Saya temukan tulisan ini dari nyangkruk sambil ngobrol ngalor-ngidul, saat itu sedang ramainya pemberitaan atas tertangkapnya (mantan) ketua umum PKS, Ustadz Lutfi Hasan. Saya ditunjukan tulisan ini, beberapa saat membaca, dalam hati kemudian berbisik "inilah cermin bagi kita". Inilah persepsi orang diluar ketika melihat PKS. Tulisan ini ibarat bayangan yang tertangkap cermin penulisi. sehingga bukan salah dia kalau menilai seperti itu, mungkin memang ada orang-orang yang menjadi bagian dari jamaah tersebut bersikap seperti itu. mungkin bukan kita, tapi sebelah kita. Mari berinstropeksi, karena kita adalah kumpulan manusia BUKAN MALAIKAT.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kader PKS, Mari Belajar Bersama...
oleh Sigit kamseno
di post tanggal 1 agustus 2014
Teman-teman
kader PKS, selepas Ashar ini di beranda rumah, mari kita minum teh
hangat sembari sharing dari hati ke hati. Semoga angin
sepoi-sepoi nan lembut dan hamparan rumput di depan beranda mungil ini bisa
menemani obrolan ringan kita. Saya ingin sedikit curhat, terutama tentang
aktivitas kader-kader PKS belakangan di dunia maya, yang tentu saja baik, namun
pada beberapa hal nampak berlebihan.
Perjuangan kader PKS di Indonesia tentu baik.
Dulu, melihat muslimah mengenakan jilbab sangatlah sulit. Di sekolah-sekolah,
apalagi instansi pemerintah, jilbab menjadi hal yang tabu. Waktu itu di media
massa bahkan wanita berhijab acap diilustrasi secara buruk. Saya masih ingat
betul ketika masih SMP, bagaimana sebuah surat kabar nasional memuat ilustrasi
pencurian di swalayan dengan gambar wanita berjilbab dengan tudingan kain
penutup aurat itu adalah sarana utk sembunyikan hasil kutilan jajanan
supermarket. Atau, ilustrasi nonsense lainnya dimana tampak seorang ibu
yang mengenakan jilbab sedang menyusui anaknya, namun dengan dada terbuka.
Belum lagi tudingan aliran sesat dan seterusnya. Saya, ‘diusiaku yang 29th my
age’ ini (huft!) masih merasakan ujung dari perjuangan perempuan-perempuan itu
utk diberi kebebasan mengenakan hijab di ijazah SMP dan SMA: kakak angkatan
saya masih membukanya lantaran represifitas pemerintah terhadap selembar kain
penutup aurat itu. Bayangkan, demikian sulitnya sekadar untuk tunaikan
perintah agama.
Dan adalah kader PKS, antara lain almarhumah Yoyoh
Yusroh (semoga Allah menempatkan beliau pada tempat terindah di sisi-Nya)
bersama rekan-rekannya seperti Wirianingsih, dan kader-kader gerakan tarbiyah
(cikal bakal PKS) lainnya yang berdarah-darah memperjuangkan kebebasan agar
wanita muslimah dibebaskan untuk menutup aurat, sebab ia panggilan agama. Utk
keyakinan ini, mari kita abaikan celotehan anak-anak Islam liberal yang selalu
nyinyir anggap jilbab sebagai tradisi Arab. Kita katakan, “Tradisi Arab itu
tari perut, bung! Aurat terbuka bebas kemana-mana.” Justru ketika turun
kewajiban berjilbab sebagai perintah Tuhan, wanita-wanita Arab yang bertaqwa
bergegas menutup kepalanya meski harus kenakan tirai yang masih menggantung.
Kini, perjuangan untuk mengenakan hijab telah
menemukan buahnya. Mata kita haru dan basah ketika pemerintah akhirnya
membolehkan jilbab digunakan di instansi-instansi plat merah, juga
dibolehkannya foto berjilbab pada ijazah sekolah-sekolah menengah. Sekarang
sangatlah mudah menemukan wanita berjilbab di mana-mana, mulai instansi
pemerintah hingga perbankan, dari buruh-buruh pabrik garmen hingga anak-anak
pra sekolah, mulai tukang jamu gendong hingga eksekutif muda di perusahaan
multinasional, semua kenakan jilbab. Malah kini kondisinya berbalik, jika
rekan-rekan berkunjung ke kementerian atau lembaga-lembaga milik Negara, lalu
menemukan wanita tak berjilbab, hati tergelitik bertanya: “apakah Anda Muslimah?”
Walhamdulillah,
dakwah dengan cara mulia telah menikmati hasilnya. Kisah kolosal wanita-wanita
itu dalam memperjuangkan penggunaan jilbab di masa orde baru bisa kita baca
dalam buku Revolusi Jilbab,
Karya Alwi Alatas, atau dalam buku Ali Said Damanik, Fenomena Partai Keadilan
Pelajaran yang dapat kita ambil adalah: Kita akan
dapati perjuangan para senior tersebut memerlukan waktu yang tak singkat. Tidak
seumpama mie instan yang bisa dinikmati segera setelah dimasak. Semoga menjadi
amal shalih dalam hamparan keikhlasan bagi mereka-mereka yang berjuang berpeluh
keringat untuk generasi baru yang kini sangat mudah kenakan jilbab dengan aneka
modelnya yang penuh warna.
Selain itu...
Selain Jilbab misalnya, teman-temanku kader PKS,
isu Palestina kini hangat dibicarakan dimana-mana. Pak SBY di website dan Fan Page-nya (gaul ya presiden kita) juga menulis surat terbuka
berlembar-lembar untuk isu Palestina ini. Bahkan kemarin, sebuah acara
infotainment turut pula menayangkan profil syuhada Palestina, termasuk tokoh
legendaris al-Syaikh Ahmad Yassin. Luar biasa! Kini Televisi dan media cetak
ramai-ramai menulisan kata “Pejuang” untuk Mujahidin Palestina, sebuah konotasi
positif karena senyatanya mereka memang berjuang membebaskan negaranya,
seumpama leluhur kita kala melawan penjajahan bule-bule Belanda itu.
Padahal dulu, media massa nampak berat menggunakan
kata “Pejuang”, umumnya mereka hanya menulis ‘militan’ Palestina, dll. Bahkan,
untuk tanah Islam lain di sudut-sudut bumi ini, media massa kerap menulisnya:
“Pemberontak Chechnya,” “Pemberontak Moro”, “Pemberontak Kashmir”, dll. Kata
pemberontak dalam konteks tadi tentu saja, mengutip Adian Husaini dalam bukunya Penyesatan Opini, hanya
tepat jika media massa tersebut satu perspektif dengan Penjajah. Seumpama
Belanda menyebut pahlawan-pahlawan Kemerdekaan Indonesia dengan sebutan
“Pemberontak”.
Di Indonesia, terutama era Orde Baru, yang concern
pada isu Palestina ini hanya kelompok Islam, hanya saja kampanyenya tak terlalu
massif. Dulu ada KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) yang
dimotori alm.Ahmad Sumargono, yang kemudian menjadi politisi Partai Bulan
Bintang (PBB). Dalam perkembangannya, yang lebih massif mengampanyekan isu
Palestina ini adalah kader-kader PKS. Kampanye kader-kader PKS di berbagai media
online termasuk sosial media, juga Aksi Demonstrasi sekaligus penggalangan dana
yang dilakukan PKS secara kontinyu berhasil menyedot perhatian media massa.
Beberapa kali masuk sebagai editorial media Indonesia yang dibedah di Metro
Pagi.
Bagaimana tidak, Anda bisa bayangkan sebuah long
march ratusan ribu massa dari Monas-Bundaran HI-Monas, memenuhi dua jalur utama
jalan MH.Thamrin, dimana kepala long march itu sudah balik lagi ke Monas namun
ekornya masih ada di titik start.
Untuk
rekan-rekan yang berberat hati menerima fakta tentang peran PKS terhadap isu
Palestina ini, saya bertanya: “apakah di Indonesia ini Anda
menemukan ada organisasi yang peduli terhadap Palestina sebesar PKS?” jika Anda tak temukan, Anda serupa
dengan seorang penceramah di Masjid kementerian Agama RI tahun lalu yang
mengatakan, “tidak ada unjuk rasa yang bisa memenuhi jalan MH.Thamrin, kecuali
jika PKS sedang demo solidaritas Palestina.” Anda juga sama dengan teman kuliah
saya yang kini jadi pengamat politik di Charta Politika, dalam kolomnya di
Harian Tempo, medio 2006 silam, bahwa ada kaitan
antara PKS dan Masa Depan Palestina.
Sekarang Jokowi juga peduli terhadap Palestina,
dan tentu secara otomatis media-media pendukungnya lakukan hal serupa. Selepas
Pilpres kemarin, anak-anak Islam liberal yang kerap nyinyir terhadap aksi-aksi
peduli Palestina kini lebih soft. Siapapun yang nyinyir terhadap tragedi
kemanusiaan di Palestina kini tak akan punya teman, baik di Jokowi, apalagi di
kubu Prabowo.
Walhamdulillah, dakwah telah menemukan jalannya.
Padahal dulu aksi-aksi Solidaritas PKS untuk Palestina dicibir sebagian orang,
untuk apa urusi negara orang? katanya. Tapi PKS bergeming. Tak hirau apapun yg
dikatakan mereka yang usil. Dan kini ia telah menemukan buahnya, semua peduli
Palestina. Dakwah memang perlu dilakukan dengan baik dan sabar. Sememangnya,
sekali lagi, jalan dakwah bukan mie instan yang segera bisa dinikmati selepas
diseduh. Sebagaimana antum, rekan-rekan PKS ketahui, ia adalah jalan yang thawil (panjang) wa lakin ashil (tetapi terjaga
keasliannya).
Hal lain, belum lagi jika bicara tentang
alternatif musik Islami serupa nasyid yang banyak diboomingkan oleh ‘anak-anak
tarbiyah’, tren fashion dan aplikasi Islami, konsep-konsep ekonomi syariah,
tren ruqyah syar’iyah, hingga lembaga-lembaga filantropi/kemanusiaan yang
banyak dimotori oleh aktivis-aktivis gerakan Tarbiyah. Semoga tak ada yang
berberat hati untuk menerima fakta tersebut.
Point saya adalah, betapa rekan-rekan dari Gerakan
Dakwah Tarbiyah yang merupakan basis inti dari PKS, memiliki peran yang positif
dalam lanskap sosial kemasyarakatan di Indonesia. Tentu saja, tanpa menafikan
peran ormas-ormas Islam lain di Indonesia, terutama Nahdhatul Ulama (dimana
saya merupakan bagian di dalamnya), dan Muhammadiyyah yang merupakan assabiquunal awwaluun di Nusantara, yang berperan besar dalam kancah
kemerdekaan negara kita. Tentu berlembar-lembar halaman tak cukup wakili
kebaikan dua ormas tersebut.
Namun Kini Kader-Kader PKS...
Tadi itu yang baik-baiknya. Semoga rekan kader PKS
tak berberat hati jika saya sampaikan pula sisi yang lain. Bulan nan elok,
tentu tak cuma punya satu wajah. Ada sisi gelap dari bulan yang tak pernah kita
lihat. Tak ada gading yang tak retak, semoga obrolan kita sore ini bisa
menambal retak itu, memolesnya dengan baik hingga gading tetap indah dan kokoh.
Sila diminum dulu teh manisnya sebelum dingin. Itu sudah dicampur gula zero kalori yang harganya agak mahal. Biar
perut kita, terutama sebagai suami, ga gendut, kata istri saya :D
Belakangan ini, terutama di media massa, acapkali
saya jumpai dua hal yang kerap membuat kening saya berkerut. Pertama adalah broadcast hoax, kedua adalah sumpah serapah.
Dan yang membuat kening saya tambah keriput
sehingga kegantengan saya memudar adalah, sumpah serapah itu tak jarang
dilakukan oleh kader-kader PKS, terutama untuk menyerang lawan politik. Hal ini
diakui bukan saja oleh masyarakat umum, tapi juga oleh kader PKS itu sendiri.
Pernah dalam satu kesempatan, saya bicara di grupwhatsapp, “saya ingin buat tulisan yang
mengkritik kader PKS”, dan rekan-rekan tahu komentar di bawah saya: “akhi Sigit, siap-siap antum di-bully >.<””, begitu katanya.
(nampaknya untuk hal ini kita perlu 'wow' dulu, ya).
Jadi jika Anda berani mengkritik PKS, anda harus siap
dengan konsekuensi di-bully oleh kader-kader PKS. Bahkan dalam Pilpres lalu,
saya hanya bikin status facebook bahwa “Jokowi adalah orang baik” pun, saya
dicacimaki. Seolah lawan PKS tak boleh dipuji. Jokowi haruslah orang jahat.
Fenomena ini sama persis seumpama kita mengkritik Jokowi, kita harus siapkan
mental untuk di-bully oleh anak-anak Jasmev. Jika untuk Jasmev saya pernah
menulis “Nabi Baru Bernama Jokowi”, apakah untuk sebagian kader PKS itu layak
kita menulis “Agama Baru Bernama PKS” ?
Tentu tak sampai hati kita menuliskannya.
Mengingat tak terhitung jumlah kader PKS nan ikhlas dan penuh sopan santun di
pelosok-pelosok sana, yang mengajarkan al-Quran di Markaz-markaz, di
pelosok-pelosok daerah, mengurus masjid dan mushalla, berletih-letih membina
adik-adik di sekolah, mengajari tahsin tilawah dengan tulus ikhlas, juga
menjadi guru-guru Tahfidz Qur’an di seantero negeri kita bahkan tanpa digaji.
Akan tetapi sekalipun demikian (<--ini contoh
kalimat tidak efektif :p ), fenomena pembelaan kader dakwah terhadap
partai bulan sabit kembar itu memang mulai nampak berlebihan, bahkan tak jarang
nampak seperti membela agama. Mungkinkah ini hasil dari doktrin “al-hizb hual jamaah wal jamaah hiyal hizb?” yang secara keliru ditafsirkan dalam halaqah-halaqah pekanan kader PKS?
Tak sedikit, di antara kader PKS yang kemudian
menjadikan sesuatu yang sebetulnya profan (tidak sakral) seolah sakral.
Seperti pembelaan terhadap qiyadah/pimpinan yang terlalu berlebihan, seakan qiyadah tak pernah
salah, hatta pada hal-hal yang sebetulnya profan. Misalnya cara berpakaian
pimpinan PKS, masalah cara bicara, hingga masalah jam tangan. Hal-hal semacam
itu sebetulnya masalah profan, bukan hal yang sakral hingga tak boleh dikritik.
Mbok ya dikritik sedikit jangan marah. Lakukan pembelaan boleh tapi jangan
mengesankan seperti partai yang anti kritik. Sebagai partai yg dicitrakan
bersih, adalah wajar jika masyarakat punya ekspektasi lebih kepada PKS
ketimbang partai lainnya.
Ekspektasi
masyarakat terhadap PKS memang sedemikian tinggi, sampai-sampai cara berpakaian
pimpinan PKS pun menjadi sorotan. Misalnya, jam tangan presiden PKS yang konon
berharga puluhan juta (sekarang sudah tak dipakai katanya), atau beberapa
qiyadah yang ramai-ramai cukur janggut demi citra sebagai partai terbuka dan
tidak ekslusif, juga cara berpakaian pimpinan PKS yang kini acap pakai setelan
Jeans dengan paduan kemeja agak ketat. Persis karyawan perusahaan-perusahaan broker saham, forex-index
dan komoditi nan
eksekutif itu.
Bagi saya pribadi sebetulnya tak masalah. Bagi
saya itu sekadar urusan selera. Jika ia mampu beli dan itu halal, why not? Saya
melihat, Anis Matta ingin menampilkan Islam yang maju, berperadaban tinggi dan
modern dengan mengenakan setelan pakaian yang modis namun tetap sesuai
syariat (menutup aurat). Persis jika kita membayangkan Singapura sebagai negara
Muslim. Penduduknya modern, maju, berperadaban tinggi, namun Islami. Sehingga
aktivis dakwah tak lagi dikesankan miskin, kumuh, atau kampungan. Nampaknya hal
demikian ingin ditunjukan oleh Anis Matta. Sangat masuk akal.
Secara tak sengaja saya pernah bertemu Anis Matta
di Garuda Executive lounge, Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Anis dengan
Sekjen Taufik Ridha kala itu bersama rombongan yang merupakan keluarganya.
Semuanya modis-modis. Yang akhwat mengenakan jilbab modern, simple, cerah, dan
sangat menarik. (oopss). Intinya Islami tapi berkemajuan.
Namun tentu saja tak salah pula, jika sebagai
partai dakwah, masyarakat punya ekspektasi agar PKS mencontohkan berpakaian
yang sederhana. Dengan kemeja biasa dan bercelana bahan. Seperti pada masa
Partai Keadilan, mungkin. Atau model-model seperti Hidayat Nurwahid yang kerap
bercukur di pangkas rambut pinggir jalan, dengan kemeja biasa dan celana
sederhana, atau Gubernur Ahmad Heryawan yang tak protokoler, atau mungkin
seperti alm.Ustadz Rahmat Abdullah yang hadir ke Pelantikan Anggota DPR dengan
Jas seharga 60ribuan. Toh dengan segala kesederhanaan beliau-beliau,
penghormatan masyarakat kepada mereka tak terdegradasi, bahkan semakin naik.
Hal yang berbeda kepada Anis Matta, misalnya.
Intinya ada pada style.
Bukan menuntut agar berpenampilan kumuh, tapi berpakaian sederhana nampaknya
indah dilihat.
Fitnah itu Bernama Media Online dan Broadcast Messages
Wah, kepanjangan ya curhatnya. Semoga rekan-rekan
kader PKS masih setia mendengar cerita saya. Sudah pukul 16.35, teh manis
dengan gula zero kalori yang AGAK MAHAL itu sudah dingin, tinggal sedikit kue
BBL (Bubuk Bubuk Lebaran). Tepatnya sekaleng besar biskuit Oreo tapi isinya
lima potong rengginang, dan
sekaleng Khong Guan dengan isi biji ketapang. Isi
kaleng ini memang sebentuk penipuan terstruktur, massif dan sistematis. :p
Maklum, semua isinya sudah dihabisi oleh si kecil,
apa daya tak mampu beli lagi. Aku mah apa atuh, hanya bubuk rengginang ditiup
buyar. Dengan gaji lima koma, tiap tanggal lima nasibnya sudah koma. ?
Saat ini kita hidup di dunia online, di
dunia post modern kata anak-anak filsafat. Hamparan
dunia seperti dilipat-lipat. Kita bisa berinteraksi dengan orang nun di sana
secara cepat, karena dunia sudah dalam genggaman. Kemajuan teknologi ini juga
rupanya menjadi fitnah di lahan dakwah, terutama dalam mengampanyekan apa yang
diyakini oleh kader-kader PKS sebagai sebuah kebaikan.
Sungguh tidak sedikit, kader PKS terlibat dalam
penyebaran berita-berita hoax terutama berkaitan dengan isu politik dengan
maksud menyerang lawan. Kader PKS nampak sangat offensif. Dalam konteks Pilpres
kemarin, kader PKS menyerang Jokowi seolah Jokowi serupa Firaun yang harus
dibinasakan. Isu konspirasi yahudi zionis di belakang Jokowi, antek mafia
china, keturunan non Muslim, hingga isu jalaludin rahmat, gembong syiah
Indonesia, akan diangkat menjadi Menteri Agama menyebar cepat tanpa kuasa
dibendung. Isu konspirasi yang tak pernah bisa dibuktikan itu kemudian dijawab
dengan apologi, “konspirasi memang tak mudah dibuktikan, ia akan terbukti,
mungkin puluhan tahun ke depan. Waktu yang akan menjawabnya.”
Padahal dengan alasan serupa, tentu saja isu
konspirasi tanpa bukti ini bisa menjadi liar dan dapat ditudingkan pada siapa
saja, bahkan pada keberadaan PKS itu sendiri sebagai bagian dari konspirasi.
Lalu jika kader PKS bertanya, jawabannya telah tersedia: “Konspirasi tak bisa
dibuktikan, ia akan terbukti puluhan tahun lagi” bayangkan betapa mengerikannya
alur berfikir seperti ini, dimana setiap elemen warga negara bisa saling tuding
dengan alasan konspirasi, tanpa bukti!
Terkait isu jalaludin rahmat jadi Menteri Agama
misalnya, apakah kader PKS tak mengetahui bahwa penetapan Menteri Agama itu
sangat sensitif. Pemerintah, siapapun dia, tidak akan gegabah menempatkan tokoh
yang tingkat resistensinya tinggi di masyarakat sebagai Menteri Agama. Hal ini
demi menjaga kestabilan nasional. Jika ummat bergolak andaikata tokoh Syiah itu
menjadi Menteri Agama, maka yang rugi adalah pemerintah karena iklim
investasi menjadi tak kondusif.
Dalam hati saya sempat terbersit hal seperti ini:
“seandainya dalam pemilu kemarin PKS punya calon sendiri yang berkompetisi
melawan Prabowo, mungkin mantan Boss Kopassus itu juga akan menjadi
bulan-bulanan kader PKS di dunia maya. Isu-isu HAM, perceraian, kudeta ‘98, dan
lain sebagainya akan menjadi amunisi di jagad maya untuk merontokan suara
mantan jenderal itu.
Broadcast terbaru
yang diedarkan sebagian kader PKS adalah adalah, Hamdan Zoelva, Ketua Mahkamah
Konstitusi yang saya yakini sangat berintegritas seperti Jimly Ash-Shiddiqie
(<-- betul ga nulisnya?) itu, adalah iparnya timses Jokowi, Siti Musdah
Mulia. Judul broadcast-nya: “Astaga! Ternyata Hamdan Zoelva adalah Ipar Musdah
Mulia, Timses Jokowi!”
Memang, sebagaimana kita tahu, Hamdan Zoelva
adalah adik dari Prof.Ahmad Thib Raya, Guru Besar UIN Jakarta yang merupakan
suami dari Siti Musdah Mulia, timses Jokowi. Lalu apakah karena ia ipar Musdah
Mulia lantas Ketua MK itu akan lakukan kecurangan dengan berpihak pada Jokowi?
Sungguh alur berfikir yang terlalu sederhana. Atau jangan-jangan, pengedar
Broadcast itu adalah orang yang terbiasa melakukan nepotisme, yang selalu
mengutamakan keluarganya dalam banyak hal, sehingga ia punya kekhawatiran
Hamdan Zoelva lakukan hal serupa? Bukankah banyak orang selalu mengukur orang
lain dengan kebiasaan dirinya? :-)
Padahal, broadcast itu bisa saja kita ubah: “Astaga,
ternyata Hamdan Zoelva adalah mantan pengurus Partai Bulan Bintang (PBB),
anggota Koalisi Prabowo-Hatta”. Perlu diketahui, Hamdan Zoelva adalah aktivis
Islam, bersama Yusril Ihza Mahendra (salam hormat, pak) ia besar bersama PBB,
dan PBB adalah parpol pengusung Prabowo. Bukankah dengan logika yang
sama, cukup alasan bagi kita untuk curiga ia akan mendukung Prabowo?
Yang ingin saya sampaikan adalah: sudahlah, jangan
membuat gaduh dengan menebar broadcast yang mendelegitimasi MK. MK adalah pintu
terakhir dari sengketa Pemilu. MK yang punya otoritas tunggal sebagai
penafsir konsitusi kita. Jangan menyebarkan berita gaduh yang membuat rakyat
tak percaya pada MK. Jangan sampai kemudian, setelah MK menetapkan keputusan,
masih saja bicara ini konspirasi, hanya karena pemenang Pilpres bukan
dipihaknya. Mau sampai kapan?
Apakah, seperti saya sering lihat di beranda
Facebook, bahkan jika Jokowi menang pun sebagian rekan tetap tak akan akui ia
sebagai presiden? Come on, dudes. kontestasi pemilu sudah
usai. Siapapun presiden yang dilantik nanti, tugas kita adalah mendoakan,
semoga beliau-beliau yang dipilih oleh lebih banyak rakyat SECARA JURDIL dan
Konstitusional bisa membawa Indonesia lebih baik. Kita kawal dan kritisi, seraya
mendoakan.
Bahkan Musa saja diperintah Tuhan untuk berkata
yang sopan kepada Firaun, lha layakkah kita yang tidak lebih mulia daripada
Musa menyumpah serapah Jokowi yang juga tak lebih dajjal dari pada Raja Mesir
itu.
Amat banyak broadcast tak bertanggungjawab yang menyebar
begitu saja. Misalnya ketua KPU ditetapkan sebagai tersangka. Bahkan orang
sebaik Anis Baswedan pun dicari-cari kesalahannya, dilekatkan padanya fitnah
bahwa ia adalah orang JIL hanya karena ia Rektor Universitas Paramadina, juga
hoax dari situs-situs palsu denganaddress –news.com. Di dunia yang kian maya ini, tetiba (<-- ini
bahasa gaul terbaru, saudaranya ‘gegara’) muncul manusia-manusia broadcaster. Baik
di BBM, Whatsapp, Facebook,
Friendster, dll.
(eh, Friendster emank
masih ada yak? :D) yang pekerjaannya menyebarkan Broadcast tanpa tedheng aling-aling.
Padahal Allah memenangkan dakwah adalah karena
kebatilan yang dilakukan oleh musuh-musuh dakwah, jika aktivis dakwah melakukan
hal serupa, maka ia jadi punya dua musuh: Allah, musuh-musuhnya.
Sebetulnya
saya menaruh kekhawatiran, berita-berita semacam itu justru dibuat oleh mereka
yang phobia terhadap dakwah, yang sengaja
memproduksi sejumlah kabar hoax dengan harapan agar di-broadcast oleh
kader-kader PKS- yang semangat itu- agar menjadi blunder, untuk kemudian
diserang balik oleh mereka.
Oleh karena itu, seyogyanya kader-kader dakwah PKS
tidak “gagap broadcast” terhadap berita-berita yang seakan-akan membela kafilah
dakwah padahal sejatinya ia bumerang yang akan menghancurkan bangunan dakwah.
Bukankah sekarang kita melihat, ada begitu banyak
orang yang awalnya menaruh apresiasi kepada PKS, kini malah berbalik benci
karena melihat prilaku kader-kader PKS di dunia maya yang selalu ingin benar
sendiri?
Sebuah situs yang cukup moncer di dunia maya, “PKS
Pyongyang” misalnya, pada satu sisi terkadang menguntungkan PKS dengan
berita-berita ekslusif, tapi tak jarang juga menjadi blunder karena teralu
offensif dan tak kredible. Yang saya tahu, berdasarkan obrolan dengan seorang
pejabat di DPP PKS, akun yang bukan merupakan akun offisial PKS ini juga tak
selalu sejalan dengan DPP karena konten beritanya yang “kayak begitu” :D,
pernah pula muat isi berita yang sumbernya justru dari akun anonim triomacan yang
di kalangan kader PKS sendiri sebetulnya hanya diposisikan semacam cerita
‘israiliyat’: tidak dibenarkan seluruhnya, dan tidak dianggap salah seluruhnya.
Robohnya Dakwah di Tangan Da’i
Dulu, ada sebuah buku terkenal di kalangan ativis
berjudul Robohnya Dakwah di Tangan Da’i karya
Fathi Yakan, di antaranya adalah karena fanatisme berlebihan dalam
kelompok dakwah. Mungkin dalam konteks kekinian, jangan-jangan dakwah runtuh
karena broadcast liar yang ditebar oleh para du’at itu
sendiri. Atau karena perilaku mereka yang mudah memberikan judgement kepada siapapun yang mereka anggap lawan sebagai
ahli-ahli kebatilan. Padahal terkadang, peperangan tak mesti terjadi
antara orang baik dan orang jahat. Tak jarang, perang terjadi antara orang baik
dengan orang baik. Hanya karena mereka berdiri disisi berbeda denganmu, tak mesti
mereka adalah orang jahat.
Jika terus “latah broadcast” seperti ini, akankah dakwah menemukan
kemenangannya? Saya khawatir justru jika propaganda dilakukan terlalu
berlebihan, citra buruk tidak hanya melekat pada Partai dakwah saja, tapi
justru pada seluruh asaatidz pejuang
dakwah di manapun berada.
Mari lihat betapa
tak jarang sebagian rekan PKS melakukan standar ganda di sosial media: ketika
tokoh PKS melakukan kebaikan, maka hal itu dianggap sebagai ketulusan. Tetapi
jika tokoh lain lakukan kebaikan serupa, itu disebut pencitraan. Hati kecil
kita tergelitik bertanya: "apakah ketulusan hanya milik orang PKS?
sedang di luar sana tak boleh ada tokoh yg punya hati bening?" dalam hal
ini nampak, sekali lagi maaf, kader PKS berupaya menilai niat seseorang,
padahal Islam tak ajarkan itu. Islam tak mengajarkan kita untuk menilai isi
hati orang lain ketika berbuat kebaikan, itu hanyalah urusan dia dengan Allah..
teringatkah kita dengan kisah bagaimana Baginda Nabi nan pemurah marah saat ada
shahabat berupaya membunuh musuh yang masuk Islam lantaran curiga ia jadi
mualaf hanya karena takut mati? Nabi nan mulia bersabda, kita tak diminta untuk
menilai isi dada orang lain..
Demikian pula standar ganda pada sisinya yang lain, ketika ada qiyadah PKS berbuat salah, kader dakwah
mudah memahami, memaafkan, dan tak menyebarkannya. Akan tetapi jika ada tokoh
lain berbuat kesalahan, tak jarang sebagian rekan memblow up-nya, menjadikan
amunisi sebagai bahan bully-an.. Apakah,
rekan-rekan, orang lain tak boleh berbuat salah? bukankah kekhilafan bisa
terjadi pada siapapun, pada orang lain dan juga pimpinan PKS? pada kamu
dan juga aku..
Mari berlaku adil, karena kita diperintah oleh Allah untuk menegakkan
keadilan itu atas semua manusia tanpa memandang ia berasal dari kelompok mana,
suku bangsa mana, atau pun agama mana. keadilan harus tegak untuk memanusiakan
manusia. Menegakkan keadilan itu adalah jalan yang dekat dengan sifat kaum
bertaqwa.. (Qur'an Surah al-Maaidah:8)
Rekan-rekan, sungguh tak jarang saya temui sebuah kalimat retorik, “kelihatannya pada tahu agama, tapi koq isinya menyebar fitnah dan
kebencian”
Mari memuhasabah diri, jangan-jangan ada di antara kita, yang
turut berkontribusi bagi turunnya presentase suara PKS pada Pileg lalu. Bukan karena
tidak berkampanye atau dirrect selling, tapi
karena berkontribusi bagi lahirnya apriori dan kebencian sebagian
masyarakat kepada PKS lantaran sikap kader-kader PKS di dunia maya yang
sedemikian.. bukankah selain Mujahadah, Muhasabah adalah
satu dari lima cara menggapai derajat taqwa?
Epilog : Kader PKS, Mari Belajar BersamaKebaikan itu adalah
milik kaum Mukminin yang terserak di mana-mana. Ia bisa berada dimana saja,
pada istana nan megah atau gubuk reot di tengah hutan. Kebaikan bukan ekslusif
milik satu kelompok tertentu. Ia bisa kita temui pada orang lain, dan dimanapun
kita menemukannya, kita boleh mengambilnya sebagai seranai hikmah dan
keteladanan.
Kesalahan juga tak mesti milik orang lain, ia bisa pula berada pada diri kita,
atau pimpinan kita. Karena setiap kita, bukan malaikatlah tanpa cela.
Kata ustadz saya, sekalipun berasal dari pantat ayam, jika ia telur, ambillah.
Tapi sekalipun ia keluar dari wanita cantik, jika kuning dan bau, tolaklah.
Begitulah kebaikan. Ia bisa berasal dari mana saja. Ambil isinya, bukan dari
siapa ia keluar. Kata Baginda imam Ali, “Unzhur maa qaala wa laa
tanzhur man qaala” , lihat apa yang dikatakan, jangan lihat
siapa yang mengatakan.
Menutup monolog ini, mari minum teh sekali lagi. Sekalipun tak lagi hangat tapi
aku tulus menyediakannya buat kamu. Semuanya tulus untuk kebaikan hubungan kita
(lho?).
Semoga dakwah menemukan kemenangannya bagi negeri ini, menuju negeri yang aman
dan sejahtera, dilimpahi rahmat dan barakah Allah, dicahayai oleh sinar-Nya
yang tak pernah redup, karena kontribusi kita semua. Meski hanya serupa butir
pasir di antara bangunan yang kokoh itu. Karena kamu, karena aku, dan karena
mereka.
Kita tak bisa membangun negeri ini sendiri. Negeri yang begini luas dimana
terhampar sawahnya yang hijau, lautnya yang membiru, gunung dan ngarainya yang
indah. Kita impikan negeri ini subur, makmur, dan dihampari ketaqwaan. Amien.
Rekan-rekan sila berkomentar. Komentar yg isinya sumpah serapah dan spam tak perlu ditanggapi,Karena sebetulnya Teko,
hanya mengeluarkan isi teko :-)
31/7/2014. 17:49
Twitter: @mistersigit
Dakwah, bukan mie instan.
--
referensi:
1. Alwi Alatas, Revolusi Jilbab, Kasus Pelarangan Jilbab di SMA Negeri
Se-Jabotabek, 1982-1991, Jakarta: I’tisham.
2. Ali Said Damanik, Fenomena Partai Keadilan: Transformasi
20 Tahun Gerakan Tarbiyah di Indonesia. Jakarta: Teraju.
3. Adian Husaini, Penyesatan Opini; rekayasa Merubah
Citra, Jakarta: Gema Insani Press.
4. Arya Fernandes, “PKS dan Masa Depan Palestina” dalam Mereka Bicara PKS, Bandung: DPP PKS dan Fitrah
Rabbani.
5. Fathi Yakan, Robohnya Dakwah di Tangan Da’i,
Jakarta: Era Intermedia.