Showing posts with label survei pasang surut. Show all posts
Showing posts with label survei pasang surut. Show all posts

Tuesday, December 14, 2021

Thursday, March 5, 2020

Seri Pelabuhan : Pengantar


Pengertian Umum Pelabuhan
Pelabuhan mula-mula mempunyai arti yang sempit, yaitu suatu perairan yang terlindung sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal dengan aman dengan cara membuang sauh. Disamping itu ada beberapa istilah atau sebutan-sebutan lain seperti:
Harbour, adalah perairan yang terlindung, tempat kapal-kapal berlindung dengan aman (dari gangguan alam) dengan membuang sauh atau mengikat dengan pelampung.
Port, adalah pintu gerbang atau tempat yang mempunyai harbor lengkap dengan petugas bea cukai.
Dock, adalah suatu kolam dengan pintu air tempat dimana kapal membongkar muat atau keperluan perbaikan
Berarti pelabuhan adalah suatu daerah perairan yang tertutup dan juga terlindung dari alam (angin topan, badai) sehingga kapal-kapal dapat berlabuh dengan aman, nyaman dan lancar untuk bongkar muat barang, penumpang, pengisian bahan bakar, perbaikan kapal dan sebagainya.
Pelabuhan dalam arti yang luas adalah merupakan gerbang tempat berpindahnya angkutan darat ke laut, angkutan laut ke darat, arus terminal dari angkutan laut ke laut. Sebagai terminal: harus menyediakan tempat berlabuh, menyediakan tempat menyimpan barang, menyediakan peralatan
pengangkatan/pengangkutan.
Selanjutnya menurut peraturan pemerintah nomor 11 tahun 1983, pelabuhan adalah tempat berlabuh dan/atau tempat bertambatnya kapal laut serta kendaraan lainnya, menaikan dan menurunkan penumpang, bongkar muat barang dan hewan serta merupakan daerah lingkungan kerja kegiatan ekonomi.
Dalam perkembangan selanjutnya, pengertian pelabuhan mencangkup pengertian sebagai prasarana dan sistem, yaitu pelabuhan adalah suatu lingkungan kerja terdiri dari area daratan dan perairan yang dilengkapi dengan fasilitas tempat berlabuh dan bertambatnya kapal, untuk terselenggaranya bongkar muat serta turun naiknya penumpang, dari suatu moda transportasi laut (kapal) ke moda transportasi lainnya atau sebaliknya.
Klasifikasi Pelabuhan
Selain itu pelabuhan dapat pula diklasifikasikan/dilihat dari berbagai bidang, misalnya dari segi konstruksinya, segi perdagangan, dari jenis muatan yang dibongkar dan dimuat atau dari macam pungutan jasanya. Untuk jelasnya disini kita berikan klasifikasi pelabuhan sebagai berikut:
Klasifikasi menurut Konstruksinya
Pelabuhan alam; Adalah pelabuhan yang terlindung dari alam (angina topan, badai dan gelombang) tanpa harus dibangun fasilitas bangunan penangkis gelombang. Bentuk pelabuhan termasuk pintu pelabuhan dan lokasi fasilitas navigasi menjamin keamanan dan kenyamanan kapal untuk manuver dan bongkar muat barang, penumpang serta kepertluan akomodasi kapal. Pelabuhan alam biasanya berlokasi diteluk, muara pasang surut dan muara sungai. Contoh pelabuhan alam adalah New York, San Fransisco dan Rio de Janeiro. Di Indonesia, pelabuhan-pelabuhan seperti ini misalnya ada di sabang, pelabuhan Benoa.
Pelabuhan Semi Alam; Adalah pelabuhan yang berada di teluk kecil atau muara sungai yang terlindung pada dua sisi oleh tanjung dan dibutuhkan hanya bangunan pelindung pada pintu masuknya. Hampir sama dengan pelabuhan alam, hanya pada pelabuhan semi alam bentuk site pelabuhannya lebih diutamakan. Contohnya pelabuhan Plymounth adalah lokasi pelabuhan alam namun pelabuhan menjadi lebih aman setelah dibangun pemecah gelombang pada pintu masuknya sehingga pelabuhan tersebut menjadi pelabuhan semi alam demikian juga dengan pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, Indonesia.
Pelabuhan buatan; Adalah pelabuhan yang mempunyai fasilitas bangunan pemecah gelombang untuk melindungi pelabuhan atau kolam pelabuhan dari pengaruh gelombang. Sebagian pelabuhan - pelabuhan di dunia adalah pelabuhan buatan dan di Indonesia contohnya adalah pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.
Klasifikasi menurut fungsi/jenis pelayanannya:
Pelabuhan Umum, diselenggarakan untuk kepentingan masyarakat yang secara teknis dikelola oleh Badan Usaha Pelabuhan (BUP).
Pelabuhan Khusus, dikelola untuk kepentingan sendiri guna menunjang kegiatan tertentu, baik instansi pemerintah, seperti TNI AL dan Pemda Dati I/Dati II, maupun badan usaha swasta seperti,
pelabuhan khusus PT BOGASARI yang digunakan untuk bongkar muat tepung terigu.
Contoh pelabuhan menurut pelayanannya:
• Pelabuhan dagang, hampir semua pelabuhan di Indonesia
• Pelabuhan militer, Ujung Surabaya.
• Pelabuhan ikan, Perigi, Bagan Siapi-api
• Pelabuhan minyak, Dumai, Pangkalan Brandan.
• Pelabuhan Industri, Petrokimia Gresik.
• Pelabuhan turis, Benoa Bali
• Pelabuhan untuk menghindari gangguan alam (topan, gelombang) yang biasanya terjadi di Jepang
Kegiatan Pelayarannya
1. Pelabuhan Samudra, contoh: Pelabuhan Tanjung Priok
2. Pelabuhan Nusantara, contoh: Pelabuhan Banjarmasin.
3. Pelabuhan Pelayaran Rakyat, contoh: Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta.
Perdagangan Luar Negeri
1. Pelabuhan Ekspor
2. Pelabuhan Impor
Klasifikasi menurut jenis pungutan jasa
1. Pelabuhan yang diusahakan
2. Pelabuhan yang tidak diusahakan
3. Pelabuhan Otonom
4. Pelabuhan bebas
Wilayah Pengawasan Bea Cukai:
1. Custom port, adalah wilayah dalam pengawasan bea cukai
2. Free port. adalah wilayah pelabuhan yang bebas diluar pengawasan bea cukai.
Peranannya
1. Transito, pelabuhan yang mengerjakan kegiatan transhipment cargo, seperti Pelabuhan Singapura.
2. Ferry, pelabuhan yang mengerjakan kegiatan penyebrangan, seperti Pelabuhan Gilimanuk, pelabuhan Padangbai


Sumber : PELABUHAN : Perencanaan dan Perancangan Konstruksi Bangunan Laut dan Pantai, 2015, Nyoman Budiartha Raka Mandi

Sunday, February 2, 2020

Kerentanan WIlayah Pesisir


Daerah pesisir terdiri dari pertemuan antara darat dan laut. Bentuklahan kepesisiran adalah bentuklahan yang secara genetik terbentuk oleh proses marin, fluviomarin, organik, atau eolian. Bentuklahan kepesisiran secara genetic terbentuk oleh proses marin sebagai contoh beting gisik (beach ridge), yang terbentuk oleh proses fluvio-marin adalah delta, yang terbentuk oleh proses
organik adalah terumbu karang (coral reef) dan yang terbentuk oleh proses eolian adalah gumuk pasir (sand dune) (Sunarto, 2001). Disamping itu, daerah pesisir mempunyai dinamika lingkungan tinggi dengan proses fisik banyak, kenaikan permukaan laut, penurunan tanah, dan erosi-sedimentasi. Proses tersebut memainkan peranan penting untuk perubahan garis pantai dan pengembangan landscape pesisir. Perubahan garis pantai dianggap salah satu proses yang paling dinamis di daerah pesisir (Marfai dkk., 2008; Bagli dan Soille, 2003; Mills dkk., 2005). Interaksi antara proses fisik dan aktivitas manusia di zona pesisir menentukan karakteristik lingkungan pesisir. Diperkirakan bahwa sekitar 38% dari populasi dunia tinggal di daerah tidak lebih dari 100 km dari garis pantai (Cohen dkk., 1997; Kay dan Alder, 2005)
Meskipun perubahan garis pantai kadang-kadang menguntungkan, seperti pertambahan lahan untuk tujuan penggunaan lahan, namun demikian perubahan garis pantai juga dapat mengakibatkan kerugian dengan hilangnya lahan karena abrasi. Sebuah analisis dari informasi garis pantai diperlukan dalam desain perlindungan pantai, untuk mengkalibrasi dan memverifikasi model numerik, untuk menilai tingkat kenaikan permukaan laut, untuk mengembangkan zona bahaya, untuk merumuskan kebijakan untuk mengatur pembangunan pesisir dan membantu dengan definisi batas properti dan penelitian mengenai pesisir (Boak dan Turner, 2005)
Dinamika pesisir yang tinggi akan membawa implikasi pada kehidupan dan pembangunan kawasan terutama pada perkembangan kota-kota pesisir (coastal city). Menurut Yunus (2002), ekspresi perkembangan kota yang bervariasi sebagian terjadi melalui proses tertentu yang dipengaruhi oleh faktor fisik dan non-fisik. Faktor fisik berkaitan dengan keadaan topografi, struktur geologi, geomorfologi, perairan dan tanah, sedangkan faktor non-fisik antara lain kegiatan penduduk (politik, sosial, budaya, teknologi), urbanisasi, peningkatan kebutuhan akan ruang, peningkatan jumlah penduduk, perencanaan tata ruang, perencanaan tata kota, zoning, peraturan pemerintah tentang bangunan, dan lain-lain. Perencanaan aksesibilitas, prasarana dan sarana transportasi serta pendirian fungsi-fungsi besar, seperti industri dan perumahan, mempunyai pengaruh yang besar terhadap perembetan fisik kota di area pinggiran. Peran dari pemerintah juga sangat mempengaruhi perkembangan fisik area pinggiran kota dimana kebijakan yang dilakukan dalam bentuk arahan pengembangan kota ataupun rencana tata ruang kota cenderung diarahkan untuk mengisi lahan dan ruang kosong di area pinggiran kota.
Ketersedian ruang di dalam kota adalah tetap dan terbatas, maka meningkatnya kebutuhan ruang untuk tempat tinggal dan kedudukan fungsi-fungsi selalu akan mengambil ruang di daerah pinggiran kota, dimana proses perembetan kenampakan fisik kekotaan ke arah luar disebut Pemekaran kota (Urban Sprawl). Urban sprawl mengacu pada perluasan areal konsentrasi perkotaan melampaui yang telah ada sebelumnya, melibatkan konversi lahan pinggiran ke pusat-pusat perkotaan yang sebelumnya telah digunakan untuk penggunaan non perkotaan untuk satu atau lebih menggunakan perkotaan (Northam, 1975)
Adapun faktor-faktor pendorong pemekaran kota seperti yang disebutkan Charles Whynne-Hammond dalam bukunya Elements of Human Geography, (1979) adalah sebagai berikut:
1. Kemajuan di bidang pertanian
2. Industrialisasi
3. Potensi pasaran
4. Peningkatan kegiatan pelayanan
5. Kemajuan transportasi
6. Tarikan sosial dan kultural
7. Kemajuan pendidikan
8. Pertumbuhan penduduk alami
Perembetan kenampakan fisik kekotaan ke arah luar (Urban Sprawl) tidak dapat terlepas dari adanya kerentanan, baik itu kerentanan fisik wilayah maupun pribadi seseorang. Perkembangan fisik kota ke arah luar termasuk diantaranya ke kawasan pesisir. Kerentanan fisik wilayah terkait dengan adanya bahaya ataupun bencana yang pernah atau akan terjadi di wilayah tersebut. ESPON (2003) mendefinisikan kerentanan sebagai tingkat kerapuhan seseorang, kelompok, komunitas atau daerah terhadap bahaya. Kerentanan adalah seperangkat kondisi dan proses yang dihasilkan dari fisik, sosial, faktor ekonomi dan lingkungan yang meningkatkan rawannya sebuah komunitas terhadap dampak bahaya. Kerentanan juga mencakup ide respon dan coping strategy karena ditentukan oleh potensi masyarakat untuk bereaksi dan menahan bencana.
Pengukuran kerentanan dapat dilakukan dengan indeks kerentanan pesisir. Indeks Kerentanan Pesisir/CVI dihitung menurut kelompok wilayah yang tergantung pada kemungkinan adanya jenis dampak fisik. Indeks ini diberikan sebagai rasio dari total nilai peringkat kerentanan parameter untuk nilai kerentanan setidaknya dari kelompok yang sesuai. Peringkat CVI mengikuti kontribusi fisik lingkungan terhadap kenaikan permukaan laut terkait perubahan pesisir: geomorfologi, kemiringan pantai, kenaikan permukaan laut (sea-level rise), perkembangan perubahan garis pantai, ketinggian pasang surut rata-rata dan tinggi gelombang rata-rata

Friday, January 31, 2020

Kriteria Desain Struktur Dermaga


Kondisi Alam
Terdapat beberapa kondisi alam di lokasi dermaga yang harus diperhatikan dalam melakukan perancanaan dermaga, antara lain:
·         Angin dan arus
Dalam perencanaan struktur dermaga, data angin dan arus diperlukan untuk menentukan arah dermaga. Angin dan arus dominan akan menentukan besarbeban tekan dan tarikan pada dermaga.
·         Pasang surut dan gelombang
Data pasang surut diperlukan untuk mengetahui elevasi dari dermaga dan data
gelombang yang digunakan untuk pembebanan pada struktur dermaga.
·         Karakteristik tanah
Parameter tanah yang dibutuhkan untuk mengetahui karakteristik tanah di lokasi seperti nilai N-SPT, sudut geser, kohesi, dan berat jenis tanah. Selain itu data-data tersebut diperlukan untuk menghitung daya dukung tanah serta jenis pondasi yang sesuai.
·         Data gempa
Data gempa diperoleh berdasarkan klasifikasi wilayah gempa di lokasi. Data ini diperlukan untuk perencanaan beban gempa yang bekerja pada struktur.

Thursday, January 30, 2020

MODEL KERENTANAN PESISIR

Coastal Erosion Risk Assessment



Wilayah pesisir merupakan lingkungan yang sangat penting bagi masyarakat, karena mendukung sejumlah besar kegiatan yang berkaitan dengan penangkapan ikan, navigasi, perdagangan, dan pariwisata. Oleh karena itu sebagian besar penduduk dunia tinggal di wilayah pesisir, termasuk sebagian besar kota penting, juga berada di wilayah pesisir (UNEP, 2006).Kehadiran proses antropogenik di wilayah pesisir menimbulkan kekhawatiran terkait dengan ancaman bahaya yang memoengaruhi wilayah pesisir seperti gelombang pasang, bada, banjir rob, erosi pantai, dan kenaikan muka air laut. Untuk mengatasi potensi konsekuensi dari bahaya tersebut, beberapa metode dalam menilai tingkat kerentanan dan risiko erosi pantai telah dikembangkan. Sejak tahun 1991, ketika metode umum IPPC disajikan (IPCC CZMS, 1992), penilaian kerentanan dan risiko terus dikembangkan, seperti analisis kerentanan berbasis videotape-assisted (Leatherman et al., 1995), indeks kerentanan wilayah pesisir (Thieler dan Hammar-Klose, 1999), pendekatan garis cerdas (Sharples, 2006), DESYCO(Torresan et al., 2007), DIVA (Hinkel dan Klein, 2009), SimCLIM (Waeeick, 2009), Simulator wilayah pesisir (Mokrech et al., 2011), dan yang terbaru adalah kerangka penilaian tingkat risiko wilayah pesisir (Ferreira et al., 2016).Tujuan dari pekerjaan ini adalah untuk menyusun langkah-langkah pengelolaan wilayah pesisir pada setiap zona-zona yang teridentifikasi dalam tingkat kerentanan dan risiko berbeda. Klasifikasi ini bertujuan untuk mendukung pengambilan keputusan yang sesuai dengan karakteristik wilayah, dan teridentifikasinya area yang perlu mendapat perhatian lebih (zona prioritas) dalam menghadapi bahaya erosi pantai.Sebagian besar metode penilaian risiko pesisir difokuskan pada kenaikan muka air laur dan konsekuaensinya pada zona pesisir di seluruh dunia (misalnya Hinkel dan Klein, 2009). Oleh karena itu, terciptanya metode yang fous pada Bahaya spesifik seperti erosi pantai, sangat diperlukan. Pendekatan kompleks yang digunakan pada metodologi ini mengenalkan serangkaian tantangan yang membutuhkan tingkat pemahaman dan data terperinci di lokasi studi. Oleh karena itu alternatif metode yang membutuhkan lebih sedikit daya dan memiliki aplikasi yang cepat dan sederhana merupakan suatu kontribusi penting bagi pengelolaan wilayah pesisir. Saat ini harapan tersebut dapat terwujud dengan adanya penilaian risiko erosi pantai berbasis aplikasi perangkat lunak CERA (Costal Erosion Risk Assessment), yang didasarkan pada GIS (Geographic Information System).CERA dibangun berdasarkan metodologi yang diajukan oleh Coelho (2005), untuk menilai kerentanan, konsekuensi dan risiko yang terkait dengan erosi pantai. Selain mudah dimodifikasi seperti mengubah besaran bobot setiap parameter maupun mengubah parameternya, aplkasi ini bekerja pada perangkat lunak QGIS dan ArcGIS, sehingga mudah diakses dalam analisis-analisis spasial terkait pengelolaan wilayah pesisir.Metode PekerjaanDalam definisi dasarnya, risiko harus dipahami sebagai estimasi konsekuensi dari peristiwa tertentu (Faber, 2012). Di sisi lain, dalam penilaian risiko wilayah pesisir, kejadian erosi pantai didefinisikan sebagai bahaya, yang menurut UNISDR (2009) adalah fenomena berbahaya yang dapat menyebabkan hilangnya nyawa, cedera, atau dampak kesehatan lainnya, kerusakan property, kehilangan mata pencaharian dan layanan fasilitas umum, gangguan sosial dan ekonomi, atau kerusakan lingkungan.Oleh karena itu, penilaian risiko erosi pantai tergantung pada kemungkikan dan tingkat kepadatan bahaya dan konsekuensi bahaya dari suatu peristiwa erosi pantai (ISO, 2009). Untuk wilayah pesisir, dampak negative dari bahaya dinyatakan dalam dampak manusia, ekonomi dan lingkungan, serta dampak sosial/politik. Kerentanan mengungkapkan karkteristik dan keadaan masyarakat, sistem atau asset yang membuatnya rentan terhadap kerusakan yang ditimbulkan dari bahaya erosi pantai (UNISDR, 2009). Coelho (2005) mengembangkan sebuah metodologi untuk menilai risiko erosi pantai. Metode ini dipilih dalam pekerjaan ini karena tidak ada model kompleks lain yang dalam formulasinya memungkinkan aplikasu secara cepat di lokasi manapun dan memungkinkan untuk menyesuasikan jumlah dan kedetailan parameter berdasarkan ketersediaan data di lapangan.Coelho (2005) membagi penilaian risiko dalam dua bagian. Yang pertama adalah penilaian kerentanan yang memperkirakan secara kualitatif dan kuantitatif, tingkat kerentanan suatu wilayah pesisir terhadap erosi pantai. Penilaian ini berfokus pada karakteristik fisik wilayah pesisir dan potensi ancaman agen erosive. Bagian kedua adalah penilaian konsekuensi dari kejadian bahaya tersebut, dengan meninjau aspek sosial, lingkungan, budaya dan ekonomi di wilayah pekerjaan. Berikut ini merupakan parameter-paramter pengukuran dan bobotnya yang digunakan dalam CERA.Klasifikasi Tingkat Kerentanan

Parameter
Sumber
Sangat Rendah
(1)
Rendah
(2)
Menengah
(3)
Tinggi
(4)
Sangat Tinggi
(5)
Jarak terhadap garis pantai (m)
 Analisa GIS
>1000
200-1000
50-200
20-50
< 20
Topografi (m)
DEM di reclass
>30
20-30
10-20
5-10
<5
Geologi
RTRW Jatim
Batuan beku
Batuan metamorf
Batuan sedimen
Sedimen bertekstur kasar
Sedimen bertekstur halus
Geomorfologi
Interpretasi citra
pegunungan
Tebing berbatu
Tebing tererosi yang memanjang di tepi pantai
Pantai wisata, dataran fluvio marin
Bukit pasir, muara sungai, estuari
Tutupan Lahan
Data landuse dari BPN di Update
hutan
Tanaman pertanian
Lahan terbuka
Permukiman pedesaan
Permukiman perkotaan, kawasan industri
Aksi antropogenik
Interpretasi citra
Intervensi stabilisasi garis pantai
Intervensi tanpa reduksi sumber sedimen
Intervensi dengan reduksi sumber sedimen
Tanpa intervensi atapun reduksi sumber sedimen
Tanpa intervensi, namun terdapat reduksi sumber sedimen
Ketinggian signifikan gelombang maksimum (m)
Hasil analisis tim kelautan
<3
3-5
5-6
6-6.9
>6.9
Jarak maksimum pasang air laut (m)
Hasil analisis tim kelautan
<1
1-2
2-4
4-6
>6
Tingkat erosi/akresi pantai rata-rata (m/tahun)
Hasil analisis tim kelautan
>0 (akresi)
(-1) – 0 (erosi)
(-3) – (-1) (erosi)
(-5) – (-3) (erosi)
< (-5) (erosi)



Klasifikasi Parameter Konsekuensi

Parameter
Sumber
Sangat Rendah
(1)
Rendah
(2)
Menengah
(3)
Tinggi
(4)
Sangat Tinggi
(5)
Kepadatan penduduk (jiwa/km2)
BPS / Monografi / Profil Desa
500
500-1000
1000-2000
2000-4000
>4000
Tingkat Ekonomi (jumlah tenaga kerja)
Monografi / Profil Desa /Kelurahan
0
0-10
10-30
30-50
>50
Ekologi
Rencana Pola Ruang RTRW
Bukan kawasan perlindungan ekologi
Kawasan pertanian strategis
Kawasan konservasi ekologi
Kawasan lindung ekologi
Taman nasional
Situs Bersejarah
Interpretasi Data Google Earth
Bukan situs bersejarah
Terdapat beberapa konstruksi bersejarah
Terdapat konstruksi bersejarah dan aktivitas masyarakat didalamnya
Konstruksi bersejarah tingkat regional
Monumen nasional




Dalam menjalankan seluruh analisis dengan parameter-parameter dan ketentuan berdasarkan metodologi diatas, digunakan Plugin CERA yang berbasis pada perangkat lunak ArcGIS 10.5. Tampilan antarmuka (GUI) dari plugin ini dapat dilihat pada Gambar 1.1.

Wednesday, January 29, 2020

Metodologi Survei Hidro - Oseanografi

UMUM

Kegiatan survey untuk pekerjaan Detail Engineering Design (DED) bangunan fasilitas perlindungan pantai merupakan rangkaian kegiatan yang komplek dan harus dilakukan dengan metodologi akurat Karen atiap parameter yang diukur dari masing-masing kegiatan survei memiliki kaitan / sensitifitas yang tinggi antara satu dengan lainnya. Sebagai contoh sederhana adalah hubungan antara pasang surut dengan arus, hubungan antara kejadian hujan, debit sungai, gelombang pecah dan kadar sedimen layang / total suspendd solid dan juga salinitas.
Begitu pula dengan analisis data hasil survei, maka konsultan harus menggunakan metode analisis yang tepat sehingga gambaran hubungan tiap parameter dapat diketahui, hal tersebut sangat penting untuk mendefinisikan faktor pembangkit sedimentasi dan analisis selanjutnya.

Metodologi Analisis
Metodologi Survei & Analisis Pasang Surut

Sebagaimana disebutkan dalam kerangka acuan kerja (KAK), survei pasang surut dilakukan pada lokasi yang representatif dengan lama pengamatan 29 x 24 jam. Pengamatan dilakukan dengan cara pengukuran dengan alat ukur muka air otomasis atau Automatic Water Level Recorder (AWLR) yang dibaca setiap rentang waktu tertentu. Hasil survei pasang surut selanjutnya dianalisis secara harmonik untuk menentukan elevasi muka air penting, mengetahui tipe pasang surut yang terjadi dan meramalkan fluktuasi muka air.

Data masukan untuk analisa pasang surut ini adalah data hasil pengamatan pasang surut di lapangan. Urutan analisa pasang surut adalah sebagai berikut:

1.      Menguraikan komponen-komponen pasang surut.

2.      Penentuan tipe pasang surut yang terjadi.

3.      Meramalkan fluktuasi muka air akibat pasang surut.

4.      Menghitung elevasi muka air penting.

Menguraikan komponen-komponen pasang surut adalah menguraikan fluktuasi muka air akibat pasang surut menjadi komponen-komponen harmonik penyusunnya. Besaran yang diperoleh adalah amplitudo dan fasa setiap komponen. Metode yang biasa digunakan untuk menguraikan komponen-komponen pasang surut adalah metode admiralty dan least square dengan penjelasan sebagai berikut:

1.  Metode Analisa Admiralty
Metode Admiralty digunakan untuk analisa data pengamatan pasut jangka pendek, dan biasanya digunakan untuk perhitungan data pengamatan 15 atau 29 hari. Hasil dari perhitungan ini adalah amplitudo dan fase dari konstanta harmonik pasang surut utama, yaitu: K1, O1, P1, M2, K2, N2, K2, M4, MS4.  Sistem perhitungan menggunakan metode ini pada umumnya menggunakan tabel. Dari konstanta tersebut dapat pula ditentukan MSL harian. Secara khusus metode ini digunakan oleh Hydrographic Department of The Admiralty sehingga dikenal sebagai metode admiralty.
2.  Metode Analisa Harmonik menggunakan Least Square
Metode analisis harmonik merupakan teknik perhitungan yang sangat sesuai untuk menggambarkan lengkungan dari data-data pengamatan pasang surut. Data pengamatan pasut disusun menjadi fungsi sinusiodal atau kosinusiodal dari fungsi gelombang harmonik. Pasang surut dipengaruhi oleh gaya-gaya periodik, sehingga pasut dapat digambarkan sebagai fungsi harmonik. Formula yang digunakan adalah sebagai berikut:

Vg adalah parameter pasang surut keseimbangan di Greenwich, sedangkan µdan f adalah faktor astronomi.
Dengan mengabaikan faktor meteorologi dan astronomi (Vg, µ,f) ketinggian pasang surut dapat dinyatakan dengan fungsi harmonik bagi sejumlah k konstanta pasang surut seperti persamaan berikut:
dimana:
             

Salah satu analisis harmonik adalah menggunakan metode perataan kuadrat terkecil. Dengan menggunakan metode ini, masalah data kosong tidak menjadi masalah dan dapat dihasilkan amplitudo dan fase dari semua konstanta pasang surut yang diinginkan. Dengan adanya komputer metode ini sangat baik diterapkan bila data pengamatan dilakukan dalam waktu panjang. Data ketinggian pasang surut hasil pengamatan akan mendekati nilai ketinggian pasang surut yang sebenar apabila:
Ini merupakan dasar dari perataan kuadrat terkecil. fungsi minimum bila:
Persamaan diatas menghasilkan 2k+1 persamaan untuk mendapatkan  dan  yang merupakan MSL dan konstanta pasang surut. Selain parameter tersebut perlu juga dihitung faktor astronomi.
Kelebihan metode analisa harmonik menggunakan perataan kuadrat terkecil dibanding dengan metode yang lain adalah sebagai berikut:
a.      Data pengamatan pasut jangka panjang dapat dihitung, semakin panjang data pengamatan konstanta yang dihasilkan semakin banyak dan teliti.
b.      Metode ini masih memungkinkan untuk melakukan perhitungan data, bila terjadi data kosong ketika melakukan pengamatan.
c.      Semakin rapat interval data pengamatan maka grafik yang dihasilkan akan semakin mendekati kondisi yang sebenarnya.
d.   Setiap konstanta pasut yang dihasilkan dari perhitungan menggunakan metode ini, dapat diketahui ketelitiannya.

Faktor Pembangkit Pasang Surut

Pasang surut adalah fluktuasi muka air laut karena adanya gaya tarik benda-benda di langit, terutama matahari dan bulan terhadap massa air di bumi. Bumi berotasi sendiri dalam mengelilingi matahari dalam waktu 24 jam, sedangkan bulan berotasi sendiri dalam mengelilingi  bumi pada saat  yang  bersamaan  dalam waktu 24 jam 50  menit. Selisih 50 menit ini menyebabkan besar gaya tarik bulan bergeser terlambat 50 menit dari tinggi air yang ditimbulkan oleh gaya tarik matahari.
Gerak rotasi bumi mengelilingi matahari melalui suatu lintasan yang mempunyai bentuk elliptis yang disebut bidang elliptis. Sudut inklinasi bumi terhadap bidang elliptis sebesar 66.50, sedangkan sudut inklinasi bulan terhadap bidang rotasi bumi adalah 50.9’. Jarak terdekat antara posisi bulan dan bumi disebut perigee dan jarak terjauh disebut apogee (Gambar 2.1). Keadaan pasang pada saat perigee dan keadaan surut pada saat apogee.

Besar pengaruh bulan dan matahari terhadap permukaan air laut di bumi disesuaikan dengan gaya-gaya yang bekerja satu sama lainnya. Adanya gaya tarik bulan dan matahari menyebabkan lapisan air yang semula berbentuk bola menjadi ellips. Peredaran bumi dan bulan pada orbitnya menyebabkan posisi bumi-bulan-matahari selalu berubah setiap saat. Revolusi bulan terhadap bumi ditempuh dalam waktu 29.5 hari (jumlah hari dalam satu bulan menurut kalender tahun kamariah, yaitu tahun yang didasarkan pada peredaran bulan).
Pada sekitar tanggal 1 dan 15 (bulan muda dan purnama) posisi bumi-bulan-matahari kira-kira berada pada satu garis lurus (Gambar 2.2) sehingga gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi saling memperkuat. Dalam keadaan ini terjadi pasang surut purnama (pasang besar, spring tide), di mana tinggi pasang surut sangat besar dibandingkan pada hari-hari yang lain. Sedangkan sekitar tanggal 7 dan 21 (seperempat dan tiga perempat revolusi bulan terhadap bumi) di mana bulan dan matahari membentuk sudut siku-siku terhadap bumi (Gambar 2.3) maka gaya tarik bulan terhadap bumi saling mengurangi. Dalam keadaan ini terjadi pasang surut perbani (pasang kecil, neap tide) di mana tinggi pasang surut kecil dibandingkan dengan hari- hari yang lain.
Komponen Pasang Surut
Guna memperkirakan keadaan pasang surut, maka terdapat banyak komponen- komponen yang mempengaruhi pasang surut. Komponen utama adalah akibat gaya tarik bulan dan matahari (lunar dan solar komponen). Komponen lainnya adalah komponen non astronomis.
Komponen pasang surut yang ada sebanyak 9 (sembilan). Penjabaran ke delapan komponen pasang surut tersebut seperti pada Tabel 2.1. Hasil penguraian pasang surut adalah parameter amplitudo dan beda fase masing-masing komponen pasang surut.