang fenomenal La Tahzan yang mengingatkan akan kita bahwa hari ini adalah hari kita untuk berkarya. Tidak ada hari lain. Hari ini adalah hari dimana kita membuat sejarah baru, memperbaiki hari kemarin. Hari ini harus lebih baik dari pada hari kemarin.
Bayangkan saja kalau anda hanya hidup pada hari ini saja. Maka akankah kau sia-sia kan kehidupan ini? pasti kau akan melakukan yang terbaik untuk hari ini. kalau akan melakukan ibadah paling khusyuk. Mungkin kau akan mengulanginya sampai benar-benar khusyu’. Pasti kau akan berbuat ramah pada sema orang. Memberikan senyum tulus terbaik untuk saudara-saudara mu. Memberikan lebih banyak infaq untuk mereka yang berhak menerima. Itu kalau kau tau bahwa ini adalah hidup mu terakhir.
Sayang, kematian itu rahasia dan datang tanpa diduga-duga serta tak dapat ditunda-tunda. Maka, berbuat baik terus-menerus, senantiasa memberikan yang terbaik untuk hari ini adalah jalan kehatia-hatian, agar saat maut datang menjemput. Semua yang kita lakukan adalah yang terbaik. Sungguh, kita akan masuk dalam barisan orang-orang yang beruntung, mendapat rahmat dari Allah.

Thursday, January 16, 2014

Al-Qur’an dan relevansinya dengan Pancasila


Membaca konsep Pemikiran M. Natsir tentang Pancasila dan Al-Qur’an.
Kita mungkin sering mendengar akan komentar-komentar orang-orang yang alergi dengan politik islam atau aktivis islam. Pandangan sinis mereka terhadap politikus islam atau aktivis islam sangat beralasan. Alasan mereka sangat dangkal dan lebih sering tergiring dengan opini public yang dikeluarkan oleh orang-orang liberal dan orang-orang yang tidak mengalami sakit islam phobia. Seperti yang telah kita sering dengar tentang islam (baik politikus atau aktivisnya) dari media-media mainstream selama ini yang menggambarkan islam sebagai orang-orang yang radikal yang sering membuat terror kepada orang yang tidak sepaham dengan pemikiran islam. Salah satu yang menjadi ketakutan mereka akan politikus islam atau aktivis islam ketika menjadi pemimpin yang memegang kekuasaan adalah mereka (politikus islam atau aktivis islam) ketika menjadi pemimpin negeri ini akan mengubah konstitusi negeri ini, menolak pancasila sebagai dasar negera yang sudah final saat dideklarasikan oleh para founding father bangsa ini. selain itu juga kekhawatiran akan hilangnya budaya-budaya nenek moyang yang ada di nusantara ini karena penerapan islam oleh penguasa. Padahal kalau kita ulang sejarah perjalanan bangsa ini, sudah ada pemikiran dari ulama yang juga negarawan, M. Natsir menjawab kekhawatiran yang hari ini kita hadapi. M. Natsir telah merumuskan pemikiran hubungan atau relevansi Antara Islam dengan dasar Al-Qur’an dan Pancasila yang menjadi dasar negera Indonesia.