Tuesday, January 27, 2015

Potong Tumpeng


akhirnya waktu itu datang juga, saatnya mempertanggungjawabkan semua yang telah didapat selama belajar. ibarat orang belajar ilmu silat, hari ini adalah saatnya menguji apa yang telah dipelajari selama ini. semua jurus, semua ilmu kanuragan. seperti halnya teman-teman di kampung dulu, mereka harus menunjukan ilmunya sebelum mengambil sabuk tertinggi berwarna putih, artinya dia telah lulus. bagi seorang akademisi perguruan tinggi, pasti merasakan yang namanya sidang, Tugas akhir untuk Statra 1, Tesis untuk S2, dan Desertasi untuk S3. intinya semua sama, mempertanggung jawabkan ilmu yang telah didapat didepan semua penguji. Ibarat kita seorang pesilat yang telah dilatih "pendekar" dengan gelar minimal Master, Doktor dan paling mentok Profesor. Pada saat ujian pun, kita harus "melawan" penguji dengan ilmu yang sama dengan pendekar guru kita. Hebat bukan.... 
Makanya, tak khayal bagi para pesilat yang diuji kadang harus tersungkur saat berhadapan dengan penguji. bukan ingin menghancurkan, tapi ingin memperlihatkan bahawa ilmu itu sangat luas dan kita baru dapat hanya segenggam tangan. Terkadang ada pesilat yang sangat mahir untuk jurus tertentu, tersungkur karena hanya ditentang kakinya oleh sebab kuda-kuda yang tak kuat. atau ibarat orang perang, kita bawa senjata AK-47 yang bisa membunuh semua lawan namun mati hanya karena ketapel. Ironis memang, namun memang kenyataannya seperti itu sering kali. Peserta sidang sudah banyak belajar ilmu-ilmu tingkat tinggi, namun malah jatuh pada saat ditanyai sebuah konsep dasar.
ahh.. itulah hidup..
sekarang saatnya kita potong tumpeng. memotong puncak tumpeng adalah simbol pembuka dalam berbagai kegiatan selain potong pita. Acara terpentingnya motong puncak tumpengnya, selain itu hanya biasa saja. hari itu adalah saatnya aku memotong tumpeng, membuka acara ujian pertanggungjawaban ilmu yang telah dipelajari. oh ya, bukan hanya simbol pembuka saja. memotong tumpeng kali ini sama seperti mempertanggungjawabkan secara akademis pekerja akhir. Tugas akhir itu seperti Potongan puncak tumpeng, dan itulah yang akan kita sajikan kepada penguji. tidak terlalu penting bagian tumpeng yang lain. Ilmu yang kita pelajari dari awal semester hingga akhir seperti tumpeng itu sendiri. mengerucut ke atas. semakin tinggi semester kita, semakin mengerucut. Dan potangan paling puncak itulah yang akan kita sidangkan.

Potong tumpengnya dan silahkan menikmati

Monday, January 19, 2015

Mikir

Sang amirul mukminin pernah berkata "kalau ada keledai berjalan di kufah kemudian jatuh karena jalan berlubang, maka itu adalah salah khalifah",
- Kalau ada yang ngomong "itu bukan urusan saya", "I don;t think about that", "bukan salah saya".
hahahaha... 

Waliyultravel


Akhir-akhir ini, dunia per”Wali”an sedang menghadapi masalah cukup serius. Hal ini disebabkan adanya Majelis per”Wali”an tandingan yang coba mengangkat wali sendiri tanpa melalui Majelis per”Wali”an resmi langsung dari titah Gusti Allah. Mungkin ini karena semakin banyaknya orang-orang yang berziarah ke makam-makam wali untuk meneladani dan mengingat kematian. Kalau tidak percaya, sesekali pergilah ke komplek makam sunan ampel. Ratusan bahkan ribuan orang akan keluar masuk berkunjung. Kalau dilihat dari sisi ekonomi, tentu itu merupakan pangsa pasar yang sangat menggiyurkan. Menjual jasa biro ziarah wali.
Namun masalah yang muncul adalah semakin banyaknya “wali-wali” baru yang kemudian bermuculan. Mungkin kita masih ingat ketika belajar sejarah dulu, kalau wali yang ada di tanah jawa ada Sembilan wali atau yang lebih dikenal dengan wali songo. Mulai dari daerah jawa timur sampai ujung jawa barat. Sekarang sudah umum bagi peziarah melakukan ziarah wali songo Jawa Timur. Loh… wali songo tapi di Jawa Timur ? padahal kalau kita hitung, di Jawa Timur hanya ada 5 makan wali dari wali songo. Pertanyaannya kemudian siapa yang lainya ? siapa yang mengangkat menjadi wali ?.
Memang zaman sudah edan, Ekonomi neo-liberal telah menjadi urat nadi kehidupan. Semua saja asal menghasilkan uang akan digunakan. Tak terkecuali dengan menjual gelar “wali”, mendirikan majelis Per”wali”an untuk mengangkat wali baru. Dunia bisnis travel wisata religi yang satu ini memang sedang naik daun. Sehingga agar lebih mentereng, tanpa ragu kemudian mengangkat wali-wali baru, sehingga di Jawa Timur sendiri ada wali songo Jawa Timur. Kalau biasanya kita menyebut Sembilan wali penyebar agama islam di Jawa Timur dengan sebutan Waliyullah yang berarti wali-wali Allah, mungkin kita bisa menyebut juga wali-wali baru yang diangkat oleh travel tersebut dengan sebutan waliyultravel atau wali-wali travel. Dasar pengangkatannya pun hanya berdasarkan mudahnya akses jalan, yang penting terjangkau dan satu jalur dengan wali-wali yang lain.
Hahaha.. jangan anda marah dengan tulisan ini. ini hanya gurauan belaka. Entah benar atau tidak silahkan anda cek sendiri saja. Mungkin hari ini di alam barzah sana, semua wali-wali berkumpul dan sedang bercengkrama. Para waliyultravel sedang disindir oleh para wali songo.. “anggota wali songo baru ya”.. atau ketika Gus Dur yang baru saja diangkat sebagai wali sedang bertemu dengan Mbah Hasyim. Mungkin Gus Dur setengah malu kalau ketemu Mbahnya itu. gimana ndak malu, lha wong Mbah Hasyim yang pendiri Nahdhotul Ulama aja selama ini tidak pernah masuk list dalam perjalanan Wali songo, Gus Dur yang “Hanya” pernah jadi ketua PBNU jadi Wali dan masuk list perjalanan tour ziarah Wali. Hahha.. jangan anda marah.. ini hanya lelucon yang pernah disampaikan Cak Nun..

Jangan anda tuduh saja sebagai wahabi yang membenci para peziarah wali songo. Lha wong dengan adanya peziarah wali songo itu juga memberi kehidupan banyak orang mulai dari kenek Bus sampai pedagang sekitar komplek pemakaman, pengemis dan para orang yang terlibat di dalamnya. Ini hanya sedikit selintingan dari jalanan melihat semakin banyaknya wali yang dikunjungi diluar wali songo. Jangan – jangan itu bukan Waliyullah tetapi wali travel. Kalau kemudian benar waliyullah, siapa yang pertama menyebutnya?. Ah.. anak jalanan yang gak pernah ngaji gak usah ngomongin itu. nanti di tudah wahabi..

Wednesday, January 14, 2015

Suara Jalanan


Hanya di Negeri Dongeng, semua akan berjalan sesuai mau. Hanya di Negeri dongeng, semua orang jahat mungkin bisa kau bunuh hanya dengan sekejap menggunakan aji-aji apalah itu. Namun itu hanya dongeng yang setelah kau akhiri akan juga berakhir, kembali ke dunia nyata. Kalau di dunia nyata, hal-hal yang tadinya tidak mungkin bisa mungkin, hal yang tabu bisa jadi wajar dan legal. Gonjang-ganjing dunia nyata baru-baru ini adalah soal pemberantasan korupsi yang ditunggangi KPK. Bagaimana gak bikan heboh sampai akhirat. Lha ini calon tunggal KAPOLRI yang diusulkan Pak Presiden ditetapkan jadi Tersangka korupsi karena punya rekening gendut.
Denger-denger dari orang-orang jalanan, itu mah karena banyak orang yang gak suka. Jadi dikorek-korek semua yang boroknya. Nah, ketemu rekening gendutnya. Mungkin karena gendit itu ya, jadi sulit disembunyikan, gak muat tempat sembunyinya. Gak suka gimana ?. Lihat saja, apa Pangkat bapaknya itu?. AH, kayak kamu gak pernah ikut ospek saja. maksudnya, lha dia kan pangkatnya belum mentok sampai Jenderal, ibaratnya masih junior. Kan masih bongkokan yang pangkatnya jenderal yang bisa dipilih Pak Presiden. Junior gak boleh berani sama senior, begitu bunyi klausulnya. Meskipun kalau mau dikorek-korek, mungkin saja juga banyak jenderal yang rekeningnya tambah gendut.
Kabar yang ku dapat dari angin, katanya KOMPOLNAS sudah merestui pencalonan untuk maju sebagai calon tunggal KAPOLRI. bukan kah itu berarti sudah beres?. Kan KOMPOLNAS selama ini selalu kritis terhadap POLRI dan para petingginya. Apakah KOMPOLNAS tidak tau? Aneh juga kalau sampai gak tau soal itu. Menurut KOMPOLNAS, masalah rekening gendut pak calon KAPOLRI itu memang pernah ada, tapi sudah selesai dan tidak terbukti dulu. Namun versi KPK memang dulu masih proses penyelidikan, jadi lama sekali prosesnya hingga akhirnya sudah masuk tahap penyidikan dan langusung digelari tersangka. Ah, jangan-jangan KPK menerima pesanan pengungkapan kasus korupsi. Hmmm.. kalau itu semuanya orang jalanan sudah tau, tapi gak punya bukti.
Tapi memang aneh lho, mengapa bapak itu bisa menjadi calon tunggal KAPOLRI. ya aneh, karena masih banyak jenderal tapi kog bapak itu yang di tunjuk. Masuk akan juga kecurigaan itu. Katanya sih ini bagian dari bagi-bagi jatah kursi. Meskipun Pak Presiden dulu pas masih jadi capres kampanyenya GAK ADA BAGI-BAGI KURSI. Bagi-bagi kursi? Yang bener aja, emang apa kontribusi bapak itu?. katanya sih dulu juga bagian dari perancang visi-misi Pak Presiden sekarang. Sebagai jasanya, makanya Pak Presiden mau menjadikan KAPOLRI. Soalnya tau sendirikan, pas kemarin mau dijadikan Menteri gak lolos. Pak Presiden sok-sok an pakai KPK sama PPATK, yang akhirnya gak memberikan lampu ijo karena bapaknya punya rekening gendut. ICW juga pernah mengungkapkan hal itu lho.

Ahh… emang gonjang-ganjing dunia nyata itu bisa bikin geger dunia akhirat. Mungkin gusti Allah Cuma senyum melihat sandiwara orang-orang dunia. Malaikat mungkin sudah gregetan pengen segera membawa ke neraka. Hahaha…

Friday, January 9, 2015

Tangan Langit


Sesekali ingin rasanya kembali merasakan jalan-jalan menyusuri sungai, mendaki bukit, serta mengelilingi taman dan duduk di bangku putih dekat danau yang penuh bunga. Oh ya, ini sedang musim berbunga. Dan yang paling ku inginkan adalah mengelilingi taman sambil sesekali menghirup harumnya bunga mawar putih. Melihat kupu-kupu terbang berkejaran, menari elok ditangkai sambil sesekali menghisap madu jikalau lelah. Mirip sekali sama anak-anak kecil hamparan hijau luas sana. Dari kejauhan ku lihat sekelompok anak kecil berlari-larian, tertawa riang tanpa takut akan ada yang mengusik mereka. Seolah mereka adalah makhluk merdeka tanpa akan ada tangan-tangan yang akan mengganggu permainan meraka.
Sejenak ku hirup segarnya udara pagi ini, memejamkan mata menikmati setiap nikmat yang ada, memandang hamparan langit biru serta awan-awan yang bermain berkejar-kejaran. Langit sangat bersahabat, menaungi apapun dan siapa pun yang ada di bawahnya. Sebab memang tugas mereka, menaungi tanpa harus mencampuri. Sesekali memberikan mendung gelap, rintik hujan, badai petir dan pelangi. Sekedar rasa cinta penuh kasih sayang dan perhatian dan bukan campur tangan. Langit adalah langit dan bumi adalah bumi. Meskipun keduanya ada salauran yang tak terlihat kata orang-orang botak yang biasa disebut ilmuan. Namun anak-anak adalah anak-anak, mereka senang bermain, berguling-guling di taman. Mereka tak peduli apa kata orang botak itu, baginya langit harus lah tempat bernaung saat mereka main petak umpet, rumah-rumahan sampai gulung-gulung ditaman.
Langit, masihkah kau adalah langit ?
ku buang pandangan ku dari memandang langit, kembali melihat anak-anak kecil yang sedang bermain. Sekarang mereka tidak lagi berkejar-kejaran, diantara mereka ada yang duduk, mondar-mandir, tengkurap dengan tangan menyangga kepala. Tapi ada satu yang sama ditangan mereka, buku. Ternyata mereka sedang asyik belajar, mencoba memahami ilmu agar kelak bisa menjadi manusia-manusia yang dapat menjalankan hidup tanpa harus bergantung pada langit. mereka melakukan percoban, gagal lagi, mencoba lagi, gagal lagi, mencoba lagi. Rasanya tak ada kata bosan di otak anak itu. Dasar anak-anak revolusi. Mereka ternyata sudah sadar, bahwa langit pada suatu saat tidak akan peduli dengan apa yang ada dibawahnya. Langit tertidur panjang, hingga ruh lupa akan jasadnya.
Langit, masihkah kau adalah langit ?

Ku petik bunga mawar putih yang sejak tadi menggoda, mengayun melambai. Cantik sekali. Ku hirup dalam-dalam semerbak wanginya. Harum sekali kawan. memang mawar tak pernah bohong soal harumnya. Anak-anak itu masih tetap tak bergeming, sibuk dengan aktivitas masing-masing. 
Ku lihat awan mendung bergelayut, merayap di bawah birunya langit. Langit berubah gelap, awan hitam pekat dengan segala isinya. gemuruh dan kilat memecah kegelapan, sesakali gelegarnya menyombongkan menakuti anak-anak. tangan langit tiba-tiba turun, merampas semua yang ada di tangan akan-anak itu. Aku hanya bisa melihat dari jauh, sesekali meneriaki mereka agar melawan tangan langit. "Tangan langit kuat, tapi kalian lebih berkuasa". Atas nama kenyamanan dunia langit, semua harus tunduk patuh. Tak ada kritik. "Langit selalu benar", begitu selorohnya. Langit kini mengajari anak-anak, bagaimana cara bermain yang benar. "Ah, apa-apaan. bermain saja harus diajari". Mungkin sebentar lagi, anak-anak itu akan menjadi robot hidup berlbalut daging. 
Aku pernah merasakan jadi anak-anak seperti meraka, bermain dengan nyaman di taman. berlari, bergulung-gulung. semua bebas, semua senang. Badai langit memang pernah datang, tapi sayang aku adalah anak yang berhasil lari, melawan kilatan pertir dan tangan-tangan langit. Aku akan tetap bernaung di langit, tapi aku juga manusia yang ingin bergerak bebas bermain. aku tak akan menghianati langit yang telah menjadi tempat berlindung.

Wednesday, January 7, 2015

Juragan Do'a

Perjalanan hari ini cukup memberikan pelajaran lebih, menggali makna setiap langkah petualangan. memulung hikmah memungut kata hingga terangkai indah yang membekas bagi mereka yang merasakan. Hari ini saya ditunjukan sebuah fenomena yang sebenarnya sudah lama terdengar namun baru kali ini melihat langsung. Bukan hanya satu atau dua, ternyata jumlahnya belasan. "Profesi" baru sebagai Juragan Do'a. 
Juragaan do'a
Dijaman ekonomi liberal nan kapitalistik ini, semua hal pun bisa dijadiakan Untuk jadi komoditas dagang. Salah satu jenis komoditas dagangnya adalah do'a, dengan label bisnis islami. Ya, mereka yang berbisnis do'a akan memasang tarif sekian untuk setiap do'a yang mereka keluarkan dari mulutnya. Masalah Jeni's tarifnya, tentu beda-beda, semua tergantung berapa besar masalah yang dihadapi pembeli, cepat lambatnya trrkabulnya do'a juga pertimbangan lain. Sang juragan do'a kadang juga member tomb an goan hal lain, seperti kalau orang sakit seberapa parah sakitnya, kalau koruptor berapa keringanan hukuman yang akan dia terima. Pokoknya semua bisa diatur, juragan do'a siap berkomat-kamit sampai meniren untuk memenuhi kepuasan Pelanggan. Lhat Wong dia gak perlu Kolak'an Untuk setiap do'a yang dia keluarkan. Tentu saja berbisnis dengan komoditas dagangnya do'a menjadi salah satu bisnis yang menjanjikan.
Dalil yang digunakan pokoknya, "berdo'alah kepada KU mana akab AKU kabulkan". Semua orang percaya, Karena itu memang ayat alQuran. Kadang masih dit am baht am bahi beberapa dalil sabda baginda SAW Untuk meyakinkan pembeli. Sang juragam juga memberi slogan do'a adalah senjata kaum muslim, sehingga pembeli do'a semakin tersugesti.
“Do’a agar diberi keamanan ada nggak gan?”, Tanya seorang yang kiranya mau meminta dicarikan do’a.
“Mengapa mencari masih aman?”, juragan itu coba meng-kepo pasiennya.
“Biar ndak ditangkap KPK”, katanya polos memelas agar bisa ada do’a tidak tertangkap dan dimasukan penjara. Maklum, sebagai orang yang punya jabatan tinggi, korupsi sana – sini sudah dilakukan dengan lazim.
“Jangan mikir yang macam-macam lho gan. Saya ini begini-begini sudah haji, umroh beberapa kali dan membangun panti asuhan”, lanjutnya.
“oh..oh.. hmm”, sambil berkonsentrasi membolak-balikan buku kumpulan do’a.
“ada gan?”, harapnya cemas.
“ini do’anya, dibaca setiap hari”, sambil memberikan secarik kertas kepada pasiennya.
Dikiranya Gusti Allah itu bisa ditipu, dikiranya tidak tahu apa yang ia lakukan. Berdo’a macam-macam, ingin ini dan ingin itu. Belum lagi yang rakus lagi tamak, sudah banyak harta masih saja beli do’a ingin kaya. Harusnya kan beli do’a agar tidak ditanya soal hartanya pas nanti di akhirat. Semacam surat bebas pemeriksaan. Huhh.. mereka itu. Uang hasil korupsi di sumbangin ke panti asuhan, masjid sekalian minta do’a biar selamat dari pengadilan. Pergi haji berdo’a ke baitullah, menangis sambil memohon tidak tertangkap KPK.. Gusti Allah kate dibujuki.
Kalau itu tadi Juragan do’a yang kelas kakap, harus setor berapa untuk mendapatkan do’a. Sekarang kita lihat juga, juragan do’a yang kelasnya kecil-kecil. Buka lapak ditengah jalan. Disediakan kotak atau bahkan keranjang untuk setiap orang yang lewat. Mereka yang kemudian pas lewat kemudian memasukan uang berapun itu, akan mendapat do’a yang panjangnya dari masyrik sampai maghrib. Do’a nya diobral sana-sini. 100 perak sama 1000 do’a nya sama panjangnya. Orang yang di do’akannya pun gak mendengar do’anya dan belum tentu butuh do’anya. Lha wong dia yang penting ngelempar uang dan gak butuh do’anya.
Hah, kalian mau jadi juragan do’a ? bisnis baru yang bisa ngalahin MLM. Kalau sudah besar usaha mu nanti bisa dibuka waralaba-nya. tinggal ngasih ijazah do'a nya. secarik kertas dan bolpoin. 




Tuesday, January 6, 2015

Corong (tak) Bernurani

Treeet...teetttt.....tettttt..... bunyi bersautan disertai ledakan kembang api silih berganti meramaikan malam. "Selamat tahun baru", kata banyak orang yang malam menunggu detik jam hingga berganti hari. Pesta meriah, hiburan serta kesenangan dunia di umbar untuk menyambut tahun baru masehi. semua bersorak suka cita, merasa semuanya akan berubah setelah tahun juga berubah. dentuman drum dan piranti musik semisal ditabuh menjelang beberapa detik pergantian tahun. Tak mau kalah, Televisi ramai-ramai menyiarakan pesta tahun baru mereka dan beberapa peristiwa detik-detik tahun baru di berbagai belahan dunia. Semua sama, corong terompet ditiup bersama-sama.

Corong (tak) bernurani

hingar bingar tahun baru, seperti biasa semua senang berharap semua masalahnya tahun ini akan selesai setelah bangun tidur. mereka mengucapkan do'a agar tahun depan lebih baik. hah.. memang, masalah mu tahun kemarin sudah selesai, karena sekarang sudah berganti tahun dan masalah mu sekarang ada ditahun 2015 bukan 2014 lagi. Do'a mu terkabul untuk yang ini. Untuk do'a yang tahun depan lebih baik, rasanya hanya akan menjadi do'a kalau kamu hanya tidur saja.
Rasanya orang-orang yang merayakan tahun baru kemarin sudah kehilangan nurani. Dibelahan lain, tetangga mereka masih berharap esok tahun baru masih bisa makan. atau orang-orang yang kemarin terkena musibah. bukankah harusnya masih ada nurani yang mereka berikan kepada yang membutuhkan ?. saat corong ditiup, saat itu pula ternyata ada rakyat miskin yang tidak bisa makan mati. Bukankah itu juga memberikan kehidupan pada pedagang terompet? memang begitu hukumnya. namun sayang kalau anda hanya membeli terompet saat tahun baru saat tetangga atau orang di sekitar anda merasa tidak bahagia. 

Ah, mungkin aku saja yang terlalu khawatir. mereka yang merayakan tahun baru dengan pesta pora ala binatang pasti sudah memastikan kalau orang-orang miskin di sekitarnya tidak lagi dalam kelaparan. apakah Corong bernurani hanyalah utopi? yang setiap tiupannya adalah kehidupan bagi rakyat miskin dan orang-orang dhuafa?


Monday, December 29, 2014

Cermin bagi yang merasa

Saya temukan tulisan ini dari nyangkruk sambil ngobrol ngalor-ngidul, saat itu sedang ramainya pemberitaan atas tertangkapnya (mantan) ketua umum PKS, Ustadz Lutfi Hasan. Saya ditunjukan tulisan ini, beberapa saat membaca, dalam hati kemudian berbisik "inilah cermin bagi kita". Inilah persepsi orang diluar ketika melihat PKS.  Tulisan ini ibarat bayangan yang tertangkap cermin penulisi. sehingga bukan salah dia kalau menilai seperti itu, mungkin memang ada orang-orang yang menjadi bagian dari jamaah tersebut bersikap seperti itu. mungkin bukan kita, tapi sebelah kita. Mari berinstropeksi, karena kita adalah kumpulan manusia BUKAN MALAIKAT.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kader PKS, Mari Belajar Bersama...

oleh Sigit kamseno
di post tanggal 1 agustus 2014

Teman-teman kader PKS,  selepas  Ashar ini di beranda rumah, mari kita minum teh hangat sembari sharing dari hati ke hati. Semoga angin sepoi-sepoi nan lembut dan hamparan rumput di depan beranda mungil ini bisa menemani obrolan ringan kita. Saya ingin sedikit curhat, terutama tentang aktivitas kader-kader PKS belakangan di dunia maya, yang tentu saja baik, namun pada beberapa hal nampak berlebihan.

Perjuangan kader PKS di Indonesia tentu baik. Dulu, melihat muslimah mengenakan jilbab sangatlah sulit. Di sekolah-sekolah, apalagi instansi pemerintah, jilbab menjadi hal yang tabu. Waktu itu di media massa bahkan wanita berhijab acap diilustrasi secara buruk. Saya masih ingat betul ketika masih SMP, bagaimana sebuah surat kabar nasional memuat ilustrasi pencurian di swalayan dengan gambar wanita berjilbab dengan tudingan kain penutup aurat itu adalah sarana utk sembunyikan hasil kutilan jajanan supermarket. Atau, ilustrasi nonsense lainnya dimana tampak seorang ibu yang mengenakan jilbab sedang menyusui anaknya, namun dengan dada terbuka. Belum lagi tudingan aliran sesat dan seterusnya. Saya, ‘diusiaku yang 29th my age’ ini (huft!) masih merasakan ujung dari perjuangan perempuan-perempuan itu utk diberi kebebasan mengenakan hijab di ijazah SMP dan SMA: kakak angkatan saya masih membukanya lantaran represifitas pemerintah terhadap selembar kain penutup aurat itu.  Bayangkan, demikian sulitnya sekadar untuk tunaikan perintah agama.

Dan adalah kader PKS, antara lain almarhumah Yoyoh Yusroh (semoga Allah menempatkan beliau pada tempat terindah di sisi-Nya) bersama rekan-rekannya seperti Wirianingsih, dan kader-kader gerakan tarbiyah (cikal bakal PKS) lainnya yang berdarah-darah memperjuangkan kebebasan agar wanita muslimah dibebaskan untuk menutup aurat, sebab ia panggilan agama. Utk keyakinan ini, mari kita abaikan celotehan anak-anak Islam liberal yang selalu nyinyir anggap jilbab sebagai tradisi Arab. Kita katakan, “Tradisi Arab itu tari perut, bung! Aurat terbuka bebas kemana-mana.” Justru ketika turun kewajiban berjilbab sebagai perintah Tuhan, wanita-wanita Arab yang bertaqwa bergegas menutup kepalanya meski harus kenakan tirai yang masih menggantung.

Kini, perjuangan untuk mengenakan hijab telah menemukan buahnya. Mata kita haru dan basah ketika pemerintah akhirnya membolehkan jilbab digunakan di instansi-instansi plat merah, juga dibolehkannya foto berjilbab pada ijazah sekolah-sekolah menengah. Sekarang sangatlah mudah menemukan wanita berjilbab di mana-mana, mulai instansi pemerintah hingga perbankan, dari buruh-buruh pabrik garmen hingga anak-anak pra sekolah, mulai tukang jamu gendong hingga eksekutif muda di perusahaan multinasional, semua kenakan jilbab. Malah kini kondisinya berbalik, jika rekan-rekan berkunjung ke kementerian atau lembaga-lembaga milik Negara, lalu menemukan wanita tak berjilbab, hati tergelitik bertanya: “apakah Anda Muslimah?”
Walhamdulillah, dakwah dengan cara mulia telah menikmati hasilnya. Kisah kolosal wanita-wanita itu dalam memperjuangkan penggunaan jilbab di masa orde baru bisa kita baca dalam buku Revolusi Jilbab, Karya Alwi Alatas, atau dalam buku Ali Said Damanik, Fenomena Partai Keadilan 

Pelajaran yang dapat kita ambil adalah: Kita akan dapati perjuangan para senior tersebut memerlukan waktu yang tak singkat. Tidak seumpama mie instan yang bisa dinikmati segera setelah dimasak. Semoga menjadi amal shalih dalam hamparan keikhlasan bagi mereka-mereka yang berjuang berpeluh keringat untuk generasi baru yang kini sangat mudah kenakan jilbab dengan aneka modelnya yang penuh warna.

Selain itu...

Selain Jilbab misalnya, teman-temanku kader PKS, isu Palestina kini hangat dibicarakan dimana-mana. Pak SBY di website dan Fan Page-nya (gaul ya presiden kita) juga menulis surat terbuka berlembar-lembar untuk isu Palestina ini. Bahkan kemarin, sebuah acara infotainment turut pula menayangkan profil syuhada Palestina, termasuk tokoh legendaris al-Syaikh Ahmad Yassin. Luar biasa! Kini Televisi dan media cetak ramai-ramai menulisan kata “Pejuang” untuk Mujahidin Palestina, sebuah konotasi positif karena senyatanya mereka memang berjuang membebaskan negaranya, seumpama leluhur kita kala melawan penjajahan bule-bule Belanda itu.

Padahal dulu, media massa nampak berat menggunakan kata “Pejuang”, umumnya mereka hanya menulis ‘militan’ Palestina, dll. Bahkan, untuk tanah Islam lain di sudut-sudut bumi ini, media massa kerap menulisnya: “Pemberontak Chechnya,” “Pemberontak Moro”, “Pemberontak Kashmir”, dll. Kata pemberontak dalam konteks tadi tentu saja, mengutip Adian Husaini dalam bukunya Penyesatan Opini, hanya tepat jika media massa tersebut satu perspektif dengan Penjajah. Seumpama Belanda menyebut pahlawan-pahlawan Kemerdekaan Indonesia dengan sebutan “Pemberontak”.

Di Indonesia, terutama era Orde Baru, yang concern pada isu Palestina ini hanya kelompok Islam, hanya saja kampanyenya tak terlalu massif. Dulu ada KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) yang dimotori alm.Ahmad Sumargono, yang kemudian menjadi politisi Partai Bulan Bintang (PBB). Dalam perkembangannya, yang lebih massif mengampanyekan isu Palestina ini adalah kader-kader PKS. Kampanye kader-kader PKS di berbagai media online termasuk sosial media, juga Aksi Demonstrasi sekaligus penggalangan dana yang dilakukan PKS secara kontinyu berhasil menyedot perhatian media massa. Beberapa kali masuk sebagai editorial media Indonesia yang dibedah di Metro Pagi.

Bagaimana tidak, Anda bisa bayangkan sebuah long march ratusan ribu massa dari Monas-Bundaran HI-Monas, memenuhi dua jalur utama jalan MH.Thamrin, dimana kepala long march itu sudah balik lagi ke Monas namun ekornya masih ada di titik start.
Untuk rekan-rekan yang berberat hati menerima fakta tentang peran PKS terhadap isu Palestina ini, saya bertanya: “apakah di Indonesia ini Anda menemukan ada organisasi yang peduli terhadap Palestina sebesar PKS?” jika Anda tak temukan, Anda serupa dengan seorang penceramah di Masjid kementerian Agama RI tahun lalu yang mengatakan, “tidak ada unjuk rasa yang bisa memenuhi jalan MH.Thamrin, kecuali jika PKS sedang demo solidaritas Palestina.” Anda juga sama dengan teman kuliah saya yang kini jadi pengamat politik di Charta Politika, dalam kolomnya di Harian Tempo, medio 2006 silam, bahwa ada kaitan antara PKS dan Masa Depan Palestina.

Sekarang Jokowi juga peduli terhadap Palestina, dan tentu secara otomatis media-media pendukungnya lakukan hal serupa. Selepas Pilpres kemarin, anak-anak Islam liberal yang kerap nyinyir terhadap aksi-aksi peduli Palestina kini lebih soft. Siapapun yang nyinyir terhadap tragedi kemanusiaan di Palestina kini tak akan punya teman, baik di Jokowi, apalagi di kubu Prabowo.

Walhamdulillah, dakwah telah menemukan jalannya. Padahal dulu aksi-aksi Solidaritas PKS untuk Palestina dicibir sebagian orang, untuk apa urusi negara orang? katanya. Tapi PKS bergeming. Tak hirau apapun yg dikatakan mereka yang usil. Dan kini ia telah menemukan buahnya, semua peduli Palestina. Dakwah memang perlu dilakukan dengan baik dan sabar. Sememangnya, sekali lagi, jalan dakwah bukan mie instan yang segera bisa dinikmati selepas diseduh. Sebagaimana antum, rekan-rekan PKS ketahui, ia adalah jalan yang thawil (panjang) wa lakin ashil (tetapi terjaga keasliannya).

Hal lain, belum lagi jika bicara tentang alternatif musik Islami serupa nasyid yang banyak diboomingkan oleh ‘anak-anak tarbiyah’, tren fashion dan aplikasi Islami, konsep-konsep ekonomi syariah, tren ruqyah syar’iyah, hingga lembaga-lembaga filantropi/kemanusiaan yang banyak dimotori oleh aktivis-aktivis gerakan Tarbiyah. Semoga tak ada yang berberat hati untuk menerima fakta tersebut.

Point saya adalah, betapa rekan-rekan dari Gerakan Dakwah Tarbiyah yang merupakan basis inti dari PKS, memiliki peran yang positif dalam lanskap sosial kemasyarakatan di Indonesia. Tentu saja, tanpa menafikan peran ormas-ormas Islam lain di Indonesia, terutama Nahdhatul Ulama (dimana saya merupakan bagian di dalamnya), dan Muhammadiyyah yang merupakan assabiquunal awwaluun di Nusantara, yang berperan  besar dalam kancah kemerdekaan negara kita. Tentu berlembar-lembar halaman tak cukup wakili kebaikan dua ormas tersebut.

Namun Kini Kader-Kader PKS...

Tadi itu yang baik-baiknya. Semoga rekan kader PKS tak berberat hati jika saya sampaikan pula sisi yang lain. Bulan nan elok, tentu tak cuma punya satu wajah. Ada sisi gelap dari bulan yang tak pernah kita lihat. Tak ada gading yang tak retak, semoga obrolan kita sore ini bisa menambal retak itu, memolesnya dengan baik hingga gading tetap indah dan kokoh. Sila diminum dulu teh manisnya sebelum dingin. Itu sudah dicampur gula zero kalori yang harganya agak mahal. Biar perut kita, terutama sebagai suami, ga gendut, kata istri saya :D

Belakangan ini, terutama di media massa, acapkali saya jumpai dua hal yang kerap membuat kening saya berkerut. Pertama adalah broadcast hoax, kedua adalah sumpah serapah.

Dan yang membuat kening saya tambah keriput sehingga kegantengan saya memudar adalah, sumpah serapah itu tak jarang dilakukan oleh kader-kader PKS, terutama untuk menyerang lawan politik. Hal ini diakui bukan saja oleh masyarakat umum, tapi juga oleh kader PKS itu sendiri. Pernah dalam satu kesempatan, saya bicara di grupwhatsapp, “saya ingin buat tulisan yang mengkritik kader PKS”, dan rekan-rekan tahu komentar di bawah saya: “akhi Sigit, siap-siap antum di-bully >.<””, begitu katanya. (nampaknya untuk hal ini kita perlu 'wow' dulu, ya).

Jadi jika Anda berani mengkritik PKS, anda harus siap dengan konsekuensi di-bully oleh kader-kader PKS. Bahkan dalam Pilpres lalu, saya hanya bikin status facebook bahwa “Jokowi adalah orang baik” pun, saya dicacimaki. Seolah lawan PKS tak boleh dipuji. Jokowi haruslah orang jahat. Fenomena ini sama persis seumpama kita mengkritik Jokowi, kita harus siapkan mental untuk di-bully oleh anak-anak Jasmev. Jika untuk Jasmev saya pernah menulis “Nabi Baru Bernama Jokowi”, apakah untuk sebagian kader PKS itu layak kita menulis “Agama Baru Bernama PKS” ?

Tentu  tak sampai hati kita menuliskannya. Mengingat tak terhitung jumlah kader PKS nan ikhlas dan penuh sopan santun di pelosok-pelosok sana, yang mengajarkan al-Quran di Markaz-markaz, di pelosok-pelosok daerah, mengurus masjid dan mushalla, berletih-letih membina adik-adik di sekolah, mengajari  tahsin tilawah dengan tulus ikhlas, juga menjadi guru-guru Tahfidz Qur’an di seantero negeri kita bahkan tanpa digaji.

Akan tetapi sekalipun demikian (<--ini contoh kalimat tidak efektif :p ), fenomena pembelaan  kader dakwah terhadap partai bulan sabit kembar itu memang mulai nampak berlebihan, bahkan tak jarang nampak seperti membela agama. Mungkinkah ini hasil dari doktrin “al-hizb hual jamaah wal jamaah hiyal hizb?” yang secara keliru ditafsirkan dalam halaqah-halaqah pekanan kader PKS?

Tak sedikit, di antara kader PKS yang kemudian menjadikan sesuatu yang sebetulnya profan (tidak sakral) seolah  sakral. Seperti pembelaan terhadap qiyadah/pimpinan yang terlalu berlebihan, seakan qiyadah tak pernah salah, hatta pada hal-hal yang sebetulnya profan. Misalnya cara berpakaian pimpinan PKS, masalah cara bicara, hingga masalah jam tangan. Hal-hal semacam itu sebetulnya masalah profan, bukan hal yang sakral hingga tak boleh dikritik. Mbok ya dikritik sedikit jangan marah. Lakukan pembelaan boleh tapi jangan mengesankan seperti partai yang anti kritik. Sebagai partai yg dicitrakan bersih, adalah wajar jika masyarakat punya ekspektasi lebih kepada PKS ketimbang partai lainnya.
Ekspektasi masyarakat terhadap PKS memang sedemikian tinggi, sampai-sampai cara berpakaian pimpinan PKS pun menjadi sorotan. Misalnya, jam tangan presiden PKS yang konon berharga puluhan juta (sekarang sudah tak dipakai katanya), atau beberapa qiyadah yang ramai-ramai cukur janggut demi citra sebagai partai terbuka dan tidak ekslusif, juga cara berpakaian pimpinan PKS yang kini acap pakai setelan Jeans dengan paduan kemeja agak ketat. Persis karyawan perusahaan-perusahaan broker saham, forex-index dan komoditi nan eksekutif itu.

Bagi saya pribadi sebetulnya tak masalah. Bagi saya itu sekadar urusan selera. Jika ia mampu beli dan itu halal, why not? Saya melihat, Anis Matta ingin menampilkan Islam yang maju, berperadaban tinggi dan modern dengan mengenakan setelan pakaian yang  modis namun tetap sesuai syariat (menutup aurat). Persis jika kita membayangkan Singapura sebagai negara Muslim. Penduduknya modern, maju, berperadaban tinggi, namun Islami. Sehingga aktivis dakwah tak lagi dikesankan miskin, kumuh, atau kampungan. Nampaknya hal demikian ingin ditunjukan oleh Anis Matta. Sangat masuk akal.

Secara tak sengaja saya pernah bertemu Anis Matta di Garuda Executive lounge, Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Anis dengan Sekjen Taufik Ridha kala itu bersama rombongan yang merupakan keluarganya. Semuanya modis-modis. Yang akhwat mengenakan jilbab modern, simple, cerah, dan sangat menarik. (oopss). Intinya Islami tapi berkemajuan.

Namun tentu saja tak salah pula, jika sebagai partai dakwah, masyarakat punya ekspektasi agar PKS mencontohkan berpakaian yang sederhana. Dengan kemeja biasa dan bercelana bahan. Seperti pada masa Partai Keadilan, mungkin. Atau model-model seperti Hidayat Nurwahid yang kerap bercukur di pangkas rambut pinggir jalan, dengan kemeja biasa dan celana sederhana, atau Gubernur Ahmad Heryawan yang tak protokoler, atau mungkin seperti alm.Ustadz Rahmat Abdullah yang hadir ke Pelantikan Anggota DPR dengan Jas seharga 60ribuan. Toh dengan segala kesederhanaan beliau-beliau, penghormatan masyarakat kepada mereka tak terdegradasi, bahkan semakin naik. Hal yang berbeda  kepada Anis Matta, misalnya.

Intinya ada pada style. Bukan menuntut agar berpenampilan kumuh, tapi berpakaian sederhana nampaknya indah dilihat.

Fitnah itu Bernama Media Online dan Broadcast Messages

Wah, kepanjangan ya curhatnya. Semoga rekan-rekan kader PKS masih setia mendengar cerita saya. Sudah pukul 16.35, teh manis dengan gula zero kalori yang AGAK MAHAL itu sudah dingin, tinggal sedikit kue BBL (Bubuk Bubuk Lebaran). Tepatnya sekaleng besar biskuit Oreo tapi isinya lima potong rengginang, dan sekaleng Khong Guan dengan isi biji ketapang. Isi kaleng ini memang sebentuk penipuan terstruktur, massif dan sistematis. :p

Maklum, semua isinya sudah dihabisi oleh si kecil, apa daya tak mampu beli lagi. Aku mah apa atuh, hanya bubuk rengginang ditiup buyar. Dengan gaji lima koma, tiap tanggal lima nasibnya sudah koma. ?

Saat ini kita hidup di dunia online, di dunia post modern kata anak-anak filsafat. Hamparan dunia seperti dilipat-lipat. Kita bisa berinteraksi dengan orang nun di sana secara cepat, karena dunia sudah dalam genggaman. Kemajuan teknologi ini juga rupanya menjadi fitnah di lahan dakwah, terutama dalam mengampanyekan apa yang diyakini oleh kader-kader PKS sebagai sebuah kebaikan.

Sungguh tidak sedikit, kader PKS terlibat dalam penyebaran berita-berita hoax terutama berkaitan dengan isu politik dengan maksud menyerang lawan. Kader PKS nampak sangat offensif. Dalam konteks Pilpres kemarin, kader PKS menyerang Jokowi seolah Jokowi serupa Firaun yang harus dibinasakan. Isu konspirasi yahudi zionis di belakang Jokowi, antek mafia china, keturunan non Muslim, hingga isu jalaludin rahmat, gembong syiah Indonesia, akan diangkat menjadi Menteri Agama menyebar cepat tanpa kuasa dibendung. Isu konspirasi yang tak pernah bisa dibuktikan itu kemudian dijawab dengan apologi, “konspirasi memang tak mudah dibuktikan, ia akan terbukti, mungkin puluhan tahun ke depan. Waktu yang akan menjawabnya.”

Padahal dengan alasan serupa, tentu saja isu konspirasi tanpa bukti ini bisa menjadi liar dan dapat ditudingkan pada siapa saja, bahkan pada keberadaan PKS itu sendiri sebagai bagian dari konspirasi. Lalu jika kader PKS bertanya, jawabannya telah tersedia: “Konspirasi tak bisa dibuktikan, ia akan terbukti puluhan tahun lagi” bayangkan betapa mengerikannya alur berfikir seperti ini, dimana setiap elemen warga negara bisa saling tuding dengan alasan konspirasi, tanpa bukti!

Terkait isu jalaludin rahmat jadi Menteri Agama misalnya, apakah kader PKS tak mengetahui bahwa penetapan Menteri Agama itu sangat sensitif. Pemerintah, siapapun dia, tidak akan gegabah menempatkan tokoh yang tingkat resistensinya tinggi di masyarakat sebagai Menteri Agama. Hal ini demi menjaga kestabilan nasional. Jika ummat bergolak andaikata tokoh Syiah itu menjadi Menteri Agama, maka yang rugi  adalah pemerintah karena iklim investasi menjadi tak kondusif.

Dalam hati saya sempat terbersit hal seperti ini: “seandainya dalam pemilu kemarin PKS punya calon sendiri yang berkompetisi melawan Prabowo, mungkin mantan Boss Kopassus itu  juga akan menjadi bulan-bulanan kader PKS di dunia maya. Isu-isu HAM, perceraian, kudeta ‘98, dan lain sebagainya akan menjadi amunisi di jagad maya untuk merontokan suara mantan jenderal itu.

Broadcast terbaru yang diedarkan sebagian kader PKS adalah adalah, Hamdan Zoelva, Ketua Mahkamah Konstitusi yang saya yakini sangat berintegritas seperti Jimly Ash-Shiddiqie (<-- betul ga nulisnya?) itu, adalah iparnya timses Jokowi, Siti Musdah Mulia. Judul broadcast-nya: “Astaga! Ternyata Hamdan Zoelva adalah Ipar Musdah Mulia, Timses Jokowi!”
Memang, sebagaimana kita tahu, Hamdan Zoelva adalah adik dari Prof.Ahmad Thib Raya, Guru Besar UIN Jakarta yang merupakan suami dari Siti Musdah Mulia, timses Jokowi. Lalu apakah karena ia ipar Musdah Mulia lantas Ketua MK itu akan lakukan kecurangan dengan berpihak pada Jokowi? Sungguh alur berfikir yang terlalu sederhana. Atau jangan-jangan, pengedar Broadcast itu adalah orang yang terbiasa melakukan nepotisme, yang selalu mengutamakan keluarganya dalam banyak hal, sehingga ia punya kekhawatiran Hamdan Zoelva lakukan hal serupa? Bukankah banyak orang selalu mengukur orang lain dengan kebiasaan dirinya? :-)

Padahal, broadcast itu bisa saja kita ubah: “Astaga, ternyata Hamdan Zoelva adalah mantan pengurus Partai Bulan Bintang (PBB), anggota Koalisi Prabowo-Hatta”. Perlu diketahui, Hamdan Zoelva adalah aktivis Islam, bersama Yusril Ihza Mahendra (salam hormat, pak) ia besar bersama PBB, dan PBB adalah parpol pengusung Prabowo. Bukankah dengan  logika yang sama, cukup alasan bagi kita untuk curiga ia akan mendukung Prabowo?

Yang ingin saya sampaikan adalah: sudahlah, jangan membuat gaduh dengan menebar broadcast yang mendelegitimasi MK. MK adalah pintu terakhir dari sengketa Pemilu. MK  yang punya otoritas tunggal sebagai penafsir konsitusi kita. Jangan menyebarkan berita gaduh yang membuat rakyat tak percaya pada MK. Jangan sampai kemudian, setelah MK menetapkan keputusan, masih saja bicara ini konspirasi, hanya karena pemenang Pilpres bukan dipihaknya. Mau sampai kapan?

Apakah, seperti saya sering lihat di beranda Facebook, bahkan jika Jokowi menang pun sebagian rekan tetap tak akan akui ia sebagai  presiden?  Come on, dudes.  kontestasi pemilu sudah usai. Siapapun presiden yang dilantik nanti, tugas kita adalah mendoakan, semoga beliau-beliau yang dipilih oleh lebih banyak rakyat SECARA JURDIL dan Konstitusional bisa membawa Indonesia lebih baik. Kita kawal dan kritisi, seraya mendoakan.

Bahkan Musa saja diperintah Tuhan untuk berkata yang sopan kepada Firaun, lha layakkah kita yang tidak lebih mulia daripada Musa menyumpah serapah Jokowi yang juga tak lebih dajjal dari pada Raja Mesir itu.

Amat banyak broadcast tak bertanggungjawab yang menyebar begitu saja. Misalnya ketua KPU ditetapkan sebagai tersangka. Bahkan orang sebaik Anis Baswedan pun dicari-cari kesalahannya, dilekatkan padanya fitnah bahwa ia adalah orang JIL hanya karena ia Rektor Universitas Paramadina, juga hoax dari situs-situs palsu denganaddress –news.com. Di dunia yang kian maya ini, tetiba (<-- ini bahasa gaul terbaru, saudaranya ‘gegara’) muncul manusia-manusia broadcaster. Baik di BBM, Whatsapp, Facebook, Friendster, dll. (eh, Friendster emank masih ada yak? :D) yang pekerjaannya menyebarkan Broadcast tanpa tedheng aling-aling. 

Padahal Allah memenangkan dakwah adalah karena kebatilan yang dilakukan oleh musuh-musuh dakwah, jika aktivis dakwah melakukan hal serupa, maka ia jadi punya dua musuh: Allah, musuh-musuhnya.
Sebetulnya saya menaruh kekhawatiran, berita-berita semacam itu justru dibuat oleh mereka yang phobia terhadap dakwah, yang sengaja memproduksi  sejumlah kabar hoax dengan harapan agar di-broadcast oleh kader-kader PKS- yang semangat itu- agar menjadi blunder, untuk kemudian diserang balik oleh mereka.

Oleh karena itu, seyogyanya kader-kader dakwah PKS tidak “gagap broadcast” terhadap berita-berita yang seakan-akan membela kafilah dakwah padahal sejatinya ia bumerang yang akan menghancurkan bangunan dakwah.

Bukankah sekarang kita melihat, ada begitu banyak orang yang awalnya menaruh apresiasi kepada PKS, kini malah berbalik benci karena melihat prilaku kader-kader PKS di dunia maya yang selalu ingin benar sendiri?

Sebuah situs yang cukup moncer di dunia maya, “PKS Pyongyang” misalnya, pada satu sisi terkadang menguntungkan PKS dengan berita-berita ekslusif, tapi tak jarang juga menjadi blunder karena teralu offensif dan tak kredible. Yang saya tahu, berdasarkan obrolan dengan seorang pejabat di DPP PKS, akun yang bukan merupakan akun offisial PKS ini juga tak selalu sejalan dengan DPP karena konten beritanya yang “kayak begitu” :D, pernah pula muat isi berita yang sumbernya justru dari akun anonim triomacan yang di kalangan kader PKS sendiri sebetulnya hanya diposisikan semacam cerita ‘israiliyat’: tidak dibenarkan seluruhnya, dan tidak dianggap salah seluruhnya.

Robohnya Dakwah di Tangan Da’i


Dulu, ada sebuah buku terkenal di kalangan ativis berjudul Robohnya Dakwah di Tangan Da’i karya Fathi Yakan,  di antaranya adalah karena fanatisme berlebihan dalam kelompok dakwah. Mungkin dalam konteks kekinian, jangan-jangan dakwah runtuh karena broadcast liar yang ditebar oleh para du’at itu sendiri.  Atau karena perilaku mereka yang mudah memberikan judgement kepada siapapun yang mereka anggap lawan sebagai ahli-ahli kebatilan. Padahal  terkadang, peperangan tak mesti terjadi antara orang baik dan orang jahat. Tak jarang, perang terjadi antara orang baik dengan orang baik. Hanya karena mereka berdiri disisi berbeda denganmu, tak mesti mereka adalah orang jahat.
Jika terus “latah broadcast” seperti ini, akankah dakwah menemukan kemenangannya? Saya khawatir justru jika propaganda dilakukan terlalu berlebihan, citra buruk tidak hanya melekat pada Partai dakwah saja, tapi justru pada seluruh asaatidz pejuang dakwah di manapun berada.
Mari lihat betapa  tak jarang sebagian rekan PKS melakukan standar ganda di sosial media: ketika tokoh PKS melakukan kebaikan, maka hal itu dianggap sebagai ketulusan. Tetapi jika tokoh lain lakukan kebaikan serupa, itu disebut pencitraan. Hati kecil kita tergelitik bertanya: "apakah ketulusan hanya milik orang  PKS? sedang di luar sana tak boleh ada tokoh yg punya hati bening?" dalam hal ini nampak, sekali lagi maaf, kader PKS berupaya menilai niat seseorang, padahal Islam tak ajarkan itu. Islam tak mengajarkan kita untuk menilai isi hati orang lain ketika berbuat kebaikan, itu hanyalah urusan dia dengan Allah.. teringatkah kita dengan kisah bagaimana Baginda Nabi nan pemurah marah saat ada shahabat berupaya membunuh musuh yang masuk Islam lantaran curiga ia jadi  mualaf hanya karena takut mati? Nabi nan mulia bersabda, kita tak diminta untuk menilai isi dada orang lain..
Demikian pula standar ganda pada sisinya yang lain, ketika ada qiyadah PKS berbuat salah, kader dakwah mudah memahami, memaafkan, dan tak menyebarkannya. Akan tetapi jika ada tokoh lain berbuat kesalahan, tak jarang sebagian rekan memblow up-nya, menjadikan amunisi sebagai bahan bully-an.. Apakah, rekan-rekan, orang lain tak boleh berbuat salah?  bukankah kekhilafan bisa terjadi pada siapapun, pada orang lain dan juga pimpinan PKS?  pada kamu dan juga aku..


Mari berlaku adil,  karena kita diperintah oleh Allah untuk menegakkan keadilan itu atas semua manusia tanpa memandang ia berasal dari kelompok mana, suku bangsa mana, atau pun agama mana. keadilan harus tegak untuk memanusiakan manusia. Menegakkan keadilan itu adalah jalan yang dekat dengan sifat kaum bertaqwa..  (Qur'an Surah al-Maaidah:8)

Rekan-rekan, sungguh tak jarang saya temui sebuah kalimat retorik, “kelihatannya pada tahu agama, tapi koq isinya menyebar fitnah dan kebencian”
Mari memuhasabah diri, jangan-jangan ada di antara kita, yang turut berkontribusi bagi turunnya presentase suara PKS pada Pileg lalu. Bukan karena tidak  berkampanye atau dirrect selling, tapi karena berkontribusi  bagi lahirnya apriori dan kebencian sebagian masyarakat kepada PKS lantaran sikap kader-kader PKS di dunia maya yang sedemikian.. bukankah selain Mujahadah, Muhasabah adalah satu dari lima cara menggapai derajat taqwa?
Epilog : Kader PKS, Mari Belajar BersamaKebaikan itu adalah milik kaum Mukminin yang terserak di mana-mana. Ia bisa berada dimana saja, pada istana nan megah atau gubuk reot di tengah hutan. Kebaikan bukan ekslusif milik satu kelompok tertentu. Ia bisa kita temui pada orang lain, dan dimanapun kita menemukannya, kita boleh mengambilnya sebagai seranai hikmah dan keteladanan.

Kesalahan juga tak mesti milik orang lain, ia bisa pula berada pada diri kita, atau pimpinan kita. Karena setiap kita, bukan malaikatlah tanpa cela.

Kata ustadz saya, sekalipun berasal dari pantat ayam, jika ia telur, ambillah. Tapi sekalipun ia keluar dari wanita cantik, jika kuning dan bau, tolaklah. Begitulah kebaikan. Ia bisa berasal dari mana saja. Ambil isinya, bukan dari siapa ia keluar. Kata Baginda imam Ali, “Unzhur maa qaala wa laa tanzhur man qaala” , lihat apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan.

Menutup monolog ini, mari minum teh sekali lagi. Sekalipun tak lagi hangat tapi aku tulus menyediakannya buat kamu. Semuanya tulus untuk kebaikan hubungan kita (lho?).

Semoga dakwah menemukan kemenangannya bagi negeri ini, menuju negeri yang aman dan sejahtera, dilimpahi rahmat dan barakah Allah, dicahayai oleh sinar-Nya yang tak pernah redup, karena kontribusi kita semua. Meski hanya serupa butir pasir di antara bangunan yang kokoh itu. Karena kamu, karena aku, dan karena mereka.

Kita tak bisa membangun negeri ini sendiri. Negeri yang begini luas dimana terhampar sawahnya yang hijau, lautnya yang membiru, gunung dan ngarainya yang indah. Kita impikan negeri ini subur, makmur, dan dihampari ketaqwaan. Amien.

Rekan-rekan sila berkomentar.  Komentar yg isinya sumpah serapah dan spam tak perlu ditanggapi,Karena sebetulnya Teko, hanya mengeluarkan isi teko :-)

31/7/2014. 17:49

Twitter: 
@mistersigit
Dakwah, bukan mie instan.

--

referensi:

1. Alwi Alatas, Revolusi Jilbab, Kasus Pelarangan Jilbab di SMA Negeri Se-Jabotabek, 1982-1991, Jakarta: I’tisham.

2. Ali Said Damanik, Fenomena Partai Keadilan: Transformasi 20 Tahun Gerakan Tarbiyah di Indonesia. Jakarta: Teraju.

3. Adian Husaini, Penyesatan Opini; rekayasa Merubah Citra, Jakarta: Gema Insani Press.

4. Arya Fernandes, “PKS dan Masa Depan Palestina” dalam Mereka Bicara PKS, Bandung: DPP PKS dan Fitrah Rabbani.

5. Fathi Yakan, Robohnya Dakwah di Tangan Da’i, Jakarta: Era Intermedia.


Surat Sahabat


Hai Bahar, apa kabar? Semoga semua baik-baik saja.
Ini kali pertamaku menulis surat kepadamu. Surat ini kutulis di Kanada pada pagi hari Natal. Tidak terasa sudah hampir tiga bulan kami di sini. Dalam sepekan kami sudah harus memasuki fase kedua dari program ini. Kami, 10 orang Indonesia dan 10 orang Kanada, akan terbang ke Indonesia pada pekan pertama Januari untuk selanjutnya tinggal selama tiga bulan di Pulau Kelapa, gugusan Kepulauan Seribu.
Saat ini, aku tinggal di sebuah kota pelabuhan di bagian barat Kanada. Nama kotanya Nanaimo di Provinsi British Columbia. Nama Nanaimo diambil dari nama seorang First Nation, Snanemoux. Dia adalah orang suku asli yang memiliki tanah ini sebelum orang-orang dari Eropa datang merampasnya.
Kota ini tidak luas, barangkali hanya seluas Kota Bima di NTB. Populasinya hanya sekitar 84 ribu jiwa. Pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, aku pikir sedang ada perayaan besar. Downtown terlihat sepi sekali. Belakangan baru kuketahui bahwa begitulah potret Kanada, Negara besar dengan populasi yang sedikit.
Nanaimo terletak di Pulau Vancouver. Jika kau membuka peta, dia ada di ujung kiri bawah Kanada. Pulau yang terlihat mirip Pulau Sumatra ini berbatasan laut dengan kota Seattle di Amerika Serikat. Kota Nanaimo dibangun diatas bukit dan lembah. Terkadang, Nanaimo mengingatkanku pada Semarang di malam hari.
Pulau ini juga dikenal sebagai pulau terhangat di Kanada. Pada musim dingin seperti sekarang ini, suhu terendah hanya bisa tembus di angka -5 derajat Celsius. Di bagian lain Kanada, suhu bisa mencapai -40 derajat Celsius membuat timbunan salju menggunung di jalan-jalan.
Aku tinggal dengan pasangan suami istri Inggris-Perancis Kanada. Mark adalah orang Inggris yang baru mendapat kewarganegaraan Kanada beberapa tahun lalu, sedangkan Genevieve, istrinya, berasal dari Quebec, satu-satunya provinsi di Kanada yang berbicara Bahasa Perancis sebagai bahasa pertama.
Mereka punya dua orang anak, Felix dan Oceane. Felix baru saja merayakan ulang tahun ke-6 minggu lalu dan Oceane hampir lima tahun. Mereka anak-anak yang lucu juga mandiri. Sangat berbeda dengan anak-anak seumuran di Indonesia yang masih sangat tergantung pada orang tuanya. Aku merasa beruntung bisa tinggal dengan keluarga ini. Aku juga merasa beruntung bisa mengikuti program ini. Kanada adalah tempat yang luar biasa.
Tapi luar biasa bukan berarti sempurna. Aku masih ingat ketika awal mendaftar program ini. Dalam pikiranku, Kanada adalah tempat yang luar bisaa makmur; tidak ada orang miskin, semua orang hidup sejahtera dan berkecukupan, semua orang mendapat kesempatan yang sama dan keran kebebasan dibuka selebar-lebarnya dan orang tahu bagaimana menggunakannya. Tapi ternyata aku tak sepenuhnya benar.
Mari kuceritakan apa yang kusaksikan..
Tiga hari dalam seminggu, aku bekerja suka rela di sebuah organisasi non profit, Loaves and Fishes. Organisasi ini mengumpulankan donasi berupa makanan dari banyak donatur untuk kemudian diberikan cuma-cuma kepada mereka yang tak berkecukupan. Tugas kami sebagai relawan setiap harinya adalah menyortir makanan donasi yang masih layak makan dan yang tidak. Kau mungkin berpikir betapa mulia orang-orang yang mendonasikan makanan mereka untuk orang lain. Tapi asal kau tahu, makanan yang mereka donasikan adalah makanan kadaluarsa.
Tugas kami sebagai relawan setiap harinya adalah menyortir makanan yang masih layak konsumsi dan yang tidak. Makanan layak konsumsi adalah makanan yang masa kadaluarsanya tidak lebih dari sepuluh hari yang lalu. Di bawah masa itu, ada sebuah tempat sampah super besar tempat kami membuang makanan tak layak. Tempat sampah itu, dan kenyataan bahwa kami harus membuang begitu banyak makanan setiap harinya adalah dua hal yang paling kubenci dari tempat ini.
Aku bekerja setiap hari Selasa, Rabu dan Kamis dari pukul Sembilan pagi (atau harus kukatakan lepas subuh?) hingga pukul empat sore (atau menjelang magrib). Pada hari Selasa kegiatan kami agak monoton; menyortir makanan sepanjang hari. Lalu pada Rabu dan Kamis kami membuka semacam swalayan dimana orang-orang dating mengambil makanan gratis. Ada puluhan, barangkali ratusan orang yang dating setiap harinya. Aku tak pasti.
Rabu dan Kamis selalu menyenangkan. Berbincang singkat dengan mereka yang dating selalu membuatku bahagia. Tapi mengetahui bahwa makanan yang mereka ambil dari kami adalah makanan kadaluarsa selalu membuatku sedih. Aku sama sekali tidak menyangka, di negara semakmur ini, ada ribuan orang yang menggantungkan hidupnya dari makanan sisa.
Di awal sudah kuceritakan tentang suhu di kota ini. Hangat. Dan kehangatan itu mengundang ratusan orang dari seluruh Kanada untuk tinggal, terutama mereka yang homeless. Bayangkan saja bila orang-orang tidak berumah ini harus tinggal di provinsi seperti Quebec dan Alberta, bisa-bisa mereka mati kedinginan di timbunan salju. Dan ini membuat tingkat kemiskinan di provinsi British Columbia jauh lebih tinggi dari provinsi lain.
Setiap Jumat, setiap kali pergi ke Islamic Centre untuk salat Jumat, kami selalu melewati sebuah rel kereta yang tidak terpakai. Di sisi yang agak jauh dari jalan raya, ada sebuah lubang besar dengan selimut dan bantal. Seorang homeless, rupa-rupanya tinggal dalam lubang tersebut. Begitu menyedihkan mengetahui di negara sekaya ini ada seorang pria (atau wanita?) yang terpaksa menggali lubang karena tak punya rumah untuk berteduh. Dan dia bukan satu-satunya.
Aku tahu di Indonesia, kita punya jutaan orang seperti itu. Tapi di Negara kita, ada orang-orang yang kita sebut saudara dan keluarga tempat kita meminta tolong atau sekedar berkeluh kesah. Di sini, di mana uang adalah segalanya dan orang hidup secara individualistic, menjadi miskin dan kesepian adalah combo yang menakutkan sekaligus menyedihkan.
Bahar,
Selama program ini, aku dipasangkan dengan seorang pemuda Kanada. Kami tinggal di keluarga yang sama dan melakukan banyak kegiatan bersama. Pasangan itu kami sebut counterpart. Dan nama counterpartku Donovan Simpson.
Pertama kali bertemu dengan Donovan, aku pikir dia keturunan Indonesia atau Negara lain di Asia Tenggara. Dia sama sekali tidak terlihat seperti bule. Belakangan baru kuketahui bahwa ia seorang First Nation, orang-orang suku asli yang sudah tinggal di sini ribuan tahun sebelum orang-orang kulit putih dating menguasai.
Donovan sangat berbeda dengan anak-anak lain di grupku. Dia sangat tidak percaya diri, pemalas, tidak punya inisiatif dan selalu melamun. Awalnya aku begitu kesal karena dia terlalu bergantung kepadaku bahkan untuk urusan membangunkannya di pagi hari, tapi belakangan aku sadar bahwa ada alasan kenapa dia begitu.
First Nation adalah isu besar dan sensitive di Kanada, dan orang-orang memilih untuk tidak membicarakannya. Beberapa pecan lalu, aku berbincang dengan seorang pemuka First Nation yang kutemui di Vancouver Island University, namanya Geraldine dan dia menjelaskan semuanya kepadaku.
Pada masa-masa awal invasi Inggris dan Perancis, orang-orang kulit putih mulai merampas tanah-tanah First Nation. Orang-orang berkulit coklat itu dianggap sebagai cacat pada kebudayaan eropa yang agung yang hendak dibangun di tanah itu. Maka untuk menghilangkan cacat itu, orang-orang kulit putih membangun sekolah khusus anak-anak First Nation di seluruh Kanada. Di sekolah itu, mereka diajarkan Bahasa Inggris dan Perancis serta diajari berkelakuan seperti orang-orang Eropa. Mulia? Tunggu dulu..
Yang terjadi sebenarnya adalah, anak-anak First Nation itu dirampas dari keluarganya masing-masing untuk kemudian dijebloskan dalam sebuah penjara berkedok sekolah. Mereka dipaksa meninggalkan keluarganya dengan tujuan menghapus akar budaya suku asli dan menggantinya dengan budaya Eropa. Anak-anak itu, salah satunya Geraldine, dijadikan buruh kerja tak berbayar di daerah-daerah pertanian. Anak-anak perempuan dipaksa melayani nafsu seksual tentara-tentara kulit putih. Karakter mereka dibunuh, identitas mereka dihilangkan, harga diri dikencingi. Kabarnya ada ribuan yang meninggal pada masa itu. Geraldine sendiri dua kali diperkosa pada umurnya yang kedelapan.
Belakangan pemerintah Kanada mengakui bahwa mereka telah melakukan kesalahan pada First Nation. Maka dengan setengah hati mereka meminta maaf dan sebagai pelengkap diberikanlah uang tunai sebesar (kalau tidak salah) 2 ribu dolar Kanada untuk setiap orang First Nation. Tapi uang adalah masalah lain, orang-orang bingung yang kehilangan identitas ini tak tahu harus berbuat apa dengan uang tersebut. Untuk menyembuhkan diri dari stress berkepanjangan akibat pembodohan yang dilakukan orang kulit putih, maka mereka mulai mengkonsumsi minuman keras. Ribuan orang kecanduan. Pemerintah Kanada sekali lagi menghina mereka dengan uang 2 ribu dollar.
Saat ini, masih ada daerah-daerah khusus orang First Nation yang dinamakan reserve yang didirikan di hutan hutan. Di daerah –daerah tersebut, First Nation hidup berkoloni tanpa ada support air bersih, sekolah layak, lapangan pekerjaan dari pemerintah Kanada. Sementara mereka terus ditidakadili, sikap inferior semakin menjadi dalam diri mereka.
Dan itu membuatku paham keadaan Donovan.
Bahar,
Tentu saja banyak hal baik yang kupelajari selama di sini terutama tentang toleransi beragama dan kesadaran untuk menjaga lingkungan. Setiap pagi ketika berangkat beraktivitas, selalu kulihat rusa-rusa liar dengan nyamannya bermain di halaman-halaman orang, pohon-pohon tidak boleh sembarangan ditebang dan masyarakat Kanada sangat konsen sekali dengan zero waste management.
Tentang toleransi beragama, wanita muslim bebas dan nyaman menggunakan atribut relijius mereka seperti hijab dan niqob. Begitu pula dengan agama dan kepercayaan lain. Beberapa tahun lalu memang kesadaran akan toleransi beragama masih belum begitu tinggi di Kanada. Bila kau ingat ada pelarangan menggunakan hijab di provinsi Quebec beberapa tahun lalu, kini anak-anak muda Kanada begitu malu dengan diskriminasi itu.
Ada lagi, dua bulan lalu, seorang muallaf menembak mati seorang tentara di gedung parlemen di ibukota Kanada. Bukannya memusuhi Islam, orang-orang Kanada malah pasang badan membela muslim yang disudutkan oleh media-media USA. Ketika sebuah media secara provokatif memasang headline dengan tulisan “Go Home, Muslims”, ribuan orang serentak teriak “You are Home”. Begitu melegakan.
Bahar,
barangkali itu dulu yang bisa kuceritakan kepadamu. Aku harus bersiap-siap untuk makan siang dengan tamu keluarga angkatku.
Salam.
Nanaimo, hari Natal

Ihram

Wednesday, December 24, 2014

Indonesia Di Persimpangan Jalan

Sebuah resume dari buku “Indonesia di Persimpangan Jalan oleh Muhammad Natsir"

Salah satu pahlawan Nasional yang hidup melewati dua rezim yang berkuasa di Negeri ini. Mulai rezim soekarno hingga soeharto. Berdiri menjadi garda depan pengkritik pemerintah ketika terjadi penyelewengan kekuasaan. Ketika ideology Indonesia di persimpangan jalan, Soekarno yang ingin menjadi presiden seumur hidup hingga masuknya ideology komunis dalam perpolitikan Negara. Rezim soeharto pun tidak lepas dari kritik dan juga, “Petisi lima puluh” begitu barisan yang digagas untuk mengkritik sang rezim. Buku Indonesia Di Persimpangan Jalan adalah sebuah essay yang ditunjukan untuk mengkritisi pemerintah ketika mulai memunculkan taring kediktatoran. Sehingga dalam dua rezim  tersebut, tak hayal beliau menjadi salah satu orang yang mendapat “perlakuan khusus”. Pembubaran Partai yang dipimpin dan dikebiri politiknya di masa pemerintahan soekarno.
Pada tanggal 23 Juni 1984, Menteri dalam negeri mengajukan lima Rencana Undang-undang yang menurut pemerintah dalam melaksanakan “Pelaksanaan Amanat Garis-Garis Besar Haluan Negara” yang bertujuan demi tegaknya Demokrasi Pancasila yang menjamin stabilitas nasional yang dinamis dan berlanjutnya pembangunan nasional.  Rencana Undang-undang itu adalah sebagai berikut:
1.      Pemilihan Umum dan Anggota Badan Permusyawaratan/ Perwakilan Rakyat.