Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Wednesday, April 8, 2015

Friday, January 9, 2015

Tangan Langit


Sesekali ingin rasanya kembali merasakan jalan-jalan menyusuri sungai, mendaki bukit, serta mengelilingi taman dan duduk di bangku putih dekat danau yang penuh bunga. Oh ya, ini sedang musim berbunga. Dan yang paling ku inginkan adalah mengelilingi taman sambil sesekali menghirup harumnya bunga mawar putih. Melihat kupu-kupu terbang berkejaran, menari elok ditangkai sambil sesekali menghisap madu jikalau lelah. Mirip sekali sama anak-anak kecil hamparan hijau luas sana. Dari kejauhan ku lihat sekelompok anak kecil berlari-larian, tertawa riang tanpa takut akan ada yang mengusik mereka. Seolah mereka adalah makhluk merdeka tanpa akan ada tangan-tangan yang akan mengganggu permainan meraka.
Sejenak ku hirup segarnya udara pagi ini, memejamkan mata menikmati setiap nikmat yang ada, memandang hamparan langit biru serta awan-awan yang bermain berkejar-kejaran. Langit sangat bersahabat, menaungi apapun dan siapa pun yang ada di bawahnya. Sebab memang tugas mereka, menaungi tanpa harus mencampuri. Sesekali memberikan mendung gelap, rintik hujan, badai petir dan pelangi. Sekedar rasa cinta penuh kasih sayang dan perhatian dan bukan campur tangan. Langit adalah langit dan bumi adalah bumi. Meskipun keduanya ada salauran yang tak terlihat kata orang-orang botak yang biasa disebut ilmuan. Namun anak-anak adalah anak-anak, mereka senang bermain, berguling-guling di taman. Mereka tak peduli apa kata orang botak itu, baginya langit harus lah tempat bernaung saat mereka main petak umpet, rumah-rumahan sampai gulung-gulung ditaman.
Langit, masihkah kau adalah langit ?
ku buang pandangan ku dari memandang langit, kembali melihat anak-anak kecil yang sedang bermain. Sekarang mereka tidak lagi berkejar-kejaran, diantara mereka ada yang duduk, mondar-mandir, tengkurap dengan tangan menyangga kepala. Tapi ada satu yang sama ditangan mereka, buku. Ternyata mereka sedang asyik belajar, mencoba memahami ilmu agar kelak bisa menjadi manusia-manusia yang dapat menjalankan hidup tanpa harus bergantung pada langit. mereka melakukan percoban, gagal lagi, mencoba lagi, gagal lagi, mencoba lagi. Rasanya tak ada kata bosan di otak anak itu. Dasar anak-anak revolusi. Mereka ternyata sudah sadar, bahwa langit pada suatu saat tidak akan peduli dengan apa yang ada dibawahnya. Langit tertidur panjang, hingga ruh lupa akan jasadnya.
Langit, masihkah kau adalah langit ?

Ku petik bunga mawar putih yang sejak tadi menggoda, mengayun melambai. Cantik sekali. Ku hirup dalam-dalam semerbak wanginya. Harum sekali kawan. memang mawar tak pernah bohong soal harumnya. Anak-anak itu masih tetap tak bergeming, sibuk dengan aktivitas masing-masing. 
Ku lihat awan mendung bergelayut, merayap di bawah birunya langit. Langit berubah gelap, awan hitam pekat dengan segala isinya. gemuruh dan kilat memecah kegelapan, sesakali gelegarnya menyombongkan menakuti anak-anak. tangan langit tiba-tiba turun, merampas semua yang ada di tangan akan-anak itu. Aku hanya bisa melihat dari jauh, sesekali meneriaki mereka agar melawan tangan langit. "Tangan langit kuat, tapi kalian lebih berkuasa". Atas nama kenyamanan dunia langit, semua harus tunduk patuh. Tak ada kritik. "Langit selalu benar", begitu selorohnya. Langit kini mengajari anak-anak, bagaimana cara bermain yang benar. "Ah, apa-apaan. bermain saja harus diajari". Mungkin sebentar lagi, anak-anak itu akan menjadi robot hidup berlbalut daging. 
Aku pernah merasakan jadi anak-anak seperti meraka, bermain dengan nyaman di taman. berlari, bergulung-gulung. semua bebas, semua senang. Badai langit memang pernah datang, tapi sayang aku adalah anak yang berhasil lari, melawan kilatan pertir dan tangan-tangan langit. Aku akan tetap bernaung di langit, tapi aku juga manusia yang ingin bergerak bebas bermain. aku tak akan menghianati langit yang telah menjadi tempat berlindung.

Tuesday, January 28, 2014

Friday, September 27, 2013

Sepotong kue khayalan


Pagi masih terlalu dingin untuk meninggalkan hangatnya  selimut  berudu itu, rasa sakit akibat diare 2 hari kemarin masih belum pulih betul. Melihat pintu kamar, rasanya sangat jauh. Selimut hangat semakin hangat mendekap. Memang, musim penghujan kali ini berbeda dari biasanya. Dinginnya dua kali lipat dari musim kemarin.  Kokokkan ayam itu menyadarkan kalau matahari sebentar lagi muncul dari balik pegunungan. Jam 05.15,  “woe bangun….! “. Teriakan batin itu semakin mempercepat detak jantung beriringan langkah kaki yang semakin cepat. Ambil wudhu dan sholat…
Sudah lama mushaf itu tak terjamah, diraihnya mushaf di pojok deretan buku bacaan yang terpampang diatas meja. “bismillahirrahmannirrahimm…”, sedikit kelu lidahnya. Sesekali mata melirik melihat selimut dan bantal, rasanya mereka memanggil dan siap menyambut penuh kehangatan. Aduhh, ngaji duluuu.. satu ayat, dua ayat dan akhirnya hanya mampu bertahan sampai huruf terakhir dalam satu halaman mushaf. Bacaan sudah tidak karuan, panjang pendek tak terjaga, lanjutan ayat loncat-loncat, membaca Al-Quran seperti orang mabuk karena topi miring.
Segera direbahkan tubuhnya dalam kehangatan selimut hadiah ulang tahunnya dua tahun lalu. Masih terlihat bagus, bergambar logo tim intermilan, tim liga italia yang menjadi jagoaan. Mencoba memejamkan mata juga masih belum bisa tidur. Tengkurap, miring sampai menutup mata juga masih belum bisa terpejam. Hahh setan… , kanapa belum bisa tidur ?. diambilah salah satu buku dari jajaran buku di rak. Satu halaman.. dua halaman.. tiga halaman.. zzzzzzz tertidurlah dia. Mirip orang yang sudah tidak tidur satu minggu, nyenyak sekali.
“Mau mencicipi kue buatan ku ?”, pinta seorang gadis misterius
Rasanya masih ragu, gadis yang baru dikenal di halte itu menyodorkan kue brownis dalam kotak. Indah sekali, menggoda, warna coklatnya yang sangat gelap dan baunya bisa turun iman kalau pass puasa..
“Silahkan ambil..!”, sekali lagi dengan tetap menyodorkan kotak mendekat ke tangan.
“ini buatan ku sendiri lho..”.
Ambil..tidak…ambil.. tidak..ambil… tidak… ambil saja lah. Buat hati orang senang masak gak bisa. Dipandanginya gadis semampai itu, matanya berbinar penuh harapan, sedikit senyum simpul malu khas gadis pegunungan.
“oke.. terimakasih”, sambil mengambil potongan kue terbesar dari kotak.
“hmm..hmmm.., coklatnya terasa”, lidahnya masih coba merasakan apa lagi yang ada didalamnya, sambil sesekali terpejam mencari rasa.
“Bagaimana rasanya?”, gadis itu masih penasaran melihat orang yang dihadapannya masih memejamkan mata. Menunggu seolah akan ada rasa baru yang akan diungkapkan.
“wah, enak sekali . coba setiap hari selalu ada roti seperti ini dihidangan makan sehari-hari. Ini surga dunia”, ungkapnya sambil terus menikmat roti yang tinggal secuil diantara ibu jari dan telunjuk.
“Aku bersedia menghidangkan kue seperti ini setiap hari bagi mu”, mata gadis itu menetap laki-laki dihadapannya dalam-dalam.
“syaratnya adalah aku akan buatankan seribu kue untuk mu saat ini, dan kau harus menghabiskannya dalam satu malam”
“Sepakat !”, jawab laki-laki itu penuh semangat penuh percaya diri.
“sekarang pejamkan mata mu” pinta gadis itu sambil komat-kamit penuh konsentrasi.
“satu… dua.. tiga…”, laki-laki itu terpana diam tak bergerak, tubuhnya kaku bak paku yang ditancapkan.
“Sekarang seribu roti sudah ada di hadapan mu”.
“Silahkan kau habiskan, tengah malam nanti aku akan datang untuk melihat kau memenangkan pertarungan ini”.
“Oke.., bersiap saja kau akan menjadi budak pembuat roti bagi ku”.
****
Senja sore mulai datang bersama dengan kembalinya mentari ke peraduan. Suara khas burung senja yang kembali ke sangkarnya menambah kenyaman sore itu. Pergantian hari yang berbeda dari hari yang lainnya. Lapangan yang bisanya sepi kini ramai dengan banyak orang yang sudah berkumpul melihat pertaruhan laki-laki muda dengan gadis pembuat kue. Seribu kue itu masih belum ada seperuhnya habis, namun terlihat laki-laki itu sudah tak kuat lagi berdiri menahan kekenyangan seratus roti yang ada di hadapannya. Bukankah masih ada Sembilan ratus roti lagi?
Gadis anggun itu datang lebih cepat dari janjinya, dia tidak datang pada tengah malam. Tapi senja ini bersama teman-teman gadis yang semuanya hampir mirip. Sembilan gadis yang hampir mirip itu berjalan penuh ke anggunan bagai putri dari kerajaan antah berantah menyambut pangeran dari medan peperangan. Gadis itu menghampiri laki-laki yang dari sejam tadi hanya duduk selonjoran sambil mengelus perutnya yang membuncit. Wajahnya menggambarkan siksaan sesaknya perut tanpa udara dan air.
“bagaimana “pangeran”?
“Apakah kau sudah mau menyerah?”
Laki-laki itu menatap perempuan yang ada dihadapannya dengan melas. Mengharap iba agar pertaruhan itu dibatalkan saja. Namun lidah laki-laki itu sangat sulit untuk mengucapkan kata-kata penyerahan perjuangan. Hatinya masih sombong untuk mengakui kekalahan.
“Aku masih sanggup untuk memenagkan pertaruhan ini”
“Bukankah masih ada Sembilan ratus roti yang harus kau habiskan ?” balas gadis itu sambil menunjuk pada gunungan roti yang ada di hadapannya.
“masih ada enam jam hari ini, cukup bagi ku untuk menghabiskan roti mu”
Gadis itu langsung meninggalkan laki-laki itu. Dia berharap akan tidak aka nada keajaiban yang bisa menghabiskan roti itu.
******
Laki-laki itu mengendap-endap penuh kehati-hatian agar tidak seorangpun melihat kepergiannya dari lapangan pertaruhan itu. Dia pasti akan malu kalau harus mengakui kekalahannya. Namun, sebelum dia pergi, dia masih menyempatkan membawa beberpa potong roti untuk kenang-kenangan. Laki-laki itu berjalan melewati tepian sungai agar tidak seorang pun tahu, apalagi gadis itu. Mulutnya terus mengucapkan do’a yang tak jelas. Mungkin berdo’a untuk keselamatan
“kemana laki-laki itu?”
“mungkin dia pergi melarikan diri dari sini”
“ayo menyebar, jangan sampai dia pergi jauh dari sini”
Sembilan gadis itu langusng menyebar, wajah mereka terlihat gusar dengan kepergiaan laki-laki itu. Bukan masalah menang atau kalah untuk pertaruahan ini. Tapi karena laki-laki itu telah membawa sebagaian roti dari lapangan pertarungan. Roti itu memang tidak boleh keluar dari lapangan ini, karena jika dibawa keluar jauh dari lapangan ini akan berubah menjadi batu.
“dia lari lewat sungai”
“segera kejar, jangan biarkan dia lari dari sini”
Gadis itu sudah melihat laki-laki itu, dikeluarkan senjata yang langsung ditembakan kea rah laki-laki itu. Tembakan pertama berhasil dihindarinya. Namun malangnya laki-laki itu terpeleset dan masuk ke sungai yang arusnya kencang. Laki-laki itu terseret arus sampai tegulung-gulung dalam sungai. Timbul tenggelam kepala laki-laki itu, hingga akhirnya dia tak kelihatan muncul dipermukaan. Gadis it tampak panic karena roti yang dibawa aki-laki itu masih dalam karung yang digenggamnya erat meski tergulung dalam arus sungai.
“byur..””
“woe bangun… sudah siang ini…”, teriakan wanita disamping telinga langsung membuatnya bangun.
“Hore… aku mendapat rotinya..”, teriak laku-laki sambil mengangkat guling yang dari tadi menemani tidurnya.
“Byuuurrrr…”, wanita itu menyiramkan untuk kedua kalinya.
“haahhh…. Mana rotinya.. mana rotinya..”
“Roti gundul mu iku..!”
“segera bangun”
Laki-laki itu masih tetap termenung di atas tempat itdurnya yang basah seperti kebanjiran. Dia coba melihat sekitar kamarnya berharap mimpi akan roti itu menjadi kenyataan. Roti yang sangat enak, tidak terlupakan rasanya. Sesekalai dia melihat keluar, burung-barung pagi berkicau riang menyambut pagi. Laki-laki itu berjalan menuju cermin, ingin memasitikan bahwa dia tidak sedang lagi bermimpi. Tiba-tiba Handphonenya berbunyi tanda ada pesan singkat yang masuk.
hari aku buat roti, mau mencicipi?
Ha..ha..ha.. sayangnya sudah habis.. He ^^
Ini tak kirimi foto rotinya
Wkwkwk..

Roti khayalan, kapan roti itu menjadi kenyataan ? roti yang dibwa gadis anggun dengan senyum termanis.

Friday, September 6, 2013

Secangkir Kopi 2300 dpl #3

bawanya cuma mie (syukuri yang ada aja)

makanan orang naik Gunung (jangan Di contohh)

Jam 09.00
Sudah Sangat panas di puncak Limas, setelah kenyang makan  dan tidur sebentar. Selanjutnya adalah Pulang.. Go..go… Perjalanan pulang adalah perjalanan penuh rindu bertemu orang – orang di rumah. Terutama rindu masakannya. Bayangkan saja, kalau setiap hari makan mie seperti  apa perut anda nanti. Mie pun kadang di masak, kadang tidak. Itulah Pendaki, mie instant adalah menu favorit kalau gak suka sarden.
Saat turun adalah saat-saat dimana kita menyusuri langkah perjalanan kemarin malam, membelah semak menerobos malam , mengalahkan kedinginan. Maka setiap kali turun, pasti gak nyangka kalau kemarin jalan yang dilewati sebenarnya sangat berbahaya. Sempti dengan kanan dan kiri adalah jurang. Menantang, karena harus merangkak, karena kemiringan hampir 90 derajat. Menakutkan kawan.  Dan sekarang kalau harus lewat jalan itu bingung juga bagaimana turun yang aman.
Saat-Saat turun adalah saat dimana otot paha diuji kekuatannya, menahan semua beban berat badan pada bidang miring dengan tarikan gaya gravitasi. Maka setelah sampai rumah, pasti bingung bagaimana jalan yang tidak menyakitkan.. kalau turun, maka yang bingung adalah bagaimana bisa berhenti dengan baik. Biasanya kalau turun setelah muncak itu lari.. lari dengan cepat.. semangat pulang ke rumah..
Tapi kelelahan itu terbayar semua dengan pemandangan yang indah di depan kita. Barisan bukit yang tidak pernah kita lihat kalau kita tidak naik ke puncak. Indahnya barisan awan membentuk parade beriringan seperti pawai. Belum lagi suara burung yang tidak pernah kita dengar kalau di kota.  Satu lagi yang pasti membuat kita senang ke puncak adalah Taman Edelweis. Bunga Penawar rasa lelah para pendaki. Kalau saja tidak ada edelweiss di puncak Limas, orang pasti enggan untuk sampai ke puncak. Lha wong puncaknya jelek banget.. kata wahyu sihh “mending sampai taman edelweiss saja. Gak ke puncak juga gak apa”.

Lihat saja foto-foto di bawah ini
bunga abadi

Taman bunga Edelweis



parade Awan

jalan menurunnya ekstrem

parade awan dari rumput ilalang


jalan dengan semak setinggi dada.. dingin kalau bany
ak embunnya
inilah lukisan alam




turun gunung

lukisan laam



"awass kiri jurang.. awas batu ", teriakan memecah malam


lhat jalannya.. hanya cukup untuk satu orang

salah satu gubuk penginapan



ini jalan pulang lewat Jalur B. ekstrim

instirahat dulu broo


Thursday, September 5, 2013

Secangkir Kopi 2300 dpl #2

penunjuk jalan ke Puncak Limas. bukan ke Toilet ^.^
Setelah berdo’a  bersama dengan membentuk formasi berdiri merlingkar, dengan khusyuk kami berdo’a agar selamat sampai rumah kami masing-masing. Teringat kata-kata soe hok gie, yang intinya adalah sampai puncak hanyalah bonus dari kerja keras mendaki dan tujuan utama kita adalah sampai rumah dengan selamat. Domeonstran itu juga seorang pecinta alam, dari kumpulan pecinta alam itu dia mulai menyebarkan ideologinya. “berdo’a selesai, Aamiin”. Sudah lengkap dan tidak ada yang kurang. Tepat pukul 15.30 kita mulai meninggalkan halaman Mushola di tempat wisata roro kuning menuju Puncak Limas dengan singgah di Sekartaji. Perkiraan kita akan sampai di Sekartaji pukul 20.00 paling lama.
Sebenarnya track untuk mendaki ke Limas tidak lah terlalu menanjak, tapi jalannya sempit. Hanya cukup untuk satu orang. Sehingga cukup ngeri kalau jalan malam. Oh.. ya, untuk ke Puncak Limas atau Sekartaji ada 2 track. Jalur A yang berarti Atas dan B yang berartti bawah. Jalur A tergolong ringan Namun cukup jauh dan lama. Tapi kalau bagi yang kuat jalan terus akan cepat sampai.  Jalur B, jalur ini sangat ekstrim baik naik atau turunnya. Tidak direkomendasikan jika anda berangkat sore lewat track ini. Karena lewat hutan bamboo, tidak ada stand yang bagus untuk istirahat atau untuk sholat. Tetapi jalur B ini cukup menguras tenaga meskipun jaraknya lebih pendek dari A.
15 menit berjalan mendaki, dada sudah mulai sesak kehabisan oksigen, ingin berhenti malu sama Mbak Wulan, meskipun cewek itu juga sudah bingung mengatur nafasnya. Semakin berjalan semakin terasa sakit kaki kehilangan kadar gula dalam otot. Akibat adari pola hidup yang gak sehat dari puasa sampai lebaran tidak pernah olah raga, hanya makan dan tidur. Baru 15 menit berjalan saja, baju sudah basah karena keringan keluar semua.
“Kalau gak kuat ngomong rek.. gak usah dipaksa”.
“Hati-hati, biasanya yang ngomong begitu nanti yang gak kuat dewe”.
“Ha..ha..ha..”. begitulah candaan kami, dan kadang memang benar.
“Break..break… berhenti dulu”,  Mbak wulan meminta kami berhenti untuk beristirahat sejenak. Masih dengan minuman suplemnet penambah enegri di tangannya yang tak henti-hentinya dimunum. Namun sepanjang ini tidak menimbulkan efek yang berarti.
“Sudah … Ayo jalan lagi”, ajak mbak wulan. Istirahat 5 menit cukup untuk mengatur nafas lagi.
Setelah mbak wulan mengajak istirahat dalam waktu perjalanan sekitar 40 menit, akhirnya dia menyerah juga. Sudah tidak kuat untuk melanjutkan perjalannan.
“Sudah berangkat dulu saja, gak kuat kau.dari pada kalian nanti lama sampai sekartajinya. Gak apa tak balik saja. Mumpung masih sore juga”.
Meskipun kami sudah mencegah dan menyemangatinya untuk tetap malanjutkan perjalanan. Nanggung sudah berangkat balik lagi.
“Wes, aku tak balik ae. Titip adek ku yow. Kau ngko ditakoki wong tuwo ku. Mosok kon mbaturi adeke muncak malah muleh dhisek. Iki enek bekal. Tasse sopo seng jek iso di isi”, mbak wulan terus mengaduk tasnya mencari bekal yag mungkin masih bisa kami butuhkan. Ternyata bekalnya, mie instan, roti-roti, dan yang paling wah.. adalah kue brownies. Akhirnya kami minta yang terakhir aja. Kue brownies aja. Karena ternyata anak-anak sekelompok ini bawa mie instant satu kardus kalau dikumpulkan semua.
Oke, akhirnya mbak wulan balik arah dan menuruni bukit. Dan memang belum jauh, karena roro kuning masih keliatan. “ati-ati yow, jogo adik ku”, pesan mbak wulan sebelum benar-benar turun.
Perjalanan tetap dilanjutkan meskipun sudah gugur satu anggota kelompok, dari bersembilan menjadi berdelapan. Tinggal Aku, Arif, Irfan, Saiful, Tegar, Audi, Wahyu dan Agung adiknya mbak wulan. Kecepatan berjalan yang tidak begitu cepat kadang membuat bosan juga. Tapi gak pa, dari pada capek sembelum sampai ke puncak. Masak harus turun lagi dari kami. 15 menit setelah perjalanan meninggalakn mbak wulan, tepat setelah melewati persimpangan jalur A dan B kami beristirahat lagi. Tiba-tiba mas agung bersuara “wes gak kuat aku, tak balik ae”. Meskipun sudah dicegah tapi tetap saja tidak bisa. Dia seudah bertekat untuk balik bersama kakaknya.  Akhirnya kelompok kami turun kembali. Kembali seperti kelompok yang dari awal. Bertujuh. “ini belum ada setengahnya”
perpisahan dengan Agung adik mbak Wulan
Berjalan terus saja, capek berhenti, sudah kuat jalan lagi. Simple sekali. Tapi kenyataannya tidak selalu seperti itu. Karena tinggal bertujuh dan rata-rata pekerja keras semua jadi kami berjalan lebih kencang dari pada diaawal tadi. Targetnya sebelum petang turun harus sudah kelihatan sekartaji dan harus cepat. Kalian harus tau, kalau sekartaji itu bukan dataran yang luas. Dataran sedikit sekali dan banyak batunya. Jadi siapa cepat dia dapat tempat untuk mendirikan tenda. Bismillah.. allahuakbar.. “pokoknya setiap ada tanah lapang bisa buat istirahat. Istirahat saja dulu”. 
istirahat di watu lonceng
istirahat dulu boss..kira2 jam 17.00
Sesuai rencana, kami sholat maghrib tepat dtempat kami sudah bisa melihat sekartaji. Sekitar satu jam setelah selesai sholat maghrib akhirnya kami sampai sekartaji.  Cari tempat, dirikan Dom, sholat isya, makan, ngopi dan bakar-bakar kayu yang telah dikumpulkan dari perjalanan..
“Setalah selesai langusung istirahat, jangan ada yang begadang. Besok kita berangkat ke puncak jam 01.30. agar bisa melihat sunrise dipuncak limas”.

Tanggal 17 agustus, jam 00.30.
Dinginnya dini hari di sekartaji cukup membuattidak nyaman. Meskipun tidak sedingin ketika pergi muncak ke Gunung Lawu. Ketika di Lawu, meskipun sudah masuk sleeping bag, ppakai kaos kaki, jaket rankap, telingga di tutup. Masih bisa menggigil sampai keram dua kali. Tapi di sekertaji ini, dengan hanya memakai jaket dengan ditutupi ponco, Alhamdulillah dinginya gak seberapa. Meskipun membawa dua dom, namun yang dipasang hanya satu dom yang cukup untuk berempat. Tapi Cuma tiga orang yang di dalam. Tegar dan Audi tidur diluar dengan sleeping bag yang dia bawa. Maklum, perlengakpan adik-kakak ini komplit untuk seorang pendaki. Mulai dari tas sampai sarung tangan aja merk REI. Aku dan wahyu, seadanya saja peerlengkapannya. Jaket biasa dan ponco. Wahyu malah hanya pakai jaket dan kaos kaki saja. Terlihat dia push up untuk memanaskan badannya tadi setelah bangun tidur.
Sekartaji, 17 Agustus Jam 01.45
Barang semua ditinggal saja dalam dom. Bawa tas gak usah semua. Bawa semua air. Kami berangkat menembus gelap diantara semak-semak setinggi panggul. Baru berjalan sebentar saja, kaki langsung basah dan dingin. Embun tebal di ketinggian seperti ini. Tangan jadi basah. Kalau aku, tangan sudah basah, lucet juga, gak pakai jaket soalnya. Hanya dengan kaos lengan pendek, perih.. Namun kelelahan dan ketakutan mendaki di petangnya dini hari adalah indahnya pemandangan lampu kota di bawah sana.. lampu kota Kediri yang terang benderang. Lampu terang berbaris tanpa terputus menandakan itu lampu jalan utama kota.. Kota nganjuk yang gak seterang kota Kediri juga memberikan pemandangan yang tak kalah indahnya.
Dari kami bertujuh, hanya aku dan wahyu yang sudah pernah sampai puncak. Tegar dan adiknya, meskipun sudah 3 kali ke sekartaji tapi tidak pernah melanjutkan perjalanan sampai puncak. Arif dan kakaknya baru kali ini pergi ke puncak. Kau sudah gak ingat lagi, 4 tahun yang lalu naiknya. Hanya wahyu yang bisa kami andalkan untuk menunjukan jalan kemana arah puncak. Agak sulit dengan medan jalan penuh semak yang tinggi. Membuat jalan tidak kelihatan dengan jelas. Alhamdulillah, ada dua teman yang juga mendaki, anak SMADA PALA juga dulu, Dayat dan kawannya anak STM. Dua anak ini hebat bener, naik sampai puncak dengan telanjang kaki. Akhirnya dialah yang kami jadikan penunjuk jalan. Beberapa kali kami berhenti, membaut api dari semak-semak yang kering. Lumayang untuk menghangatkan badan dan mengeringkan kaos kaki.

Jam 04.45
Kami harus berhenti dulu untuk melaksanakan sholat subuh. Puncak seudah kelihatan di depan. Tapi kayaknykita tidak akan mendapat sunrise di puncak limas. Sehingga akhirnya kami putuskan untuk sholat subuh dan istirahat menikmati sunrise tidak di puncak limas. Bagus, puncak Semeru terlihat menjulang. “Pasti disana semua orang juga sedang menikmati Sunrise”, gumamku.
“Pendakian selanjutnya, PUNCAK MAHAMERU”, seru ku kepada anak-anak.
subuh indah menuju puncak limas

foto dulu..
menatap puncak MAHAMERU
Sudah cukup menikmati matahari yang sudah menaik, kami lanjutkan perjalanan ke puncak Limas 2300 dpl. Kelihatannya sebentar. Tapi lama juga kalau dikerjaan. Jalan yang mendaki dan sempit juga tantangan. Terkadang kami harus merangkak pula. Lebih menantang dari pada ke Puncaknya Lawu. Sampai pagi ini, baru ku sadari bahwa kelompok kami dan dua orang teman tadilah yang melanjutkan sampai puncak limas, yang lain hanya nge-camp sampai di sekartaji. Semakin ke puncak dan tidak juga sampai puncak, terbesit untuk tidak melanjutkan perjalanan dan cukup disini saja, balik badan dan turun. Ternyata niatan itu tidak hanya mucul dihati ku saja. Semua anak yang muncak juga bercerita hal yang sama ketika kami sudah turun.. 
“Puncaaaaaakkkkkkkkkkkkkkk”..
sugeng rawuh Puncak Limas 2300 dpl

Krikk…krikkk..kriikkkk. sepi, aku orang pertama yang sampai puncak dari kelompok ku.. masih banyak semak di puncak. Beda.. beda.. beda dengan 4 tahun silam. 4 tahun silam, sampai puncak siang berarti tidak dapat tempat untuk kaki berpijak di puncak. Beda.. sekarang tidak ada tiang, tidak ada bendera.. tidak ada lagi upacara 17 Agustus di Puncak Limas. Sedih juga.. Akhirnya tidak ada sesi upacara bendera, yang ada di pikiran sekarang adalah mengisi perut lapar dengan memasak mie instan lagi dan menikmati kopi untuk menghangatkan badan.
Tak ada upacara, hanya secangkir kopi semangat untuk memeriahkan 17 agustus di 2300 dpl puncak limas.. semangat Indonesia, 68 tahun merdeka. Negeri ku, kau tak akan pernah kehilangan darah muda untuk meneruskan Kepemimpinan. Hanya menunggu waktu hingga kami melanjukan estafet kepemimpinan di bidang kami masing.

Secangkir kopi semangat
secangkir Kopi Semangat 17 agustus di 2300 dpl

Puncak Limas 2300 dpl

Wednesday, September 4, 2013

Secangkir Kopi 2300 dpl

secangkir kopi semangat di Puncak 2300 dpl
17 Agustus 2013
Muncak-muncak..... 
Teriak semangat pagi ini menyambut keberangkatan menuju puncak limas, terakhir muncak ke limas adalah 4 tahun yang lalu. Tepat pada 17 Agustus 2009, mengikuti upacara bersama MAPALA (Masyarakat Pecinta Alam). ketika itu diajak bersama teman-teman Pecinta Alam SMADA (Bayu ArcaPada).  Hari ini ingin mengulangi memorian 4 tahun silam. Upacara 17 Agustus di puncak 2300 dpl,  sebulum anak-anak pada heboh dan terobsesi dengan film 5 cm. bersama mendaki dengan kawan – kawan dekat.
Tapi obsesi muncak kali ini sudah beda, bukan untuk upacara yang mengharukan di puncak atau menirukan film 5 cm. Obsesi muncak kali ini adalah memetik bunga yang katanya “abadi”, Bunga Edelweis. Setelah menonton salah satu acara menjelajah tempat wisata dan dapat informasi kalau bunga edelweiss mekar an berkembang pada bulan agustus-september, musim kemarau. Obsesi kali ini semakin besar ketika melihat bunga edelweis yang 4 tahun lalu ku petik akhirnya rusak dan berdebu. Kumal dan sudah hilang keindahannya.
Berawal dari guyonan untuk muncak pada saat leberan H+2, akhirnya berangkat juga. SMS sana-sini mengajak kawan-kawan lain agar semakin banyak yang berangkat muncak, namun H-2 baru 4 orang yang fix berangkat. Apapun yang terjadi harus berangkat, dengan keyakinan banyak orang yang akan ke puncak seperti halnya 4 tahun lalu. Bismillah berangkat…  melihat pengalaman yang sudah-sudah, biasanya setiap 17 agustus semua pecinta alam SMA akan pergi ke puncak maka untuk kendaraan tidak perlu dibingungkan lagi. Setelah SMS sana sini mencari informasi untuk mencari tumpangan pergi ke roro kuning, start menuju puncak limas. Akhirnya usaha keras itu berujung pada kepusingan sesudahnya, tidak ada anak-anak SMA yang naik pada tanggal 16 Agustus untuk Upacara. Karena mereka dimarahi kepala sekolah untuk  upacara di sekolah saja. Tidak upacara di puncak limas.
Kendaraan masih kurang !!!
H-1hari sampai H-1 jam keberangkatan, kendaraan untuk ke tempat start tidak kurang, kami yang berangkat Saya, tiga bersaudara (arif ardiansyah, saiful, irfan), dua bersaudara (Tegar A dan Audi serta mantan ketua PALA SMADA si Wahyu. Kendaraan yang ada adalah milik Tegar, tiga bersaudara masih bingung kendaraan akhirnya mendapat pinjaman motor dari si Tegar dan Wahyu juga membawa motor sendiri. Sudah Pas.. dan Aku sendiri???? Tidak ada motor untuk kesana, huaa…huaaa….. Akhirnya minta tolong kakak untuk ke roro kuning, jauh juga sihh.. akhirnya tanggal 16 agustus tepat setelah sholat jum’at berangkat…..
arah roro kuning


Puncak Limas (tengah)
Jarkom Perlengkapan sudah terkirim, dan hanya sedikit perlengkapan yang ku bawa dari jarkom perlengkapan yang tak jarkomkan sendiri.. Hee…he… bagi ku yang tidak bileh ketinggalan adalah satu kaleng biscuit kosong untuk wadah bunga edelweiss yang nanti ku petik. (maaf para pecinta alam.. aku bukan pecinta alam). Nasi ? bawa ajalah.. satu bungkus untuk nanti malam juga belum basi.. bukan mendaki, tapi Cuma camping..
Semua siap.. ayo berangkat…..
*****

Tuesday, August 27, 2013

Arjuna Mencari Cinta part 2


akhirnya bisa melanjutkan tulisan kedua dalam seri arjuna mengejar cinta dewi rara ireng.. selamat menikmati dan membaca.. wkwkwk


“sudahlah Prabu, tentang perjodohan ini biarlah ditangan Rara Iraeng sendiri. Kita tidak usah ikut campur. Sebab genenrasi yang akan datang yang nantinya meneruskan memipin negeri ini akan lahir dari pasangan ini”, tandas Prabu Kresna lugas.
“Generasi yang akan datang akan lahir dari generasi hari ini. Kalau generasi hari ini generasi yang mlempem terus mau dibuat apa ?. Maka yang paling cocok untuk jodoh Rara ireng adalah orang yang ulet, terampil dan semangat juang tinggi. Bukan orang yang manja dan malas – malasan, hanya bisa perintah sana perintah sini, tidak pernah mengerti bagaimana rasanya jadi orang bawah.  Akankah kita serahkan nasib generasi masa depan kerajaan ini kepada orang yang tidak bertanggung jawab ?”, prabu kresna mencoba menggiring opini pemilihan arjuna sebagai pasangan untuk rara ireng.
“kamu mau mengatakan kalau Buri Sworo iku pemalas dan tidak tanggung jawab ?”, Baladewa semakin murka.
“ maaf, prabu. Izin memberi penjelasan sedikit saja”, Pandito durna coba menengahi permaslahan yang ada.
“Ada apa Durna ?”, kresna keheranan.
“Bahwa sesungguhnya jodoh itu ada perhitungannya. Tidak sembarangan. Ingat itu. Perhitungan berdasarkan hari kelahiran pasangan. Rara ireng lahir pada hari kamis, sedangkan arjuna lahir hari selasa. Maka tidak cocok, bisa mati muda salah satu pasangan itu nanti “.
“kamis itu cocoknya dengan yang lahir hari minggu. Buri Srowo itu lahir pada hari minggu. Cocok. Bukan begitu sengkuni ?”,  Durna memang seorang yang ahli dalam perwetonan. Biasaya menjadi rujukan orang kampung sebelum menjodohkan anak mereka.
“ohh.. salah kalau itu.. lihat di negeri seberang sana. Presiden Republik Indonesia iku, Pak Harto. Lahir hari selasa. Dan istrinya bu tin, lahir hari kamis. Lihat, pak harto bisa jadi presiden 32 tahun, hartanya berlimpah. Salah htungan mu. Gak valid”, bantah setyaki merasa diatas angin.
“Jodoh iku tidak ada hubungannya dengan hari kelahiran. Hidup, mati, rezeki, jodoh itu sudah ditetapkan allah sebelum manusia itu lahir di dunia. Jadi tidak ada hubungannya dengan hari kelahiran. Itu yang dinamakan Qodho. Tapi manusia juga harus berusa dalam mencapainya, ada sesuatu yang masih dirubah dengan mengikuti sunatullah. Itu yang dinamakan dengan Takdir”,  Setyaki yang dari awal diam akhirnya gatal juga untuk ngomong.
“jangan mengada – ngada mu, durna. Kamu belajar ilmu itu dari mana ?. tidak ada dasarnya hal itu !”, gertak setyaki untuk menciutkan nyali durna.
Sekita durna diam, tertegun dengan apa yang telah disampaikan oleh setyaki. Memang selama ini belum ada survey yang menjamin mati orang yang menikah dengan pasangan yang lahir pada hari kamis dan selasa. Sangat mengada – ada masyarakat itu. Apalagi yang sudah berada di zaman modern ini masih banyak orang yang percaya kan hal tersebut.
Akhirnya semikn tidak menemui hasil pembicaran ini, karena ikut campurnya durna dan setyaki dalam perbincangan hari ini. Meskipun sebenarnya merak tidak punya kepetingan dengan hal ini. Suasana semakin memanas, Prabu Baladewa ingin segera memutuskan bahwa rara ireng harus dijodohkan dengan  Buri Srowo.
Perdebatan itu berakhir sampai akhirnya datanglah dewi kunti  yang bermaksud untuk menyampaikan kegundahan yang selama ini dihadapainya. Masalah yang tak lain adalah keinginan Arjuna untuk menikahi Dewi rara ireng yang merupakan adek dari Kresna dan Prabu baladewa. Tentu pasangan yang sangat beda kasta ini membuat dewi kunti, janda dari Pradu Punthadewa yang tidak meninggalkan warisan  binggung. Arjuna yang memang tidak se level dengan  dewi rara ireng, dewi rara ireng berdarah ningrat sedangkan arjuna adalah orang miskin yang hanya punya kelebihan wajah yang tampan. Arjuna adalahs bagi dewi rara ireng. anak yatim, tidak pantas bagi dewi rara ireng.
Namun perlu kau ketahui, bahwa arjuna tiak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan dewi rara ireng. Sekarang dia bekerja  keras untuk mengumpulkan uang demi melamar dewi rara ireng, memang aku t sanggup untuk menikahkan arjuna dengan mahar yang banyak. Maka berikanlah waktupada arjuna untuk membuktikan kesungguhan cintanya pada dewi rara ireng. 
Mendengar perkataan dewi kunti sambil terisak tanggis, Prabu baladewa tidak terpengaruh sama sekali. Tik halnya dengan kresna yang berhati lembut. Mendengar hal tersebut, Prabu Baladewa mukannya memerah, dengan nada tinggi dia berkata pada kunti. “ Bibi kunti, saya menghargai kerja keras Arjuna untuk membuktikan cintanya kepada adikku , si rara ireng. Tapi perlu diketahui bibi, dewi rara ireng sudah aku jodohkan dengan adik ipar ku, Buri Srowo, yang kaya lagi berkuasa. Saya tawarkan solusi kepada bibi dan arjuna. Kalau bibi tidak mampu menikahkan arjuna dengan mahar yang banyak, maka saya akan berikan uang pada bibi agar mampu menikahkan arjuna dengan orang lain dengan mahar yang banyak. Arjuna yang  bermuka tampan tentu tak sulit untuk mencari wanita lain diluar sana. Bukankah masih banyak perempuan diluar sana”.
“ bibi tidak usah bermimpi untuk menikahkan arjuna dengan dewi rara ireng, sebab aku yang menjadi wali rara ireng. Akan menikahkan rara ireng dengan Buri Srowo. Tidak bisa diganggu gugat”.
Mendengar perkataan Prabu baladewa dengan sedikit marah tersebut, dewi kunti dengan masih terisak tangsi lari meninggalkan halaman kerajaan Ndarawati. Sedangkan Kresna yang ingin mencegah kepergiaan bibinya dihalangi oleh Prabu baladewa.
Dewi rara ireng yang dari tadi melihat perdebataan dipelataran dari serambi kerajaan tak sanggup menahan marah kepada kakaknya Prabu Baladewa. Dia langsung menghampiri kedua kakaknya yang ada di halaman, dengan isak tangis yang tak terbendung, rara ireng menyampaikan isi hatinya kepada kakaknya Prabu Baladewa.
“Kakang tidak pernah mengerti isi hati adeknya. Kakak hanya menjadi pesuruh, babu dari adik iparnya dengan mengorbankan adik kandungnnya sendiri. Kakak tidak tahu, kalau aku tidak cinta sama sekali pada buto jelek si Buri Srowo. Aku hanya cinta pada arjuna. Kakang yang seharusnya menjadi panutan malah tidak menjadi contoh yang baik pada adeknya. Aku tidak sudi mempunyai kakang seperti kamu. Lebih baik aku mati saja”.

Dewi rara ireng langsung masuk kedalam kerajaan lagi dan mengurung diri di kamarnya. Melihat kejadian tersebut dan merenungi kata adenya si rara ireng. Baladewa langsung termenung  dan mata meneteskan air mata penyesalan. Halaman kerajaan seketika sunyi, kedua kakak itu hanya diam seribu bahasa.

Tuesday, August 13, 2013

Punakawan Sang Abdi Ksatria


Kita sering mendengar istilah punakawan dalam setiap cerita yang melibatkan pada ksatria pandhawa lima. Genk  punakawan ini diisi oleh Semar, gareng, Pethruk, bagong. Empat sekawan yang tak terpisahakan. Punawakawan sendiri memiliki arti, Puna artinya tahu, Kawan yang berarti teman. Sehingga Punakawan artinya tahu apa yang harus dilakukan ketika mendampingi tuan (majikannya) dalam keadaan susuh atau senang, penuh cobaan dan godaan menuju kea rah kemuliaan.  Memang punakawan adalah abdi setia yang diperintahkan untuk mendampingi, menasihati serta mengarahkan para ksatria. Genk Punakawan sendiri sebenarnya adalah keluarga. Gareng, pethruk dan bagong adalah anak angkat dari semar. Karakter para punawakan beragam, semar adalah lambing kebijaksanaan seorang sesepuh, gareng menggambarkan kerendah hatian yang tamak. Pethruk adalah lambing kecerdsan berpikir dan penasihat ulung, bagong merupakan tokoh penyeimbang dari punakawan yang lain. Sosok bagong yang suka bercanda kelewatan, tergesa-gesa dan terkadang sedikit lancang.
Semar
Semar adalah putra Sanghyang Tunggal dan dewi Wiranti yang masih saudara dengan sanghyang Antaga (TOgog) dan sanghyang Manikmaya(Batara Guru). Sebutan lain dari semar adalah ki Lurah badranaya atau kadang disebut ismoyo. Semar yang merupakan ttitisan dewa khayangan yang diturunkan ke bumi untuk menjadi abdii yang memberi bimbingan para ksatria yang kelak dikenal dengan Pandhawa lima adalah sosok yang sabar, jujur, ramah dan rasa humor tinggi. Konon, ketika masih di khayangan, semar adalah seorang yang tampan rupawan, namun ketika diturunkan ke dunia (arcapada) badannya menjadi gendut, pendek berwajah lucu dengan mata berair seperti menangis.
Kenapa bisa seperti itu ?. al kisah, dulu ada sayembara untuk menjadi raja tiga dunia (jagad luhur, madya, andhap) bagi yang memenagkan sayembara tersebut. Sayembaranya adalah dengan menelan sebuah gunung dan mengeluarkan kembali lewati dubur. Banyak pendekar yang mengikuti  sayembara tersebut.  Pertama yang mencoba adalah Antaga, dengan sombongnya mencoba menelan gunung tersebut. Huuaa… gunung tersebut tidak dapat ditelannya dan malah merobek mulutnya dan matanya melotot mau keluar.  Setelah itu giliran semar atau ismoyo mencoba melahap gunung yang ada di hadapannya. Happ… gunung itu seketika masuk dalam perutnya dan anehnya malah tidak dapat dia keluarkan. Akhirnya sampai sekarang perut semar menjadi gendut, mulutnya besar dan matanya mengeluarkan air menahan sakit karena gunungnya tidak dapat dia keluarkan.
Gareng
Gareng adalah anak tertua dari semar, dari sebangasa jin. Nama lain dari gareng adalah pancalpamor artinya menolak godaan duniawi, pegatwaja berarti gigi yang melambangkan tidak suka makan makanan yang enak yang memboroskan dan mengandung penyakit. Nala gareng artinya hati yang kering, kering dari keangkaramurkaan.  Ciri fisik gareng dibuat sangat penuh makna. Tangan gareng yang ceko adalah perlambangan dari tidak mau mengambil hak orang lain. Mata juling artinya tidak melihat kecuali yang baik, dan sikil gejik (berjalan dengan tumit) adalah lambing penuh kewaspadaan dalam segala perilaku.
Konon Gareng pernah menjadi raja di Kerajaan Parang Gumiwang dengan nama Prabu Pandu Bergola. Tepai karena ambisi ingin menjadi raja di ngamerta akhirnya dia berkelana dan akhirnya bertemu dengan semar dan menjadi abdi para ksatria di ngamarta. Gareng sendiri sebenarnya dalah pendekar sakti mandraguna, namun hal itu tidak dia tampakan. Sampai akhirnya gareng berhasil menjadi penguasa di Ngamarta dengan mengalahkan para ksatria pandhawa. Dia menggunakan namanya yang dulu, Prabu Pandu begola saat mempora-porandakan kerajaan Ngamarta. Memang sebelum menyerang Ngamarta, gareng sempet menghilang beberapa waktu dan membuat sedih para punakawan dan para ksatria Pandhwa.
Setelah diberi tahu oleh Prabu Kresna bahwa yang menjadi Prabu Pandu bergola adalah Gareng, maka semar langsung memerintahkan Petruk untuk menghadapinya. Petruk yang takur akhirnya berani setelah mendengarkan bisikan dari semar bagaimana cara menghadapi saudaranya itu. Akhirnya pertuk menghadap ke Prabu Pandu bergola dan mengajaknya berkelahi satu lawan satu. Setelah menolak beberapa kali, akhirnya Prabu Pandu tidak kuasa menolak ajakan semar untuk berkelahi. Pertempuran yang seru dan penuh kekocakan itu mengakbiatkan Prabu Pandu bergola berganti wujud menjadi semar tanpa disadarinya. Akhirnya semar masuk dalam pertempuran dan berhasil memisahkan perkelahian itu. Seketika petruk yang sudah rindu gareng langsung memeluknya erat. Setelah ditanya mengapa melakukan itu, dengan penuh bijakasana pertuk menjawab  bahwa hal itu dia lakukan untuk mengingatkan kepada para Pandhawa agar tidak terlena meskipun kerajaan Ngamarta dalam keadaan makmur berkecukupan.

bersambung.....................

Saturday, July 13, 2013

Rencana-Nya

“apapun hasilnya nanti, yakinlah bahwa itu semua adalah yang terbaik dari Allah. Jangan pernah berprasangka buruk. Kita tidak pernah tahu, ada apa dibalik ini semua. Mungkin Allah sudah menyiapkan yang lebih baik dari pada yang kita inginkan”
Kurang lebih itulah nasihat yang ku terima saat menjelang pengumuman masuk perguruan tinggi lewat jalur PMDK. Bersama kesunyian malam dalam kekhawatiran kan hasil yang muncul, nasihat dari bapak itu sungguh menyejukkan. Tidak membuat kita pesimis dan juga optimis. Apapun hasilnya, itulah yang terbaik, karena skenario itu sangat sempurna tak ada cacat di dalamnya.
Tiga tahun lalu, nasihat itu diucapkan sebagai oase kegundahan akan ujian yang akan muncul setelah ini. Bisa dibayangkan, belajar setiap hari persiapan masuk perguruan tinggi siang malam tak kenal lelah bersama kawan-kawan resholusi akan terbayar. Jika masuk alhamdulillah, kalau tidak masuk, seolah kerja keras itu tidak ada harganya sama sekali. Tapi seperti itulah memang adanya.
Seolah malam itu baru kemarin, baru kemarin duduk bersama kedua orang tua. Berbaring dipangkuan ibu mendengarkan nasihat itu. Serasa memori otak ini masih jelas merekam semuanya, detail. Sekarang nasihat itu seolah terdengar lagi persis. Namun, yang menjadi beda adalah masalah yang dihadapi bukuan masuk perguruan tinggi, tapi kerja praktek. Sudah sejak bulan kemarin persiapan kerja praktek sudah disiapkan. Tapi masih ada saja masalahnya. Bukan kurang  masalah perlengkapan administrasinya. Tapi karena tidak bolehnya melakukan kerja Praktek dengan cewek dalam satu tempat kerja praktek. Harus ada kawannya, 2 cowok 1 cewek, 1 cowok 2 cewek atau lebih. Ya, tapi itulah keputusan sang pengampu kerja praktek di jurusan. Mencegah hal-hal negatif yang akan ditimbulkan. Saya sangat sepakat dengan peraturan tersebut, namun ketika peraturan itu menimpa diri sendiri rasanya sangat berat. Hingga singkat cerita akhirnya dapat banyak teman untuk KP di tempat yang sama. Namun ini juga menjadi masalah baru. Semua persiapan berkas KP sudah semua, ehh.. masih ada satu kawan yang masih belum lengkap secara administrasi. Padahal menurut hitungan itu sudah masuk waktu injury time. Bayangkan kawan, kita mau mengajukan proposal KP, tepat satu minggu dengan waktu yang kita ajukan untuk KP. Kau kira Perusahan itu milik eyang mu ?. hingga akhirnya semua failed. MAAF SUDAH PENUH DENGAN MAHASISWA KERJA PRAKTEK, SILAHKAN TUNGGU BULAN DEPAN JIKA MASIH ADA. Hhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa........ (stressssss..)
Namun itulah cara Allah mengatur skenario indah itu, semua terbukti tepat dengan nasihat bapak. Ini adalah yang terbaik dari Allah dan sedang disiapkan rencana yang paling bagus untuk kita. Tepat diterik siang langit surabaya, saat semua isi kepala sudah mendidih karena Proposal KP belum mendapatkan acc juga, tiba-tiba HP bergetar tanda ada pesan masuk..
“jarkom, dicari mahasiswa angakatan 2009 dan 2010 yang akan mengambil TA tentang sedimentasi bisa hubungi mas andi 2007. Source : rifta”
Isi kepala yang panas dan buntu karena nasib KP yang semkin diujung tanduk reflek menggerakan jari-jari memencet tuts keypad HP dan menuliskan kalimat tanya dengan harap masih bisa gabung. Sent massage sesaat kemudian pesen wes dikirim.  Kemudian, Hp bergetar kembali tanda Pesen ditampa, tertulis oe07 andi. Dan tertulis “msih bisa, sekarang dmana ? bisa ke kantor ?”. tiba-tiba ada celukan masuk ke HP, oe07 andi. Bla..bla.. yang intinya bisa bergabung dengan penelitian di kalimantan. Seketika juga bertemu singkat, ngobrol bla..bal..bla.... bahar berangkat besok bisa ? kalau tertalu mendadak bisa berangkat sabtu bareng pak aris..
Haaaa.... (histeris) seolah panasnya kepala itu hilang berganti rasa senang dan .. masih tidak percaya. Borneo.. akhirnya pergi ke borneo, padahal rasanya baru kemarin bermimpi, berdo’a dan berharap. Kapan bisa menjelajah ke pulau borneo. Terjawab sudah.. ternyata rencana indah itu memang  sudah disiapkan, diluar prediksi. Asyikkkk borneo.. borneo.. liburan..liburan...
Ah, membuka kembali buku ulama’ terkemuka dunia, Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah, nasihatnya sungguh terasa,
Jika kau tidak bisa berbaik sangka kepada Allah karena kebaikan sifat-sifat-NYA, berbaik sangakalah kepada-Nya atas kebaikan perlakuan-Nya terhadapmu. Bukankah Dia selalu memberi mu yang baik-baik dan mengaruniamu berbagai kenikmatan ?

19 juli 2013

Hadiah terindah itu. KELUARGA PUSKOM


Ukhuwah itu..
Pelangi warna langit perjuangan dengan spektrum kebersatuan Warna yang indah
Harmoni alunkan nada-nada indah perjuangan yang menembus sanubari.
Seimpul ikatan hati-hati kita dalam tambatan iman
Sinergi saling mengisi untuk jadi pribadi madani
Akselerasi saling mendorong inisiasi percepatan kebaikan
“ukhuwah itu aku, kamu dan ALL umat muslim seluruh nya”
è Sebuah hadiah kecil dari keluarga Puskom buat Bapak Direktur FSLDK akhina Baharudin fahmi
“ semoga bermanfaat”
Tulisan disecarik kertas kecilmasih terus ku pandangi, dengan mata yang berkaca-kaca. air mata kebahagian disudut mata, seolah tak percaya dengan apa yang ada di depan mata. Surat kecil datang tidak sendirian, bersama bungkusan kado bunga-bunga yeng belum juga ku buka. Hanya memandangi dengan tangisan keharuan karena kejutan yang sangat wah. Tak pernah ku berpikir bahwa malam ini akan ada hadiah dari keluarga kecil yang sering kami sebut PUSKOM.
Sungguh malam mendung itu berubah menjadi indah, seolah bintang membentuk gugusan :) , tersenyum ikut senang.  Ah, terlalu cengeng kalau harus menangis. Tapi semakin ditahan, tetesannya semakin deras menganak sungai. Sebuah bungkusan kado hadiah bukan di momen spesial, bukan milad. Hanya tanggalnya tepat satu bulan sebelum tanggal kelahiran ku, 18 Juni. Hanya mematung dan memutar-mutar bungkusan tersebut, belum berani membuka.
Semakin ku beranikan untuk membuka kado tersebut, semakin bergemuruh isi dada ini. Menunggu kejutan apalagi yang keluarga kecil ini berikan. Sebuah kubus keluar dari selimut kertas kado motif bunga itu, dan... hah, tidak ku sangka mereka memberikan hadiah itu. Sungguh, kenapa mereka memberikan hadiah yang isinya barang itu ?. Padahal besok atau lusa aku akan membelinya.  Sebuah Handphone dari pabrikan ternamaan korea. Mungkin mereka tahu, karena sebelumnya HP yang biasa dipakai masuk kedalam panci saat masak mie untuk sahur. Hingga layarnya gelap ¾ nya.
Ternyata sebenarnya keluarga ini ingin menyiapkan kejutan itu pada saat milad ku nanti, tapi mereka akhirnya mempercepat sebelum hari milad itu. Tak tau harus bagaimana membalasnya, bukan membelas secara materi. Karena jika itu, mudah saja membalasnya. Tapi membalas dengan harga dan rasa yang sama, mungkin sulit. tapi janji dalam hati ini, pada suatu saat nanti ku akan membalas semua yang telah mereka berikan. Tunggu saja kejutan selanjutnya..
---- Keluarga Puskom  ------
Sungguh indah ukhuwah islamiyah itu, tidak terbatas oleh sekat ikatan darah, kesukuan dan sebagainya. Sungguh kuat ikatannya dengan simpul-simpul keimanan. Mengikat erat dan menghimpun dalam keluarga kecil “PUSKOM”. Keluarga yang selalu menenangkan dalam kegundahan, menghibur dalam kesedihan, menjadi tempat berpaling dari kerinduan akan kampung halaman, karena semua semua senasib sepenanggungan. Keluarga yang selalu berbagi dan belajar memahami. Berbagi semua masalah dalam kehidupan, belajar memahami karakter satu dengan yang lain.
Sungguh, hadiah terindah itu bukanlah kado yang ada di atas meja, bukan juga isinya.  karena sejatinya Hadiah yang sebenarnya adalah ukhuwah, dan ukhuwah itu terajut indah dalam kado yang bernama  KELUARGA PUSKOM di atas meja keimanan.
Jazakumullah khairan katsiran untuk Akh Lulu Fajar Ramadhan, Ukh Intan Kartikasari, dan Mbak Rosmayani Noor Latifah, akan ku bingkai kenangan ini hingga raga tak bernyawa lagi.

                                                                                                                                        18 mei 2013