Friday, December 19, 2014

Bang-Bang Wetan

Karya : Cak Nun

Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina,
Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat,
Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina,
Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat.
Cit-cit cuwit-cuwit, cit-cit cuwit-cuwit,
cit cuwit rame swara ceh-ocehan.
Krengket gerat-geret, krengket gerat-geret,
Nimba aneng sumur, adus gebyar-gebyur.
Segere kepati, segere kepati, kepati bingah,
Bagas kuwarasan.

Monday, December 15, 2014

Periodisasi Sastra Nusantra


Angkatan Balai Pustaka
Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.

Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.

Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" karena ada banyak sekali karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.

Pada masa ini, novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan menjadi karya yang cukup penting. Keduanya menampilkan kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Dalam perkembangannya, tema-teman inilah yang banyak diikuti oleh penulis-penulis lainnya pada masa itu.

Pujangga Baru
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.

Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Karyanya Layar Terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra Indonesia. Selain Layar Terkembang, pada periode ini novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan Kalau Tak Untung menjadi karya penting sebelum perang.

Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :

Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah
Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane 
dan Rustam Effendi.

Angkatan 45
Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan '45 memiliki konsep seni yang diberi judul "Surat Kepercayaan Gelanggang". Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan '45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Selain Tiga Manguak Takdir, pada periode ini cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Atheis dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.

 Angkatan 1950 - 1960-an
Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.

Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan di antara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.

Angkatan 1966 - 1970-an
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis.[3] Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.

Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak lagi yang lainnya.


Sang Pujangga, Zawawi Imron

D. Zawawi Imron lahir di desa Batang-batang, Kabupaten Sumenep, Beliau mulai terkenal dalam percaturan sastra Indonesia sejak Temu Penyair 10 Kota di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada tahun 1982.
Sejak tamat Sekolah Rakyat, beliau melanjutkan pendidikannya di Pesantren Lambicabbi, Gapura, Semenep. Kumpulan sajaknya Bulan Tertusuk Ilallang mengilhami Sutradara Garin Nugroho untuk membuat film layar perak Bulan Tertusuk Ilallang. Kumpulan sajaknya Nenek Moyangku Airmata terpilih sebagai buku puisi terbaik dengan mendapat hadiah Yayasan Buku Utama pada 1985.
Pada 1990 kumpulan sajak Celurit Emas dan Nenek Moyangku Airmata terpilih menjadi buku puisi di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Juara pertama sayembara menulis puisi AN-teve dalam rangka hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-50 pada 1995. Beberapa sajaknya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Belanda dan Bulgaria.
Saat ini ia menjadi Anggota Dewan Pengasuh Pesantren Ilmu Giri (Yogyakarta). D. Zawawi Imron banyak berceramah Agama sekaligus membacakan sajaknya, di Yogyakarta, ITS. Surakarta, UNHAS Makasar, IKIP Malang dan Balai Sidang Senayan Jakarta. Juara pertama menulis puisi di AN-teve. Pembicara Seminar Majelis Bahasa Brunei Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majelis Asia Tenggara (MASTERA) Brunei Darussalam (Maret 2002). Selain itu Beliau juga dikenal sebagai Budayawan Madura.
Pada tahun 2012 beliau menerima penghargaan "The S.E.A Write Award" di Bangkok Thailand, The S.E.A. Write Award adalah penghargaan yang diberikan keluarga kerajaan Thailand untuk para penulis di kawasan ASEAN. Selain itu pada tahun 2012, di bulan Juli, beliau juga meluncurkan buku puisinya yang berjudul "Mata Badik Mata Puisi" di Makassar, kumpulan puisinya ini berisi tentang Bugis dan Makassar
Salah satu karya yang sangat ku kagumi adalah Bulan Tertusuk Lalang
Bulan Tertusuk Lalang

bulan rebah
angin lelah di atas kandang

cicit-cicit kelelawar
menghimbau di ubun bukit
di mana kelak kujemput anak cucuku
menuntun sapi berpasang-pasang

angin termangu di pohon asam
bulan tertusuk lalang

tapi malam yang penuh belas kasihan
menerima semesta bayang-bayang
dengan mesra menidurkannya
dalam ranjang-ranjang nyanyian

1978

BARUNA

BARUNA FTK - LKMM TM V FTK 2012

Baruna (Varuna) adalah salah satu dewa terkuat dalam tradisi Hindu awal. Baruna dikenal sebagai dewa air yang dipandang memiliki kekuasaan atas lautan para dewa, penguasa langit, pembawa hujan, mengawasi dunia bawah, dan meletakkan hukum universal. Baruna dipandang sebagai yang mahatahu diantara dewa-dewa Hindu awal dan dianggap sebagai mahakuasa pula. Perannya adalah untuk membuat segala sesuatu di alam semesta berjalam sesuai ketentuan. Dia dipandang sebagai penjaga kekuatan suci rta atau kekuatan yang membuat alam semesta berjalan secara tertib. Baruna adalah yang memastikan matahari terus beredar, memisahkan siang dan malam, dan menjaga bumi tetap dalam tempatnya. Baruna biasanya digambarkan sebagai seorang pria kulit putih tinggi dan kadang mengenakan setelan bersinar dari zirah emas. Baruna memiliki tunggangan bernama Makana atau Makara, sebuah raksasa laut yang aneh. Makara digambarkan sebagai makhluk campuran antara buaya dan lumba-lumba dan di lain kesempatan nampak seperti ikan besar dengan kepala gajah. Baruna sering terlihat membawa jerat berbentuk ular dan dikenal pula sebagai aljogo kosmik. Baruna memastikan bahwa hukum selalu tetap. Tidak hanya hukum alam, tetapi juga hukum dan sumpah manusia. Ketika seorang manusia melanggar sumpah, maka Baruna akan menghukumnya. Dia digambarkan sebagai mahatahu dengan bintang-bintang sebagai matanya, mengawasi segala sesuatu yang terjadi di bumi dan di dalam pikiran manusia. Baruna juga dikaitkan dengan dunia bawah, dan bersama dengan Yama, bertugas mengawasi orang yang sudah mati di akhirat. Tanggung jawab lain Baruna adalah mengawasi lautan luas milik para dewa. Dari laut itulah hujan diturunkan ke bumi untuk menyuburkan tanah dan menumbuhkan tanaman. Dalam tradisi Hindu kemudian, peran Baruna semakin dibayangi oleh dewa Wisnu, Brahma, dan Shiwa. Salah satu mitos paling terkenal yang melibatkan Baruna berasal dari Ramayana. Rama, yang merupakan avatar dewa Wisnu, diceritakan ingin menyeberangi lautan Lanka. Rama lantas berdoa dan menawarkan korban kepada Baruna, memohon kepadanya untuk membantunya. Ketika Baruna tidak menjawab, Rama mulai menyerang laut Lanka, membunuh makhluk di dalamnya dan membakar air. Baruna akhirnya muncul, setelah melihat Rama hendak menggunakan senjata yang mampu menghancurkan semua ciptaan, dan meminta maaf kepada Rama. Baruna lantas menenangkan lautan dan membuat jembatan yang melintasi lautan.


Agama ? Haruskah ?

Judul itu adalah tema diskusi dengan teman beberapa waktu lalu sebelum keberangkatan ke Amerika. obrolan khas orang warung yang memang berlangsung seperti biasanya kita ngobrol, karena memang tidak ada tema khusus. kata "diskusi" itu saya pilih agar terlihat bagus saja, padahal sebenarnya ya obrolan cangkruan mahasiswa kedai kopi. Tapi kali ini bukan kedai kopi tempat majelis ngobrol ngalor - ngidulnya, tapi dibawah perkasa tiang penyangga rumah Allah selepas sholat maghrib.
"Mengapa orang harus beragama ?"
"Apa jadinya jika orang tidak beragama?"
"Kalau beragama alasanannya sebagai jalan kebahagiaan, apa benar orang tidak bisa bahagia dengan tidak beragama?"
"Masihkan agama diperlukan ?"
"kenapa harus memilih satu agama?"
Dan masih banyak pertanyaan yang akan mengiringi satu pertanyaan ke pertanyaan lain. Kita bicara ini bukan dalam konteks mempertanyaan keberadaan dan kebenaran agama. atau membuat kita ragu akan agama dan memilih tidak beragama. kita membicarakan ini dalam konteks membicarakan fenomena yang terjadi dewasa ini. Orang beragama tapi seperti tidak beragama, orang beragama tapi sekuler.
Namun sayang, belum banyak jawaban yang dapat dieksplorasi karena keterbatasan refrensi dalam bidang filsafat. Mungkin inilah perlunya kita membudayaan membaca dan tulis agar kegiataan literasi tetap hidup dalam kehidupan kita. Hingga suara adzan menutup majelis hari itu, semuanya masih mengambang. Sebab jawaban yang ada hanyalah perkataan yang tidak berefrensi dan kata yang keluar dari pikirian sesaat tanpa proses berfikir dan merenung. Namun paling tidak diskusi itu adalah awal dari sebuah perenungan panjang untuk kemudian menjawab pertanyaan "Mengapa kamu beragama dan memilih agama islam?". Bukankah kita nanti kita akan ditanya "Apa agama mu?".
Dalam menjawab pertanyaan di atas, kita tidak boleh lepas dari domain kita sebagai orang beragama. Artinya jangan pernah menjawab pertanyaan di atas dengan berada di luar agama. Sebab tidak akan pernah terjawab pertanyaaan di atas jika dijawab dengan meninggalkan agama atau merasa bukan bagian dari orang beragama.
Jika kita berada diluar domain sebagai orang beragama, kita akan temukan jawaban para filsof tentang apa itu agama. Kaum materialis memiliki sejumlah teori tentang kemunculan agama, antara lain:
1. Agama muncul karena kebodohan manusia
    Sebagian mereka berpendapat, bahwa agama muncul karena kebodohan manusia. August Comte—peletak dasar aliran     positivisme—menyebutkan, bahwa perkembangan pemikiran manusia dimulai dari kebodohan manusia tentang rahasia alam atau ekosistem jagat raya. Pada mulanya—periode primitif—karena manusia tidak mengetahui rahasia alam, maka mereka menyandarkan segala fenomena alam kepada Dzat yang ghaib.
    Namun, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan (sains) sampai pada batas segala sesuatu terkuat dengan ilmu yang empiris, maka keyakinan terhadap yang ghaib tidak lagi mempunyai tempat di tengah-tengah mereka.
Konsekuensi logis teori di atas, adalah makin pandai seseorang akan makin jauh ia dari agama bahkan akhirnya tidak beragama, dan makin bodoh seseorang maka makin kuat agamanya. Padahal, betapa banyak orang pandai yang beragama, seperti Albert Einstein, Charles Darwin, Hegel dan lainnya. Demikian sebaliknya, alangkah banyak orang bodoh yang tidak beragama.
2. Agama muncul karena kelemahan jiwa (takut)
    Teori ini mengatakan, bahwa munculnya agama karena perasaan takut terhadap Tuhan dan akhir kehidupan. Namun, bagi orang-orang yang berani keyakinan seperti itu tidak akan muncul. Teori ini dipelopori oleh Bertnart Russel. Jadi, menurut teori ini agama adalah indikasi dari rasa takut. Memang takut kepada Tuhan dan hari akhirat, merupakan ciri orang yang beragama. Tetapi agama muncul bukan karena faktor ini, sebab seseorang merasa takut kepada Tuhan setelah ia meyakini adanya Tuhan. Jadi,takut merupakan akibat dari meyakini adanya Tuhan (baca: beragama).
3. Agama adalah produk penguasa
    Karl Marx—bapak aliran komunis-sosialis—mengatakan, bahwa agama merupakan produk para penguasa yang diberlakukan atas rakyat yang tertindas, sebagai upaya agar mereka tidak berontak dan menerima keberadaan sosial-ekonomi. Mereka (rakyat tertindas) diharapkan terhibur dengan doktrin-doktrin agama, seperti harus sabar, menerima takdir, jangan marah dan lainnya.
    Namun, ketika tatanan masyarakat berubah menjadi masyarakat sosial yang tidak mengenal perbedaan kelas sosial dan ekonomi, sehingga tidak ada lagi (perbedaan antara) penguasa dan rakyat yang tertindas dan tidak ada lagi (perbedaan antara) si kaya dan si miskin, maka agama dengan sendirinya akan hilang. Kenyataannya, teori di atas gagal. Terbukti bahwa negara komunis-sosialis sebesar Uni Soviet pun tidak berhasil menghapus agama dari para pemeluknya, sekalipun dengan cara kekerasan.
4. Agama adalah produk orang-orang lemah
    Teori ini berseberangan dengan teori-teori sebelumnya. Teori ini mengatakan, bahwa agama hanyalah suatu perisai yang diciptakan oleh orang-orang lemah untuk membatasi kekuasaan orang-orang kuat. Norma-norma kemanusiaan seperti kedermawanan, belas kasih, kesatriaan, keadilan dan lainnya sengaja disebarkan oleh orang-orang lemah untuk menipu orang-orang kuat, sehingga mereka terpaksa mengurangi pengaruh kekuatan dan kekuasaannya. Teori ini diperoleh Nietzche, seorang filsuf Jerman.

Saturday, December 13, 2014

Salam Hormat Pak Indra Sjafri


Terimakasih Pak Indra sjafri

Maafkan orang PSSI yang masih kebanyakan makan makanan instan. Hingga menginginkan Juara Instan, "Ksatria Karbitan".
Anda telah mengajarkan bagaimana nasionalisme sepakbola, "agama" sepakbola. Tidak ada selama ini yang merayakan goal dengan sujud syukur meskipun di timur tengah. Tapi anak didik anda, dengan bangga merayakan goal dengan sujud syukur. Anda tidak saja mendidik pemain sepak bola sebagai idola, tapi sosok figur yang bisa di contoh. hingga hari ini, anak-anak kecil ketika mencetak goal berekspresi dengan sujud syukur. Anda mengajarkan nilai-nilai agama dengan sepak bola.
"mari kita adu tuhan kita dengan tuhan vietnam", kalimat itu yang anda ucapkan saat adu pinalti dengan vietnam. Nilai tauhid tingkat tinggi, tawakal model orang langit.
anda mengajarkan bangsa indonesia lebih bangga melihat diri sendiri, "Korea selatan akan kalah". sungguh kalimat itu adalah kekuatan yang sebenarnya namun tidak dimiliki saat ini, karena sudah gagal melihat diri sendiri.
salam hormat saya coach Indra sjafri..

KenduriCinta.com

Leluhur Masa Depan


[Kenduri Cinta.com]
Indonesia yang bagi anda yang lahir di Maluku mungkin di pulau-pulau kecil. Mungkin saja anda orang Madura yang lahir di Jakarta atau di Bangkalan. Mungkin juga bagi anda bangsa terkasih minang atau bugis-makasar hingga saudara kita dayak yang semuanya hidup di Jakarta. Mayoritas diantara saudara-saudara semua paham apa itu nasionalisme, patriotisme kemudian kemerdekaan. Kami mencoba menterjemahkan sebenarnya ada bagian yang sangat kuno, bagian yang sangat sakral sebelum istilah itu ada. Jaman Nabi Ibrahim, 4000 tahun yang lalu dimana hanya mengenal Tanah dan Air. Tempat yang diperintahkan untuk ditinggali, dengan segala kekurangan lalu dicukupkan oleh Allah. Saat itu hanya diperintahkan akan membawa berkah dan manfaat kelak untuk anak-cucu Ibrahim dan Ismail. Saat itu, masyarakat belum mengenal nasionalisme, atau bahkan patriotisme. Semua hanya sekedar bertahan hidup dan beribadah. Kenapa anda tidak berpikir, jangan-jangan bangsa Indonesia memang tidak membutuhkan penguatan-penguatan dalam Al-Quran karena memang segala yang terjadi di Timur Tengah sudah ada dan sangat melimpah di tanah air kita. Sehingga 4000 tahun yang lalu harus dipikirkan leluhur masa depan di Makkah.

Tanah yang setiap hari dikeruk potensi alamnya, dilubangi, di bor dan dihujan mesin-mesin pemotong kayu atau pemangkas gunung. Mata air gunung sangat melimpah yang dialirkan oleh perusahaan-perusahaan asing. Sampai kita lupa bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang menguasai hajad hidup orang banyak dikuasai negara. Seluruh mata air dialirkan menuju botol-botol, galon-galon hingga truk tangki tiap hari menghasilkan uang. Tetapi kita masih tertipu oleh kenaikan harga bensin dan solar. Bangsa Indonesia tetap tertawa seolah tidak mengerti. Karena anda tetap memiliki leluhur masa depan. Hebatnya kepercayaan diri kita masih besar terhadap keberlangsungan warisan leluhur. Warisannya apa? Apakah air itu warisan leluhur anda, atau tanah dan gunung itu leluhur anda yang membuat. Apakah minyak bumi manusia yang membuat, atau batubara, pasir besi hingga bebatuan. Komunitas Kenduri Cinta bulan ini mari kita membuat refleksi diri dan membuat catatan-catatan ke depan tentang proposal hidup dan perjuangan kita. Sehingga tema leluhur masa depan ini mampu membuat anda semua ber-tabayyun dengan Allah

Wayang Orang

Akhirnya keturutan juga melihat seni pertunjukan yang satu ini, Pagelaran Wayang Orang. Kalau biasanya wayang kulit (bukan kulit orang). Menarik sekali pertunjukan ini, perpaduan gerakan tari dan drama yang menjadi satu. Bagi anak zaman sekarang, mungkin akan asing dengan pertunjukan seperti ini. mereka lebih sering menonton film di bioskop. 
lebih menarik lagi karena pertunjukan ini menggunkan bahasa jawa tingkat tinggi atau kromo alus. meskipun telingga ini sedikit roaming, 90% percakapan dengan mudah dimengerti. Namun, melihat penonton yang kebanyakan adalah anak-anak muda, terdengar bisik-bisik mereka, "Ngomong opo kuwi?". hmm.. wajar sih, mereka gak paham dengan bahasa yang digunakan dalam pagelaran wayang orang ini. sebab, mereka sudah terbiasa dengan bahasa 4LaY macam ini. atau mereka biasa menggunakan bahasa suroboyoan atau bahasa jawa tingkat rendah "ngoko". 
Meskipun, beberapa percakapan dari wayang sendiri tidak menggunakan bahasa kromo alus jawa timur-an. Sejenak berfikir dengan usulan salah satu pemain wayang dalam dialog selingan dalam pagelaran ini. "bagaimana kalau pagelaran wayang menggunakan bahasa indonesia?". bagi saya sendiri, akan sangat kehilangan ruh-nya pagelaran wayang ini. sebab nantinya akan sama saja dengan drama biasa. terus apa bedanya ?. Jika anak muda sekarang sudah kehilangan budaya leluhur, akan generasi selanjutnya masih mengenal ?
saya jadi teringat tema Kenduri Cinta di Taman Ismail Jakarta, "LELUHUR MASA DEPAN". Pertanyaannya dalah "Apakah yang akan ditinggalkan LELUHUR MASA DEPAN?"


Wednesday, December 10, 2014

Kemurnian

Dewasa kini, seorang sudah mulai lupa bagaimana rasa kemurnian. Entah karena memang sudah tidak pernah merasakan kemurnian atau sudah terlalu banyak makan kemunafikan. Orang sudah terbiasa dengan ungkapan  ada udang di balik batu. Sehingga ketika mereka melihat kemurnian batu, yang ditanyakan adalah udangnya. Hari ini orang tidak lagi percaya dengan niat tulus, pasti menanyakan maksudnya.  Seolah semua orang itu dianggap sama, sebab sudah terlalu banyak terjejali media. kebanyakan polusi kata hingga tak pernah tau rasanya kata jujur.


Monolog Senja

Diujung lembayung yang bermahkota jingga
Ku tatap megahnya langit yang tak bersuara
Hening diantara ribuan kata
Diantara barisan bangku kusam selasar lautan ilmu
menelusuri petilasan jejak jejak bisu
Dan ku pun membisu
ku berdiri menatap indahnya cakrawala
mengagumi senja dengan semua gugusan awan jingga
kidung senja dan tarian pena
Hanya sebentar ku menatap angkasa
Menikmati keindahan mayapada
Tak ada kata tuk menjentawakannya
Diantara barisan bangku itu
Lelaki itu masih mematung membisu
Menunduk lesu dalam malu
Menyandang gelar baru
Pecundang tanpa gelar
Pulang dalam kenangan
Tanpa kemenangan
Tanpa penghormatan
Lupakan saja semua itu
Biar tenggelam bersama senja kelabu